
"Gimana pikniknya kemarin ...?" tanya Bu Hendro pada Rina, yang tentu ingin tahu.
"Asik, Bu ...." jawab Rina yang tentu tersenyum lebar karena senangnya.
"Diajak ke mana sama Pak Podin?" tanya Bu Hendro lagi.
"Naik kapal .... Ke pulau, Bu ...." jawab Rina.
"Hah ...?! Sampai diajak naik kapal? Pergi ke pulau ...? Pulau mana ...?!" tanya majikannya yang tentu ngiri.
"Namanya pulau apa, ya ...?! Saya kok lupa .... Pulau Seribu atau berapa itu ...?! Tapi pulaunya satu, Bu ...." jawab Rina yang lupa nama pulaunya.
"Ooo .... Kepulauan Seribu ...." sahut majikannya.
"Iya ..., betul, Bu .... Kepulauan Seribu." sahut Rina.
"Waah .... Asik sekali itu .... Terus ..., kamu diajak ngapain saja sama Pak Podin?"' tanya Bu Hendro lagi yang pasti penasaran. Dan tentunya iri, karena pembantunya itu sudah diajak piknik sampai ke Kepulauan Seribu. Sementara, majikannya sendiri justru belum pernah ke sana.
"Keliling pulau, menyaksikan keindahan pulau itu, menyaksikan lautan, lalu diajak makan di restoran yang ada di pulau itu, Bu .... Pokoknya seru, Bu ...." jawab Rina yang tentu merasa sangat senang.
"Kamu diajak tidur di hotel, nggak ...?" tanya Bu Hendro yang mencoba menyelidik.
"Ya tidak lah, Bu .... Cuman piknik sehari kok .... Besok diizinkan piknik dua hari ya, Bu .... Biar bisa menginap di hotel .... Hehehe ...." kata Rina yang tentu kepengin tidur di hotel.
"Enak saja .... Kamu bisa seneng-seneng di hotel .... Lha warungnya, siapa yang akan membantu melayani pembeli ...?!" sahut majikannya yang tentu tidak setuju kalau Rina pergi terlalu lama.
"Katanya biar bisa tidur di hotel ...." sahut Rina yang tentu kecewa. Padahal kemarin sudah dipesan oleh Podin untuk minta izin sama Bu Hendro, piknik menginap.
"Eh, Rin .... Pak Podin bilang mau ngajak nikah kamu apa tidak ...?" tanya majikannya yang juga ingin tahu apa yang dibicarakan saat piknik. Tentunya rencana hidup bersama atau menikah.
"Iya, Bu .... Tapi Mas Podin bingung ...." kata Rina yang langsung lesu menjawab pertanyaan majikannya itu.
"Ih, kamu panggil Pak Podin kaia Mas ...? Mas Podin, gitu ...?" Bu Hendro kaget dengan cara Rina memanggil Podin.
"Iya .... Kan Mas Podin yang minta dipanggil begitu." sahut Rina.
"Terus ..., Mas Podin kamu itu mau ngajak nikah ...?" tanya Bu Hendro lagi.
"Iya, Bu .... Tapi bingung ...." jawab Rina.
"Bingung bagaimana ...?" tanya majikannya.
"Masalahnya itu, Mas Podin belum cerai sama istrinya yang dulu ...." jawab Rina.
"Hah ...?! Jadi Podin itu sudah punya istri ...?!" Bu Hendro kaget. Tentunya khawatir kalau sampai menggaet Rina jadi istrinya.
__ADS_1
"Iya, Bu .... Kata Mas Podin, istrinya yang di kampung itu sudah hilang tidak tahu pergi ke mana .... Katanya, waktu Mas Podin pulang kampung, ternyata rumahnya sudah dijual. Keluarganya sudah tidak ada. Tetangga-tetangganya tidak ada yang tahu perginya ke mana. Bahkan yang beli rumahnya juga tidak tahu. Jadi, Mas Podin itu bingung, karena tidak bisa cerai, Bu ...." kata Rina yang tentu terlihat sedih menyampaikan ceritanya Podin.
"Oalah .... Kasihan benar si Podin itu .... Lha terus, bagaimana?" tanya Bu Hendro lagi.
"Kata Mas Podin, kalau saya dan Mas Podin mau menikah, bisanya cuman nikah siri ...." jawab Rina polos.
