
Sudah dua hari Podin tergeletak di rumah sakit. Sudah dua hari Podin diinfus. Sudah dua hari Podin tak berdaya tergolek di tempat tidur rumah sakit. Tetapi rupa-rupanya kondisi Podin belum juga menunjukkan kesadaran. Kondisi Podin belum berubah, masih sama dengan saat masuk ke rumah sakit. Tentu Cik Melan menjadi sangat khawatir, ada apa sebenarnya yang dialami oleh suaminya, apa sebenarnya sakit penyakit yang diderita oleh suaminya. Kalau mendengar kata-kata dokter, katanya ini hanya pingsan biasa yang membutuhkan waktu lama untuk penyadarannya. Tetapi Mengapa pingsan bisa lama sekali? Kenapa sudah dua hari pingsan tetapi tidak segera siuman? Kenapa suaminya sudah dua hari belum juga sadar? Sakit apa ini sebenarnya? Begitu yang menggelayut dalam pikiran Cik Melan.
Tentunya tidak hanya Cik Melan yang punya pemikiran seperti itu. Tetapi warga kampung, para tetangga Cik Melan, pasti juga ingin tahu, bagaimana keadaan Podin. Seperti biasa, layaknya kehidupan warga desa yang sangat akrab, masih memegang erat rasa kebersamaan, masih tinggi rasa kekeluargaannya, masih kental juwa gotong royongnya, tentunya ketika Podin berada di rumah sakit, ketika Podin tergolek sakit, tentu para warga di kampungnya pada menjenguk, lantas pada membezuk. Setidaknya mereka ingin tahu keadaan Podin. Mereka ingin tahu bagaimana sebenarnya kondisi tetangganya. Mereka ingin tahu penyakit apa sebenarnya yang diderita oleh Podin.
Maka, mereka pun berbondong-bondong pada datang ke rumah sakitm untuk membenzuk Podin. Ada yang naik mobil pick up, bahkan ada juga yang naik truk. Satu truk banyaknya. Maklum angkutan di kampung masih agak sulit. Adasnya mobil bukaan yang biasa dipakai untuk mengangkut barang. Dan pastinya, orang sebanyak hampir satu kampung, tua muda, laki perempuan, semuanya menjenguk Podin di rumah sakit. Tentu, warga masyarakat, para tetangga Podin ini ingin menyampaikan rasa keprihatinan, ingin menyampaikan rasa empatinya terhadap keluarga Podin. Karena kehidupan Podin dan Cik Melan sehari-hari di kampung juga sudah banyak berbuat baik. Terutama dua orang ini sudah banyak membantu warga di kampungnya. Khususnya para pemuda yang menganggur, yang tidak bekerja, mereka diberi pekerjaan oleh Cik Melan. Walaupun hanya sekadar ada yang ikut membantu di toko, dan juga ada yang dijadikan orang kepercayaan Cik Melan untuk mengelola keuangan toko serta tempat usaha-usaha lainnya.
Ya, memang Cik Melan yang pandai dalam segi ekonomi, Cik Melan yang pintar dan ahli dalam hal keuangan, ia mengajari para pemuda, terutama remaja putri yang jadi karyawannya, untuk membantu di bagian keuangan tempat usahanya. Dan tentu warga masyarakat juga merasa berhutang budi. Karena Podin adalah orang yang baik. Orang yang dermawan. Orang yang suka memberi kepada para tetangganya.
Demikian juga Cik Melan, yang meskipun sibuk dengan usaha suaminya, meskipun sibuk dengan kegiatan mengurusi toko-toko serta tempat usahanya, tetapi Cik Melan selalu menyempatkan diri jika ada kegiatan-kegiatan sosial di kampungnya. Terutama kegiatan sosial seperti halnya menjenguk orang yang sakit. Walaupun kadang-kadang Cik Melan berangkat sendiri atau juga bahkan diantar oleh suaminya untuk datang membezuk tetangganya yang sakit di rumah sakit ataupun di rumah tetangganya. Makanya, kini gantian. Imbal balik itu pun dirasakan oleh Cik Melan. Ketika Podin yang sakit, ketika suaminya yang berada di rumah sakit, ketika Podin tergolek tidak bisa apa-apa, para tetangga pun kembali membalas budi baik Podin maupun Cik Melan.
Dalam pada itu, tentu karena Cik Melan saat ini sibuk mengurusi suaminya yang sakiy, repot mengurusi Podin, bahkan masih bingung dengan keadaan suaminya, masih belum bisa meninggalkan suaminya di rumah sakit sendirian, tentu Cik Melan memesan kepada para karyawannya, yang kebanyakan adalah para tetangganya, untuk bisa mengurusi toko-toko dan tempat usahanya. Setidaknya para karyawan itu bisa bekerja tanpa harus ditunggui oleh Podin maupun Cik Melan yang di saat-saat seperti sangat butuh bantuan dari siapa saja,
Pastinya, di saat seperti ini tempat usaha miliknya menjadi rawan. Tempat usaha miliknya menjadi riskan. Jika Cik Melan tidak mempercayai orang yang harus mengelola, tidak menyuruh orang yang harus mengurus sepenuhnya, maka tempat usahanya bisa berantakan, bahkan bisa tidak berjalan lagi.
