
Podin menerima kenyataan tentang kehidupannya yang memang tidak sesuai dengan ajaran agam yang baru saja dianutnya. Tetapi memang seperti itulah yang selalu ia dengar dari masyarakat umum, bahwa orang yang melanggar nilai-nilai agama itu akan menerima dosa. Dan yang paling menakutkan adalah nanti pada hari akhir, dirinya akan masuk ke dalam api neraka, mendapat siksa yang sangat berat.
Podin pun akhirnya menuruti kata istrinya, agar ia bisa menerima kata-kata Pak Pendeta, untuk menjadi anak Tuhan yang baik, untuk menjadi anak Tuhan yang menurut dengan firman-firmannya. Tentunya Podin yang saat ini sedang mengalami ketakutan dengan bayang-bayang makhluk raksasa hitam yang menyeramkan itu, ia pun tidak bisa menghindar dari kenyataan, bahwa dirinya memang pernah melakukan persembahan-persembahan kepada penguasa Pulau Berhala, untuk meminta pesugihan. Ya, pastinya Podin sudah mengorbankan anak-anak yang disembelih di atas batu kisaran, bahkan juga bayinya yang baru lahir, sebagai korban persembahan untuk penguasa Pulau Berhala, yang ia tukarkan dengan harya kekayaan, yang masuk di dalam peti-peti berisi harta karun. Dengan cara seperti itu, Podin bisa menjadi kaya raya.
Tetapi kini, setelah Podin diseret oleh para algojo ke batu kisaran, ia menerima tuntutan dari penguasa Pulau Berhala, agar dirinya kembali menyerahkan korban-korban persembahan, pada saat malam bulan purnama, seperti yang pernah ia lakukan dahulu, tentunya hal itu juga dirasa sangat berat oleh Podin. Mencari bocah untuk dikorbankan itu tidak gampang. Kalau sakah juga dimarahi dan dilempar keluar istana oleh para algojo. Dan yeng lebih mengerikan, jika sampai ia harus menculik anak kembali, kalau sampai ketahuan, pasti akan dihajar masa dan ditangkap Polisi. Dan akhirnya, pasti dirinya akan dijebloskan ke dalam penjara. Dan itu sudah menjadi trauma bagi Podin.
"Mah ..., memang rupanya saya harus membuang peti-peti ini. Saya harus menyingkirkan peti-peti itu dari rumah kita. Rasanya saya semakin ketakutan. Saya semakin tidak nyaman. Karena terus terang, Mah ..., di peti-peti itu ada arwah yang mengejar-ngejar saya. Saya takut kalau sampai arwah itu nanti memangsa saya." kata Podin pada istrinya, yang tentu dia mengungkapkan apa sebenarnya yang terdapat pada peti itu.
"Arwah ...?!" tanya istrinya.
"Iya, Mah ...." jawab Podin dengan wajah sedih.
"Jadi selama ini ..., Papah itu punya peti-peti semacam itu, ada arwahnya .... Arwah yang menunggu peti itu ...?!" tanya Cik Melan pada suaminya, yang tentu kaget mendengar kata-kata suaminya.
"Betul ..., Mah .... Memang selama ini saya memanfaatkan benda-benda antik itu, peti-peti keramat itu untuk meminta bantuan kepada arwah-arwah yang menghuni peti itu, untuk melancarkan rezeki kita ...." jawab Podin mencoba berterus terang kepada istrinya.
__ADS_1
"Ya ampun ..., Pah .... Kenapa Papah percaya dengan setan-setan seperti itu ...?! Jadi selama ini Papah sudah bersekutu dengan setan ...?! Pah .... Memang ajaran iblis itu selalu menggoda manusia .... Ia memberikan janji-janji enak .... Memberikan janji-janji yang menyenangkan .... Termasuk memberikan janji-janji kekayaan kenapa Papah .... Jangan percaya dengan bujuk rayu iblis, Pah ..... Itu nanti akibatnya, kalau kita percaya pada berhala-berhala itu, kita menjadi pengikut iblis, pasti kita akan masuk neraka, Pah ...." kata Cik Melan menasehati suaminya.
"Iya ..., Mah .... Dulu saya kan tidak mengenal dengan apa itu setan ..., apa itu Tuhan .... Yang saya tahu, hidup itu butuh uang ...." kata Podin pada istrinya, yang tentunya ia mengatakan seperti itu karena memang kala itu Podin tidak pernah sembahyang, Podin tidak pernah melakukan kegiatan keagamaan, bahkan seakan Podin memang benar-benar belum tahu apa itu Tuhan, apa itu setan. Yang ia tahu adalah butuh uang. Karena kala itu, kehidupannya memang sangat miskin. Hidupnya sangat menderita, Dengan keadaan seperti itu, Podin memang benar-benar sangat ingin memiliki uang yang banyak, Podin ingin memiliki harta kekayaan, supaya dirinya tidak dihina oleh para tetangganya, supaya dirinya tidak diejek oleh orang-orang di kampungnya, Ia ingin merubah nasib hidupnya, ingin menjadi orang kaya, menjadi orang yang punya uang banyak, Podin tidak mau selalu dihina oleh para tetangganya.