"Ya, betul .... Kalau Podin belum cerai ya tidak mungkin. Kecuali dapat surat persetujuan dari istri tuanya. Kalau tidak, paling-paling cuman bisa nikah siri." kata Bu Hendro yang tentu lebih paham.
"Nikah siri itu bagaimana sih, Bu ...?" tanya Rina.
"Nikah siri itu nikah modin .... Yang ngijabkan Pak Modin ...." jawab Bu Hendro.
"Terus ..., itu resmi?" tanya Rina lagi, yang tentu ingin tahu.
"Ya, resmi .... Hanya masalahnya, besok kalau kamu punya anak, anakmu tidak berhak minta warisan dari Podin." jelas Bu Hendro pada Rina.
"Terus, saya harus bagaimana, Bu ...?" tanya Rina yang tentu bingung.
"Ya terserah kamu .... Kalau kamu besok tidak akan menuntut warisan pada Podin, ya nggak papa ...." jawab Bu Hendro yang memberi gambaran untuk masa depannya.
"Ooo .... Begitu ya, Bu .... Tapi kalau misalnya saya minta dibelikan pakaian, masih bisa?" tentu Rina ingin kejelasannya.
"Ya iya, lah .... Tidak cuman pakaian .... Juga menafkai lahir batin. Menyediakan keperluan hidup, kebutuhan rumah tangga .... Dan tentunya memberikan itu ..., biar punya kamu bisa bolong ...." kata Bu Hendro menjelaskan pada Rina.
"Lha iya, lah .... Orang menikah itu tujuannya apa .... Kan itu .... Ya, yang bolong itu ...." sahut Bu Hendro menegaskan.
*******
Akhirnya, Rina sama Podin menikah siri. Hanya menikah siri itulah, satu-satunya cara yang bisa dilakukan untuk menikah antara Podin dan Rina, karena memang pada dasarnya Podin belum bercerai dengan istrinya. Oleh sebab itulah, maka kalau mereka akan menikah, bisanya hanya nikah siri. Karena tidak bakal mendapat restu dari istri tuanya. Dan tentunya Podin juga tidak akan menemukan di mana istrinya.
Sama seperti halnya saat menikah dengan Maya, Podin pun hanya bisa menikahi Maya dengan caranikah siri. Tentunya saat akan menikah dengan Rina, Podin sudah punya pengalaman bagaimana caranya menikah siri. Ya, menikah yang hanya di hadapan modin. Tanpa harus mengurus surat-surat. Sangat gampang dan simpel.
Dan setelah berembug, termasuk dengan Bu Hendro, majikan yang dianggap sebagai orang tua Rina, akhirnya setuju, Rina dan Podin melangsungkan nikah siri. Pernikahan yang hanya dilaksanakan dihadapan Pak Modin saja. Nemun tentunya tidak mendapatkan surat nikah yang resmi dari KUA. Meski begitu, Podin yang berniat menikahi Rina itu, yang disaksikan oleh Pak Modin bersama keluarga Bu Hendro dan beberapa tetangga, Podin memberikan perhiasan lengkap kepada Rina. Ada anting-anting dengan bandul mutiara, kalung dengan liontin intan permata, gelang yang sangat indah, dan cincin bermata jeli. Indah sekali. Rina yang kala pernikahan itu mengenakan pakaian baju encim warna putih dan kain kebaya, terlihat anggun. Dengan dandanan ala salon tetangga Bu Hendro. Rina terlihat sangat cantik. Seperti layaknya pengantin seorang gadis.
"Wao .... Rina .... Kamu sangat beruntung ...." kata Bu Hendro yang menyaksikan Podin menyerahkan seperangkat perhiasan.
"Waaah .... Rina dapat suami yang baik .... Murah hati dan penuh perhatian ...." kata orang-orang yang ikut hadir menyaksikan pernikahannya Rina.
Tentu semua orang terkesima dengan pernikahan Rina dan Podin tersebut. Bahkan kala itu, Podin bilang pada Bu Hendro, agar menyediakan makanan untuk para tamu, yang semuanya akan dibayar oleh Podin. Tentu Bu Hendro sangat senang. Bahkan Bu Hendro disuruh masak yang banyak, dan akan diberikan secara gratis kepada para pelanggannya yang biasa makan di warungnya, sebagai syukuran Podin bisa menikah dengan Rina, yang biasa melayani pelanggan di warung makan Bu Hendro.
