
Sudah seminggu Puput berada di rumah Podin, membantu Rina dalam melayani di warung makannya. Tentunya berkali-kali Podin melirik dan melihat perempuan yang masih gadis itu, yang masih perawan yang berasal dari desa. Mata nakal Podin mulai kurang ajar. Setidaknya Podin melihat sesuatu yang menarik pada bagian tubuh Puput sebagai gadis yang baru ia kenal. Tentunya ada rasa tersendiri dalam pikiran Podin. Ya, Podin mulai "greng" setiap kali menatap Puput.
"Rina ..., coba kalau belanja ke Pasar Pagi, si Puput itu diajak .... Biar dia juga bisa belajar berbelanja ...." usul Podin pada istrinya, yang tentu sebenarnya punya niatan tersendiri di hati Podin.
"Ya ..., nanti sewaktu-waktu kita ajak." sahut Rina santai saja.
"Setidaknya, kalau Puput itu sudah paham dan tahu tempat-tempat kamu berbelanja, suatu ketika Rina tidak bisa ke pasar, si Puput ini bisa menggantikan kamu untuk berbelanja." kata Podin yang memberi masukan pada istrinya.
"Iya .... Nanti pelan-pelan .... Biar Puput belajar dulu untuk membantu di dapur." sahut Rina.
"Misalnya saja si Puput ini besok sudah bisa disuruh berbelanja, setidaknya kamu tidak terlalu capek. Dan waktunya bisa digunakan untuk meracik bumbu atau menyiapkan bahan-bahan di dapur. Yah ..., paling tidak bisa gantian tidurnya. Saat saya bersama Puput ke pasar, Rina bisa tidur duluan. Dan saat saya sudah pulang, gantian saya yang tidur lagi. Jadi tidak terlalu capek dan mengantuk. Begitu, Rin ...." kata Podin yang seolah memberi usulan pada istrinya.
"Ya, Mas .... Besok pagi kita coba ajak si Puput. Kalau memang dia pintar dalam berbelanja, besok saya akan suruh Puput saja yang ke pasar." kata Rina pada suaminya.
Lega hati Podin. Setiadaknya sudah ayem duluan. Besok akan mengajak serta si Puput. Paling tidak Podin akan bisa melihat, bagaimana Puput di malam hari. Dan tentunya, harapan Podin, Rina besok akan menyuruh Puput untuk ke pasar bersama dengan dirinya. Lumayan bagi Podin yang ternyata juga mudah tergoda oleh perempuan.
Ya, kalau diingat, Podin dulu sudah pernah bertekuk lutut atas rayuan Maya. Memang waktu itu Maya, yang bekerja sebagai pemandu karaoke di tempat usahanya Podin, melancarkan aksi untuk menggoda Podin. Tujuannya, pasti Maya ingin mendapatkan harta kekayaan dari Podin. Apalagi Maya yang tahu kalau Podin itu berasal dari kampung, bahkan juga tahu kalau Podin itu orang kaya baru atau kaya dadakan, pasti akan mudah digaet oleh perempuan seperti Maya. Awalnya hanya senyam-senyum. Selanjutnya, tentu Maya mulai membuka kancing bajunya bagian atas. Apalagi ditambah dengan rok yang dikenakan oleh Maya sangat mini dan ketat. Dandanan Maya pun tentu mengundang hasrat bagi laki-laki yang memandangnya. Masih juga ditambah dengan bau parfum yang seakan menyeret hidung Podin untuk menciumnya. Maya sangat berbeda dengan Isti, istrinya yang ada di kampung, yang tentu jauh dari make-up dan parfum.
Podin yang orang kampung polos, masih awam dengan masalah wanita penghibur, maka begitu menyaksikan gaya Maya yang memamerkan kemolekan tubuhnya, Podin langsung menelan ludah. Dan seketika itu, ia terjerat ke dalam perangkap asmara yang sengaja dipasang oleh Maya.
Namun seiring waktu berjalan, ketika Podin merasa diperdaya oleh Maya, hanya diperas harta benda dan uangnya, maka Podin pun berusaha untuk melarikan diri dari ikatan Maya. Dan kala itu, Podin bertemu dengan Rina, janda muda yang bekerja di warung makan Bu Hendro. Saat itu, Podin berpikir kalau Rina bukan wanita matre, bahkan bisa diajak kerja keras. Makanya, Podin langsung menikahi Rina dan mengajak untuk membuka warung makan.
