PULAU BERHALA

PULAU BERHALA
EPISODE 41: MENCULIK ANAK SENDIRI


__ADS_3

    Hidup boros seperti Podin memang serba repot. Tentu karena tuntutan dari istri mudanya yang selalu meminta ini, meminta itu, meminta uang berkali-kali. Meskipun ia sudah menjual rumah mewahnya, sudah menjual motornya, sudah menjual ruko yang ditempati istrinya, tentu dalam waktu yang tidak lama, dalam waktu singkat, uang mereka pun akan segera habis. Ya, karena uang hasil penjualan rumah, uang hasil penjualan ruko, dihabiskan begitu saja tanpa berpikir panjang, tanpa berpikir bagaimana nanti memenuhi kebutuhannya lagi, serta untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang lain. Dan yang jelas, kehidupan Maya yang serba foya-foya, selalu ingin tampil wah, selalu menjaga gengsi, itu akan menguras uang. Ibarat kata, walau punya uang satu truk, pasti juga akan habis.


    Podin pun harus selalu siap untuk menyediakan uang buat memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidup istri mudanya. Apalagi sekarang ini, Maya sudah kumpul dengan selebritis, seperti halnya sosialita kelompok-kelompok orang-orang the have, kumpulan orang-orang yang ingin dipandang kaya, kelompok orang-orang yang suka pamer harta kekayaan. Maya hidupnya sudah berubah drastis, dari seorang perempuan yang bekerja sebagai pemandu karaoke, yang sudah hidup kumpul dengan para artis, dengan para selebritis, Bahkan Maya juga sering pergi ke sana kemari untuk memenuhi undangan-undangan dari para teman-teman sosialitanya, yang kegiatan itu oleh mayat dikatakan sebagai ajang silaturahmi untuk meningkatkan usahanya, sebagai ajang untuk menambah tamu-tamu di tempat hiburannya, sebagai ajang untuk memperkenalkan tempat usahanya, sebagai ajang untuk memperkenalkan tempat bisnisnya itu. Memang seperti itulah caranya menggaet teman-temannya untuk datang ke tempat hiburan, tempat karaoke kepada kelompok-kelompok sosialitanya.


    Seperti itulah kehidupan di dunia hiburan, dunia entertainment yang senantiasa menuntut untuk saling berhubungan dengan para selebritis, untuk saling komunikasi dengan orang-orang yang kental dengan dunia hiburan. Dan tentunya, Maya sudah menjadwalkan, selalu mengundang artis, selalu mengundang penyanyi-penyanyi terkenal. Minimal setiap sebulan sekali, bahkan kadang setiap malam Minggu tempat hiburan milik Maya itu penuh sesak dengan para artis, sehingga orang-orang pada berdatangan untuk sekedar ketemu artis-artis itu, dan berkaraoke mencari hiburan di tempat karaoke milik Maya tersebut. Walau sebenarnya yang pada datang itu adalah artis-artis yang sudah tidak laris. Dan pastinya, mereka akan hura-hura, akan berfoya-foya.


    Memang, hidup di dunia hiburan hanyalah untuk bersenang-senang saja. Seperti halnya yang dilakukan oleh Maya. Hidupnya hanya dipenuhi dengan senang-senang. Hidupnya hanya dipenuhi dengan foya-foya. Bahkan mereka tidak pernah memikirkan kebutuhan-kebutuhan untuk masa depan yang lebih penting. Saat dia butuh kesenangan,  yang penting saat itu dia bahagia, dia happy-happy. Yang penting saat itu semuanya merasakan gembira. Jangan pernah memikirkan akibatnya nanti bagaimana, jangan pernah berfikir besok ia akan makan apa. Yang penting hari itu bisa meluapkan kegembiraannya.


    Itulah yang dilakukan oleh Maya dengan dunia hiburannya. Seperti halnya saat ini. Dirinya yang sudah kehabisan uang lagi, tentu akan kebingungan lagi. Dan tentunya, Podin lah yang akan menjadi sasaran. Ya, Podin sang suami yang selalu menjadi sasaran tembak untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang selalu diminta oleh Maya, harus siap dan selalu bilang "Ya".


