
Di Jakarta, tentu banyak anak kecil yang dipekerjakan di lampu traffic life. Ya, sangat banyak sekali. Mereka ada yang mengemis, ada yang mengamen, ada yang jualan koran. Berbagai aktivitas anak-anak yang tentunya tidak terurus oleh orang tuanya. Mereka mencari nafkah di jalanan dengan cara seadanya. Itulah kehidupan anak-anak jalanan. Kehidupan yang sangat lekat dengan kerentanan masalah sosial.
Memang, yang namanya anak jalanan pastinya adalah anak-anak yang bermasalah. Secara umum, masalah yang dihadapi oleh anak jalanan ini dapat dibedakan ke dalam beberapa kriteria, seperti anak yang putus hubungan dengan orang tuanya sama sekali. Anak ini tidak tahu di mana rumah orang tuanya. Bahkan ia juga tidak tahu siapa sebenarnya orang tuanya. Kebanyakan anak-anak ini, tadinya ditelantarkan atau bahkan dibuang oleh orang tuanya. Maka tinggalah anak-anak seperti ini di jalanan tanpa ada yang mengurusi.
Kemudian ada juga anak yang tahu atau kenal orang tuanya, tetapi hubungan dengan orang tuanya tidak teratur, jarang bertemu, bahkan juga tidak diurusi. Anak-anak ini tidak tinggal bersama dengan orang tuanya. Biasanya, karena sudah asik di jalanan, mereka tidak mau kembali ke orang tuanya.
Selanjutnya, ada anak yang masih sekolah atau sudah putus sekolah. Tetapi mereka memang lebih senang hidup di jalanan. Anak-anak ini lebih rentan menjadi anak jalanan dengan berbagai masalah. Karena biasanya anak-anak yang demikian ini tidak mau diatur, bahkan sering melakukan pelanggaran-pelanggaran hukum.
Memang, hidup menjadi anak jalanan bukanlah merupakan harapan dan cita-cita seorang anak. Tidak ada seorang pun yang mau dilahirkan untuk menjadi anak jalanan. Namun yang namanya nasib, siapa yang bisa menolaknya? Sudah umum kalau ada warga masyarakat yang merasa jijik dengan anak-anak jalanan. Padahal mereka itu juga manusia. Mereka bukan binatang, bukan sampah, dan juga bukan kotoran yang menjijikkan. Anak jalanan juga manusia yang mempunyai rasa dan hati. Tetapi fakta di lapangan, mereka dikejar-kejar oleh aparat, ditangkap, dimasukkan ke truk secara paksa. Bahkan, anak-anak jalanan ini dikumpulkan bersama-sama dengan preman, pencuri, perampok, bahkan juga pembunuh, tanpa memikirkan bagaimana cara memberikan hak-hak mereka agar bisa terpenuhi.
Anak jalanan yang tinggal di jalanan karena dicampakkan ataupun tercampak dari keluarga yang tidak mampu, keluarga yang tidak mau menanggung beban karena kemiskinan dan kehancuran keluarganya. Sehingga anak-anak yang tak terurus ini, akhirnya ada yang bekerja sebagi pengamen, pengasong, pemulung, tukang semir, ataupun pengais sampah, bahkan juga pengemis. Tetapi akibat yang fatal yang ditimbulkan dari permasalahan anak jalanan ini sangat banyak. Tentu banyak dari mereka yang mengalami kecelakaan lalu lintas, tertabrak atau sengaja menabrakkan diri pada kendaraan yang lewat di jalanan. Munculnya pemerasan, perkelahian, dan kekerasan seksual yang pasti dialami oleh anak-anak yang memang tidak ada yang mengurusi tersebut.
Dan pastinya, penyakit utama dari anak jalanan adalah lebih mudah tertular kebiasaan yang tidak sehat, karakter yang tidak baik, terutama dari kebiasaan-kebiasaan buruk kehidupan di jalanan. Yang paling dominan adalah pergaulan bebas dan penyalah gunaan obat-obatan terlarang. Dan yang lebih memprihatinkan lagi, lingkungan yang tidak sehat di jalanan akan mendorong anak-anak jalanan ini menjadi obyek sosial bagi kelompok-kelompok lain yang sering memanfaatkannya.