Tetapi, seiring dengan berjalannya waktu, ternyata Rina lebih banyak menghabiskan waktunya untuk mengurusi warungnya daripada bermanjaan dengan Podin yang tentunya butuh penyaluran hasrat biologisnya. Bahkan Podin yang sudah pernah diberikan kenikmatan oleh Maya, dengan gaya yang tentu sangat memanjakan Podin, maka pernikahannya dengan Rina serasa hampa. Hanya disibukkan dengan rutinitas mengurusi warung makan, meladeni para pelanggan yang makan di warungnya, serta berbelanja ke pasar untuk memenuhi kebutuhan warungnya. Walaupun secara fiansial Podin dan Rina tidak kekurangan, dan tentunya Podin tidak selalu dituntut seperti saat bersama Maya, tetapi itu hanyalah dari segi ekonomi saja. Hidupnya lebih mapan dan tentram. Selainnya, Podin merasakan kehampaan dalam asmara.
Maka, begitu ada gadis kencur yang masih perawan, mata laki-laki Podin yang nakal itu, tentu langsung mengirimkan sinyal ke nuron otaknya, untuk memikirkan hal-hal yang mulai tidak karuan. Nafsu Podin pun mulai kembali bergairah setiap kali melihat Puput.
"Rina ...." Podin memanggil istrinya, sambil bergeletak di tempat tidur.
__ADS_1
"Apa, Mas ...?" sahut Rina yang baru saja masuk ke kamarnya.
"Emmm .... Rin ...." Podin memberi tanda, dan pasti polahnya di atas tempat tidur mulai aneh.
Rina mestinya paham dengan yang dimaksud oleh suaminya. Tetapi rasa capek pada badannya, tentu membuat Rina kurang begitu bergairah untuk melakukan ajakan suaminya. Ia pun hanya menggeletakkan badannya begitu saja di samping suaminya.
Tentu Podin yang sudah ngebet karena sejak siang selalu memandangi Puput, malam itu mesti disalurkan. Tentunya tidak mungkin Podin menghampiri Puput di kamarnya. Nanti kalau ketahuan istrinya, pasti akan geger. Makanya. untuk melampiaskan hasratnya itu, paling aman Podin harus mengajak istrinya.
Namun kenyataannya, Rina hanya diam. Meskipun tersenyum saat akan menggeletakkan tubuhnya, tetapi tidurnya justru membelakangi suaminya. Podin hanya mendapatkan punggung dari istrinya.
Tetapi karena Podin sudah terlalu amat sangat tidak kuat untuk menahan gejolak kemauannya, maka meski posisi tubuh Rina yang seperti itu, Podin pun langsung berusaha untuk membalikkan istrinya. Rina yang paham, hanya pasrah. Bahkan diam saja saat tangan Podin melakukan tindakan tak terpuji. Dan dalam waktu sekejap, Podin sudah berhasil menyalurkan hasratnya.
"Aaahhhh ...." begitu desah Podin yang sudah berhasil dan sukses memaksa Rina.
Rina yang hanya memenuhi kewajibannya sebahai seorang istri, ia pun pasrah. Yang penting suaminya tidak marah. Toh hanya sekedar telentang sebentar. Dan itu pun gampang untuk dilakukannya. Soal yang puas hanya suaminya, tidak jadimasalah. Yang penting urusan rumah tangga tidak akan terjadi keributan. Dan memang itulah tujuan utama dari hidup bersuami istri, yaitu sebagai pemenuhan kebutuhan psikologis.
"Puput .... Bangun ...." Suara membisik di telinga Puput. Tiba-tiba Podin sudah menyelinap ke kamar Puput. Kamar itu memang pintunya tidak dikunci. Sangat leluasa Podin membukanya dan masuk.
"Hah ...?!" Puput yang dibangunkan langsung kaget. Ia terjingkat karena ada orang yang sudah menyentuh bagian tubuhnya yang agak sensitif. Otomatis anak perawan itu langsung bangkit dari tempat tidurnya. Lantas katanya kepada orang yang membangunkannya itu, " Ada apa, Pak?"
