
"Allahu akbar ..., Allahu akbar ..., Allahu akbar ..... La ilaha illallahu wallahu akbar .... Allahu akbar wa lillahil hamd."
"Allahu akbar kabiiraa, walhamdu lillahi katsira, wa subhanallahi bukratan wa ashila, la ilaha illallahu wa la na'budu illa iyyahu mukhlishina lahud dina wa law karihal kafirun, la ilaha illallahu wahdah, shadaqa wa'dah, wa nashara 'abdah, wa a'azza jundahu wa hazamal ahzaba wahdah, la ilaha illallahu wallahu akbar. Allahu akbar walillahilhamd."
Suara takbir menggema di seantero ruang udara. Bunyi bedug bertalu-talu mengumandang di mana-mana. Hari itu adalah hari lebaran, hari bagi umat Islam merayakan hari kemenangan, orang-orang merayakan hari raya Idul Fitri. Tentunya bagi semua orang pasti akan bergembira, pasti akan bersenang-senang menyaksikan datangnya hari lebaran, hari kemenangan setelah sebulan berpuasa. Lebaran adalah hari kemenangan yang disambut dengan suka cita oleh semua umat Islam di Indonesia.
Hari raya idul fitri atau lebaran, adalah momen yang selalu ditunggu oleh semua umat Islam. Tentu, sebelum hari lebaran tiba, umat muslim harus menjalani puasa selama sebulan penuh. Puasa bukan sekadar menahan diri dari lapar dan dahaga, tetapi juga menahan semua hawa nafsu. Itulah mengapa lebaran juga disebut sebagai hari kemenangan.
Mudik adalah tradisi yang dilakukan oleh semua warga Indonesia menjelang lebaran. Mereka yang merantau ke luar kota untuk bekerja, akan memanfaatkan momen lebaran untuk mengunjungi orang tua dan keluarga di daerah asalnya atau di kampung. Bahkan pemerintah memberikan libur khusus di hari lebaran, dengan jumlah hari libur yang lebih banyak, supaya semua orang bisa merayakan hari lebaran ini bersama dengan orang-orang tersayang di kampungnya. Banyak orang yang mudik, untuk bertemu dengan keluarganya, ingin berkumpul bersama sanak saudaranya. Tentu hari lebaran itu adalah hari yang dinanti-nanti oleh setiap orang. Termasuk Isti dan anak-anaknya.
Ya, Isti sangat berharap akan kedatangan suaminya, Podin. demikian juga anak-anaknya, yang rindu untuk menanti kepulangan bapaknya. Maklum, kerinduan itu sudah sangat mendalam, terutama dalam hati Isti yang ditinggal menikah lagi oleh Podin.
Di dapur yang terdapat di bagian belakang rukonya, Isti sudah memasak ketupat dan opor ayam, yang tentu itu adalah makanan khas pada hari lebaran. Tentunya, makanan ketupat dan opor ayam ini nantinya akan dimakan, akan dinikmati untuk memperingati hari raya Idul Fitri. Tentunya Isti ingin makan ketupat dan opor ayam itu bersama dengan seluruh anggota keluarganya. Namun ketika Isti sudah menyiapkan ketupat dan opor ayam itu di meja makan, menyaksikan semua makanan yang tersaji itu, ia kembali bersedih. Ia kembali memikirkan Podin. Akankah suaminya pulang untuk menengok anak istrinya? Akankah suaminya mudik untuk melihat kampung halamannya? Akankah suaminya datang sekadar untuk meminta maaf kepada anak-anaknya yang selama ini ia tinggalkan tanpa ada rasa kasih sayang sedikitpun?
Namun, saat Isti duduk di meja makan itu, sambil melamun yang tentu memikirkan suaminya, tiba-tiba saja anak perempuannya yang kecil, Asri, datang menghampirinya.
"Bu ..., kapan Bapak pulang ...?" tanya Asri kepada ibunya, yang tentu anak perempuan itu sudah sangat rindu dengan bapaknya karena sudah dua bulan lebih ditinggal oleh bapaknya tanpa ada kabar berita.
"Sabar ya, Asri .... Nanti kalau bapakmu sudah dapat uang, pekerjaannya sudah selesai, pasti pulang, pasti akan lebaran bersama dengan kita ...." begitu kata ibunya menjawab pertanyaan Asri, sambil mengelus-elus kepala anaknya itu. Dan tanpa terasa, air mata menetes dari pelupuk matanya menyaksikan anak-anaknya yang sangat merindukan ayahnya. Namun itu semua hanya ada di angan-angan. Tentu Isti sangat sedih. Tentu hati Isti sangat perih. Dan tentu Isti merasa sangat-sangat membutuhkan kehadiran suaminya.
Tidak hanya Asri yang datang di meja makan itu. Namun demikian juga dengan Dewi yang tentu sambil mengajak adiknya yang paling kecil, Antok. Lantas Dewi pun mendudukkan adiknya di kursi tempat meja makan itu. Lantas Dewi sendiri juga ikut duduk berhadapan dengan ibunya.