"Terus ..., berarti selama ini Papah mencari uang dengan cara yang tidak benar ...?! Papah mencari uang dengan meminta bantuan dari berhala-berhala itu ...?!" tanya Cik Melan kepada suaminya, yang tentunya ia juga ingin tahu bagaimana sebenarnya cara yang dia lakukan saat mencari uang. Cik Melan ingin apa yang dilakukan oleh suaminya saat mencari uang.
"Betul ..., Mah ...." jawab Podin polos.
"Jadi selama ini usaha Papah itu dibantu oleh arwah-arwah yang ada di dalam peti ini ...?! Kerja Papah dibantu oleh makhluk-makhluk yang menghuni peti ini ...?! Jadi semua ini Papah lakukan hanya sekedar untuk mencari uang ...?!" tanya Cik Melan yang semakin penasaran.
"Iya, Mah .... Karena perlu Mamah ketahui, bahwa Papah dulu hidup dalam kemiskinan .... Papah dulu sering di ejek oleh orang-orang kampung .... Saya menderita lahir batin karena hinaan itu .... Memang saya benar-benar tidak punya uang, tidak punya apa-apa .... Saya hidup dalam kemiskinan. Saya hidup dalam penderitaan hinaan setiap orang ...." jelas Podin pada istrinya.
"Betul, Mah .... Kala itu saya bertemu pengemis tua, yang hanya mengenekan pakaian compang-camping .... Saya mengeluh karena hidup miskin, namun oleh pengemis itu saya justru dikasih uang koin recehan. Pengemis itu bilang, kalau kurang disuruh mencari dia, akan diberi lebih banyak. Setelah sampai rumah, saya amati uang itu, ternyata koin emas .... Berarti pengemis itu bukan orang sembarangan. Maka saya terus menuruti kata-katanya, saya mencari pengemis itu sesuai dengan arah jalan yang ditunjukkan .... Dan ternyata, saya memang dapat peti-peti harta karun itu .... Dan itulah kekayaan saya .... Semuanya sudah saya gunakan untuk membuka usaha kita itu ...." kata Podin pada istrinya, tentu dengan rasa agak khawatir, takut rahasianya terbongkar.
Cik Melan terdiam. Matanya menerawang jauh. Ia membayangkan bagaimana kehidupan Podin kala itu, dan bagaimana ia bisa menemukan harta kekayaan seperti itu. Namun tentunya ada yang masih dibingungkan oleh Cik Melan, kenapa sekarang suaminya ketakutan? Lantas, kalau pengemis itu baik hati, mengapa sekarang suaminya dikejar-kejar? Bahkan suaminya sempat diseret dan ditaruh di pucuk pohon.
__ADS_1
"Pah .... Kalau begitu, peti-peti Papah itu harus segera kita singkirkan dari rumah kita .... Saya khawatir, yang punya peti itu, entah itu kakek pengemis atau berhala, atau arwah ..., yang jelas mereka itu iblis ..., nanti pasti akan mencari Papah kembali. Dan pasti, selama peti ini ada di sini, mereka akan terus datang kemari. Karena saya yakin, arwah atau berhala itu, pasti menghuni peti-peti itu. Maka kita harus membuang peti itu secepatnya." kata Cik Melan pada Podin, yang tentu ingin segera membuang tempat berhala itu.
"Tapi, Mah ...." Podin menyelah.
"Tidak ada tapi-tapian, Pah .... Saya justru khawatir kalau berhala itu datang lagi, tidak hanya menyeret Papah, tetapi langsung membawa kabur ke neraka ...." sahut Cik Melan yang tegas mengingatkan suaminya.
"Justru saya takut itu, Mah ...." kata Podin.
"Setelah itum Papah pasrah kepada Tuhan .... Kita anak-anak Kristus .... Pasti Tuhan akan menolong dan menyelamatkan kita." kata Cik Melan yang lebih menegaskan dan ingin menguatkan iman suaminya.
Kali ini, Podin yang diam. Ia menunduk bingung. Antara ingin membuang peti-peti itu, seperti kata istrinya. Tetapi juga sayang dengan peti-peti itu, karena tentu barang-barang itulah yang dengan sangat mudah sekali bisa mendatangkan uang dengan tanpa susah payah. Ia menjadi bimbang. Kalau sampai membuang peti-peti harta karun itu, maka Podin pastinya sudah tidak bisa mendapatkan harta kekayaan lagi secara mudah.
Namun tentunya, jika Podin tidak membuang peti-peti harta karun itu, banyak kesalahan yang ia lakukan. Podin melanggar ajaran agama, ia mencari kekayaan dengan cara yang tidak benar, dan pastinya kelak di hari kiamat, dirinya tidak akan ditolong oleh Tuhan, dan akan masuk ke dalam siksaan api neraka.
Selain itu, jika Podin masih menghendaki mencari kekayaan dengan cara seperti itu, maka ia harus kembali mencari bocah-bocah untuk dikorbankan menjadi persembahan bagi penguasa Pulau Berhala. Ini saja sudah sangat berat. Padahal setiap malam bulan purnama Podin harus mencari korban.
__ADS_1
Namun jika ia lari dari kejaran iblis penguasa Pulau Berhala, benarkan Tuhan akan menolongnya? Benarkah Kristus akan menyelamatkannya? Benarkah doa-doa Pak Pendeta dan para jemaat di gerejanya itu bisa membantunya?
Antara bimbang dan ragu. Tetapi Podin harus memilih segera.