Ya, boleh dikatakan bahwa di jalanan itu rawan terhadap gangguan kesehatan fisik maupun mental. Yaitu budaya buruk yang merubah karakter anak-anak jalanan ini menjadi anak yang beringas, sangat aggresif, suka berkelahi, suka mencuri, berani memprotes, suka melawan, suka berbicara seenaknya yang disertai dengan kata-kata kotor. Perilaku lain yang muncul pada anak-anak jalanan adalah berusaha mencari uang dengan cara apaapun, termasuk cara-cara yang tidak terpuji seperti mencopet, merampas, menodong.
Sebenarnya, penyebab utama yang mendorong anak-anak pergi dan hidup di jalanan adalah karena kemiskinan. Karena hidup dalam kemiskinan, maka anak-anak yang seharusnya sekolah, terpaksa putus sekolah karena orang tua mereka tidak sanggup untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari, apalagi untuk membiayai anaknya bersekolah. Anak-anaknya terpaksa turun ke jalanan, untuk membantu orang tuanya. Mereka berprofesi sebagai pengamen, penjual koran, pemulung, pengemis, maupun pencopet.
Maslah berikutnya adalah keluarga yang tidak harmonis, sebagai media sosialisasi primer atau yang utama, namun karena orang tuanya yang tidak harmonis, tentu saja akan menghasilkan anak yang tidak baik. Anak yang sudah tidak nyaman untuk tinggal di rumahnya sendiri, akan nekat kabur dari rumah. Dan tentu larinya akan ke jalanan. Karena saat mereka berada di jalanan, dan ketemu dengan anak-anak lain yang juga mempunyai latar belakang yang sama, maka mereka akan merasa nyaman sebagai anak jalanan yang bebas tanpa merasa ada masalah dalam hidupnya.
Namun ternyata ada juga orang tua yang justru mengkaryakan anaknya sebagai sumber ekonomi keluarga, dengan cara mencari uang di jalanan. Ini sangat keterlaluan. Orang tua yang seharusnya sebagai tulang punggung keluarga dan sekaligus contoh bagi anaknya, malah berlaku semena-mena terhadap anaknya. Tidak menyekolahkan anak-anaknya, mendidik menjadi anak yang baik, tetapi orang tuanya justru memaksa anak-anaknya untuk bekerja di jalanan.
Sebenarnya, dampak negatif yang diakibatkan oleh maraknya anak jalanan, tentu sangat berbahaya. Seperti menjamurnya benih-benih premanisme. Hal ini bisa terjadi karena mereka mencukupi kebutuhannya dengan cara menganacam, menakut-menakuti orang, yang semuanya tentu dengan cara-cara yang tidak baik. Jika demikian, maka kenyamanan di jalan akan terganggu. Pemakai jalan raya menjadi tidak nyaman dan selalu was-was kalau anak-anak jalanan ini melakukan hal yang merugikan. Dan tentunya, keberadaan anak-anak jalanan ini juga akan mengganggu keindahan dan ketertiban kota. Hal ini bisa terjadi, karena banyak anak jalanan yang hidup di kolong jembatan, pinggiran rel kereta api, atau lingkungan yang kumuh untuk berlindung dari panas dan hujan, bahkan juga dijadikan sebagai tempat tinggal.
Namun ternyata, di sisi lain, peredaran anak jalan itu tidak berdiri sendiri. Buktinya ada suatu lembaga ilegal yang terus mendorong anak jalanan agar terus tumbuh dan berkembang demi keuntungan pribadi. Ya, lembaga yang mengakunya sebagai yayasan sosial ini justru merekrut dan mempekerjakan anak-anak jalanan untuk mencari uang, dan tentunya uang itu harus disetorkan kepada yang mengelola. Anak-anak jalanan ini diajarkan bagaimana mereka harus meminta-minta, mereka harus memberikan uang setoran kepada bos-nya. Yang menjadi sasaran dari orang-orang tak bertanggung jawab ini, kebanyakan adalah anak-anak kecil yang masih usia sekolah dasar. Biasanya anak-anak itu diiming-imingi makanan, uang, janji-janji kehidupan yang lebih baik, janji disekolahkan dan lain lain. Tapi kenyataannya, nol besar.
