PULAU BERHALA

PULAU BERHALA
EPISODE 56: MEMENUHI PANGGILAN MAYA


__ADS_3

    Berkali-kali Podin ditelepon oleh Maya. Sebenarnya Podin sudah malas untuk mengangkat telepon dari Maya. Alasannya sederhana, karena kalau Maya menelepon, pasti ujung-ujungnya minta uang. Podin sudah bosan dengan pengalaman-pengalaman itu. Termasik hidup bersama Maya yang selalu minta uang. Itu pun tidak hanya dalam jumlah kecil, melainkan selalu meminta dalam jumlah yang sangat besar. Katanya untuk keperluan ini dan itu. Yang jelas, memang Maya sudah menghabiskan banyak uang dari Podin. Dan bahkan ketika beralasan untuk memajukan tempat usahanya, kenyataannya toh tempat usaha itu biasa-biasa saja. Tidak signifikan dengan hasil yang diperolehnya.


    Namun karena berkali-kali Maya menelepon, akhirnya Podin mengangkat juga. Ya, mumpung masih siang hari, istrinya, Rina, tidak ada di rumah. Karena Rina masih sibuk di warung Bu Hendro. Tentunya melayani para pelanggan yang membeli makan siang. Warung Bu Hendro kalau jam sarapan pagi dan makan siang, pasti ramai oleh karyawan pabrik yang butuh tambahan gizi.


    "Halo, Maya .... Ada apa?" begitu kata Podin saat menerima panggilan telepon dari istrinya yang kedua, yaitu Maya.


    "Bang ..., kapan Abang Pulang?" begitu kata Maya dalam telepon.


    "Saya nggak punya uang, Maya .... Saya belum punya uang .... Saya belum mendapatkan uang .... Kalau saya pulang, katanya harus bawa uang .... Ini saya belum punya uang, berarti saya tidak akan pulang ...." begitu jawab Podin yang beralasan tidak punya uang. Ya, dulu waktu geger di telepon, Maya memang menuntut Podin, kalau tidak membawa uang tidak usah pulang. Makanya itu dijadikan alasan oleh Podin, kalau dirinya tidak akan pulang karena tidak punya uang.


    "Tapi, Bang .... Ini perut saya sudah semakin besar. Orok yang ada di dalam perut seakan-akan menanyakan Abang terus ..., menanyakan bapaknya kapan Abang menjenguk anak ini ...?" begitu kata Maya yang kelihatannya memelas, karena sedang hamil, dan hamilnya sudah semakin membesar.


    "Baiklah, Maya .... Tunggulah sebentar lagi, Abang akan pulang. Tetapi Abang tidak bawa uang. Karena memang Abang belum punya uang. Jadi kalau Abang pulang tanpa membawa uang, jangan dimarahi." begitu jawab Podin dalam teleponnya dengan Maya.


    "Kok gitu ...?! Ya diusahakan bawa uang lah, Bang." sahut Maya yang tentu tetap ingin meminta uang kepada Podin.


    "Maya .... Saya sudah bilang berkali-kali, saat ini saya tidak punya uang. Saya hanya kerja jadi kuli, banting tulang sampai mati-matian. Uang saya tidak banyak, Maya .... Cuman sedikit .... Kalau kamu mau saya berikan kembali uang yang dari Abang dulu itu." kata Podin yang lagi-lagi berpura-pura tidak punya uang. Bahkan ia juga berpura-pura mengaku bekerja sebagai kuli.


    "Ya, sudahlah, Bang .... Terserah Abang saja .... Pokoknya abang pulang .... Maya kangen, Bang .... Maya rindu berat .... Gegana, Bang ..., gelisah, galau dan merana .... Maya minta Abang datang ke rumah, menjenguk Maya, menjenguk bayi abang yang aku kandung, menjenguk perut Maya yang sudah besar, Bang ...." begitu kata Maya dengan suara memelas, yang tetap memaksa Podin untuk segera pulang.


