PULAU BERHALA

PULAU BERHALA
EPISODE 71: PODIN KEBINGUNGAN


__ADS_3

    Setelah pulang dari pulau berhala, dan juga sudah sempat menginap di hotel dua malam, Podin pun sudah pulih energinya, sudah kembali bugar untuk kembali ke Jakarta. Tentunya, Podin akan kembali ke rumah yang selama ini ditempatinya bersama Maya di Jakarta.


    Namun, setelah Podin sampai di rumah, tiba di Jakarta, rumah yang dulu ditempati bersama Maya, Podin yang langsung memasukan mobilnya ke halaman rumahnya. Setelah memarkirkan kendaraan di halaman depan, tentu Podin langsung mengunci pintu mobilnya. Karena di dalam mobil itu masih ada peti harta karun. Sebenarnya akan dimasukkan ke rumah, tetapi tentu tidak bisa masuk ke garasi, karena dalam garasi ada mobil mewah milik Maya. Ya, Podin mengalah. Ia hanya memarkirkan mobilnya di halaman depan rumah. Itulah sebabnya, ia agak ragu untuk mengangkat peti harta karun, khawatir dilihat oleh para tetangganya.


    Lantas Podin masuk ke dalam rumahnya. Ia membuka pintu depan dan masuk ruang tamu. Tetapi ia hanya mendapati sepi. Podin hanya memandang kursi-kursi tanpa ada siapa-siapa lagi, tidak juga Maya yang sering duduk di ruang itu. Kemudian Podin juga membuka kamar Maya. Lagi-lagi di kamar Itu juga tidak ada Maya, yang biasanya tergeletak di kamarnya. Bahkan Podin juga tidak melihat kalau di dalam kamar itu ada tanda-tanda seorang perempuan yang pernah memberikan kenikmatan dalam hidupnya. Podin merasakan, betapa Sunyinya rumah itu bila tidak ada Maya.


    Lantas Podin duduk di kursi makan, hanya menghadapi meja makan yang kosong, tanpa ada makanan apapun di atasnya. Dulu Podin oden pernah menikmati makan pagi, makan siang, maupun makan malam, di meja itu bersama Maya. Di situ, di ruang makan itu, meski Maya tidak bisa memasak, tetapi selalu menyediakan makan untuk dirinya. Podin mengambil gelas, lantas menuangkan air dingin dari dalam kulkas, dan meneguknya hingga habis. Hilang sudah dahaganya setelah menyetir dari tempat yang sangat jauh.


    Namun kini, rumah itu benar-benar tidak ada orang yang bisa diajak makan bersama, tidak ada orang yang bisa diajak berbicara, meski kadang-kadang Maya itu menjengkelkan, tidak ada lagi orang yang bisa diajak untuk bercengkrama, bahkan Podin pun jika nanti malam tidur di rumah itu, pasti dia juga akan tidur sendirian tanpa ada teman, tanpa ada Maya yang biasanya diajak bercumbu rayu. Tentu kini Podin menjadi bingung. Podin gelisah sendiri. Podin galau dan juga merana, karena tidak ada siapa-siapa lagi yang ada di rumah itu. Hanya sepi dan sunyi.


    Podin kembali keluar rumah, menuju ke mobilnya. Ia akan mengambil peti harta karun yang masih ada di dalam mobil. Tentunya dia akan menyimpan baik-baik dua peti harta karun yang barusan di bawahnya dari Pulau Berhala sebagai hasil dari pengorbanan bayinya kemarin.


    "Oalah ..., Bang Podin .... Lama kali tidak ketemu .... Bang Podin bagaimana kabarnya?" tiba-tiba saja di depan rumahnya, ada seorang ibu, tetangganya yang menyapa Podin. Ya, tentu karena tetangganya kebetulan berada di luar rumah dan tahu ada Podin yang sedang keluar dari rumah ke arah mobilnya.


    "Iya ..., Bu .... Maaf mengganggu .... Ini baru saja nyampe." jawab Podin pada perempuan yang menyapa, tetangganya itu.


    "Saya dengar, Neng Maya melahirkan, ya?" tanya perempuan itu pada Podin, yang mungkin dia mendengar cerita-cerita dari tetangga yang lain.


    "Betul, Bu .... Tapi ini sudah tidak ada di rumah." jawab Podin yang tentu mengatakan yang benar, kalau Maya bersama bayinya memang tidak ada di rumah. Dan tentunya Podin juga khawatir kalau ibu-ibu pada datang ke rumahnya mencari Maya dan bayinya.