Kala itu, Podin yang melintas di perempatan jalan, kebetulan pas lampu merah. Podin berhenti tentunya. Di situlah Podin melihat ada anak-anak jalanan yang sedang mengemis. Seorang anak perempuan kecil, mungkin seadikna Dewi, meminta-minta di balik kaca mobil Podin. Begitu melihat ada anak kecil yang memintapminta itu, anak yang mengemis, awalnya tentu Podin jengkel. Dirinya sendiri saja kurang uang, kok masih ada anak yang mau meminta uang padanya. Namun seketika itu, saat ia melihat anak perempuan kecil yang hampir sama dengan Dewi anaknya, Dewi yang pernah menghilang di pantai, Dewi yang gagal dipersembahkan ke penguasa Pulau Berhala, pikiran licik Podin pun mulai kembali meletik. Tentunya Podin ingin membawa anak itu untuk dipersembahkan ke Pulau Berhala.
"Kamu sudah makan apa belum?" tiba-tiba saja Podin membuka kaca mobilnya dan menanyai anak itu, anak yang seperti anak terlantar, anak yang tidak terurus, anak yang terlihat memelas tersebut. Tentu Podin yang mempunyai kesempatan baik itu, ingin dimanfaatkan oleh Podin. Tentunya ingin mengajak anak itu.
"Belum, Pak ...." kata anak itu memelas.
"Kalau saya belikan makan, saya ajak makan, mau ...?" tanya Podin pada anak yang terlihat lemas dan sudah menempel di pintu mobilnya tersebut.
"Mau, Pak ...." jawab anak itu yang tetap memelas.
"Kalau mau, ayo ikut saya. Naik ke mobil." kata Podin yang menyuruh anak itu naik ke dalam mobilnya.
Tentu karena merasa senang akan dibelikan makan, maka anak perempuan itu pun tanpa alasan apa-apa, langsung membuka pintu belakangnya Podin dan masuk ke mobil itu.
Lampu menyala hijau. Podin langsung melajukan mobilnya. Dan tentu akan mengajak makan anak perempuan yang sudah masuk ke dalam mobilnya itu.
"Nama kamu siapa?" tanya Podin pada anak perempuan itu.
"Dewi ...." jawab anak perempuan itu.
Deg, jantung Podin seakan terhenti seketika, saat mendengar jawaban anak itu. Ya, nama yang sama dengan nama anaknya. Tetapi hanya sebentar jantungnya berdegup kencang. Setelah itu, Podin justru senang karena akan gampang untuk mengingat nama itu. Ya, mungkin memang sudah ditakdirkan kalau korban yang akan dipersembahkan adalah gadis kecil yang bernama Dewi. Podin pun kembali tersenyum. Rupanya takdirnya untuk mendapat harta karun dari istana Pulau Berhala memang tidak bisa dilepas begitu saja.
"Dewi kenapa mengemis di jalanan?" tanya Podin lagi yang mulai berbasa-basi.
__ADS_1
"Biar bisa dapat uang, Pak .... Kalau gak dapat uang tidak diberi makan dan tidak boleh tidur di dalam rumah." kata anak kecil itu.
"Memang orang tua Dewi sekejam itu ...?" tanya Podin.
"Itu Pak Bos .... Saya tidak punya orang tua, Pak ...." jawab anak kecil itu.
"Lhoh, Pak Bos yang ngurusi kamu? Bapak dan Ibu Dewi ke mana?" tanya Podin lagi yang ingin tahu.
"Tidak tahu, Pak .... Sejak kecil saya di tempat Pak Bos ...." jawab Dewi yang tentu masih jujur karena masih anak kecil.
"Ya mengemis ...?" tanya Podin yang tidak ragu.
"Iya ...." jawab anak itu.
"Memang enak ...?" tanya Podin lagi.
"Yang penting saya bisa dapat makan dan boleh tidur di rumahnya." jawab anak itu polos.
"Kalau misal saya kasih makan dan tidur di rumah saya, tidak usah mengemis ..., mau?" tanya Podin yang sudah siap melancarkan niatnya untuk menculik anak itu.
"Mau, Pak .... Tapi saya jangan di ajak ke jalan itu lagi ...." kata anak perempuan itu yang tentunya mau.
"Memang kenapa?" tanya Podin.
"Nanti kalau ketahuan Pak Bos, saya bisa dihajar ...." jawab anak itu yang tentunya ketakutan kalau ketahuan bos-nya, ya, bos anak-anak jalanan.
"Tenang .... Kamu tidak usah takut .... Nanti kamu saya ajak pergi ke tempat yang jauh. Malah saya ajak piknik ke pantai .... Mau, nggak?" kata Podin yang sudah melancarkan rayuannya.