    Mendengar rayuan Maya seperti itu, Podin mulai bergetar hatinya. Muncul juga rindu dalam dirinya, untuk kembali bermesraan dengan Maya. Ya, Podin tentu menrindukan bagaimana Maya bisa membahagiakannya di tempat tidur.


    Dengan serta merta, Podin menuju warung Bu Hendro. Menemui Rina, istrinya yang ke tiga, untuk berpamitan. Katanya ada peralatan karaoke yang harus diperbaiki, dan Podin harus segera datang ke tempat kerjanya.


    "Rina ..., saya mau ke tempat kerja. Ada peralatan yang harus segera saya perbaiki." kata Podin yang berpamitan dengan Rina. Kebetulan warung Bu Hendro sudah mulai rame. Pasti Rina sibuk.


    "Iya, Mas .... Pulangnya kapan?" tanya Rina sambil meladeni para pelanggan.


    "Seselesainya. Kalau bisa rampung hari ini, saya segera pulang. Tapi kalau misalnya tidak selesai, maka saya mungkin akan lembur sampai semuanya beres." begitu kata Podin yang membohongi istrinya, dengan alasan lembur.


    "Ya .... Hati-hati ...." sahut Rina yang mendekati suaminya.

__ADS_1


    "Pak Podin tidak makan siang dulu ...?" tanya Bu Hendro, yang tentu juga perhatian dengan suami Rina.


    "Tidak, Bu Hendro .... Terima kasih. Ini sudah diminta segera ke tempat kerja." sahut Podin yang menolak tawaran Bu Hendro. Dan Podin langsung beranjak untuk berangkat.


*******


    Akhirnya, Podin datang juga menemui Maya di rumahnya. Siang itu, Podin datang ke rumahnya yang kini hanya dihuni oleh Maya. Tempat tinggal di perumahan, yang dibeli oleh Podin, tetapi atas nama Maya. Jadi rumah itu sudah sah menjadi milik Maya. Podin tidak punya hak atas rumah yang ditempati oleh Maya itu. Konon katanya, Maya sengaja meminta diatas namakan dirinya, karena besok kalau ada apa-apa, istri siri tidak mendapatkan hak warisan. Ya, itu semua adalah akal-akalan Maya agar mendapatkan harta kekayaan dari Podin.


    Begitu mendengar suara mobil yang datang dan berhenti di depan rumahnya, yang tidak lain adalah suaminya, tentu Podin langsung disambut oleh Maya. Disambut dengan pelukan, disambut dengan ciuman, disambut dengan kemesraan. Maya seakan-akan rindu berat dengan Podin. Sudah hampir empat bulan Podin tidak pulang. Bahkan Podin pun tidak memberi kabar berita. Termasuk setiap kali di telepon jarang diangkat, di WA tidak pernah dibalas. Tentu bagi Maya, yang sedang hamil dan perutnya semakin membesar itu, ada juga rasa rindu kepada Podin yang sudah memberikan benih di dalam perutnya, yang meminta agar Maya hamil, agar mendapatkan anak dari perutnya. Dan anak itu, yang nantinya sudah dijanjikan akan diberikan kepada sang raja di Istana yang akan diganti dengan uang dalam jumlah yang banyak. Tentu mendengar bayinya akan diganti dengan uang yang banyak, Maya langsung tergiur.


    "Eh ..., Bang .... Aku kangen, Bang. Aku rindu, Bang .... Kenapa Abang, lama tidak pulang-pulang ...? Berbulan-bulan Abang pergi. Berbulan-bulan Abang meninggalkan Maya. Maya kesepian, Bang .... Apalagi perut Maya yang membesar ini, Abang .... Apa Abang tidak kasihan melihat Maya hamil besar seperti ini ...? Perut Maya yang buncit seperti ini ...? Apa Abang bosan, melihat Maya yang tidak cantik lagi, Bang ...? Ya ampun, Abang .... Ke mana saja sih, Abang ...?" begitu kata Maya yang masih memeluk suaminya itu, dan tentu iya juga rindu dengan belaian-belian Podin.