Pasti, teman-teman kost juga senang, karena hari itu bisa makan gratis. Dan tentunya juga ikut berbahagia, karena temannya sudah menikah lagi, tentu hidupnya akan lebih bahagia.
"Samawa, Pak Podin ...."
"Selamat, Rina ...."
__ADS_1
"Semoga bahagia ...."
"Segera masuk kamar, ya .... Dicoba .... Pas apa enggak .... Hahaha ...."
"Waduh ...?! Lha nanti tinggal di kamar mana ...?"
Yah, ucapan dan ledekan teman-temannya pun langsung macam-macam. Namun demikian, pasti Rina tetap tersenyum bahagia. Janda dua tahun itu akan kembali merasakan nikmatnya orang menikah. Dan bagi Podin, pasti juga senang, karena melihat Rina yang begitu cantik, dan tentunya sangat menggemaskan.
Acara pernikahan Rina dan Podin, meskipun hanya nikah siri yang dilakukan oleh Pak Modin, tetap ramai oleh para teman yang kost dan para pelanggan warung makan Bu Hendro. Ya, karena harui itu, mereka semuanya makan gratis. Dan tentunya, orang-orang langsung berterima kasih kepada Podin, dan menganggap kalau Podin itu orang yang baik, yang murah dan mau berbagi kepada teman-temannya.
"Pak Podin ..., sekarang Pak Podin kan sudah menikah .... Sudah berdua bersama Rina .... Lhah, itu perlu dipikirkan, bagaimana nanti tinggalnya .... Bagaimana nanti tidurnya .... Karena Pak Podin tentu tidak bisa mengajak Rina di tempat Kost, tidak bisa tinggal jadi satu di kamar kost Pak Podin .... Demikian juga dengan Rina, yang saat ini tinggal di warung saya, tentu saya juga tidak mengijinkan Pak Podin nyusul Rina ke tempat tidurnya yang ada di warung. Nanti bisa berantakan semua .... Tolong masalah ini dipikirkan .... Setidaknya mencari tempat kost yang bisa untuk keluarga .... Kalau boleh saya sarankan, selisih harga sedikitm mendingan cari kontrakan .... Sokor bagi bisa beli perumahan .... Yah, rumah RSS juga bagus .... Saya kira Rina bisa menerima. Rina itu orangnya nrimo .... Tidak banyak menuntut ...." kata Bu Hendro yang menasehati Podin.
"Iya, Bu Hendro .... Saya juga sudah berfikir ke sana .... Tapi saya tetap mau minta tolong Bu Hendro untuk membantu kami mencari tempat kontrakan yang dekat sini saja .... Biar Rina masih tetap bisa membantu Bu Hendro ...." jawab Podin yang setuju dengan yang disampaikan oleh majikan istrinya itu.
"Ada apa, Mas ...?" Rina yang tahu bisik-bisik antara suaminya dengan majikannya, tentu ingin tahu.
"Rina ..., kita sudah menikah, kita sudah menjadi suami istri. Tentu kita tidak mungkin untuk tinggal di tempat kost ini. Karena tempat kost yang saya tempati ini untuk laki-laki .... Tidak bisa untuk ditempati perempuan, apalagi berkeluarga. Saya pun pasti tidak merasa nyaman kalau harus hidup berumah tangga bersama kamu, berada di tempat kost ini." begitu kata Podin yang tentu memberi pengertian kepada Rina, istrinya yang baru saja diajak menikah siri. Setidaknya agar Rina bisa memahami, bahwa tempat kosnya itu adalah untuk kost laki-laki, bukan untuk perempuan maupun orang yang berkeluarga.
"Lah ..., terus bagaimana, Mas Podin ...? Kita nanti akan tinggal di mana ...? Saya juga tidak mungkin untuk tinggal di tempatnya Bu Hendro, karena di situ kan warung makan ...." kata Rina yang juga bertanya kepada Podin, tentu Rina juga bingung dengan keadaannya setelah menikah.
"Bagaimana kalau misalnya kita kontrak rumah sendiri saja .... Kecil-kecilan tidak apa-apa, yang penting bisa buat tidur berdua." usul Podin kepada Rina.
"Kontrak rumah ...?! Apa tidak mahal, Mas?" tanya Rina kepada Podin, yang tentu tahu harga kontrakan di Jakarta sangat Mahal.
