
Lesti sudah memulai usaha di rukonya. Berjualan sembako dan barang-barang kelontong kebutuhan rumah tangga. Dagangannya penuh, sehingga memenuhi seluruh ruangan ruko itu. Tertata rapi dan bagus pada rak dan meja dagangannya. Memudahkan para pembeli untuk mencari kebutuhannya. Pastinya Lesti senang dengan usahanya itu. Demikian pula bapak dan ibunya yang juga senang ketika menyaksikan usaha anaknya. Ya, Lesti yang dianggap tidak baik oleh adiknya, kini justru berubah seratus delapun puluh derajat. Ibu dan bapaknya ikut membantu Lesti yang masih berbenah di tokonya.
"Wah ..., Lesti .... Ini tempat usaha kamu mah, apik pisan ...." kata ibunya yang tersenyum senang saat ikut menata barang-barang dagangan anaknya.
"Betul, Lesti .... Kamu sangat beruntung .... Suami kamu orang baik ..., kaya pisan ...." tambah bapaknya.
"Iya, Pak ..., Bu .... Ini usaha untuk kita .... Bapak dan Ibu juga harus bantu Lesti, biar tidak bengong ...." kata Lesti yang tentu menyampaikan hal itu kepada orang tuanya, biar bapak dan ibunya tidak menganggap kalau itu hanya untuk anak dan menantunya. Tetapi setidaknya nanti orang tuanya akan ikut terlibat di tokonya. Ya, tiga orang itu, ayah, ibu dan anak, langsung sibuk di toko.
Tentu dalam membuka usaha buat istrinya itu, Podin sudah mengeluarkan banyak uang. Tidak sedikit jumlahnya. Ya, tentu saja. Untuk membeli bangunan ruko itu saja, Podin sudah harus mengeluarkan uang satu miliar. Memang itu ruko yang cukup besar dan megah, apalagi tempatnya yang strategis dan sudah termasuk di kota.
Sedangkan untuk membeli perabot rumah tangga, perlengkapan tidur, perlengkapan kebutuhan dapur, televisi, kulkas, serta kebutuhan-kebutuhan lainnya, pengeluaran Podin juga tidak kurang dari seratus juta. Setelah itu, Podin juga harus membelikan rak, etalase dan meja jualan yang dipasang pada tokonya. Ditambah lagi Podin rutin harus membayar semua perlengkapan usaha istrinya. Ada meja kasir, alat timbangan, alat pengepak atau pembungkus, dan lain sebagainya. Itu juga butuh biaya yang lumayan.
Setelah itu, saat barang-barang dagangan datang, Podin juga harus membayar semua barang-barang belanjaan yang dipesan oleh Lesti dari agen, untuk memenuhi dagangannya di ruko. Meskipun belanjaannya hanya berupa sembako, tetapi ketika sudah ditata untuk memenuhi rukonya itu, habisnya pun tidak main-main. Ya, Podin harus mengeluarkan uang ratusan juta lagi untuk memenuhi usaha istrinya. Itu pun masih ada yang dibeli oleh istrinya dari pasar dan tempat lain. Tentu habisnya modal usaha itu benar-benar sangat banyak.
Dan tanpa terasa, uang Podin pun sudah mulai menipis. Inilah saatnya, Podin mulai berpikir masalah keuangannya yang sudah habis. Harta karunnya sudah menipis. Dan bahkan uang yang ada di bank juga sudah terkuras, hanya tinggal beberapa juta saja. Dan tentunya, uang itu digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Bahkan Podin juga khawatir, sisa uang di tabungannya itu tidak bisa bertahan hingga sampai satu bulan.
Meski begitu, Podin tetap senang. Podin gembira. Tentunya karena Lesti dan kedua orang tuanya, ternyata juga senang ketika membuka usahanya itu. Apalagi Bapak dan Ibu mertuanya yang juga senang ketika diajak tinggal di ruko itu. Bahkan kedua orang tua itu terlihat senang bisa membantu anaknya untuk membuka usaha berjualan sembako dan barang-barang kelontong.
__ADS_1
"Wah ..., Bapak rajin betul ...." kata Podin saat menyapa mertuanya yang asik membantu Lesti.
"Iya, Nak Podin .... Ternyata berjualan itu juga mengasikkan .... Bapak sampai lupa makan ...." kata bapaknya yang masih saja rajin ikut menata barang-barang dagangan.
"Ibu senang bantu-bantu Lesti ...?" tanya Podin pada ibu mertuanya.
"Sangat senang, Nak Podin .... Kalau begini terus, hati saya terobati .... Tidak ingat sama si Joni ...." jawab ibu mertuanya.
"Iya, Pak ..., Bu .... Jangan lupa makan .... Nanti kelaparan ...." kata Podin mengingatkan mertuanya agar makan.