    "Iya .... Abang kan kerja. Maya minta uang terus, sementara Abang ini kerja hanya untuk cari sesuap nasi. Usaha Abang kan di sini yang mengelola Maya. Ya sudahlah. itu saja buat Maya kelola. Nanti uangnya untuk Maya. Jadi tidak perlu kamu hiraukan lagi dengan Abang. Biar Abang mencari kerja di tempat lain, biar Abang bisa hidup sendiri. Tidak apa-apa .... Tidak usah dikasih uang dari hasil usaha yang ada di tempat hiburan itu. Hasilnya Maya yang kelola, seluruhnya untuk Maya." begitu kata Podin yang tentu dia tidak ingin Maya selalu meminta uang darinya.


    "Tapi, Bang .... Maya ini sedang hamil besar .... Maya sedang bunting, Bang .... Lihat ini, perut Maya seperti ini. Kenapa Abang tidak kasihan sama Maya yang perutnya besar seperti ini, Bang ...?" begitu kata Maya yang sambil menarik tangan Podin, kemudian tangan Podin itu ditempelkan pada perutnya yang besar, dan diputar-putar, diusap-usapkan pada perutnya yang bunting itu.


    "Iya, Maya .... Saya tahu .... Tapi kan Maya sudah dapat uang dari hasil usaha kita itu. Uang itu bisa kamu pakai semuanya. Jadi jangan terlalu berharap dengan penghasilan saya. Pekerjaan saya kali ini cuman buruh, Maya .... Hasilnya tidak seberapa, cuman sedikit." begitu kata Podin yang juga menjelaskan pekerjaannya saat ini, dan ia pun tentu berpura-pura menjadi seorang buruh, agar Maya tidak menuntut banyak uang kepada dirinya.


    "Kenapa tidak di Puskesmas saja melahirkannya, Maya ...? Rumah Sakit mewah itu kan biayanya juga besar, ongkosnya mahal, dokternya aja pasti mahal. Kalau kamu mau melahirkan di Puskesmas, kan biayanya murah, tidak terlalu butuh banyak uang .... Kenapa nggak kepikiran untuk melahirkan di Puskesmas saja?" begitu kata Podin yang berusaha untuk mengalihkan rencana kelahiran istrinya itu di sebuah Puskesmas.


    "Iih, Abang .... malu-maluin, Bang .... Saya nggak mungkin melahirkan di Puskesmas, Bang .... Bagaimana nanti kata temen-temen Maya, kalau dia mau bezuk saya, Bang .... Maya malu, Bang .... Maya tidak sanggup melahirkan di Puskesmas, Bang .... Itu menurunkan harga diri dan martabat Maya, Bang .... Menurunkan kehormatan Maya, Bang ...." kata Maya yang jelas-jelas menolak keinginan Podin.


    "Apa bedanya, Maya ...? Justru di Puskesma itu dilayani secara baik .... Yang penting biayanya murah." sahut Podin.


    "Lhoh, kok begitu sih, Abang ...?!" begitu kata Maya, yang tentu alasannya pasti kembali kepada Gengsi. Dia akan malu melahirkan di Puskesmas, karena tentu dia malu kalau teman-temannya yang selebriti-selebriti itu pada menjenguknya. Tentunya seorang Maya yang berada sekelas dengan selebritis harus melahirkan di puskesmas itu, memang sangat menurunkan martabatnya. Setidaknya ia akan dianggap sebagai masyarakat kelas bawah yang tidak mampu membayar biaya rumah sakit, yang tidak sanggup melahirkan di rumah sakit. Akhirnya dia pun hanya sanggup melahirkan bayinya di Puskesmas saja. Ya, anggapan seperti itu memang masih terjadi di kalangan irang-orang yang makanannya gengsi. Mereka berpendapat bahwa kalau berobat atau bahkan melahirkan di Puskesmas itu, berarti masyarakat itu tergolong dalam masyarakat yang miskin. Apalagi masih menggunakan kartu ASKIN, pengobatan untuk orang miskin.