    "Bang ..., aku minta uang lagi ya, Bang ...." begitu kata Maya saat berdua dengan Podin.


    "Buat apa, Maya ku sayang ...? Lagi-lagi uang .... Lagi-lagi uang ...." tanya Podin kepada Maya, yang tentu kepalanya jadi pusing setiap kali dimintai uang oleh istrinya.


    "Saya kan harus kumpul dengan para selebritis, Bang .... Ini kelompok sosialita saya mau mengadakan arisan .... Kalau saya nggak punya uang, nanti saat ketemuan, saya malu Bang .... Saya nggak bisa ngomong, dan bahkan gak berani datang, Bang ...." kata Maya kepada Podin.


    "Yah, kan kalau cuman untuk arisan tidak banyak .... Itu ambil saja dari perusahaan dari tempat hiburan ...." jawab Podin santai saja.


    "Eeh ..., Abang itu tidak cuman sedikit, Bang .... Saya butuh banyak uang, Bang .... Ini bukan arisannya ibu-ibu PKK, Bang .... Untuk booking tempat itu saja sudah jutaan, Bang .... Belum nanti di sana kan ada makan, ada iuran ini iuran itu .... Ada yang menawarkan perhiasan .... Masak Abang tega istrinya dipermalukan oleh kelompok sosialitanya ...?!" begitu kata Maya, yang tentu memaksa ingin meminta uang kepada Podin dalam memenuhi kebutuhannya bersosialita.


    "Uang yang kemarin itu kan masih ada ...." kata Podin kepada Maya, yang tentunya saat Podin selesai menjual ruko milik istrinya itu uangnya sudah diserahkan semuanya kepada Maya.


    "Iih ..., Abang .... Uang segitu mana cukup, Bang .... Uangnya kan juga sudah buat kebutuhan Maya yang lain. Maya kan juga perlu ke salon, Maya juga perlu perawatan wajah, Maya juga perlu perawatan yang lain-lainnya, Bang .... Masa Abang tega nggak ngasih uang sama istri ...." begitu kata Maya yang tentu meminta uang kembali kepada si Podin. Karena bagi Maya, suami itu harus selalu memenuhi kebutuhannya istrinya. Podin harus selalu memenuhi apa yang menjadi tuntutannya.


    "Masa uang segitu banyak sudah habis ...?!" kata Podin pada istrinya, yang tentu ragi-ragu.


    "Eeh ..., Abang .... Biaya hidup di Jakarta itu mahal, Bang .... Tidak seperti di kampung .... Kita mau ke salon aja sudah satu juta, Bang .... Masa mau disamakan dengan potong rambut yang di pinggir jalan .... Nggak kelas lah, Bang .... Mosok Maya, istrinya Bang Podin, Pengusaha dunia hiburan, kok disuruh pergi ke salon kecil-kecilan itu, salon kampungan itu ..... Itu bukan tempatnya Maya, Bang .... Tempat Maya itu ya salon yang kelasnya selebritis, Bang .... Kelompok sosialita saya nanti gimana kalau tahu istri Abang ini motong rambut di salon yang ecek-ecek ...?!" kata Maya yang tentu beralasan kalau dirinya harus masuk di salon yang mewah dan mahal, seperti salonnya para artis.


    Memang yang namanya gengsi di Jakarta adalah urusan nomor satu. Semua selalu dihubungkan dengan kata-kata gengsi. Demikian juga yang dilakukan oleh Maya, istri muda dari Podin tersebut. Dia akan gengsi kalau hanya pergi ke salon murahan. Setidaknya ia harus perawatan di salon-salon yang biasa digunakan oleh para selebritis.


    "Pokoknya saya mau, Abang cari uang lebih banyak lagi .... Saya tidak akan menuntut apa-apa selain menuntut Abang untuk cari uang." begitu kata Maya yang menegaskan kepada suaminya. Lantas Maya pun lagi-lagi ngambek dan masuk ke dalam kamarnya. Lantas menutup pintu kamarnya.


