PULAU BERHALA

PULAU BERHALA
EPISODE 182: PODIN SEHAT


__ADS_3

    Setelah lebih dari satu bulan lamanya Podin istirahat istirahat di rumah, tidak menengok usaha-usahanya, bahkan sangat jarang keluar rumah, akhirnya ia kembali sehat. Tubuhnya kembali berisi daging. Tulang-tulangnya sudah tidak memprihatinkan lagi jika dilihat orang. Energinya sudah terkumpul. Dan tentunya gerakan badannya sudah pulih seperti sedia kala.


    "Mah .... Saya sudah sehat .... Saya mau lihat-lihat tempat usaha kita ...." kata Podin pada Cik Melan, yang mengungkapkan keinginannya untuk melihat tempat usahanya.


    "Yakin, sudah sembuh ...? Sudah kuat untuk bepergian ...?" tanya Cik Melan pada suaminya yang berkeinginan pergi ke tempat usahanya itu.


    "Iya, Mah .... Saya bosan tinggal di rumah terus .... Saya ingin melihat para karyawan bekerja .... Sama menengok tempat usaha kita ...." jawab Podin yang tentunya memang berkeinginan menengok tempat usahanya.


    "Mau bersama dengan saya ...?" tanya Cik Melan yang tentu juga tidak ingin mengijinkan suaminya pergi sendirian begitu saja.


    "Iya .... Bersama Mamah saja .... Saya kira begitu juga lebih baik. Yang penting saya bisa melihat bagaimana tempat usaha kita sekarang, setelah lebih dari tiga bulan saya tidak pernah menengoknya." kata Podin pada istrinya.


    "Ya ..., bagus, Pah .... Saya jadi tidak khawatir kalau begitu .... Nanti kita bersama-sama menuju tempat usaha kita, yang tempat jualan sembako yang ada di Parung lebih dulu, yang dekat rumah. Setidaknya Papah tidak terlalu capek, juga tidak terlalu jauh perjalanannya. Dan di sana, Papah juga sudah akrab dengan anak-anak, para karyawan, yang tentunya nanti bisa memberi semangat kepada mereka agar para karyawan lebih giat dalam bekerjanya." kata Cik Melan kepada suaminya, yang tentu senang bisa mengajak suaminya ke tempat usahanya, dan setidaknya ini adalah hiburan bagi Podin untuk melepas penat ketika ia harus tinggal di rumah secara terus-menerus karena kesehatannya. Dan setidaknya, saat bertemu dengan para karyawan, Podin bisa menyaksikan mereka bekerja, bisa melihat tempat usahanya, pasti itu bisa menjadi obat tersendiri bagi Podin.


    Akhirnya, pagi itu sekitar jam delapan pagi, setelah sarapan, Cik Melan bersama suaminya berangkat menuju ke toko sembako yang dimilikinya yang terdapat di Kota Parung. Cik Melan menyetir sendiri mobil suaminya yang selama ini memang menjadi kesayangan Podin. Walaupun mobil tua, tetapi memang nyaman dan enak untuk dinaiki. Ya, itu mobil kesayangan Podin sejak pertama kali dia bisa membeli mobil dan belajar menyetirnya. Dan dalam waktu tak berapa lama, Cik Melan sudah memarkirkan mobilnya di depan toko sembako miliknya.


    "Ada Pak Podin ...."


    "Iya, benar .... Pak Podin ...."


    "Pak Podin ...."


    Para karyawannya yang ada di toko sembako itu, langsung berhamburan keluar. Mereka langsung menemui Podin yang baru saja turun dari mobil, dan menyalami Podin, sambil cium tangan. Tentunya para karyawan ini sangat senang, karena bosnya sudah sehat. Pastinya mereka selalu ingat, dan tidak akan lupa dengan kebaikan bosnya. Ya, setiap jam makan siang, Podin selalu membelikan bakmi atau bakso atau batagor, bahkan juga siomai kepada para karyawannya. Ya, Podin memang sangat baik pada para karyawannya.


    "Sudah sehat ya, Pak Podin ...?" tanya salah seorang karyawannya.


    "Ya .... Puji Tuhan .... Syukur, saya sudah sehat ...." jawab Podin sambil tersenyum.