    "Loh ...?! Lah memang ke mana ...?! Kan baru saja melahirkan?" tanya perempuan tetangganya itu lagi.


    "Pulang kampung .... Mudik .... Maklum, Maya tidak bisa merawat bayinya. Dia pulang kampung agar dibantu oleh orang tuanya di kampung." jawab Podin yang tentu menyembunyikan rahasia istri dan bayinya. Dan dia mengatakan kalau Maya bersama bayinya diajak pulang kampung.


    "Oh ..., begitu ya .... Kah kok tidak ngambil baby sitter saja. Kan Bang Podin ini orangnya mampu, kaya, Neng Maya juga seperti selebritis .... Masak untuk merawat bayi saja harus pulang kampung, harus minta tolong pada orang tua .... Ambil baby sitter, biar dirawat oleh baby sitter." kata tetangganya itu pada Podin.


    "Iya, Bu .... Tapi maaf, Maya yang tidak mau, dan katanya memang Maya kangen dengan kampung, kangen dengan keluarganya. Dan ia ingin kalau bayinya itu dirawat oleh keluarga sendiri, sambil berlatih, Bu .... Biar Maya bisa merawat bayinya." begitu jawab Podin yang tentu tetap menyembunyikan rahasia istri dan bayinya.


    "Oh ..., seperti itu, ya .... Ya sudah .... Nanti saya sampaikan kepada ibu-ibu warga ..., memang rencananya ada ibu-ibu yang pengen menjenguk, lihat bayinya Neng Maya .... Tapi kalau pulang kampung, biar bisa ngurusi bayinya, dia belajar pada keluarganya, kepada orang tuanya, terutama pada ibunya, memang nenek itu kalau merawat cucunya justru lebih teliti, lebih jeli, dan lebih sayang .... Ya, betul itu Neng Maya Pulang kampung biar anaknya dirawat oleh ibu dan saudara-saudaranya. Jadi tidak hanya pasrah pada baby sitter saja yang belum tentu tahu cara merawatnya dengan benar." begitu kata perempuan tetangga Podin itu.


    "Iya, Bu .... Terima kasih perhatiannya, tapi maaf, jenguknya besok saja kalau Maya sudah pulang. Ini kami masih beres-beres, dan tentu nanti masih ke sana kemari." begitu kata Podin yang tentu dia ingin menghindar dari perempuan tetangganya yang sudah mulai menanyai tentang Maya itu. Tentu Podin juga khawatir dengan hal itu, kalau sampai para tetangganya tahu rahasianya.

__ADS_1


    "Oh, iya, Bang Podin ...." jawab perempuan tetangganya itu.


    "Maaf, Bu ..., saya beres-beres, ya .... Mari, Bu." kata Podin yang langsung berpura-pura membersihkan mobilnya.


    "Iya, Bang Podin .... Mangga ...." sahut perempuan tetangganya itu, yang tentu juga kembali melakukan aktivitas di rumahnya.


    Podin pun langsung mengangkat dua peti harta karun, dan sambil menjinjit perlahan, agar tidak diketahui tetangganya, kotak itu dibawa masuk ke dalam rumah. Lantas, Podin menutup pintu rumahnya dan menguncinya dari dalam, dengan harapan agar tidak ada orang yang datang ke rumahnya, dan tahu rahasia Podin. Ya, dua peti harta karun itu langsung dibawa ke kamar. Kamar tempat biasa ia tidur bersama dengan Maya. Podin pun juga mengunci pintu kamar tersebut. Pastinya Podin tidak ingin ada orang yang tahu tentang peti harta karun yang baru saja dia bawa itu, yang akan di simpan di dalam kamar itu.