"Sssstt .... Jangan keras-keras ...." kata Podin sambil jari telunjukknya sudah menempel di bibirnya, tanda melarang Puput untuk berteriak dan bicara keras.
"Memang kenapa, Pak ...?" tanya Puput yang bingung.
Dalam sekejap, tangan Podin sudah mendekap tubuh Puput, yang tentunya ia tidak ingin anak perawan itu memberontak ataupun berulah yang akan membangunkan istrinya yang masih tertidur di kamar.
Namun tentunya Puput tetap berusaha melepaskan dekapan tangan majikan prianya itu. Ia pun bertanya lagi. Dan kali ini sudah dengan suara yang cukup lantang, karena kesadarannya sudah pulih.
__ADS_1
"Ada apa, sih ..., Pak ...?!" tanya Puput cukup keras, layaknya suara anak desa yang memanggil orang tuanya di ladang.
Tentu suara Puput yang cukup keras itu sempat terdengar oleh Rina dan membangunkan tidurnya. Rina pun menyaut dari dalam kamarnya, "Ada apa ...?" suara Rina yang masih berbaring di kamar.
"Kita berangkat ke pasar, Rin ...! Ini Puput sudah saya bangunkan, kita ajak ke pasar ...!" teriak Podin dari kamar Puput. Ia pun langsung berdiri, melepaskan dekapannya pada Puput, dan melangkah. Podin kembali ke kamar, kembali menghampiri istrinya. "Hampir saja ...!" batin Podin.
"Ya, sudah .... Ayo siap-siap ...." sahut Rina yang langsung ke kamar mandi untuk cebok dan cuci muka.
"Saya, ikut ..., Bu ...?!" tanya Puput yang tadi sudah didekap Podin, yang katanya akan diajak belanja ke pasar.
"Iya ...." jawab Rina dari dalam kamar mandi.
"Tuh ..., kan .... Bener, kan ...." kata Podin yang tangannya sudah mulai mencubit pantat Puput.
"Auw ...." Puput menjerit lirih, takut kedengaran majikan putrinya. Ia kaget karena majikan laki-lakinya itu sudah mencubit pantatnya, walau tidak sakit, tetapi justru terasa asik.
Akhirnya, mereka bertiga berangkat ke Pasar Pagi. Pasar yang sudah ramai sejak jam dua belas malam. Tentunya pasar ini menjadi tempat kulakan para bakul. Setidaknya yang beli jumlahnya besar atau istilahnya borongan. Ya, karena di pasar ini biasanya penjualnya adalah bakul-bakul yang menjual secara borongan atau pembelian dalam partai besar. Dan yang berbelanja juga bakul-bakul yang nantinya akan dijual lagi di pasar kecil atau warung eceran. Setidaknya para pedagangnya tidak melayani pembelian eceran atau jumlah kecil.
Rina berjalan bersama Puput, untuk membeli barang-barang kebutuhan warungnya. Tentunya Rina juga senang, karena sekarang barang-barang belanjaannya itu ada yang membawakan, dan bahkan menaruhnya ke mobil yang ada di parkiran. Dan setiap kali bawaan belanjaannya sudah cukup banyak, maka Puput langsung membawanya dan ditaruh ke dalam mobil
Di mobil, tentunya ada Podin yang menunggu di parkiran. Namun dasar Podin baru ada rasa dengan Puput, maka setiap kali Puput datang membawa barang belanjaan, maka Podin pun langsung tergesa dan berpura-pura membantu. Padahal itu hanya modus saja, karena saat pura-pura membantu mengangkat barang itu, secara sengaja tangannya disenggolkan pada bagian-bagian sensitif milik Puput. Makanya, Puput langsung malu dengan senggolan majikan laki-lakinya itu.
Namun tentunya, Puput tidak berani melaporkan hal itu kepada Rina. Yang jelas takut kalau dikira mengada-ada. Puput hanya diam dan mencoba untuk menyimpan rahasia itu.
Tentu hal yang demikian ini malah menjadi kesenangan bagi Podin. Yang pasti ia bisa leluasa menggoda Puput. Bahkan kadang kala Podin juga mulai mengelus jemari tangan pelayannya itu.
Dasar Podin laki-laki kurang ajar.
__ADS_1