PULAU BERHALA

PULAU BERHALA
EPISODE 50: MENGAJAK NIKAH


__ADS_3

    Podin akhirnya bisa piknik bersama dengan Rina. Tentunya setelah mendapatkan izin dari majikan di tempat kerjanya, warung makan Bu Hendro. Rina yang membantu Bu Hendro melayani para karyawan pabrik yang makan di warung itu, tentu sangat sibuk dan tidak bisa keluar. Setelah meminta izin dari Bu Hendro, dan tentunya sudah dipilihkan waktu oleh majikannya, yaitu perkiraan hari yang sangat senggang, hari yang tidak begitu banyak pelanggan berdatangan.


    Ya, hari Minggu tanggal muda. Biasanya karyawan-karyawan pabrik pada pulang ke kampung halaman. Memang, para karyawan pabrik yang kerja di Jakarta, yang pada kost, biasanya kost di dekat pabrik, mereka akan pulang ke kampung halaman masing-masing untuk mengembalikan, membawa pulang hasil jerih payahnya dalam bekerja, mengantarkan uang bayarannya yang didapat dari pabriknya itu. Pastinya akan diberikan kepada istrinya, untuk membiayai hidup keluarganya, bahkan juga untuk membayar sekolah anak-anaknya.


    Oleh sebab itulah, Rina yang kerjanya membantu Bu Hendro melayani warung makan itu, mendapat izin dari majikannya untuk berwisata bersama dengan Podin. Tentu majikannya juga akan memberikan kesempatan kepada Rina yang sudah menjadi janda cukup lama, hampir dua tahun menjanda. Tentunya Rina juga butuh suatu hiburan, butuh pendekatan dengan laki-laki. Apalagi saat ini, yang mendekati adalah Podin, laki-laki yang dipandang oleh pemilik warung itu lebih mampu dan lebih berada. Hal itu dibuktikan Podin punya mobil. Walaupun mobilnya tidak bagus, meski mobilnya tidak baru, tetapi masih sangat layak. Mobil itu masih sangat bagus untuk digunakan bepergian, terutama kalau hanya sekedar piknik bersama Rina yang hanya seorang pelayan warung makan.


    Memang, kalau dihitung-hitung, gaji Rina tidak seberapa. Penghasilan Rina tidak banyak. Paling-paling Rina hanya butuh dapat uang, dari pada menganggur. Walaupun sedikit, tetapi hidupnya bisa tenang, hidupnya punya arti. Tidak menjadi beban bagi orang tuanya. Bahkan Rina juga bisa menabung. Bagaimana tidak, karena Rina makannya sudah gratis, minumnya juga gratis, semua makan dan minum tinggal ambil saja dari warung milik Bu Hendro tempat ia bekerja. Sang majikan pun tentu tidak akan melarang Rina makan dan minum banyak. Tentunya karena memang makanan dan minuman itu tersedia di warung makan dimana Rina bekerja. Bahkan tidurnya pun juga di warung itu. Jadi ibarat kata, bayarannya sedikit, tetapi utuh. Semuanya ditabung.


    Selanjutnya, Rina yang sudah mendapat izin dari majikan untuk piknik bersama dengan Podin. Pagi sekali mereka pun pergi berpiknik. Podin yang sudah merencanakan acara itu, dan berjanji akan mengajak Rina untuk berwisata, bersenang-senang mengisi harinya dengan kegiatan tamasya, menyaksikan tempat-tempat objek wisata, paling tidak akan menyenangkan hatinya, yang selama ini dia harus kerja terus tanpa bisa istirahat, menjadi seorang pelayan di warung makan. Tentunya Rina senang, karena bisa piknik berdua bersama Podin dengan mengendarai mobil pribadi. Dan yang lebih menyenangkan lagi, Rina duduk bersanding dengan Podin yang menyopir.


    "Pak Bodin ..., kita akan piknik ke mana ini?" begitu tanya Rina kepada Podin, yang tentu ingin tahu dirinya akan diajak berpiknik ke mana.


    "Ya ..., jalan-jalan .... Yang penting kita bisa melepaskan penat, melepaskan capek. Kita bisa refreshing, dan kita tentunya bisa bahagia dan bergembira. Kan begitu ...." kata Podin yang tentu memberikan jawaban kepada Rina, tetapi tidak langsung menjurus ke mana ia akan berpiknik, tidak menunjukkan tempatnya di mana ia akan bersenang-senang.