    Memang, Maya selalu menuntut kepada suaminya untuk dibelikan ini itu, untuk diajak ke sana kemari, untuk biaya perawatan tubuhnya. Macam-macam tuntutannya. Dengan cara mengancam itulah yang dilakukan oleh Maya agar suaminya menuruti semua kehendaknya. Jika tidak segera dituruti, jika tidak segera dipenuhi tuntutannya itu, maka sudah barang tentu, Maya langsung ngambek. Kalau Maya ngambek, maka Podin tidak bakalan dapat jatah kenikmatan dari istri  muda itu.


    Podin sudah tidak bisa apa-apa lagi kalau istrinya marah kepadanya. Podin sudah tidak sanggup menolak kalau istrinya meminta uang dan harus dipenuhi. Itulah istri muda, yang selalu menuntut uang kepadanya. Podin bingung tentunya. Dia pusing harus kembali mencarikan uang buat istrinya. Padahal rumah mewah yang dimilikinya sudah dijual. Dan kemarin baru saja ruko yang digunakan untuk berjualan istrinya juga sudah dijual. Uang hasil penjualan sudah habis. Tetapi Maya masih tetap terus meminta uang dan terus minta untuk dipenuhi kebutuhannya.


    Malam itu Podin keluar rumah. Ya, dia akan menuju ke tempat usahanya, yaitu gedung karaoke. Tentunya Podin akan mencari hiburan sendiri ketika ia tidak diberi kesempatan untuk masuk ke dalam kamar istrinya. Ia akan menyaksikan bagaimana para pemandu karaoke yang sudah seksi-seksi, yang sudah cantik-cantik, yang sudah diajari oleh trainer-trainer senam aerobik yang terkenal itu. Maka ia ingin menyaksikan mereka dari dekat. Podin ingin menyaksikan penampilan yang sudah dirubah. Podin ingin menyaksikan para pemandu karaoke itu. Dan tentunya, ia juga ingin tahu bagaimana hasil dari training yang dilakukan oleh istrinya itu untuk meningkatkan kemampuan kerja para karyawannya.


    Namun tiba-tiba saja, saat di perjalanan, Podin menyaksikan adanya bulan hampir bulat, yang ada di ujung jalan saat ia menyetir mobilnya. Ya bulan itu belum sempurna bulatnya. Artinya, sebentar lagi akan ada bulan purnama. Ya, besok ada;ah bulan purnama.


    Podin langsung teringat apa yang pernah dikatakan oleh Sang penjaga Pulau Berhala, bahwa kalau malam bulan purnama dirinya bisa menyerahkan persembahan kepada Sang penguasa, maka ia akan mendapatkan harta kekayaan yang banyak jumlahnya. Bahkan Podin juga teringat, waktu bulan purnama yang lalu. Kala itu, di malam bulan purnama, saat ia akan membawa anak-anaknya tetapi justru gagal karena anak-anaknya yang hilang, Podin menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, ia melihat bagaimana orang-orang pada mempersembahkan anaknya di atas meja persembahan yang terbuat dari batu besar itu, hasilnya adalah harta-harta karun yang sangat banyak jumlahnya berjatuhan dari batu kisaran yang mengucurkan darah korbannya. Dan darah itu berubah menjadi permata-permata yang sangat indah, perhiasan-perhiasan yang tak terhingga, dan uang-uang dari koin emas yang tak ternilai harganya. Podin juga menyaksikan bagaimana para ponggawa kerajaan, para laskar kerajaan dari istana berhala itu mengumpulkan seluruh harta kekayaan yang jatuh dari batu kisaran tersebut.