Beruntung Cik Melan adalah orang yang baik, orang yang cerdas, orang yang pintar. Dan Cik Melan bisa mengatur usaha-usaha suaminya, mengatur toko dengan cara mempercayakan kepada orang-orang yang sudah dididiknya untuk mengelola tempat-tempat usaha tersebut. Dan saat ini, saat Cik Melan harus mengurusi suaminya, maka anak buah-anak buahnya itu, para karyawannya itu yang diandalkan oleh Cik Melan. Para karyawan kepercayaannya itu harus bisa mengurusi tokonya, bisa mengelola usahanya.
Dan tentunya Cik Melan terus bertelepon dengan para karyawannya yang dpercaya untuk mengelola toko-toko dan usahanya. Hanya menggunakan HP dalam mengatur semuanya itu. Ya, beruntung zaman sudah modern, zaman sudah sangat canggih, zaman sudah sangat maju. Untuk mengelola dan mengatur usahanya bisa dilakukan dengan menggunakan telepon. Bisa hanya dengan bertelepon.
__ADS_1
Namun ada satu hal yang juga menjadi pemikiran dari Cik Melan, saat dia harus mengurus suaminya yang sudah dua hari belum juga ada tanda-tanda akan siuman, bahkan ada suster yang mengatakan kalau Podin saat ini dalam kondisi koma. Ya, tentu mendengar kata koma, Cik Melan bertambah sangat prihatin dan sangat khawatir terhadap suaminya. Dalam keadaan seperti itu, mau tidak mau Cik Melan hanya berserah kepada Tuhan, hanya berserah kepada yang maha kuasa, yang tentunya bisa dimintai pertolongan, yang tentunya bisa membantu mengatasi semua masalah dalam hidupnya. Ya, Cik Melan percaya Tuhannya. Pasti Tuhan akan menyembuhkan segala macam sakit penyakit. Cik Melan percaya bahwa Tuhan yang disembahnya adalah Tuhan yang perkasa, Tuhan yang mau menolong umatnya, Tuhan yang bisa menyembuhkan segala penyakit. Maka, siang malam Cik Melan selalu berdoa, memohon agar Tuhan menolong suaminya, agar Tuhan mengangkat penyakit yang ada pada tubuh suaminya.
Ya, setelah dua hari berkutat dengan doa dan belum mendapatkan jawaban dari Tuhannya yang disembah, Cik Melan teringat kepada pendetanya. Meski gereja tempat sembahyangnya ada di Jakarta, Cik Melan ingin pendetanya itu mendoakan suaminya yang terkolek dan dikatakan dalam kondisi koma tersebut. Ya, Cik Melan berharap suaminya itu didoakan oleh sang pendeta dan juga didoakan oleh para jemaat gerejanya.
Maka serta-merta Cik Melan langsung mengangkat telepon, langsung mengangkat HP-nya. Cik Melan langsung menghubungi pendeta yang diharapkan bisa memberikan pengharapan bagi dirinya maupun suaminya yang sedang tergorek di rumah sakit. Dan tentu, pendeta yang dihubungi oleh Cik Melan itu baru tahu kalau Podin, salah seorang jemaatnya sedang mengalami cobaan, sedang mengalami sakit, sedang mengalami ujian dari Tuhan.
Tentu saja, Pak pendeta yang ditelepon Cik Melan itu pun langsung menerima kesaksian dari jemaatnya. Pendeta itu langsung menerima keluhan dari Cik Melan. Dan tentu pendetanya itu pun langsung menjawab akan mendoakan, agar Tuhan segera mengangkat sakit penyakit yang ada di tubuh Podin.
Namun kenyataannya, pendeta itu tidak hanya berdoa dari Jakarta saja. Pendeta itu tidak hanya berdoa dari gerejanya saja. Pendeta itu tidak hanya meminta para jemaat yang lain untuk mendoakan Podin, tetapi rupa-rupanya empati dan simpati dari pendeta beserta dengan beberapa orang jemaat, mereka datang menuju rumah sakit tempat di mana Podin dirawat dan tak berdaya. Ya, tentu para jemaat itu bersama dengan pendetanya akan ikut membezuk, akan menengok jemaatnya, ingin tahu kondisi dari jemaatnya, ingin tahu keadaan Podin yang ada di rumah sakit. Dan pastinya mereka bersama-sama akan memanjatkan doa di rumah sakit itu, di ruangan di mana Podin tergolek tak berdaya.
