PULAU BERHALA

PULAU BERHALA
EPISODE 131: MENGALAH DAPAT VILLA


__ADS_3

    Karena desakan para penghuni apartemen, akhirnya pihak manajemen tidak bisa mentolerir Podin. Alasannya, apa yang dilakukan oleh Podin sudah kelewat keterlaluan. Tidak hanya mengganggu ketenteraman dan kenyamanan penghuni apartemen yang jumlahnya ratusan orang, tetapi juga mengganggu kesehatan bagi penghuni yang mengalami sesak napas. Terpaksa, Podin harus pindah, harus keluar dari apartemen. Mau tidak mau, Podin harus pergi dari apartemen itu. Podin harus mengalah. Podin harus meninggalkan tempat itu.


    Ya, memang sebenarnya Podin tidak cocok tinggal di apartemen. Podin tidak pas tinggal di tempat yang mirip layaknya hotel tersebut. Tentu di tempat seperti itu, Podin tidak boleh melakukan ritual dengan cara membakar kemenyan, yang tentunya akan mengganggu penghuni apartemen.


    Niatan Podin memang ingin bisa menghasilkan kekayaan yang berlimpah. Inginnya Podin bisa mendapatkan uang setumpuk setiap malam. Tentunya harta kekayaan, uang yang dihasilkan dari para tuyul peliharaannya. Namun apa yang dilakukan di kamar apartemennya, pastinya memang kurang pas, kurang sesuai, kurang lauak. Makanya, para penghuni apartemen itu terganggu. Apalagi saat Podin membakar kemenyan. Pasti baunya akan menyebar ke seluruh ruang apartemen. Baunya akan masuk ke lobang sirkulasi AC. Dan itu pasti sangat mengganggu penghuni yang lain.


    Jika para penghuni apartemen itu protes, tentu hal itu bisa diterima oleh Podin. Dan jika Podin diusir oleh orang-orang yang merasa terganggu, itu sudah sepantasnya. Dan sudah seharusnya jika Podin berpindah ke tempat lain, pergi dari apartemen itu. Memang, jika Podin tinggal di apartemen, pastinya tempat itu terlalu ramai, terlalu banyak orang, terlalu banyak yang lalu lalang. Pastinya itu juga mengganggu dan mengkhawatirkan kerahasiaan Podin. Dan pastinya, Podin takut juga jika sampai nanti rahasianya terbongkar. Bahkan, malam itu, saat ia dikerudug masa, didatangi para penghuni apartemen, pastinya Podin juga khawatir, kalau sampai orang-orang itu pada masuk ke dalam ruangannya. Pasti mereka akan mengetahui kalau di ruangan apartemen Podin ada empat buah peti keramat, mereka akan tahu kalau Podin melakukan ritual di dalam ruang apartemen itu. Dan pastinya, Podin justru akan dituduh sebagai orang yang melakukan ajaran sesat, memelihara pesugihan babi ngepet, ataupun memelihara buto ijo. Yang jelas, pasti mereka tidak ingin apartemen yang mereka tempati itu menjadi sarang pemujaan setan.


    Yah, Podin harus mengalah. Apartemen bukanlah tempat yang cocok bagi dirinya yang mengeramatkan peti-peti ajaib itu. Podin harus mencari tempat yang pas dan cocok untuk dirinya dalam melakukan ritual, dalam mencari harta kekayaan dengan meminta bantuan tuyul.


    "Maaf, Pak Podin .... Ini terpaksa kami sampaikan, karena demi keamanan apartemen kami, dan demi kenyamanan para penghuninya. Maka dengan amat sangat menyesal, kami harus meminta Pak Podin untuk pindah dari tempat ini, untuk meninggalkan apartemen ini." kata sang manajer bagian pemasaran kepada Podin yang tentunya memintanya untuk pindah meninggalkan apartemennya.


    "Tetapi bagaimana dengan uang kami? Saya sudah membayar full. Dan saya tidak mau kehilangan uang begitu saja, hanya karena saya diusir dari apartemen ini. Saya tidak mau rugi. Saya tidak melakukan kesalahan apa-apa,  hanya kesalahan kecil, gara-gara rokok saya yang ada baunya kemenyan. Itu rokok warisan nenek moyang saya .... Maka kalau saya disuruh pergi dari sini, uang saya harus dikembalikan." kata Podin kepada manajer itu.