    Setelah yakin kamar itu aman, dan tidak bakal ada orang yang bisa mengintipnya, kemudian Podin mulai membuka tutup peti di harta karun itu. Peti yang pertama ia buka perlahan. Matanya langsung teruju pada isi peti itu. Podin langsung tersenyum lebar. Ia gembira, ia senang, ia bahagia karena di dalam peti harta karun itu Podin melihat harta kekayaan yang sangat banyak, yang sangat berlimpah jumlahnya. Lantas Podin membuka tutup peti harta karun yang kedua. Podin juga menyaksikan apa yang ada di dalam peti harta karun itu. Ia kembali tersenyum lebar, Podin gembira dan bahagia. Podin sekarang merasa lega, karena iya menyaksikan banyaknya harta karun yang ada di dalam dua peti tersebut. Podin puas dengan peti harta karun yang semuanya penuh dengan uang-uang logam emas, yang penuh dengan perhiasan-perhiasan, yang penuh dengan intan permata, yang penuh dengan harta kekayaan. Dan Podin kini kembali menjadi orang yang sangat kaya raya, orang yang memiliki harta kekayaan yang sangat banyak jumlahnya. Bahkan mungkin, Podin tidak sanggup untuk menghitung harta kekayaan yang di bawahnya, yang ada di dalam dua peti harta karun tersebut.


    Selanjutnya, Podin menutup peti harta karun itu. Keduanya ia tutup. Tentunya agar tidak ada orang yang bisa melihatnya, tidak ada orang yang tahu. Kemudian Podin memasukkan dua buah peti harta karun itu ke dalam lemari pakaian yang digunakan oleh Maya. Nah, di situ Podin menyimpan harta kekayaannya. Lantas lemari itu pun langsung ditutup dan dikunci rapat-rapat. Kuncinya pun ia masukkan ke dalam dompetnya agar tidak hilang.


    Setelah semuanya dianggap beres dan aman, lantas Podin merebahkan tubuhnya di kasur yang biasa digunakan tidur oleh Maya maupun dirinya kalau tidur bersama Maya. Podin menggeletakkan tubuhnya di situ.


    "Bang Podin ...!! Bang Podin ...!!" terdengar suara teriakan dari luar rumah.


    "Ya .......! Sebentar ...." Podin terjingkat. Lantas bangun dari rebahannya di kasur. Ia langsung keluar, akan menemui orang yang memanggilnya tersebut.


    "Walah, ini kok banyak ibu-ibu .... Ada apa, ya ...?!" tanya Podin pada para tamunya.


    "Begini, Bang Podin .... Neng Maya kan sudah melahirkan .... Kami-kami ingin menjenguknya, ingin lihat bayinya ...." kata salah seorang dari ibu-ibu tetangga Podin yang pada berdatangan itu. Tentunya mereka bersama-sama datang ingin tahu kabar yang sebenarnya.


    "Waduh, Ibu-ibu .... Terima ksaih sekali perhatiannya .... Tapi mohon maaf, Maya pulang ke desa .... Mudik .... Kemarin lusa saya antarkan ke kampung, agar Maya bisa merawat bayinya bersama orang tuanya .... Maklum, Maya belum bisa merawat bayi." kata Podin yang menjelaskan kepada ibu-ibu para tetangganya itu.


    "Betul, Bang Podin .... Tapi, maksud kami, ibu-ibu dari perumahan ini ingin menengoknya ke sana .... Ya, sekali-sekali ingin melihat kampungnya Bang Podin dan Neng Maya ...." kata salah satu ibu itu, yang mungkin ketua rombongannya.


    "Waduh ...?! Tempatnya jauh, Ibu-ibu .... Seharian perjalanan. Berangkat pagi, sampai sana sore ...." kata Podin yang berusaha mencegah rencana ibu-ibu tersebut. Pastinya Podin takut kalau sampai ibu-ibu itu memaksa. Akan ditunjukkan ke mana nanti.


    "Tidak apa-apa, Bang Podin .... Anggap saja kami ini akan berpiknik ...." kata ibu-ibu itu.


    "Ya, coba nanti saya tanyakan ke Maya lebih dahulu ...." kata Podin berusaha membohongi.

__ADS_1


    "Ya, Bang Podin .... Nanti kami juga mencari harinya dulu. Oh, ya ..., Bang Podin .... Kok HP Neng Maya tidak bisa dihubungi, ya ...?" tanya ibu itu lagi.


    "Maaf, Bu .... Kemarin waktu sampai di kampung, Maya main ke sendang, tempat mandi di kampung, HP-nya kecebur air dan rusak." jawab Podin yang tentu harus berbohong.


    "Walah ..., terus, belum beli lagi ...?" sahut ibu-ibu itu.


    "Namanya kampung yang masih sangat udik, jauh dari keramaian. Tidak ada orang jual HP, Bu .... Besok rencana kalau saya mau jenguk ke kampung, baru mau saya belikan." jawab Podin.


    "Ya, Bang Podin .... Itu baru namanya suami setia ...." sahut ibu-ibu.