Podin membelokkan mobilnya ke gang yang agak kecil. Lantas menghentikan mobil itu di sebuah tempat lapang. Podin parkir di situ.
"Ayo, kita turun, makan dulu." kata Podin mengajak makan anak perempuan kecil itu.
Gadis kecil itu agak bingung. Tentu merasa kurang nyaman, ketika ia mengenakan pakaian compang-camping diajak masuk ke warung makan. Pasti nanti jadi perhatian orang. Makanya Dewi agak ragu untuk mau masuk ke warung makan.
"Kenapa ...? Katanya lapar ...? Katanya mau makan ...?" Podin juga khawatir dengan anak itu, yang ragu-ragu melangkah. Tentu Podin takut kalau anak itu lari pergi.
"Pakaian saya kotor dan bau ..., Pak." jawab anak itu.
Podin tersenyum memandangi anak itu, yang tahu diri dengan kondisi pakaian yang dikenakannya. Pasti anak ini malu kalau mengenakan pakaian compang-camping.
"Ya sudah .... Dewi di dalam mobil saja, saya akan belikan makanan di bungkus. Nanti dimakan di dalam mobil, dan nanti akan saya belikan rok yang baru buat kamu." kata Podin yang tentu berjanji agar anak itu senang.
"Terima kasih, Pak." kata anak itu yang langsung kembali ke mobil.
Podin pun langsung memesan makan dua bungkus. Tentu dengan lauk yang enak. Ayam goreng tepung. Pasti gadis kecil yang dibawanya itu akan senang. Seperti halnya Dewi anaknya, yang kesukaannya adalah ayam goreng kentucky. Dan pesanan itu pun langsung dibawa masuk ke mobilnya. Satu bungkus diberikan kepada anak jalanan yang diculiknya itu. Tentu ditambah dengan es teh, yang juga disenangi oleh anaknya.
"Ini makannya sama ayam goreng tepung krispi .... Minumnya es teh .... Bagaimana?" kata Podin pada anak itu.
"Hehe .... Saya suka itu ...." kata anak perempuan kecil itu yang langsung menerima pemberian dari Podin.
__ADS_1
"Sudah .... Sekarang dimakan .... Kalau kurang, ini saya masih punya satu lagi." kata Podin menyuruh anak itu untuk memakan nasinya.
Tentu karena suka dengan ayam goreng, maka anak itu pun langsung memakan dengan lahapnya. Bahkan terlihat sangat nikmat sekali.
Podin pun menjalankan mobilnya, kembali menuju jalan raya. Dan tentunya, seperti yang tadi ia janjikan kepada anak yang dibawanya itu, ia akan membelikan rok yang layak. Tentu agar anak itu tidak malu lagi saat diajak masuk warung.
Maklum, bulan purnama masih beberapa hari lagi. Tentunya Podin belum bisa membawa calon persembahannya itu masuk ke Pulau Berhala. Dan kini, untuk sementara waktu Podin harus mengurusi makan dan tidurnya anak itu. Setidaknya hingga menjelang bulan purnama tiba.
*******
"Dewi kemana ...?!"
"Dewi tidak ada ...!"
"Dewi hilang ...!"
"Lhoh, tadi sama siapa ...?"
"Sama anak-anak yang lain, Bos .... Di perempatan sini ...."
"Kok bisa tidak ada ...?! He, Dewi ke mana ...?!"
"Tidak tahu, Bos ...."
"Waduh .... Pasti Dewi melarikan diri .... Kurang ajar ...!"
"Tidak mungkin melarikan diri, Bos .... Dia tidak kenal siapa-siapa .... Dewi tidak mungkin pergi begitu saja."
"Maksudmu ...?! Berarti ada yang menculiknya?"
"Iya, Bos .... Berarti ada yang membawa Dewi ...."
"Siapa ...?!"
"Bos ..., kamu ada saingan, nggak ...? Pasti ini saingan tidak sehat, Bos ...."
"He, kamu .... Yang tadi bersama Dewi di sini, tahu nggak, Dewi sama siapa?"
"Tadi naik ke mobil, Bos ...."
"Hah ...?! Yang benar ...?! Mobil seperti apa ...?!"
"Mobil minibus .... Dewi naik ke mobil itu, terus pergi ...."
"Waduh .... Ini pasti yayasan lain ...."
"Dewi hilang....!"
"Dewi diculik...!"
__ADS_1
Hari itu, bos anak jalanan, kehilangan salah satu anak buahnya.