PULAU BERHALA

PULAU BERHALA
EPISODE 135: KIRIMAN PETI


__ADS_3

    Podin sedang bingung. Podin sedang tidak bisa berpikir lagi. Podin sedang meratapi dirinya yang digoda dan diganggu oleh dua makhluk aneh yang menghuni di dalam peti-peti keramatnya itu. Jika kemarin-kemarin malam, peti yang ia bawa dari Karawang itu memunculkan gadis cilik yang selalu menatap dengan pandangannya yang sadis, menatap Podin seakan penuh rasa amarah, bahkan juga mengeluarkan suara besar menggelegar menggetarkan telinga yang mendengarkannya, dan menakut-nakuti Podin, serta menyuruh Podin untuk kembali mempersembahkan korbannya di istana Pulau Berhala.


    Malam berikutnya, bayi kecil yang gundul yang sudah biasa mencari uang itu, ternyata juga ikut mogok, tidak mau pergi, tidak mau mencari uang. Bahkan ia justru marah kepada Podin dan menggigit jempol kakinya. Tentunya, Podin merasa jengkel dengan makhluk-makhluk penghuni peti keramatnya itu.


    Namun ada yang aneh pagi itu, saat Podin keluar dari rumahnya, keluar dari villa saay mau mencari sarapan pagi. Saat ia membuka pintu villa itu, ternyata ada box yang dibungkus dengan kertas coklat. Bungkusan yang aneh, seperti bungkus kardus televisi ataupun bungkus barang elektronok lainnya. Pastinya ini paket atau hadiah yang ditutup dengan kertas coklat, dengan kemasan yang bagus. Box itu berada tepat di depan pintu.


    Tentu Podin bingung. Tentu Podin heran, tentu Podin ingin tahu, siapa yang menaruh kotak kardus di depan pintunya itu? Kalaupun itu barang kiriman dari seseorang, siapa yang mengirimkan kardus besar itu? Tentunya Podin juga bertanya-tanya, apa isi dari kardus yang ada di depan pintunya itu? Apa sebenarnya yang ada di dalam box yang dikirimkan kepadanya itu? Barang apa yang hanya ditaruh di depan pintu begitu saja? Podin menduga, mungkin saja barang itu dikirimkan tadi malam. Mungkin saja si pengirim sudah memanggil-panggil Podin, tetapi ia tidak mendengar.


    Podin lantas mengamati kardus yang dibungkus dengan rapi menggunakan samak coklat itu. Ia mengelilingi kardus itu, ia mencari tulisan dalam pada kardus itu. Podin ingin tahu, siapa yang mengirim, dan untuk siapa barang itu dikirimkan? Mengapa ada di depan pintunya? Padahal Podin tidak pernah merasa beli barang, tidak pernah merasa beli sesuatu, tidak pernah merasa memesan barang-barang elektronik. Tetapi kini ada barang yang dikirim dan ditaruh di depan pintunya. Dan jelas-jelas kiriman barang itu ditaruh di depan pintu, yang tentunya saat Podin membuka pintu dan akan keluar dari rumahnya, pastilah barang itu langsung terlihat. Bahkan mungkin, kalau Podin tidak melihatnya, pasti akan menubruk barang itu, karena berada tepat di depan pintu.


    Podin sudah mengeliling kardus itu. Ia mengamati kardus yang ada di depan pintunya itu. Namun tidak ada tulisan pada bungkus kardus itu. Namun Podin tidak menemukan ada alamat di situ. Podin tidak menemukan ada nama pengirim di kardus itu. Bahkan ia juga tidak menemukan nama orang yang dikirimi.


    Ya, kertas yang digunakan untuk membungkus kardus itu hanya berupa kertas coklat polos saja. Tidak ada tulisan sama sekali. Tentu Podin menjadi ragu-ragu, sebenarnya untuk siapa barang itu? Apakah untuk dirinya? Atau mungkin untuk orang yang punya villa sebelum ia beli? Atau mungkin, itu paket barang yang kesasar, paket barang yang salah alamat. Si pengirim mungkin saja keliru menaruh paket barang di tempat itu.