Dan langsung saja, para teman gereja Cik Melan itu, anggota jemaat gerejanya dan pendeta, datang membezuk, yang datang menengok Podin di rumah sakit. Mereka pun ingin tahu sebenarnya apa yang terjadi pada Podin. Ingin tahu, sebenarnya sakit apa yang saat ini dialami oleh Podin.
"Saya sendiri tidak tahu, Pak Pendeta ...." jawab Cik Melan.
"Dokter tidak bilang sakitnya?" tanya Pak pendeta lagi.
"Katanya hanya pingsan .... Tetapi sudah dua hari ini belum siuman." jawab Cik Melan.
__ADS_1
"Ceritanya bagaimana?" tanya pendeta itu lagi.
"Kemarin lusa, dua hari yang lalu .... Waktu itu kami berada di kamar tidur bersama. Papah tidur di kamar bersama saya. Namun tiba-tiba saja, suami saya terjatuh ke lantai, dan seakan ada yang menyeret tubuhnya keluar dari kamar dan dipindah ke tempat lain. Saya sendiri heran. Saya juga tidak bisa melihat ada apa sebenarnya yang terjadi pada suami saya .... Peristiwanya bertepatan saat terjadi gerhana bulan, saat bulan tertutup rapat. Gerhana yang penuh-penuhnya. Tentu saya mengejar tubuh suami saya yang masuk ke dalam kamar lain, tempat yang memang tidak pernah dibuka, kamar yang dirahasiakan oleh suami saya. Tetapi begitu masuk ke kamar itu, Papah Podin hilang begitu saja .... Suami saya tidak ada di dalam kamar itu. Saya pun berteriak-teriak minta tolong kepada warga. Dan para warga pun membantu kami mencari suami saya. Kata mereka, para warga bilang kalau Papah Podin ini digondol gerhana. Memang saat itu terjadi gerhana bulan. Sehingga orang-orang percaya kalau Papah Podin ini digondol gerhana." begitu kata Cik Melan yang menceritakan kejadiannya, dan tentunya dia juga menceritakan kepercayaan masyarakat yang ada di kampungnya, kalau saat gerhana bulan itu, bisa saja orang digondol oleh gerhana, dimakan oleh gerhana itu.
"Lah ..., terus ketemunya bagaimana?" si pendeta itu bertanya lagi, yang tentunya juga ingin tahu ceritanya yang lengkap. Tentu para jemaat yang ikut membezuk di ruangan Podin itu juga memperhatikan penuturan Cik Melan.
"Semalaman Papah Podin dicari oleh orang satu kampung. Semuanya keliling mencari ke sana kemari. Sampai ke seluruh kampung. Semalaman tidak ditemukan. Tapi saat gerhana itu hilang, saat bulan muncul kembali, ada orang yang ikut mencari, melihat kalau Papah Podin itu berada di atas pohon. Lantas orang-orang pun beramai-ramai menurunkan suami saya, yang ternyata sudah pingsan dan tidak bisa apa-apa. Lantas suami saya dibawa ke rumah sakit, keadaannya seperti ini. Sampai hari ini belum ada perubahan .... Huhuhu ...." Cik Melan kembali menangis, tentu karena menyaksikan suaminya yang belum bisa apa-apa itu.
"Terus ..., menurut dokter, kata dokter, Pak Podin ini mengalami sakit apa?" tanya Pak Pendeta itu lagi, yang tentunya para jemaat yang lain ikut mendengarkan dan terkesima dengan cerita Cik Melan.
"Belum tahu, Pak Pendeta .... Sampai hari ini belum ditemukan penyakitnya. Tensinya normal, jantungnya normal, semua kondisi kesehatannya normal .... Tetapi kenyataannya Papah Podin tidak bisa apa-apa .... Bahkan tidak sadar. Bahkan ada suster yang bilang ke saya, kalau Papah Podin mengalami koma ...." begitu jawab Cik Melan yang tentu dengan linangan air mata karena saking sedihnya.
"Ya .... Mari kita doakan .... Semoga Tuhan akan menolong tubuh Bapak Podin ..... Semoga Tuhan mengangkat sakit penyakit yang ada di dalam tubuh Bapak Podin .... Dan semoga Tuhan memberikan kesehatan, memulihkan seperti sedia kala kepada Bapak Podin ...."
Akhirnya, Pak Pendeta itu kembali berdoa bersama dengan para jemaatnya. Mendoakan Podin di ruang rumah sakit itu, agar Tuhan yang disembahnya memberikan kesembuhan kepada Podin. Sang pendeta yang memimpin doa, langsung telapak tangannya diletakkan di atas kepala Podin. Dan tentunya, doa-doa itu diwarnai isak tangis oleh para jemaat. Terutama Cik Melan yang sangat berharap agar suaminya segera pulih.
Keanehan pun terjadi. Rupanya Tuhan mendengar doa umat-Nya yang sedang bersedih. Saat semuanya pada berdoa, mata Podin pun mulai terbuka. Podin mulai siuman.
__ADS_1
Doa yang mujarab. Doa yang langsung dikabulkan.