    "Iya lah ..., Pak Podin .... Apalagi saya sudah lama ikut Ibu Hendro, membantu di warung, meladeni para pelanggan, apalagi kalau pas ramai penuh sesak, banyak pembeli ..., capek, Pak Podin ...." kata Rina yang tentu setidaknya mengeluh kepada Podin, orang yang saat ini bisa diajak untuk bercurhat. Memang, kalau namanya kerja di warung makan, itu tidak ada istirahatnya. Dari malam sudah membantu racik-racik menyiapkan masakan. Pagi sebelum subuh sudah mulai memasak. Pagi harinya, hingga siang, meladeni para pembeli.


    "Makanya, Rina ..., kita itu butuh refreshing, butuh hiburan. Itu semua tentunya untuk mengendurkan otot kita yang capek, mengendurkan otak kita yang selalu banyak berpikir, mengendurkan saraf-saraf kita yang tentunya sangat kelelahan karena dipakai untuk terus-menerus bekerja. Makanya orang-orang Jakarta itu Kalau weekend, kalau hari Sabtu dan Minggu, semuanya pada pergi. Semuanya pada piknik. Dan berikutnya, nanti saat hari Minggu sore, mereka pulang ke rumahnya, yang mengakibatkan jalanan di Puncak jadi macet. Semua itu tentu karena mereka ingin mencari hiburan. Mereka ingin happy-happy. Mereka ingin senang-senang. Ada yang pergi ke Puncak, ada yang pergi ke Ancol, ada yang pergi ke Monas, bahkan ada juga yang cuman putar-putar kota. Semua itu mereka lakukan dalam rangka mencari hiburan untuk bersenang-senang." begitu kata Podin yang menjelaskan kepada Rina bahwa sebenarnya dalam berwisata itu tidak harus ke tempat yang jauh, dan tidak harus dengan biaya yang mahal, tidak harus menghabiskan uang yang banyak. Tetapi yang penting bisa melemaskan otot-otot, bisa mengendurkan saraf-saraf yang kencang, dan tentunya untuk refreshing agar otak yang selama ini diperas untuk berpikir menjadi lebih enak, lebih nyaman, dan lebih enjoy lagi. Tentunya kalau orang itu pikirannya tenang, kondisi fisik tubuhnya juga nyaman, dia pasti akan lebih produktif di dalam bekerja.


    Ya, seperti yang dilakukan oleh Podin, sebenarnya otak Podin sudah penuh dengan kejenuhan-kejenuhan dengan kejengkelan-jengkelan. Jengkel dengan Maya yang banyak menuntut. Dan terutama, tentu Podin masih merasa menyesal punya istri Maya, yang sudah menghabiskan semua uangnya. Podin menyesal sudah tergiur oleh kecantikan seorang perempuan pemandu karaoke, yang ternyata matre. Kesal dengan ulah Maya yang terus-menerus meminta uang, menuntut ini dan itu. Bahkan Podin sudah habis-habisan menjual rumah mewahnya dan ruko milik istrinya, tetapi kenyataannya, Podin tidak mendapatkan apa-apa. Rumah habis, uang habis, masih dituntut lagi untuk memberikan uang sebanyak-banyaknya.


    Dan kini ketika Podin sudah menemukan Rina, perempuan sederhana yang hanya bekerja sebagai buruh membantu di warung makan, yang tentu tidak banyak menuntut, Podin baru bisa membandingkan. Podin yang mulai bisa merayu Rina, dan tentunya ketika podin bisa mengajak Rina untuk berwisata, nantinya pasti Podin akan mencurahkan isi hatinya kepada perempuan itu. Podin bisa bercurhat, walaupun perempuan itu hanya seorang pelayan di warung makan. Tetapi bagi Podin itu hanyalah profesi. Bahkan Podin sendiri dulu profesinya hanyalah seorang kuli bangunan. Makanya Podin tidak mau membuka rahasia kepemilikan tempat hiburan itu kepada Rina, dan Podin ingin mengaku hanya sebagai orang biasa saja yang bekerja di tempat hiburan.


    "Iya, Pak Podin .... Tempat wisata itu kan banyak, apalagi di Jakarta .... Maksud saya, Pak Podin itu mau mengajak saya jalan-jalan ke mana? Akan piknik ke mana?" begitu tanya Rina yang ingin tahu, akan diajak ke mana dirinya oleh si Podin.


    "Rina sudah pernah ke Pantai Ancol?" tanya Podin.


    "Belum, Pak ...." jawab Rina.


    "Kalau ke Kepulauan Seribu?" tanya Podin lagi.


