
Setelah diturunkan dari dahan pohon yang cukup tinggi, yang ditolong oleh para warga yang membantu mencarinya, tentu membuat lega orang-orang yang mencarinya. Namun kenyataannya, setelah sampai di dasar, sudah digeletakkan di tanah, Podin tidak merespon sama sekali. Beberapa warga mencoba menyadarkan Podin, berbagai bantuan yang diberikan oleh para warga, untuk menyadarkan Podin, tetap saja tidak ada hasilnya. Bahkan Podin seakan-akan tidak bisa apa-apa lagi. Begitu pula banyak para warga yang mengatakan, kalau posisi Podin saat ini adalah pingsan berat. Bahkan ada juga yang mengatakan kalau Podin sedang mengalami sekarat.
Maka akhirnya, warga memutuskan, dan menyarankan ke Cik Melan, agar Podin dibawa ke rumah sakit. Tentunya untuk mendapatkan pertolongan medis yang sebaik-baiknya.
"Huhuhu .... Papah .... Papah kenapa ...??? Huhuhu ...." Cik Melan menangis, karena sedih, karena menyaksikan suaminya yang tak kunjung sadar. Bahkan suaminya hanya tergolek lemas tanpa bisa apa-apa, dan juga tidak merespon apapun.
"Ini, Pak Podin hanya pingsan, Cik ...." kata orang-orang yang terus membantu Podin.
Ya, memang kondisi Podin sangat mengkhawatirkan, namun ia juga masih punya harapan. Karena keadaan Podin masih bernafas. Yang artinya, bahwa Podin memang tidak sadarkan diri. Orang-orang menganggap kalau Podin hanya pingsan saja.
"Sebaiknya Pak Podin di bawa ke rumah sakit saja ...." kata salah seorang warga yang ikut membantu.
"Iya, betul .... Biar mendapatkan penanganan dari dokter.
"Huhuhu .... Saya minta tolong ...." Cik Melan yang masih menangis itu, serta-merta meminta bantuan kepada warga, untuk membawa suaminya itu ke rumah sakit.
"Ya ..., tentu, Cik ...."
"Ayo kita bawa ke rumah sakit sekarang ...."
Para warga akhirnya menggotong tubuh Podin, yang masih berada di bawah pohon besar itu. Selanjutnya akan dimasukkan ke mobil. Ya, tentunya dengan menggunakan mobil Podin. Mobil yang disetir oleh warga yang bisa mengendarainya. Para warga beramai-ramai ikut membantu mengangkat Podin, menaikkan ke dalam mobilnya. Dan kemudian mobil itu pun langsung melaju menuju Rumah Sakit.
Cik Melan yang terus menangis, duduk berada di jok tengah, sambil memegangi suaminya yang tak berdaya. yang juga dibantu oleh warga kampung. Beberapa orang ikut mengantarkan Podin ke rumah sakit. Bahkan ada yang berboncengan naik motor, mengikuti mobil yang mengangkut Podin. Tentunya mereka juga ingin tahu, seperti apa sebenarnya nasib yang dialami oleh Podin.
Dan dalam waktu yang tidak begitu lama, akhirnya mobil yang mengantarkan Podin sampai di depan ruang IGD. Orang-orang yang mengantar langsung bergegas turun. Ada yang membantu menurunkan tubuh Podin, ada juga yang mengambil bed pasien yang ada rodanya untuk membawa Podin masuk ke ruang IGD. Dan Podin pun langsung dibawa masuk ke ruang IGD.
__ADS_1
"Ada apa ini ...? Kenapa ...?" tanya salah seorang dokter yang sedang bertugas berjaga di ruang IGD tersebut, tentu sambil melihat kondisi Podin yang tergeletak tak sadarkan diri di bed pasien itu.
"Digondol gerhana, Pak ...." sahut salah seorang warga yang ikut mengantarkan Podin ke dalam ruang IGD itu.
"Tolong ..., Pak Dokter .... Suami saya .... Huhuhu ...." kata Cik Melan kepada dokter itu, yang tentu iya masih saja menangis, karena saking khawatirnya menyaksikan kondisi suaminya yang tidak sadarkan diri tersebut.
"Kok aneh ..., ada orang di gondol gerhana ...?! Gerhananya seperti apa ..., kok sampai bisa menggondol orang ...?!" tanya dokter itu sambil memeriksa Podin, yang tentu ia berkelakar, karena merasa aneh ada orang yang digondol gerhana. Yang pastinya cerita itu hanya ada di mitos saja, ada di keyakinan masyarakat. Namun dalam dunia kedokteran, secara ilmiah tentunya hal itu adalah cerita yang mengada-ada, cerita tahayul.
"Iya, Pak Dokter .... Pas saat terjadi gerhana bulan tadi malam, Pak Podin hilang. Katanya di gondol gerhana. Ternyata setelah ditemukan, seperti ini keadaannya, Pak Podin pingsan di pohon ...." jawab orang yang ikut mengantar, tentu ingin menjelaskan peristiwanya.
"O, ya ...?! Sebentar, saya periksa dulu ...." kata dokter itu yang mulai memeriksa Podin.
Dokter itu langsung mengambil lampu senter kecil dari sakunya. Ia membuka mata Podin yang tertutup rapat. Kemudian disorotkan lampu senter kecil yang dipegangnya. Dokter itu mengamati mata Podin. Keduanya dibuka dan disorot dengan lampu senter, untuk diperiksa.