    Kala itu Podin benar-benar terkesima. Kala itu, Podin benar-benar ingin mendapatkan harta kekayaan yang mengucur bagaikan air hujan yang mengalir dari batu persembahan. Tetapi waktu itu, Podin benar-benar sangat kecewa, sangat menyesal, karena dia tidak bisa membawa anaknya. Sedangkan pengunjung-pengunjung lainnya, waktu itu, di saat bulan purnama berada di atas Pulau Berhala tersebut, semua orang yang hadir di situ mendapatkan perhiasan intan permata, emas dan berbagai perhiasan, serta uang-uang dari emas yang jumlahnya tidak terhitung, yang jumlahnya sangat banyak. Tentu itu semua membuat iri Podin.


    Begitu teringat dengan malam bulan purnama yang akan berlangsung esok hari, Podin pun langsung memutuskan ingin pergi mencari anaknya ke rumah istrinya lagi. Namun tentunya, saat ini Podin idak tahu di mana sekarang istri dan anak-anaknya tinggal? Podin berniat ingin membawa anaknya kembali ke Pulau Berhala. Podin merencanakan ingin membawa anaknya itu untuk dipersembahkan ke Sang Penguasa.

__ADS_1


    Akhirnya, Podin yang punya pikiran licik, Podin yang punya otak jelek, ia berniat untuk menculik anaknya sendiri di sekolahnya. Ya, Podin akan pergi ke tempat sekolah Dewi, anaknya yang sudah sekolah SD itu. Podin akan menemui Dewi di sekolahnya, ia akan menculik anaknya sendiri. Podin pun langsung melajukan mobilnya menuju kampung halamannya. Dan besok pagi, ia akan menjemput anaknya yang sekolah.


*******


    Pagi itu, Podin sudah berada di depan sekolah Dewi. Ya, ia akan menemui anaknya yang bersekolah di situ. Podin datang ke sekolahan anaknya, dan berpura-pura untuk menjemput anaknya. Seperti yang sudah direncanakan, Podin yang sudah sampai di depan sekolahan anaknya, begitu sekolahan masuk, anak-anak semua masuk ke kelas, selanjutnya Podin yang memarkirkan mobilnya di depan sekolahan itu, ia langsung menemui Kepala Sekolahnya di ruang kantor.


    "Selamat pagi, Pak .... Saya bapaknya Dewi kelas dua. Ini mau menemui anak saya ...." kata Podin kepada kepala sekolah itu.


    "Oo ..., bapaknya Eko yang dulu kecelakaan di depan sekolahan itu, ya ...?" tanya kepala sekolah.


    "Betul, Pak ...." jawab Podin.


    Ya, tentu kepala sekolahnya ingat betul tentang peristiwa kecelakaan di depan sekolahnya yang mengakibatkan kematian muridnya. Kepala Sekolahnya juga masih ingat dengan Podin yang kala itu nangis-nangis saat dulu diberi tahu oleh pihak sekolah, kalau anaknya yang bernama Eko, terlindas truk di depan sekolah. Bahkan nama Eko pun menjadi viral gara-gara ada hantu tanpa kepala yang selalu muncul di depan sekolahannya. Dan Cerita itu sangat menakutkan dan menyebar hampir di seluruh wilayah.


    "Iya, Pak .... Ini ada perlu apa ya, Pak ...?" tanya kepala sekolah itu.


    "Saya mau menjemput Dewi, anak saya, Pak ...." jawab Podin.


    "Oh, ya .... Tapi bagaimana ya, Pak ...? Karena saya dengar Bapak dan Ibu sekarang sudah tidak satu rumah lagi. Saya dengar juga, Bapak sudah tidak berada di sini lagi .... Kok tiba-tiba ini akan menjemput Dewi ini bagaimana, Pak?" tanya kepala sekolah itu.


    "Oh, ini rencananya saya mau ajak anak saya ke Jakarta .... Dewi mau saya pindahkan sekolah di Jakarta, biar dirawat ibu tirinya." jawab Podin.


    "Tapi .... Saya khawatir, Pak Podin .... Maaf, ya ..., biasanya ibu tiri itu kejam ...." kata kepala sekolah itu yang sebenarnya agak kurang setuju dengan niatan ayahnya Dewi itu.


    "Ah, tidak semuanya, Pak .... Itu hanya cerita-cerita yang menjelekkan ibu tiri ...." sahut Podin.