    "Belum ...." jawab Rina.


    "Kalau ke Puncak ...?" tanya Podin lagi.


    "Belum juga, Pak Podin .... Rina belum pernah pergi piknik-piknik, Pak ...." jawab Rina lagi, yang tentu belum tahu tempat-tempat piknik yang disebutkan oleh Podin.


    "Lhah ..., dulu waktu sama suami kamu, yang dulu sebelum bercerai ...?" tanya Podin yang ingin menyelidik.

__ADS_1


    "Ya ampun, Pak .... Saya nikah hanya satu bulan .... Setelah itu suami saya pergi meninggalkan saya, dan bilang kita cerai. Tidak mau punya istri saya lagi begitu, Pak ...." kata Rina yang tentunya memberi pengertian kepada Podin, kalau dirinya memang sebenarnya belum pernah diajak berpiknik oleh orang-orang lain, meskipun itu oleh suaminya yang dulu.


    "Oh, begitu ya ...?" kata Podin yang menengok Rina. Dan saat sepintas melihat perempuan yang ada di sisinya itu, Podin sadar kalau ternyata Rina memang sangat cantik. Tidak kalah dengan Maya yang pandai dandan dan selalu minta uang untuk ke salon. Pastinya, kalau Rina dikasih uang, terus disuruh ke salon, pasti akan lebih cantik dari istrinya yang sekarang.


    "Ngapain lirik-lirik ...?" tanya Rina yang tahu kalau dirinya dilirik sama Podin.


    "Nggak papa .... Ya udah, pokoknya kita sekarang piknik yang dekat dulu aja .... Dan cari yang jalannya tidak macet. Bagaimana kalau kita ke Marina Ancol? Nanti kita naik speedboat, terus berwisata ke Pualu Tidung. Yah ..., paling tidak kita bisa melihat lautan, bisa melihat ombak, bisa melihat gelombang, dan kita juga bisa bermain air. Dan nanti kita jalan-jalan dan makan siang di Pulau Tidung. Habis makan siang, pulang .... Begitu, bagaimana, Rina?" usul Podin yang memberi alternatif untuk mengajak Rina berpiknik ke Kepulauan Seribu. Tentunya Podin sudah banyak pengalaman bepergian ke obyek wisata yang indah saat diajak oleh Maya.


    "Ya ..., ngikut saja sama Pak Podin .... Saya kan juga belum pernah ke Kepulauan Seribu ...." jawab Rina, yang tentu tersenyum senang karena akan diajak piknik ke tempat yang menyenangkan.


    "Sayangnya kita hanya diberi waktu satu hari, ya .... Kalau misalnya kita diberi waktu dua hari gitu, kita bisa menginap di Kepulauan Seribu." kata Podin yang tentu inginnya langsung mengajak menginap si Rina, perempuan pelayan warung makan itu yang baru dikenalnya.


    "Ya, besok lah ..., Pak .... Kapan-kapan kita piknik lagi." begitu jawab Rina, wanita yang polos, perempuan yang tidak terimbas oleh kemajuan kota Jakarta, karena pekerjaannya yang memang sangat sederhana itu, hanya sebagai pelayan di warung makan.


    "Ya .... Besok minta izin piknik dua hari, merayu Bu Hendro ...." Bujuk Podin yang tentunya kepengin ngajak menginap si Rina.


    Akhirnya, Podin sudah sampai di kawasan Marina Ancol. Lantas memarkirkan mobilnya, yang tentunya akan ditinggal ke Pulau Tidung. Podin bersama Rina, berjalan menuju ke tempat penyewaan speedboad. Mereka akan naik speedboad memyeberang laut, menuju ke sebuah pulau di gugusan Kepulauan Seribu. Pulau Tidung yang banyak dikunjungi wisatawan. Dan tentu, Podin sudah mulai menggandeng Rina. Rina pun pasrah. Janda yang tidak pernah dibelai itu, tentunya langsung merasa bahagia saat tangannya digandeng oleh Podin. Ada rasa "greng" yang langsung merasuk ke sekujur tubuhnya.


    "Pulau Tidung .... Pulau Tidung ...." seorang tukang speedboad menawarkan jasanya.


    "Ayo, kita naik speedboad itu." kata Podin yang mengajak Rina.


    "Jangan panggil Pak .... Panggil saya 'Mas' gitu .... Biar orang-orang yang mendengar tidak ragu." kata Podin yang minta dipanggil Mas.