    "Terus ..., Abang sekarang bawa uang nggak?" tanya Maya kepada Podin.


    "Ini .... Uang yang dulu kamu tolak itu masih ada. Masih utuh. Amplop ini isinya sepuluh juta. Mau kamu tolak lagi, apa kamu terima?" begitu tanya Podin kepada Maya, yang menanting apakah Maya akan menolaknya lagi.


    Tapi tanpa menjawab, tanpa berkata apa-apa, tangan Maya langsung menyahut amplop yang dipegang oleh si Podin. Ya, uang sepuluh juta lumayan kalau untuk menambah kebutuhan.

__ADS_1


    "Terus ..., kalungnya mana?" tanya Maya kepada Podin. Tentu dia menanyakan kalung yang dulu juga pernah diberikan oleh Podin bersama dengan amplop berisi uang itu.


    "Yah ..., kalungnya sudah hilang .... Kan sudah kamu buang. Artinya kamu kan sudah nggak mau lagi dengan kalung itu. Tentu sudah Abang jual buat makan sehari-hari, buat kebutuhan Abang, buat beli bensin, buat beli rokok." begitu jawab Podin yang tentu sangat menjengkelkan buat Maya.


    "Abang keterlaluan ...!! Kamu sengaja ya, Bang. Masak kalung yang mau diberikan ke Maya dijual. Itu kalung bagus, Bang .... Kenapa dijual? Itu kan buat Maya ...." begitu kata Maya yang tentu jengkel dengan perlakuan Podin yang katanya sudah menjual kalungnya.


    "Lhah, dah ..., salah kamu sendiri .... Kenapa dulu kamu tolak kalung itu ...?! Kenapa dulu kamu buang kalung itu ...?! Kenapa kamu lempar begitu saja kalung itu ...?! Ya ..., Abang menganggap Maya tidak mau. Abang menganggap Maya tidak suka dan tidak akan mengenakannya. Ngapain disimpan .... Mending Abang jual, buat memenuhi kebutuhan Abang sehari-hari." begitu kata Podin yang pastinya semakin menambah kejengkelan Maya.


    "Ya ampun ..., Bang .... Kamu itu nggak kenal dengan perempuan ya, Bang .... Kamu nggak ngerti hati seorang perempuan, Bang .... Perempuan itu ibarat permata, harus ada perhiasan-perhiasan ya, Bang ...." begitu kata Maya, yang tentu semakin jengkel dengan jawaban yang disampaikan oleh suaminya.


    "Salah sendiri .... Kenapa dulu kalung itu dibuang. Sekarang dicari. Sekarang diminta lagi." Podin menggerutu.


    "Terus ..., selama hampir empat bulan Abang gak pulang-pulang, pergi ke mana saja ...? Dan mana hasilnya?" tanya Maya kepada Podin.


    "Ya ampun ..., Maya ..... Aku ini cuman menjadi kuli .... Bayarannya kecil .... Uangnya tidak mungkin bisa terkumpul. Habis buat makan, habis buat beli rokok. Itu saja masih mending, lumayan saya tidak ngutang sama orang lain." kata Podin yang tentu ingin menegaskan kalau dirinya hanyalah orang yang tidak punya pekerjaan yang baik.


    "Iya .... Tapi uangnya mana, Bang ...? Saya butuh uang, Bang ...." kata Maya, lagi-lagi selalu menuntut untuk diberikan uang.


    Memang, Maya adalah salah satu perempuan mata duitan yang hanya ingin meminta uang, uang, dan uang dari Podin. Jika ketemu suaminya, ia selalu menuntut diberi uang. Meski statusnya hanya seorang istri siri, istri yang tidak sah berdasarkan surat nikah, tetapi Maya merasa bisa menguasai Podin. Tentu itu juga salahnya Podin sejak awal. Ia bertekuk lutut dengan goyangan asmara Maya. Hanya karena kenikmatan sesaat, Podin rela memberikan segala-galanya. Termasuk sudah mengorbankan anak dan istrinya yang sah.