    "Tenang, Pak Podin .... Kami akan mengembalikan semua uang Bapak. Dan sebagai kompensasi, kami pun tidak akan memotong sepeser pun dari uang Bapak yang pernah dibayarkan untuk menyewa apartemen ini, meskipun Bapak Podin sudah berhari-hari tinggal di apartemen kami. Tetapi sekali lagi, kami mohon maaf, Bapak harus pergi dari apartemen ini. Kami tidak bisa menerima Bapak tinggal di sini." begitu kata sang manajer yang secara halus mengusir Podin.


    "Baiklah, kalau begitu .... Saya akan pergi meninggalkan apartemen ini, tetapi saya butuh waktu satu hari untuk mengemasi barang-barang saya. Dan setidaknya saya, juga akan mencari tempat untuk berpindah rumah, untuk tempat tinggal saya." kata Podin kepada manajer itu.


    "Baik, Pak .... Terima kasih atas pengertian Bapak Podin, karena Bapak bisa menerima dan memaklumi kasus ini. Saya akan memberi Bapak tenggang waktu tidak hanya satu hari, tetapi saya memberi tenggang waktu dua kali dua puluh empat jam. Dan setelah itu, Bapak sudah tidak ada di tempat ini lagi, Bapak sudah meninggalkan apartemen kami." kata manajer itu.


    "Oke .... Saya akan bersiap." kata Podin yang tentunya langsung akan mengemas barangnya.


    "Terima kasih, Pak Podin .... Saya senang Bapak bisa memahami maksud kami." kata manajer itu lagi sambil tersenyum menyalami Podin.


    Podin keluar dari ruang manajer itu, tentunya dengan rasa penyesalan, karena memang dia sudah melakukan kekeliruan. Dan kini ia harus kembali bersusah payah untuk mencari tempat tinggal. Setidaknya Podin harus mencari kontrakan rumah atau pun harus membeli rumah sendiri.


    Podin duduk termangu di atas kasur tempat tidurnya. Ia hanya sanggup memandangi empat buah peti harta karunnya. Peti yang ia damba, peti yang menjadi belahan jiwanya, peti yang memberikan separoh nyawa untuk kehidupannya. Peti yang menjadi sumber kekayaannya. Tentunya Podin bingung, akan membawa peti itu ke mana? Akan disembunyikan di mana lagi? Dan bagaimana ia akan melakukan ritual untuk mendapatkan uang?

__ADS_1


    "Yah .... Cik Melan .... Gadis cerdas yang pasti bisa memberi solusi." gumam Podin yang teringat dengan perempuan muda karyawan bagian keuangan di tempat usahanya. Perempuan itu yang sudah berkali-kali membantunya memecahkan masalah.


     Podin pun langsung bergegas, menuju kantornya. Ia akan menemui karyawati yang selalu memberi solusi tersebut. Dan hanya berjalan kaki. Tidak jauh. Hanya sebentar Podin sudah sampai di ruangan karyawati bagian keuangan tersebut.


    "Selamat pagi, Cik ...." kata Podin mengucap salam pada karyawannya, tentu agar perempuan muda itu tidak kaget.


    "Eh, Pak Podin .... Mari, Pak .... Silakan duduk. Ada masalah apa, Pak?" tanya karyawati muda tersebut.


    "Begini, Cik .... Saya tidak bisa tinggal di apartemen .... Karena saya merokok, dan rokok saya itu rokok siong yang baunya menyengat hidung. Dan saya tidak bisa berhenti .... Sementara ruangan apartemen pakai AC, pasti akan mengganggu penghuni yang lain." kata Podin yang tentu berbohong pada karyawannya, dengan membuat alasan rokok.


    "Oh ..., seperti itu .... Ya mestinya, Pak Podin memang tidak boleh merokok di dalam ruangan ber-AC. Kalau misalnya Pak Podin mau merokok, mestinya buka jendela, matikan AC. Begitu, Pak Podin." kata perempuan muda, karyawan bagian keuangan tersebut kepada Podin.


    "Bukan begitu sih .... Maksud saya, mungkin saya butuh rumah sendiri. Setidaknya saya bisa tinggal di rumah sendiri yang nyaman, tenang, tidak mengganggu orang lain, tidak mengganggu warga lain, dan tentunya orang-orang juga tidak mengharu biru saya. Ya ..., jika bisa rumah itu agak jauh dengan perkampungan yang ramai penduduk. Kalaupun ada banyak rumah, tetapi jaraknya lumayan lah. Yang penting tidak saling mengganggu." begitu kata Podin kepada karyawatinya itu, yang tentu Podin menghendaki bisa dibantu untuk mencarikan rumah yang seperti dikehendakinya itu.