    "Iya, Pak ..., eh ..., Mas ...." Rina tertawa geli.


    Speedboad itu pun melaju di atas lautan. Menyibak gelombang, berpacu dengan dengan desir angin yang berhembus. Suara deru mesin speedboad, mendorong kapal yang bertolak menuju Pulau Tidung. Rina yang baru pertama kali naik kapal tersebut, ia selalu berpegangan pada Podin. Lega rasa hati Podin, karena bisa dipegang oleh wanita yang setelah berdandan untuk wisata memang benar-benar perempuan yang cantik. Podin merasa bahagia saat menyaksikan betapa cantiknya Rina yang sudah merebahkan badannya bersandar pada tubuh Podin. Kini, Rina tidak lagi seperti perempuan yang menyandang predikat sebagai janda, tetapi seakan sudah menjadi istri Podin. Mereka berdua terlihat begitu mesra.


    Hingga beberapa saat lamanya, speedboad yang memuat sekitar lima puluh orang itu akhirnya sampai di Pulau Tidung. Sebuah tempat wisata yang ada di kawasan Kepulauan Seribu Jakarta.


    "Sudah sampai .... Ayo, kita turun ...." kata Podin yang mengajak turun Rina.


    "Iya, Mas ...." kata Rina yang tentu langsung menggandeng tangan Podin, karena takut terjatuh. Dan tentunya juga takut tercebur ke laut.


    Podin dan Rina sudah sampai di obyek wisaya Pulau Tidung. Sebuah pulau wisata yang cukup terkenal, dan tentunya di sana banyak para pelancong yang sudah menikmati liburannya untuk berwisata. Podin dan Rina langsung berjalan-jalan mengelilingi pulau wisata itu. Dan tentu, mereka berdua saling bercanda ria, karena memang hari itu adalah hari yang bahagia buat Rina maupun buat Podin. Mereka berdua sudah mulai lekat dengan harapan untuk melabuhkan asmaranya. Makanya, mereka selalu bergandengan saat mengelilingi tempat wisata itu.


    "Apakah Mas Podin mau menikah dengan saya ...?" tiba-tiba Rina menanyakan hal itu kepada Podin, saat mereka berdua jauh di ujung pulau, sambil menyaksikan keindahan lautan yang maha luas. Tentunya Rina berharap, ketika ia diajak bepergian oleh seorang laki-laki, apalagi pergi berwisata berdua, wajar kalau Rina menanyakan hal itu. Dengan langkah-langkah yang begitu mesra, tentu Rina yang sudah menjanda dua tahun itu, berharap akan diajak menikah oleh laki-laki yang sudah mengajaknya berwisata itu.

__ADS_1


    "Sebenarnya saya ingin mengatakan hal yang begitu, Rina .... Tetapi kelihatannya ada sedikit kendala. Ada sedikit masalah ...." kata Podin yang agak bingung untuk menyampaikan masalahnya.


    "Masalah apa, Mas Podin?" tanya Rina kepada Podin, tentu ingin tahu masalah yang dialami oleh Podin.


    "Begini, Rina .... Sebenarnya, ketika saya kenal kamu, saat memandang kamu, saat saya bertemu kamu, apalagi setelah bersama saat ini, terus terang saya ingin menikah dengan kamu. Tetapi masalahnya, saya ini belum cerai .... Istri saya tidak tahu sekarang berada di mana. Saya tidak bisa mencarinya. Itu yang menyebabkan saya tidak bisa bercerai." begitu kata Podin kepada Rina.


    "Lhoh ..., berarti Mas Podin itu statusnya masih punya istri, masih punya anak?" tanya Rina yang tentu agak sedikit kecewa mendengar apa yang disampaikan oleh Podin tadi.


    "Betul, Rina .... Saya ini bingung, bagaimana saya bisa cerai, kalau mencari istrinya sendiri saja saya tidak bisa menemukannya. Istri saya sekarang ada di mana saja, saya tidak tahu." jawab Podin.


    "Kok bisa begitu, Mas Podin?" tanya Rina yang tentu keheranan.


    "Ya ..., itulah namanya kehidupan. Ketika saya pergi ke Jakarta. saat saya merantau ke mencari uang, dan saat saya pulang ke rumah ingin menemui anak istri, rumah saya ternyata sudah dijual, dan rumah saya sudah menjadi milik orang lain. Ketika saya pulang ke sana, istri dan anak saya sudah tidak ada di tempat itu. Ketika saya tanyakan kepada para tetangga, saya tanyakan kepada yang membeli rumah itu, mereka pun tidak tahu kemana perginya istri saya. Itulah akhirnya ketika saya balik ke Jakarta lagi, saya sudah tidak punya harapan. Saya sudah tidak bisa apa-apa lagi. Saya hanya hidup seorang diri, hidup sebatang kara di Jakarta yang panas seperti ini." kata Podin yang berpura-pura sedih, padahal sebenarnya dialah yang meninggalkan istrinya.