    Setelah ibu-ibu itu pada pulang, Podin kembali masuk rumah. Mengunci pintu depan. Masuk ke kamar lagi, dan mengunci pintu kamar. Ya, Podin harus menyepi dan menyendiri. Pastinya ia bingung. Bagaimana jika ibu-ibu para tetangganya itu nanti tahu nasib Maya dan bayinya. Pasti Podin akan dihujat oleh orang banyal. Bahkan mungkin Podin akan diamuk masa. Bisa jadi diserahkan ke polisi untuk dipenjara.


    Podin kembali merebahkan tubuhnya, terlentang di atas kasur. Matanya kelap-kelop memandangi langit-langit atap kamarnya. Ia berfikir keras, bagaimana bisa mengelabuhi para tetangganya? Bagaimana para tetangga itu tidak lagi menanyakan Maya maupun bayinya? Bagaimana Podin bisa menyelamatkan diri?


     Tentu Podin menjadi gelisah. Bingung tidak karuan. Podin harus mencari cara, agar semua yang terjadi, terkait dengan hilangnya Maya maupun bayinya, yang tidak mungkin bisa dicari, karena sudah menjadi korban di istana Pulau Berhala.


    "Nah .... Ini, dia ...." tiba-tiba Podin tersenyum. Pasti otaknya yang licik itu sudah menemukan cara, mendapat solusi pemecahan masalah.


    Ya, Podin yang saat sore itu menjelang malam, sendiria berada dalam kamar yang terkunci rapat, tiba-tiba saja tersenyum, seakan mendapat solusi yang jitu. Podin memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah itu. Podin harus pergi menjauh dari perumahan. Agar tidak lagi ditanyai oleh para tetangganya tentang Maya dan bayinya.


    "Aku harus pergi jauh-jauh dari sini ...." begitu gumam Podin.


    Podin langsung bangun dari tempat tidur. Podin langsung berdiri dan mendekat ke lemari pakaian milik Maya. Podin akan menjual rumah itu, rumah yang selama ini menjadi milik Maya. Podin pun membuka lemari pakaian istrinya itu, lantas berusaha mencari surat-surat berharga yang mestinya disimpan oleh Maya.


    Memang, rumah yang pernah dibelinya itu, yang ditempati bersama Maya, semuanya di atas namakan Maya. Itulah trik dari Maya untuk menguasai harta kekayaan Podin, agar jika terjadi sesuatu, Maya masih memiliki warisan. Maka barang-barang yang berharga semuanya di atas namakan Maya. Rumah maupun mobil mewah, semuanya menjadi milik pribadi Maya. Maya kala itu berpikir, seandainya nanti istrinya Podin yang sah akan merebut harta kekayaannya, tidak bakalan bisa, ataupu kalau sudah tua dan tidak dicintai lagi oleh Podin, dan ia ditinggalkan oleh Podin, sebagai seorang istri siri, Maya tetap masih bisa menguasai bagian harta warisannya, karena rumah dan mobil mewahnya nama pemiliknya adalah Maya.


    Namun kini, semua itu hanya tinggal kenangan belaka. Maya sudah tidak mungkin kembali ke rumah itu, dan tidak bakal lagi naik mobil mewah yang pernah dibelikan oleh Podin. Karena Maya, sudah dijebloskan dalam penjara di istana Pulau Berhala. Pastinya, Maya kini dalam cengkraman para ponggawa dan algojo di istana Pulau Berhala. Tentunya Maya akan disiksa hingga mati. Maya sudah tidak mungkin kembali ke Jakarta.


    Lantas Podin mencari semua surat-surat berharga, maupun barang-barang berharga yang pastinya disimpan oleh Maya di dalam lemari. Podin mencari sertifikat rumah itu, dan juga mencari BPKB serta STNK dan kontak mobil mewah yang ada di dalam garasi. Ya, mobil mewah yang selalu dipamerkan oleh Maya setiap kali kumpul-kumpul dengan kelompok sosialitanya. Dan kini, semuanya itu akan kembali menjadi milik Podin.


    Ya, Podin berencana akan menjual semuanya. Podin akan menghilangkan jejak. Dan pastinya, ia justru beruntung karena akan mendapat uang dari hasil penjualan rumah serta mobil mewahnya tersebut.

__ADS_1


    Dasar, otak Podin memang licik untuk mendapatkan uang secara enak dan nikmat.


__ADS_2