    "Oh ..., Pak Podin pengen punya rumah sendiri yang lebih tenang dan jauh dari para tetangga .... Wah, kalau begitu ya, Pak Podin mestinya tinggal di perkampungan, di daerah pedesaan, Pak Podin .... Kalau di Jakarta,  mana ada rumah seperti itu .... Semua empet-empetan Pak Podin, semua berjejeran, bergandengan. Ya, maklum di Jakarta pekarangan kan susah, Pak .... Sempit dan tanah mahal harganya. Kalau bisa beli apartemen saja itu sudah bagus sekali .... Paling-paling orang-orang belinya rusunawa, Pak ..., rumah susun yang pakai sewa itu. Di situ malah lebih parah, tempatnya lebih ramai, lebih bising, lebih ribet lah .... Pokoknya janganlah, kalau tinggal di rusunawa. Tempatnya juga kumuh." begitu kata karyawati bagian Keuangan itu kepada Podin, yang tentu dia juga tidak bisa menunjukkan rumah yang jauh dari tetangga kalau tinggal di Jakarta. Memang, Jakarta tidak ada perkampungan yang sepi penduduk. Semuanya padat dengan rumah, semuanya padat dengan orang-orang yang sibuk. Dan pastinya mereka akan ribut dengan urusannya masing-masing.


    "Kalau begitu, Pak Podin mestinya cari rumah di daerah Bogor saja Pak .... Beli villa di Puncak .... Ya, di daerah Puncak itu, kalau orang punya duit seperti Pak Podin, tinggal di villa di daerah Puncak .... Wah ..., keren Pak Podin." begitu kata gadis muda itu, yang masih single, yang belum menikah, yang selalu sibuk mengurusi pekerjaan di tempat usahanya Podin.


    "Tetapi harganya ..., bagaimana? Kalau villa itu kan biasanya milik pengusaha besar, milik pejabat yang kaya raya, milik orang yang duitnya segudang ...." kata Podin yang tentu berpikir lagi ketika ditawari villa di Puncak. Tentunya, bagi Podin, villa itu ibaratnya adalah rumah peristirahatan yang mewah, seperti hotel pribadi, yang harganya sangat mahal.


    "Ya, cari vila jangan yang besar-besar, Pak Podin .... Cari yang sedang saja .... Setidaknya villa itu jauh dari para tetangga, jauh dari rumah-rumah perkampungan. Nah ..., kalau seperti itu, Pak Podin bisa tinggal di villa itu dengan tenang dan nyaman. Mungkin untuk beberapa hari atau di akhir pekan Pak Podin tinggal di vila, kemudian Pak Podin juga bisa tengok ke tempat usaha ini. Toh, Pak Podin masih punya aset di Jakarta. Sewaktu-waktu Pak Podin ingin menengok usahanya yang ada di sini, dari Bogor tidak terlalu jauh, Pak Podin .... Dan kalaupun misalnya Pak Podin ingin liburan, ingin refreshing, tentu enak, Pak Podin .... Ya, orang Jakarta kan kalau weekend mesti pada pergi ke Puncak. Nah, Pak Podin punya villa di puncak ..., asik kan, Pak .... Nanti kita,  kami-kami ini boleh Pak, diajak ke villa Bapak .... Kalau Bapak Podin jadi beli villa yang ada di Puncak." kata perempuan muda itu, yang tentunya juga gembira seandainya Podin mau membeli villa di Puncak. Setidaknya nanti, para karyawan bisa refreshing, bisa berwisata ke Puncak dan menginap di villa bosnya.


    "Tapi ..., harganya bagaimana?" tanya Podin kepada perempuan muda itu.


    "Sebentar ya, Pak .... Saya browsing dulu di internet. Semoga saja ada, dan dana Bapak mencukupi untuk membelinya. Saya yakin, Pak Podin kan uangnya banyak ...." kata perempuan muda itu yang kemudian langsung membuka komputernya dan langsung melakukan pencarian iklan penjualan villa di internet.


    Ya, sekarang zaman mudah, sekarang zaman canggih. Kalau hanya sekedar mencari informasi seperti itu, mencari iklan penjualan rumah, itu hal yang gampang. Itu hal yang mudah. Itu hal yang cepat dilakukan. Tentu dalam sekejap Cik Melan sudah menemukan villa-villa yang ditawarkan, villa-villa yang ada di Puncak, villa-villa yang akan dijual oleh yang punya.