    "Kasihan, Mas Podin .... Berarti selama ini Mas Podin sendirian terus?" tanya Rina yang sudah bersimpatik mendengar kata-kata Podin, merasa kasihan pada Podin.


    "Itulah sebabnya, ketika saya melihat kamu, dan saya mendengar bahwa dirimu itu janda, saya ingin mendekati dirimu, dan saya ingin hidup bersama kamu." kata Podin yang tentunya membisikan kata-kata manis, membiuskan harapan kepada Rina.


    Tentunya, Rina pun langsung percaya dengan kata-kata Podin. Bahkan Rina juga merasa kasihan menyaksikan Podin yang hidup menyendiri. Sama sperti dirinya yang juga ditinggalkan oleh suaminya.


    "Dengan masalah saya itu, kira-kira Rina mau nggak, menjadi istri saya?" tanya Podin pada Rina.


    Rina yang ditanyain seperti itu, hanya bisa diam. Tetapi Rina tersenyum. Senyuman itu pun bagi Podin sudah memberikan jawaban, kalau Rina pastinya juga berharap bisa hidup bersama dengan Podin. Apalagi Rina yang sudah menjanda dua tahun itu, tentu butuh belaian dari seorang laki-laki, walau hanya seperti Podin yang mengaku sebagai seorang karyawan di tempat hiburan.


    "Mas Podin ..., kalau misalnya saya mau menikah dengan Mas Podin, bagaimana caranya? Karena Mas Podin sudah punya istri, sudah punya keluarga. Saya khawatir, Mas Podin, kalau suatu hari istri dan keluarga Mas Podin itu mencari kembali, bagaimana? Biasanya, kalau Mas Podin sudah sukses, istrinya akan menuntut untuk hidup bersama lagi." kata Rina yang memberi gambaran, bagaimana kalau misalnya dirinya mau menikah dengan Podin. Tetapi tentunya, dia juga khawatir kalau istrinya nanti mengetahui hal itu, pasti Rina akan dilabrak sama istri tuanya.


    "Rina ..., bagaimana kalau kita nikah siri saja .... Nanti kamu bisa hidup bersama dengan saya. Setidaknya kita bisa menata rumah tangga baru. Rezeki saya dan rezeki kamu bisa kita belikan rumah, walaupun hanya sekedar rumah kecil-kecilan. Tetapi kalau kita punya rumah sendiri, kita bisa tinggal bersama, uangnya tidak habis untuk saya gunakan kost." begitu kata-kata Podin yang memberi harapan lagi kepada Rina untuk membentuk rumah tangga yang baru.


    Lagi-lagi Rina terdiam. Ia mulai berpikir, mungkinkah dirinya akan menikahi dengan Podin? Tentu hati kecil Rina pun butuh laki-laki. Ia butuh belaian. Ia butuh kasih sayang. Apalagi dirinya yang masih muda, belum punya anak, sudah ditinggalkan begitu saja oleh suaminya. Tentu Rina berharap hal itu bisa terjadi, hal itu bisa terulang lagi, Rina punya suami dan bisa hidup bahagia kembali.


    "Kenapa kamu diam, Rina?" tanya Podin kepada Rina, yang tidak memberi jawaban langsung, tidak bereaksi atas kata-kata Podin yang menawarkan untuk hidup bersama.


    Pikiran Rina sedang kacau. Bingung untuk menjawab. Di satu sisi ia butuh laki-laki, tetapi Rina juga takut dengan masa yang akan datang. Khawatir ada perempuan yang datang untuk meminta kembali istrinya.


    "Mas Podin .... Aku mau tanya Bu Hendro dulu .... Apa yang harus aku lakukan, bagaimana sebaiknya ...." kata Rina yang masih bingung.


"Terima kasih.... " kata Podin yang tiba-tiba sudah mencium pipi Rina.

__ADS_1


Rina terkejut, dan tentu langsung mengusap pipinya. Tetapi aliran darahnya langsung bergelora, menggetarkan bagian-bagian tertentu yang membuat asmara Rina kian bergejolak.


__ADS_2