"Ya ..., hitung-hitung kita bisa tinggal berkeluarga sendiri. Kita kan butuh tempat tinggal yang hanya untuk kita berdua. Dan tentunya tidak bisa kita pisahan. Kamu tinggal di tempat Bu Hendro, sedangkan saya tinggal di tempat kost." begitu kata Podin yang tentunya juga merasa tidak nyaman kalau masih berpisahan dengan Rina.
"Tapi ..., uang dari mana, Mas?" tanya Rina kepada Podin, yang tentu juga khawatir karena uangnya yang pasti sangat terbatas, tidak banyak. Apalagi kalau hanya seorang karyawan dan seorang pelayan di warung makan, tentu uang itu sangat berarti untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya.
"Ya ..., tidak apa-apa, Rina .... Saya ada uang sedikit. Sama saja kan, kalau saya kost juga membayar. Kalau saya kontrak juga membayar. Selisihnya pun tidak banyak. Karena kalau kos, saya hanya membayar satu kamar, tetapi kalau kontrak, kita pilih tempat kontrak yang kecil-kecilan saja. Tidak usah yang besar, pasti harganya juga tidak begitu mahal.
"Ya sudah, kalau memang Mas Podin menghendaki kontrak, saya juga senang .... Tapi kan, yang jelas uangnya ada apa nggak?" kata Rina yang tentu masih saja mempersoalkan kekhawatiran masalah keuangan.
"Tidak usah khawatirin, kalau hanya untuk kontrak rumah saja, saya masih bisa membayar." jawab Podin yang meyakinkan.
Akhirnya, Podin mendapay kontrakan rumah, atas bantuan dari Bu Hendro. Tentunya tidak jauh dari tempat kos itu, dan yang tentu juga tidak jauh dari warung Bu Hendro. Podin juga akan memberi kesempatan kepada Rina untuk bisa tetap bekerja sebagai pelayan di tempatnya Bu Hendro, yaitu membantu Bu Hendro di warung makannya. Ya, setidak-tidaknya Rina akan paham betapa sulitnya orang hidup berumah tangga. Apalagi dalam bekerja untuk mencari uang.
Podin mengakui, Rina memang sangat jeli dan hati-hati menggunakan uang. Bahkan akan kontrak rumah pun juga dipertimbangkan. Itulah ciri dari orang yang bekerja benar-benar mencari uang dengan bersusah payah. Mencari uang dengan banting tulang dan peras keringat. Tahu sulitnya orang mencari uang. Tidak seperti Maya, yang hanya selalu menuntut, meminta uang agar selalu disediakan oleh suaminya.
Tetapi kali ini, Podin justru sadar, kalau Rina bekerja di tempat warungnya Bu Hendro, pastinya Rina juga merasakan betapa sulitnya orang mencari penghasilan dalam mendapatkan uang. Memang benar yang dikatakan oleh istri barunya, harga kontrak rumah memang lebih besar daripada kost. Setidak-tidaknya lima kali lipat. Tetapi bagi Podin, tidak masalah dengan uang yang paling sekitar sepuluh juta. Karena kalau sudah mengontrak rumah, tentu akan lebih bebas dan leluasa untuk mengatur rumah tangganya bersama Rina.
Dan kini, Podin sudah mendapatkan rumah kontrakan. Tentunya juga atas bantuan Bu Hendro yang sudah menganggap Rina sebagai anaknya.
Memang, rumah yang dikontrak oleh Podin itu ukurannya tidak begitu besar. Hanya rumah kecil dengan dua kamar. Tetapi ada juga ruang tamunya. Halamannya bisa untuk tempat memarkirkan mobil. Setidaknya, Podin bisa menempatkan mobilnya di halamannya sendiri. Ibarat kata garasi terbuka yang bisa ditempati mobil. Tetapi lumayan. Tidak masalah. Yang penting Rina dekat dengan tempat kerjanya, bisa tetap membantu menjadi pelayan di warung makannya BU Hendro. Dan tentunya juga lebih leluasa.
Di rumah kontrakan itulah, Podin akan mengatur bagaimana kehidupan selanjutnya bersama dengan istri barunya, Rina. Terutama dalam mencari uang untuk bisa berumah tangga. Bahkan Podin sudah mulai berpikir ingin mencari kerja lain, walaupun hanya sekadar serabutan. Setidaknya, nanti bisa hidup tenang bersama-sama dengan Rina, tanpa ada gangguan dari Maya lagi, yang selalu menuntut uang dari Podin.
__ADS_1