__ADS_1


    Tentunya Podin belum berani membuka kardus itu, belum berani menengok isinya. Maka Podin menyingkirkan barang yang berada di depan pintunya itu, lantas didorong dan menaruhnya di teras yang ada di pinggir pintu, agak menjauh dari pintu villa. Tentunya, dengan harapan, kalau nanti si tukang pengirim itu keliru, ia akan mengambilnya kembali dan akan mengantarkan ke alamat yang benar. Ya, tentunya untuk sementara waktu, Podin membiarkan box itu. Untuk sementara waktu, Podin hanya mendiamkan saja barang itu di samping pintu rumahnya. Ya, Podin masih berbaik, tidak mau segera membuka paket tersebut, karena ia merasa itu bukanlah miliknya.


    Podin langsung menutup pintunya. Lantas ia pergi keluar, meninggalkan villanya, untuk mencari sarapan pagi. Yang tentunya, jarak dari villa menuju ke warung makan agak jauh. Dan yang pasti, Podin harus melintasi jalan pribadinya, dari villa menuju jalan besar, yang hanya terbuat dari susunan batu makadam.


    Cukup lama Podin sarapan pagi di warung. Tentunya tidak hanya minum kopi dan menikmati hidangan yang ada di warung itu, tetapi pastinya sebagai orang yang baru saja datang di tempat itu, yang baru saja masuk ke villa tempat tinggalnya, tentunya Podin ingin mendengar tentang obrolan dari orang-orang yang ada di sekitar wilayah tempat tinggalnya, cerita-cerita dari orang-orang yang pada makan di warung, dan pastinya, Podin juga ingin mencari tahu, kira-kira siapa yang mengirim paketan ke rumahnya.


    Dan tentu tidak hanya itu, Podin juga ingin menikmati udara segar di kawasan Puncak, sambil melihat-lihat para pelancong yang hilir mudik, sambil menyaksikan warung-warung yang banyak bertengger di sepanjang jalan Cisarua. Ya, pastinya Podin juga ingin menikmati indahnya pemandangan yang selalu didatangi oleh banyak warga dari Jakarta di setiap akhir pekannya. Di sinilah, tempat para orang kaya menghabiskan uangnya, hanya dengan piknik dan berwisata di kawasan Puncak. Karena hawa dingin dan indahnya pemandangan itulah, maka kawasan Puncak ini setiap akhir pekan selalu macet oleh banyaknya pengunjung yang berdatangan. Maka pantas kalau harga sarapan pagi juga lumayan mahal.


    Setelah selesai menikmati makan pagi, dan tentunya setelah puas menyaksikan pemandangan serta kesibukan orang-orang yang lalu lalang di Jalan Puncak itu, maka Podin kembali menuju villanya. Yang tentunya dia akan beristirahat, setelah semalam ia digoda oleh makhluk kecil gundul, yang sudah menggigit jempol kakinya. Tentu Podin juga masih merasakan sakitnya gigitan itu. Podin berjalan perlahan menapaki jalanan menuju villanya, sambil melihat kanan kiri, tentunya juga mengamati lingkungan sekitarnya dan juga mengamati rumah-rumah milik orang kampung. Namun setelah masuk ke jalan makadam yang khusus menuju ke arah vullanya, ia pun melintasi jalan yang sepi, jalan yang disekelilingnya hanya ditumbuhi tanaman-tanaman besar, seperti halnya Podin berada di tengah hutan. Sedangkan pada kanan kiri jalan itu, ditumbuhi oleh pagar hidup yang daun-daunnya menjuntai sampai tinggi, karena tidak terawat. Ya, itulah jalan yang menuju villa milik Podin.


    Aneh. Tentu Podin kembali berfikir, bertanya-tanya, siapa sebenarnya yang sudah menaruh box paket itu di tengah pintu? Siapa sebenarnya yang menaruh paket tanpa nama itu, tanpa pengirim dan tanpa alamat tujuan, yang tdi sudah disingkirkan, kini sudah kembali lagi berada di tengah pintu.