__ADS_1


    "Pak Podin ..., ini, Pak .... Ada villa lumayan bangunannya, cukup besar, enam kali tujuh, dua kamar tidur, satu kamar mandi. Ada carportnya, ada dapur, plus ruang keluarga. Luas tanahnya lima ratus meter. Yang jual hanya minta satu M, Pak. Cuman minta satu milyar, ini murah banget, Pak." kata Cik Melan kepada Podin, yang tentu memberi gambaran villa yang sangat menarik.


    "Ada gambarnya ndak, Cik? Rumahnya itu seperti apa?" tanya Podin.


    "Ada, Pak .... Ini gambarnya, Pak Podin, boleh lihat .... Ini bagus, Pak .... Ini tinggal nempati saja, Pak .... Nah, sekitarnya juga kebun-kebun, masih sangat jarang rumah-rumahnya. Jauh dari kerumunan rumah penduduk, Pak. Bagus ini, Pak." kata Cik Melan kepada Podin, yang tentunya dia juga terkesima menyaksikan gambar villa yang ditawarkan itu. Memang kalau dibandingkan dengan harga rumah yang ada di Jakarta, tentu itu jauh sangat murah harganya dan sangat terjangkau untuk seorang Podin.


    "Ada nomor teleponnya yang bisa dihubungi, nggak? Tolong kalau ada nomor teleponnya, segera saja dihubungi." perintah Podin pada bendaharanya itu. Pastinya melihat gambar pada iklan tersebutm Podin langsung tertarik.


    "Iya, Pak .... Sebentar saya cari." kata Cik Melan.


    "Siapa tahu ada jodoh, nanti saya punya villa di Puncak." kata Podin kepada karyawatinya itu.


    "Ada, Pak Podin .... Sebentar, Pak ..., saya hubungi pemiliknya. Siapa tahu cocok, Pak." kata perempuan muda itu, yang langsung mengangkat telepon. Lantas menghubungi pemilik villa yang ditawarkan dalam iklan itu, yang akan dijual dengan harga satu miliar. Dalam waktu sekejap, perempuan muda bendahara Podin itu sudah bercakap dengan orang yang memasang nomor telepon pada iklan itu. Dan ternyata memang villa itu masih ada, villa itu masih belum laku, villa itu masih bisa ditawar, dan Cik Melan langsung melakukan transaksi. Setidaknya ia menanyakan berapa harga yang pas, berapa harga yang harus dibayar. Dan akhirnya terjadi kesepakatan melalui telepon.


    Tetapi Cik Melan memang bukan orang yang mudah dalam menentukan pilihan, tidak gampang diberi janji-janji, dan akan membayar jika sudah terjadi kesepakatan. Pastinya Cik Melan akan menengok lebih dulu bangunan yang ada di lokasi. Jika cocok, jika memang benar, maka Cik Melan pun berjanji akan langsung membayar villa yang ditawarkan tersebut.


    "Sudah, Pak Podin .... Saya sudah berjanji sama orang yang punya. Kita berangkat ke Puncak, lihat villa itu. Saya sudah bersepakat dengan orang pemilik villa itu." kata Cik Melan pada bosnya.


    "Sekarang ...?!" tanya Podin kaget.


    "Iya. Pak .... Sekarang ...." sahut Cik Melan. Tentunya Cik Melan tahu, kalau bosnya saat ini butuh rumah, secepat mungkin.


    Podin menurut saja. Dan mereka pun langsung berangkat menuju Puncak. Dan sesampai di Puncak, Podin langsung menyaksikan bangunan villa itu. Tentunya ia langsung tertarik.


    "Bagaimana, Pak?" tanya bendaharanya.


    "Bagus .... Saya suka." jawab Podin. Podin yang tentu bersemangat, karena melihat bangunan yang memang bagus dan sangat menarik, sangat indah dan sangat artistik. Pastinya Podin pun tergiur kalau hanya diberi harga satu miliar. Ya, Podin bisa dapat villa yang bagus, dengan luas tanah yang sangat memadai. Villa itu sangat cocok sebagai tempat tinggal, yang nantinya pasti tidak akan ada orang yang mengganggunya di dalam melaksanakan ritual untuk mengumpulkan uang, sehingga dalam waktu sekejap, dia akan menjadi orang yang kaya raya.

__ADS_1


    Podin memang beruntung. Uang sewa apartemennya dikembalikan seluruhnya oleh pihak pengelola, tanpa potongan speser pun. Dan kini, ia justru mendapatkan villa yang bagus, dengan harga yang murah, untuk ukuran villa di Puncak yang biasanya sangat mahal harganya.


__ADS_2