    "Iya, Pak .... Mohon izin, saya terus terang karena memang berada di Jakarta bersama istri saya yang baru, kami kesepian, belum punya anak. Sebenarnya saya ingin anak saya, Dewi itu, untuk saya sekolahkan di Jakarta." jawab Podin.


    "Tapim Bapak .... Apakah Dewi mau kalau tinggal bersama dengan ibu tiri. Kasihan Dewi lho, Pak ..., kalau nanti ibu tirinya agak terlalu keras kepada Dewi .... Maaf ..., lupa .... Cerita-cerita seperti itu sering kami dengar ...." kata kepala sekolah itu yang tentu memberi gambaran kepada Podin tentang ibu tiri.


    "Istri saua baik kok, Pak .... Justri ini yang meminta istri saya .... Sebenarnya saya juga tidak mau repot. Tapi semuanya itu karena istri saya yang menyuruh saya mengambil Dewi ...." jawab Podin. Tentu berpura-pura untuk mengelabuhi kepala sekolah itu.


    "Ya ..., coba, Pak .... Nanti akan saya sampaikan kepada Dewi." kata kepala sekolah itu yang kemudian ia berjalan ke ruang kelas tempat belajarnya Dewi. Dan tentu diikuti oleh Podin.


    Sesampai di depan ruang kelas, kepala sekolah itu mengetuk pintu. Seorang guru perempuan keluar. Kemudian bicara sebentar kepada guru yang mengajar di kelas itu. Kepala sekolah itu menyampaikan, kalau Dewi dijemput oleh bapaknya.


    Guru kelas itu tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya pasrah dengan apa yang akan dilakukan oleh pihak keluarga. Maka Sang Guru itu pun langsung memanggil Dewi.


    "Dewi .... Kamu dicari oleh bapakmu. Katanya kamu akan diajak bapak kamu ke Jakarta ...." kata guru itu kepada Dewi.


    "Asiiikkk .... Dewi akan ke Jakarta ...." tentu teman-temannya langsung riuh senang mendengar kata-kata akan diajak ke Jakarta. Ya, bagi anak-anak desa, Kota Jakarta hanya ada dalam impiannya belaka.


    Dewi pun langsung beranjak dari bangku, dan keluar menemui bapaknya yang ada di depan kelas bersama Bapak Kepala Sekolah.


    "Dewi ...." kata Podin yang langsung memeluk anaknya.

__ADS_1


    "Bapak ...." sahut Dewi yang tentu senang bisa ketemu bapaknya lagi.


    "Dewi ..., Bapak mau ajak kamu ke Jakarta ...." kata Podin pada anaknya.


    "Terus sekolah Dewi bagaimana ...?" tanya anaknya.


    "Bapak mau ajak kamu ke Jakarta, nanti kamu sekolah di Jakarta. Mau ya ...?!" begitu kata Podin setelah bertemu dengan anaknya.


    Namanya saja anak kecil, belum bisa berfikir apa-apa. Tanpa bisa menolak, Dewi pun akhirnya menyetujui apa yang dikatakan oleh bapaknya dengan berbagai alasan. Yang jelas Dewi mau diajak oleh bapaknya karena dijanjikan akan disekolahkan di Kota Jakarta, akan tinggal bersama bapak dan ibunya yang baru.


    "Tapi saya pulang dulu rumah, Pak .... Saya mau bilang Ibu dulu ...." kata Dewi.


    "Tidak usah .... Jakarta itu jauh .... Butuh waktu lama untuk ke Jakarta .... Nanti kalau kamu pulang, kamu malah tidak boleh ikut .... Pokoknya kita berangkat saja sekarang, supaya kita tidak kemaleman ...." begitu kata Podin kepada anaknya. Tentu dengan berbagai macam rayuan.


    Dan akhirnya, Dewi beserta dengan Podin naik mobil, meninggalkan sekolahan itu. Dewi sudah dibawa oleh Podin. Diam-diam, Podin sudah menculik anaknya sendiri.