    Podin tengok-tengok, melihat kanan kiri, melihat sekitarnya. Tentu ia ingin mencari, siapa orang yang sudah memindahkan kotak itu kembali? Siapa orang yang sudah mengangkat kotak itu, yang sudah disingkirkan kemudian justru di tempatkan di tengah pintu kembali? Tentunya Podin mencari-cari orang itu, tukang paket yang mengantar box itu.

__ADS_1


    Namun kenyataannya, tidak ada orang yang berada di sekitar situ. Bahkan Podin juga sudah berputar mengelilingi villanya, tetapi orang yang diduga mengembalikan box kiriman itu ke tengah pintu, memang benar-benar tidak ada. Tidak ada orang sama sekali di tempat itu.


    Maka dengan rasa jengkel, Podin kembali mendorong box paket itu kembali ke arah samping kanan, menjauh dari pintu, berada di teras sebelah kanan pintu. Tentu Podin sambil menggerutu.


    "Wah, kurang ajar .... Siapa sih, tukang paket yang menaruh barang di depan pintu ini? Di mana orangnya? Tahu kalau yang punya rumah sedang pergi, kok ya tidak mau menunggu barang sebentar. Kalau memang mau mengirim paket ini, kenapa tidak menunggu saya ...?! Dasar, tukang paket gemblung .... Paket ini benar milik saya apa bukan? Kalau nanti saya buka, ternyata ini bukan milik saya, malah saya nggak enak .... Ya, kalau orangnya nggak datang kemari .... Coba kalau orangnya datang kemari lagi, terus dia bilang keliru ..., begitu keliru, dia terus marah-marah kepada saya ...?! Malah saya yang malu, yang rugi." gerutu Podin yang sudah mendorong box psket sebesar televisi itu.


    Lantas Podin meninggalkan begitu saja. Ia pun langsung masuk ke dalam villanya dan kembali menutup pintu villa itu. Ya, Podin yang mengantuk kemudian merebahkan tubuhnya ke atas ranjang tempat tidurnya. Karena lelah dan saking mengantuknya, tanpa terasa, hanya dalam sekejap saja, Podin yang merebahkan tubuhnya di kasur empuk itu, sudah mendengkur. Ia terlelap dalam tidur.


    Hingga siang hari, Podin baru terbangun. Dan tentunya, Podin juga ingin keluar menuju warung untuk makan siang. Perutnya sudah terasa lapar, walau tadi pagi ia sarapan habis banyak. Namun rupanya Podin memang merasakan perutnya yang sangat lapar. Maka setelah cuci muka, Podin bergegas keluar, akan menuju warung. Mungkin rencananya akan berganti warung, ke tempat lain. Ya, tentunya karena Podin masih orang baru di tempat itu, ia akan mencoba warung-warung yang ada di sekitarnya, mencari menu yang enak, mencari harga yang layak. Memang di sepanjang jalan Puncak, terdapat banyak warung makan dengan aneka pilihan menu. Ya, karena daerah wisata, pastinya banyak para pwlancong yang jajan sambil menikmati pemandangan. Tentu bagi Podin, orang yang uangnya banyak, gampang mencari uang tanpa harus bersusah payah bekerja, maka makan minum pun tidak peduli. Yang penting ia mencari kepuasan, ingin mencari makanan yang nikmat, ingin merasakan menu yang enak.


    Namun, alangkah kagetnya Podin, ketika ia membuka pintu, dan ternyata, kembali ia menemukan box paket kiriman yang sudah ia singkirkan tadi, berada di depan pintu lagi, berada di tempat yang tadi, kembali menghalangi ia akan keluar.


    Maka karena saking jengkelnya, Podin pun langsung membuka kotak paket itu. Podin langsung merobek-robek sampul kertas coklat yang membungkus kotak itu. Lantas Podin membuka kardus yang ada di dalamnya. Dan alangkah terkejutnya Podin, dalam paket yang dikirimkan, entah siapa yang mengirimkannya, isinya adalah peti harta karun yang pernah ia bawa dari Pulau Berhala.

__ADS_1


    Podin terbelalak, namun hanya bisa diam tanpa mampu berkata-kata. Podin hanya bisa bertanya dalam hati, apa arti dari semuanya ini?


__ADS_2