"Yah .... Mudah-mudahan ini hanya pingsan saja .... Sudah berapa lama, bapak ini pingsan ...? Kok tidak siuman-siuman?" tanya dokter yang memeriksa Podin tersebut.
"Suster .... Tolong dicek tensi dan detak jantungnya ...." kata dokter itu menyuruh suster perawat yang membantu di ruang IGD.
"Siap, Dok ...." kata suster perawat itu, yang langsung menuju ke tempat berbaringnya Podin. Dan tentunya sudah membawa alat tensi dan alat stetoskop.
Kemudian suster perawat itu pun memasang alat tensi pada lengan kiri tangan Podin bagian atas. Ya, itu biasa dilakukan oleh dunia kedokteran untuk mengetahui keadaan tekanan darah dari pasien. Dan tentunya suster perawat itu langsung mengamati alat yang digunakannya. Kini sedang dilakukan pengecekan tekanan darah Podin.
"Seratus dua puluh, delapan puluh, Dok ....Normal ...." kata suster perawat itu kepada dokter yang menangani Podin.
"Bagus .... Itu tensi yang bagus .... Tolong dicek tekanan jantungnya, Sus ...." kata sang dokter itu lagi, setelah menerima laporan bahwa tensi tekanan darah Podin dalam kondisi normal.
__ADS_1
Tentunya, suster perawat itu pun menempelkan stetoskop pada dada Podin. Suster perawat itu melakukan pemeriksaan seperti yang diperintahkan oleh dokter yang berjaga tadi. Suster perawat itu memeriksa detak jantung pasiennya. Tetapi kenyataannya, jantung Podin pun normal.
Lantas dokter itu kembali memeriksa nadi pada leher dan lengan Podin dengan menempelkan jari tangannya. Tentunya dokter itu juga memperkirakan paling-paling Podin hanya pingsan karena kelelahan, atau mungkin karena serangan jantung. Tetapi kenyataannya, ini bukan serangan jantung. Ini bukan karena tensi yang tinggi, dan ini bukan gejala terjadinya stroke pada diri Podin. Tetapi ini layaknya seorang pasien yang memang pingsan.
Namun tentunya, sang dokter juga mulai bertanya-tanya, ada apa ini sebenarnya yang terjadi pada pasiennya? Mengapa pasiennya itu mengalami pingsan sampai lama? Bahkan sudah dibawa ke rumah sakit, pasien ini belum juga siuman?
"Apa Bapak ini tadi jatuh dari pohon?" tanya dokter itu kepada para pengantar dan Cik Melan yang masih berada di samping suaminya.
"Tidak, Dok .... Dia tidak jatuh .... Dia baik-baik saja .... Hanya tersandar di atas pohon, dan kami membantu menurunkannya, sudah dalam keadaan pingsan." jawab orang yang ikut membantu.
Dokter itu mencoba mengamati tubuh Podin. Mungkin ada tanda-tanda memar karena jatuh ataupun pukulan benda tajam. Terutama ia mengamati pada bagian tengkuk Podin. Tetapi kenyataannya memang tidak ada tanda apa-apa, bahkan badannya juga tidak luka ada apa-apa. Hanya pada bagian dada dan ketiak yang agak merah karena terkena ikatan tambang untuk menurunkan tubuh Podin dari atas pohon.
"Maaf, Bu .... Ini si Bapak harus opname .... Harus menginap di rumah sakit. Karena memang kondisinya agak memprihatinkan. Dia harus diinfus dan diberi obat. Sebab kalau tidak ada infus yang masuk, tidak ada obat yang masuk, nanti akan lama untuk pulih kembali kesehatannya. Makanya untuk memulihkan kesadarannya, kami akan berikan infus .... Bagaimana ...?" kata dokter yang jaga di ruang IGD itu kepada Cik Melan sebagai istrinya.
"Iya, Pak Dokter .... Tidak apa-apa, saya hanya bisa pasrah, saya mengikuti bagaimana baiknya suami saya, supaya bisa pulih kembali kesehatannya." begitu jawab Cik Melan, yang tentunya dia memang hanya bisa pasrah untuk meminta bantuan kepada dokter, kepada pihak rumah sakit, agar suaminya dirawat dan bisa kembali pulih kesehatannya.
"Baik, Ibu.... Kalau begitu kita siapkan untuk perawatannya, biar disiapkan kamar inapnya. Silakan Ibu ke meja suster itu, biar Ibu dijelaskan oleh suster untuk administrasi pemondokannya." kata dokter itu kepada Cik Melan.
Cik Melan pun menerima semua apa yang disampaikan oleh pihak rumah sakit . Dan akhirnya, Podin pun memang harus opname di rumah sakit. Tentu Cik Melan sudah mulai sedikit lega, karena melihat pada tubuh suaminya sudah dipasang infus yang tergantung di atasnya, dan langsung masuk ke dalam tubuh melalui jarum yang dipasangkan pada lengan tangannya. Ya, tentunya seperti yang dikatakan oleh dokter tadi, bahwa infus inilah yang akan mempercepat pemulihan kesehatan suaminya, karena melalui infus inilah obat-obatan dimasukkan ke dalam tubuh Podin.
"Yang tabah, Cik ...."
"Yang sabar, Cik Melan ...."
"Semoga Pak Podin segera sembuh dan pulih kesehatannya."
__ADS_1
Podin harus dirawat di rumah sakit. Dan Cik Melan pun menunggui suaminya dengan tabah dan sabar.