    Ya, seperti yang sudah direncanakan oleh Podin, Dewi, anaknya yang diculik dari sekolahannya itu, akan diajak berputar-putar terlebih dahulu. Bahkan juga dibelikan jajanan yang enak-enak. Termasuk dibelikan es cream. Semuanya itu dilakukan oleh Podin untuk mengelabui anaknya. Ia pun mengatakan dengan berpura-pura akan mengajak anaknya berpiknik.


    "Kita mampir piknik, ya .... Supaya kita enak .... Supaya kita senang .... Supaya kita bisa fresh .... Bapak tidak stres dengan pekerjaan melulu ...." kata Podin pada anaknya, berpura-pura mengajak piknik.


    "Iya, Pak .... Tapi sayang, Asri sama Antok tidak diajak ...." kata anaknya yang duduk di sampingnya, sambil makan jajanan yang dibelikan oleh bapaknya.


    "Tadi ibu tidak mengijinkan .... Besok lain kali kita ajak semua." jawab Podin.


    "Kita piknik ke mana, Pak ...?" tanya Dewi.


    "Ke tempat yang bagus, yang kita lintasi dengan mobil ini .... Paling nanti kita sambil cari makan, agar kita tidak kelaparan .... Dewi pengen makan apa?" tanya bapaknya.


    "Dewi pengen makan ayam kentucky, Pak ...." anaknya yang polos itu tentu kepengin sesuai angan-angannya. Betul anak yang masih kecil, yang masih duduk di kelas dua SD itu pasti senang dengan yang namanya ayam Kentucky. Untuk saat ini, makanan jenis itu sangat keren di kampungnya. Dan tentunya itu makanan yang paling favorit bagi anak-anak. Kalau dia bisa makan ayam Kentucky, pasti rasanya lain, dan tentu menyenangkan.


    "Oke, lah kalau begitu .... Kita nanti mampir di tempat ayam goreng Kentucky ...." sahut Podin yang tentunya hanya untuk mengulur waktu saja.


    Podin tidak keberatan. Selanjutnya ia mengajak Dewi masuk ke restoran cepat saji yang ada di dekat Pompa bensin. Sekalian membeli bensin, sekalian untuk mengajak anaknya makan ayam goreng kentucky, seperti yang diminta oleh anaknya. Bagi Podin, dalam pikirannya, ini adalah permintaan terakhir anaknya yang harus dipenuhi. Karena dalam waktu yang tidak lama, dia sudah tidak akan ketemu dengan anaknya lagi. Dan anak itu sudah berubah menjadi harta karun yang sangat mewah dan tidak ternilai harganya.


    "Nah .... Ini ayam goreng kentucky .... Ayo, nikmati ayam goreng Kentucky ini ...." kata Podin pada Dewi, yang sudah menerima menu ayam goreng kentucky itu.


    Dewi pun langsung memakan hidangan kesukaannya itu. Tentu ia sudah sangat lapar dan lelah. Dewi sangat senang dengan ayam goreng Kentucky itu. Maka dalam waktu sekejap, ayam goreng beserta nasi putih itu langsung habis dimakan oleh Dewi.


    "Bagaimana ...? Sudah kenyang apa belum ...?" begitu kata bapaknya kepada Dewi.


    "Sudah ..., pakai banget ...."


    "Ya ..., minumnya dihabisin dulu ya .... Nanti setelah selesai, kita berangkat lagi." begitu kata Podin kepada anaknya.


    "Terima kasih, Pak ...." kata Dewi yang sudah menghabiskan minuman yang menyegarkan itu.

__ADS_1


    Setelah semuanya selesai, Dewi kembali disuruh masuk ke mobil, duduk di depan, tempat bersebelahan dengan Podin. Tentunya Podin khawatirm jamgam sampai anaknya itu hilang lagi. Dan Podin pun langsung menuju ke tempat yang sudah direncanakan, yaitu menuju ke Pulau Berhala. Tentunya Podin tega melakukan penculikan anaknya sendiri itu. Ya, semuanya adalah karena tuntutan dari istri mudanya.


__ADS_2