    "Kamu tahu sendiri kan, Maya .... Berapa bayaran seorang kuli. Tidak lebih dari seratus ribu. Bayangkan hidup di Jakarta dengan uang seratus ribu. Buat beli makan minum saja pas-pasan. Belum kalau harus kost atau kontrak rumah. Beruntung itu saya masih bisa hidup." kata Podin kepada Maya, yang tentunya semakin membuat bertambahnya kejengkelan Maya.


    "Lah ..., terus ..., Abang dulu pernah bilang mau dapat uang dari seorang raja .... Mana uangnya ...?! Kenapa Abang tidak pergi ke tempatnya raja itu saja ...?! Kenapa Abang tidak meminta uang kepada raja yang katanya Abang kenal itu ...?!" kata Maya yang mengungkit janji Podin yang katanya akan diberikan uang oleh seorang raja.


    "Lhah ..., untuk datang ke tempat raja itu kan harus bawa bayi kamu. Bayi kamu belum lahir kan, Mana .... Bayi kamu belum ada .... Masih tergolek di dalam perut kan ...?! Tapi besok kalau bayi kamu itu lahir, serahkan kepada saya .... Bayi itu akan saya berikan kepada raja, biar nanti diganti oleh raja dengan harta kekayaan yang kita minta. Makanya ..., ngapain kamu harus melahirkan di rumah sakit yang mahal, kalau bayi itu nantinya harus saya bawa dan saya serahkan ke raja yang akan menukarnya, akan memberikan uang kepada saya." begitu kata Podin saat diminta uang. Dan tentunya Podin berdalih kalau anak yang dikandung oleh Maya belum juga lahir.


    Maya terdiam. Dia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Karena memang faktanya, bayi itu masih ada di dalam kandungan. Bayi itu belum lahir. Bayi itu belum keluar. Dan tentunya, janji Podin adalah menunggu kelahiran dari bayi itu. Maya pun mulai berpikir, "Iya ..., kenapa kalau bayi itu nanti toh akan dibawa oleh Podin, akan diserahkan kepada rajanya, akan ditukarkan dengan harta kekayaan, kenapa harus lahir di tempat yang mahal? Kenapa harus lahir di tempat yang mewah? Kenapa harus lahir dengan dokter yang bayarannya mahal? Toh anak itu nanti tidak akan ia pelihara. Bayi itu nanti tidak akan ia rawat. Si kecil itu nanti langsung akan dibawa oleh Podin dan diserahkan kepada raja yang akan menjanjikan harta kekayaan untuk membeli anak itu?"


    Akhirnya, Maya pasrah dengan rencana Podin. Ia pun hanya menerima amplop yang berisi uang sepuluh juta,  dan Maya mulai berpikir, untuk melahirkan di Puskesmas saja, tidak perlu memilih di rumah sakit yang mahal.


    "Iya, Bang .... Maafkan Maya. Maya emosi. Habis Bang Podin pergi terus. Bang Podin nggak pernah menjenguk saya. Bang Podin tidak pernah memberikan belaian kepada Maya. Kalau malam saya tidur sendirian,  Bang .... Tidak ada yang menemani, tidak ada yang mendekap, tidak ada yang membelai, tidak ada yang mengelus perutku ini, Bang .... Abang pergi terus .... Abang nggak pulang-pulang. Maya kangen, Bang .... Maya nggak pernah dibelai, Bang ...." begitu kata Maya, yang kemudian menyandarkan kepalanya ditubuh Podin. Pasti Maya ingin dipeluk, dan pasti Maya ingin diberikan kasih sayang yang sepenuhnya oleh suaminya yang sudah empat bulan tidak menjenguknya itu.

__ADS_1


    Sementara itu, sambil mendekap Maya, Podin melamun. Akankah ia tetap mempertahankan Maya sebagai tempat untuk mencurahkan kasih sayang? Ataukah ia akan pergi meninggalkan maya begitu saja, karena di tempat lain ia juga memiliki Rina yang sudah pasrah dengan bujuk rayu cintanya?


__ADS_2