    "Syukurlah ..., Pak Podin ...."


    "Tetap hati-hati ya, Pak ...."


    "Tetap jaga kesehatan, Pak Podin ...."


    "Iya .... Terima kasih semuanya ...." jawab Podin yang tentunya gembira bisa bertemu dengan para karyawannya lagi.

__ADS_1


    "Mari, Pak Podin .... Silakan masuk ...." kata salah satu karyawannya yang mempersilakan bosnya masuk ke toko.


    "Iya ..., iya .... Tolong para pembeli itu dilayani dulu ...." kata Podin yang langsung memerintahkan karyawannya untuk melayani pembeli yang sudah pada antri. Dan Podin pun melangkah masuk, menuju ke kursi yang biasa ia duduki, di ruang dalam toko sembako itu.


    Dan akhirnya, Podin bisa tersenyum menyaksikan para karyawannya yang rajin dan cekatan . Dan tentunya senang menyaksikan toko yang selama ini ditinggalkan, nampak tertata rapi dan penuh dengan barang dagangan. Tentu semuanya itu tidak terlepas dari kerja keras Cik Melan yang ahli dalam manajemen perdagangan.


    Seperti biasa, hampir setiap hari ada saja pengemis yang datang ke toko sembako milik Podin. Demikian juga hari itu, ada seorang pengemis yang datang berdiri di depan toko.


    "Jun .... Ada pelanggan datang itu ..., di deoan ...." kata salah seorang kryawan pada temannya, saat ia melihat ada pengemis yang berdiri di depan toko. Tentu dari pakaiannya yang lusuh compang-camping, serta penutup kepala dari caping yang terbuat dari anyaman bambu, itu merupakan ciri dari sorang pengemis.


    "Siaaap ...." karyawan yang dipanggil Jun itu langsung keluar toko, dan membawa uang receh untuk diberikan kepada pengemis itu.


    Namun, setelah karyawan bernama Jun itu sampai di luar toko, dan memberikan uang receh untuk pengemis yang datang ke tokonya, ternyata pengemis itu menolaknya. Tidak mau menerima uang pemberian dari karyawan itu. Bahkan karyawan itu sudah menambahi besaran uang yang diberikan, dari kantongnya sendiri. Dan pastinya jumlahnya lumayan besar untuk sebuah pemberian uang kepada pengemis. Tentu si Jun menjadi bingung, karena pemberiannya hanya digelengi kepala saja oleh pengemis itu.


    "Bapak mau minta apa ...? Ini uang sudah cukup untuk beli makan dan pulang ...." kata Jun pada pengemis yang menolak pemberiannya.


    Laki-laki pengemis itu diam saja, tidak menjawab. Hanya menggelengkan kepalanya lagi. Pertanda memang tidak mau diberi uang oleh karyawannya Podin.


    "Minta makanan ...? Apa jajanan apa ...? Sebut saja, nanti saya ambilkan ...." kata si Jun.


    "Halah ..., kok bikin pusing .... Terserah, lah ...." kata si Jun yang langsung kembali masuk ke toko dan meninggalkan pengemis itu sambil menggerutu.


    "Ada apa, Jun ...? Kok menggerutu ...?" tanya temannya yang tadi menyuruh memberi uang pada pengemis.


    "Pengemis bisu .... Dikasih uang tidak mau .... Ditanyai mau minta apa, malah diam saja ...." jawab Jun.


    "Lhah, terus ...?!" tanya temannya.


    "Biarin aja .... Nanti kan pergi sendiri ...." sahut Jun.


    "Mana pengemisnya ...?" tanya Cik Melan, yang meski masih sibuk mengecek keuangan, ia juga mendengar keributan karyawannya.


    "Itu, Bu .... Di depan toko." jawab Jun yang sambil menunjuk ke arah pengemis yang masih berdiri di depan tokonya.


    Serta merta Cik Melan langsung beranjak dari kursinya, keluar toko dan ingin menemui pengemis itu. Sikap murah hati dan kedermawanan Cik Melan tidak ingin membiarkan pengemis begitu saja. Tentunya ia ingin memberikan sesuatu yang diinginkan oleh pengemis itu.