Ya, dengan ikut membantu Lesti menata tokonya, ibu dan bapaknya tentu tidak menjadi bengong, tidak menjadi orang yang hanya melamun, bahkan bisa menghilangkan rasa jengkelnya kepada anaknya yang bernama Joni itu, yang sudah merebut harta kekayaannya, yang sudah merebut semua warisannya. Itulah kesenangan Podin yang bisa membahagiakan Bapak dan Ibu mertuanya serta istrinya. Tentunya mereka sekarang, setiap hari disibukan untuk meladeni orang-orang yang berbelanja, mereka ikut melayani orang-orang yang datang beli macam-macam kebutuhan. Itu sebuah pekerjaan yang menyenangkan.
"Kang ..., ini permintaan para pelanggan, para pembeli kita itu sudah macam-macam. Banyak barang yang belum tersedia di warung kita. Seperti halnya rokok, Kang .... Kita harus memenuhi banyak macam rokok, Kang .... Padahal Akang Podin tahu sendiri, yang namanya rokok itu harganya mahal, Kang ...." kata Lesti pada Podin yang tentunya Lesti ingin menambah dagangan, memenuhi berbagai macam kebutuhan seperti yang diminta oleh para pembeli, yang diminta oleh para pelanggannya. Tetapi tentu, bahwa semua yang diminta oleh para pelanggan itu, Lesti tidak mungkin bisa membelanjakan semuanya, karena keterbatasan uang yang sudah diberikan oleh Podin kepadanya. Bahkan suaminya itu sudah mengatakan kepada Lesti, kalau uangnya sudah menipis. Yang digunakan untuk modal usaha sudah tinggal sedikit. Pasti Lesti kebingungan bagaimana caranya agar barang-barang dagangannya itu bisa lebih lengkap dan komplit.
"Lesti .... Uang Akang tinggal sedikit. Ini saja saya perkirakan hanya untuk memenuhi kebutuhan makan kita sehari-hari nanti akan kurang. Saya sudah habis uang banyak untuk membeli ruko ini, mengadakan peralatan rumah tangga, bahkan mengadakan perkakas ruko, serta mengisi barang-barang dagangan yang ada di ruko ini. Itu sudah habis hampir satu setengah miliar, Lesti." kata Pudin kepada istrinya, yang tentu tidak berani bicara keras, karena Podin khawatir kalau sampai istrinya tersinggung nanti malah istrinya jadi frustrasi dan tidak mau berjualan.
"Iya, Kang Podin .... Saya tahu itu .... Lesti mohon maaf, Akang .... Bukan maksud Lesti untuk menambah modal usaha terus, tetapi permintaan dari pelanggan, para pembeli yang mintanya toko kita ini komplit, bisa terpenuhi segala macam kebutuhannya. Saya jadi bingung, Akang." kata Lesti pada suaminya. Tentu juga dengan bahasa yang halus, tidak berani membentak suaminya bahkan memaksa. Karena Lesti tahu semua yang ada di dalam ruko itu, bahkan untuk memenuhi semua kebutuhan keluarga Lesti, semuanya berasal dari uang Podin. Dan tentu itu jumlahnya tidak sedikit. Jumlahnya sangat besar. Lesti tahu itu semua.
__ADS_1
"Lesti .... Kalau memang toko kita ini masih butuh dana yang besar untuk memenuhi dagangannya, nanti Akang akan usahakan. Tetapi mungkin tidak dalam waktu dekat ini. Paling tidak masih beberapa waktu lamanya. Saya akan berusaha mencari dana tambahan modal usaha kita, biar bisa berkembang lagi." kata Podin yang tentu dia juga bingung memikirkan modal usaha untuk istrinya. Ya, bagaimanapun juga itu adalah tanggung jawabnya sebagai suami yang sudah mengajak Lesti untuk membuka usaha di ruko yang dia belikan itu.
"Akang .... Akang Podin jangan tergesa .... Nanti malah tidak baik, Akang .... Kita pelan-pelan saja. Saya juga akan memutar uang kita yang sudah masuk. Nanti uang hasil penjualan akan saya belikan kebutuhan-kebutuhan yang lain, setidaknya barang-barang dagangan yang laku dan banyak dicari orang. Nanti uang penjualan itu akan saya putar untuk membeli barang-barang yang dipesan oleh para pelanggan. Sehingga nanti pelan-pelan dagangan kita pun akan terpenuhi semuanya. Begitu, Akang ...." kata Lesti yang memberi pendapat kepada suaminya, setidaknya Lesti sudah mulai membuka wacana, bagaimana upaya pemecahan masalah yang harus dilakukan untuk memenuhi barang-barang kebutuhan di tokonya itu.