__ADS_1


    "Pak .... Bapak mau minta apa ...?" tanya Cik Melan setelah menemui pengemis yang ada di depan tokonya.


    Seperti yang dikatakan oleh Jun, pengemis itu tidak mau bicara, Pengemis itu hanya diam. Tetapi kali ini, tangan pengemis itu menunjuk sesuatu. Tentu Cik Melan paham, bahwa pengemis itu menginginkan sesuatu yang ditunjuknya. Maka Cik Melan pun mengamati arah telunjuk tangan yang ditunjukkan oleh pengemis tua tersebut.


    "Apa, Pak ...? Mana ...?" tanya Cik Melan yang mendekat dan mengamati yang ditunjuk oleh pengemis itu.


    "Ooo ..., beras ...?" tanya Cik Melan kepada pengemis itu lagi, karena memang seakan tangan pengemis itu mengarah ke tumpukan karung beras.


    Pengemis itu menggelengkan kepalanya. Pertanda yang disebut oleh Cik Melan bukan yang dimaksudkan. Lantas tangannya kembali menunjukkan pada Cik Melan, arah yang dituju oleh telunjuk itu. Dan kali ini, pengemis tua itu lebih mendekatkan tangannya pada pandangan Cik Melan.


    "Apa ...? Pak Podin ...?! Itu suami saya ...." kata Cik Melan setelah mengamati arah petunjuk dari pengemis itu, yang ternyata menunjuk ke arah Podin.


    Pengemis itu menganggukkan kepa. Pastinya itu merupakan pertanda bahwa pengemis itu mengiyakan apa yang dikatakan oleh Cik Melan.


    "Memang kenapa dengan Pak Podin ...? Mau ketemu Pak Podin ...?" tanya Cik Melan pada pengemis itu.


    Pengemis itu kembali menganggukkan kepala. Dan Cik Melan sudah paham, kalau yang dikehendaki oleh pengemis tua itu adalah ingin bertemu dengan Podin. Maka Cik Melan pun langsung pergi meninggalkan pengemis itu, masuk ke dalam toko, memberitahukan hal itu kepada suaminya.


    "Pah ..., ada pengemis yang ingin ketemu sama Papah ...." kata Cik Melan memberi tahu suaminya.


    "Mamah itu aneh, ada-ada saja ...." sahut Podin yang tentunya juga merasa aneh.


    "Iya, Pah .... Dikasih uang tidak mau .... Dtawari barang-barang dagangan juga tidak mau .... Maunya ketemu sama Papah ...." kata Cik Melan menegaskan pada suaminya.


    "Kok aneh .... Mau apa dia ...?" tanya Podin.


    "Ya, gak tahu lah, Pah .... Makanya, temui sebentar ...." kata Cik Melan yang menyuruh suaminya untuk menemui pengemis yang menunggu di luar.


    "Di mana pengemis itu?" tanya Podin yang beranjak berdiri dari kursinya.


    "Ada di luar ..., di depan toko ...." kata Cik Melan menunjukkan.


    Podin pun keluar. Pastinya akan menemui pengemis yang diceritakan oleh istrinya itu. Dan pastinya, Podin ingin tahu apa yang akan diminta oleh pengemis itu.


    Namun, alangkah kagetnya Podin, begitu ia sampai di depan toko sembako miliknya, ia melihat sosok yang masih betulbetul ia ingat. Bahkan mungkin Podin tidak akan melupakan sosok itu selamanya. Ya, sosok laki-laki tua yang mengenakan pakaian compang-camping dengan caping keropak dari anyaman bambu. Persis seperti pengemis. Laki-laki itu yang pernah ketemu dengan dirinya. Laki-laki yang dianggapnya pengemis, namun justru memberikan uang kepada Podin, uang yang berupa koin emas. Dan laki-laki itu pula yang telah menunjukkan dirinya hingga masuk ke pulau berhala.

__ADS_1


    Bergetar seluruh tubuh Podin. Keringat dingin mengucur di jidatnya. Mau apa laki-laki aneh itu? Ada apa orang tua yang menyamar pengemis itu mendatanginya?


__ADS_2