"Iya, Lesti .... Memang seperti itu bisa .... Tetapi tentunya nanti usaha kita lama berkembangnya. Kalau memang kita ingin usaha kita ini cepat berkembang, ya tentunya kita harus menambah modal usaha." begitu kata Podin yang Tentu juga memberi gambaran tersendiri bagi istrinya.
"Tetapi, Akang ..., masalahnya modal kita sudah menipis. Saya kasihan sama Akang. Akang sudah keluar uang banyak, tapi hasilnya belum kelihatan. Semua masih numpuk hanya pada barang-barang saja yang ada di toko ini, Kang ...." kata Lesti yang juga sadar kalau suaminya uangnya semakin menipis, modalnya semakin berkurang.
"Iya, Lesti .... Terima kasih kalau Lesti sudah bisa berpikir seperti itu. Setidaknya saya tidak tergesa untuk mencari tambahan modal. Tetapi Lesti, niatan saya tetap ingin menambah modal usaha untuk Lesti, biar kamu usahanya semakin besar, biar Lesti usahanya maju dan untungnya pun semakin besar pula." kata Podin yang tetap berpendapat ingin memberikan tambahan modal kepada istrinya.
"Terima kasih, Akang .... Akang Podin memang baik sekali. Semoga Akang Podin dilancarkan rezekinya, sehingga nanti usaha Akang Podin bisa menghasilkan uang yang banyak untuk tambahan modal toko kita." kata Lesti yang tentu sangat berterima kasih kepada suaminya yang sudah memberikan modal usaha sangat banyak.
Ya, memang sebenarnya tidak hanya modal usaha saja yang diberikan oleh Podin kepada Lesti. Bahkan tempat tinggal dan perabot rumah tangganya, sampai semua yang ada di dalam rumah itu, adalah hasil pemberian dari uang Podin. Beruntunglah Lesti bersama dengan kedua orang tuanya, walau diusir oleh anaknya dari rumahnya sendiri, walau direbut harta warisannya, tetapi masih ada Podin yang baik hati. Masih ada Podin yang mau membantu dan menolongnya. Bahkan Podin sudah menyiapkan segalanya untuk Lesti bersama dengan orang tuanya.
Mestinya tidak hanya itu. Tetapi bagi Lesti, ia tentunya sangat bersyukur, karena Podin sudah mengangkatnya dari lembah nista tempat bekerjanya dahulu sebagai seorang juru pijat jari lentik yang dicemooh oleh teman-temannya, para tetangganya, bahkan oleh adiknya sendiri.
Malam itu, Podin tidak bisa tidur. Ia merenung terus, memikirkan modal yang diharapkan oleh istrinya bisa untuk memenuhi barang-barang dagangan di rukonya. Podin keluar dari kamarnya. Kemudian ia duduk diserambi depan di lantai dua pada bangunan rukonya. Podin memandangi keluar sambil menghisap rokok. Sunyi dan sepi, tidak ada siapa-siapa. Bahkan kendaraan pun sudah mulai sepi. Malam itu sudah lewat dari jam dua belas. Pastinya orang-orang sudah pada tidur. Podin sendirian yang di teras lantai dua, memandangi keluar. Ia merenung. Ia berpikir, apa yang harus dilakukan ketika ia butuh uang. Lantas tiba-tiba, Podin teringat dengan dua peti harta karun yang ia simpan di mobil. Di peti itu mestinya masih ada sisa-sisa peninggalan barang dari Pulau Berhala.
__ADS_1
Lantas Podin turun, membuka mobilnya dan mengangkat peti harta karun yang ia sembunyikan di bawah jok mobil itu. Selanjutnya dua buah peti itu ia bawa masuk ke dalam rukonya. Podin langsung membuka peti-peti harta karun itu. Tetapi ternyata, hanya tinggal beberapa perhiasan yang terdapat dalam peti itu. Hanya ada tiga untai kalung dan gelang beberapa buah serta uang koin dari emas. Ya, Podin hanya bisa menggenggam tiga untai kalung dan lima buah gelang, serta beberapa uang koin emas. Tentu kalau barang-barang perhiasan itu dijual, harganya pun tidak seberapa. Tetapi kalau barang itu tidak dijual, Podin benar-benar sudah kehabisan uang.
Podin bingung dengan apa yang harus dilakukan, antara menjual beberapa barang perhiasan itu atau dia tidak punya uang sama sekali. Akhirnya Podin mengambil sisa perhiasan yang ada dalam peti itu, kemudian ia masukkan ke dalam kantong celananya. Ya, besok pagi-pagi, Podin akan menjual barang perhiasan yang tinggal beberapa buah itu. Yang penting, Podin bisa mendapatkan uang. Saat ini, Podin butuh uang. Dan perhiasan itu memang harus dijual untuk dijadikan uang.