"Bu ..., kapan Bapak pulang ...?" begitu tanya Dewi kepada ibunya.
"Dewi ..., sabar ya, Nak .... Kalian semuanya yang sabar ya .... Mungkin Bapak kamu sedang sibuk .... Mungkin bapak kamu tidak punya waktu .... Bahkan mungkin kalau di hari-hari lebaran seperti ini, tentu tempat bisnis Bapak kamu semakin ramai. Semua orang butuh hiburan. Semua orang ingin bernyanyi-nyanyi. Maka tempat bisnis Bapakmu pasti penuh sesak dengan pengunjung. Kalau seperti itu berarti Bapak tidak bisa pulang. Artinya, Bapak harus menjaga tempat usahanya itu semaksimal mungkin." begitu jelas ibunya kepada anak-anaknya.
"Lhoh ..., kok Bapak tidak pulang ...? Kan kita lebaran, Bu .... Masak hari lebaran orang-orang pada mudik, orang-orang pada pulang kampung, orang-orang pada pakai baju baru dibelikan oleh ayahnya, tapi kita ...?! Bapak malah tidak pulang ...." kata Dewi yang tentu juga kecewa karena bapaknya yang dikatakan oleh ibunya kemungkinan tidak akan pulang.
"Payah .... Bapak itu nggak tahu anaknya ingin ketemu ...." kata Asri yang tentu kecewa.
Memang, itu kata-kata dari isi hati anak-anaknya yang sebenarnya sangat merindukan bapaknya. Tentu anaknya sangat berharap akan kehadiran orang tuanya.
__ADS_1
Memang Isti tidak akan menceritakan hal yang sesungguhnya kepada anak-anaknya. Karena Isti tidak ingin anaknya tahu kalau bapaknya sudah punya istri lagi di Jakarta. Tentunya kalau Podin, bapaknya itu sudah punya istri lagi, sudah berkeluarga lagi, pastinya dia juga akan lebih berat tinggal bersama istri mudanya, daripada pulang harus memberikan uang kepada istri tuanya. Belum lagi Podin harus membelikan pakaian kepada anak-anaknya. Tentu itu butuh uang yang cukup besar. Bahkan kalaupun Podin pulang ke kampung halaman, kalau Podin harus menemui istrinya, pasti dia juga akan merasa tidak nyaman. Karena rumahnya yang mewah, rumahnya yang megah, rumahnya yang besar itu, sudah akan dijual. Dan dia tidak punya rumah untuk tempat tinggal lagi. Kalau Podin harus pulang ke ruko yang dijadikan tempat usaha oleh Isti, tentunya dia juga akan malu karena waktu itu, Podin sudah mengusir istri dan anak-anaknya.
Memang Isti merahasiakan apa yang sudah dilakukan oleh suaminya itu kepada anak-anaknya. Isti tidak ingin anak-anaknya tahu tentang kelakuan bapaknya. Isti tidak ingin anak-anaknya marah kepada bapaknya. Isti tidak ingin anak-anaknya kecewa dengan apa yang dilakukan oleh bapaknya. Dan tentunya Isti juga tidak ingin menyakiti hati anak-anaknya.
Namun tentunya, sebagai seorang wanita yang harus menghidupi tiga anak yang masih kecil-kecil itu, Isti juga kewalahan, Isti juga merasa kekurangan, karena kebutuhan hidupnya tidak hanya sekedar makan, tidak hanya sekedar minum, tidak hanya sekedar tidur, tidak hanya sekedar istirahat. Tetapi juga harus menyekolahkan anaknya, harus memberikan pakaian kepada anak-anaknya, dan tentunya ia juga harus membayar kontribusi-kontribusi lain di dalam administrasi perumahannya atau rukonya. Isti harus membayar listrik, harus membayar air, harus membayar kebersihan.
Memang, kalau dipikir, Isti merasa sangat berat dengan kehidupan yang sekarang ini. Namun jika ia bandingkan dengan pada masa dirinya masih miskin dulu, ketika ia tidak punya rumah, ketika ia tidak punya apa-apa, Isti masih bersyukur karena dirinya hari ini masih bisa berusaha. Dan tentunya ia pun tidak ingin punya hutang kepada para tetangganya lagi. Maka ia bersusah payah berjualan, menata tokonya dari pagi hingga malam.
Walau demikian, Isti tetap bersyukur karena anak-anaknya yang masih kecil-kecil tetap rajin membantu ibunya berjualan di toko itu. Ya, setidaknya ia bisa mengajarkan kebaikan kepada anak-anaknya, ia bisa mengajarkan cara hidup yang rajin, cara berhemat, bahkan juga menabung. Anak-anaknya pun menurut dengan apa yang selalu diajarkan oleh orang tuanya.
Namun kali ini, hari ini adalah hari lebaran. Di hari lebaran, biasanya Podin bersama dengan anak-anaknya dan istrinya, mengajak pergi ke rumah neneknya, mengajak pergi ke saudara-saudaranya untuk bersilaturahmi di sana. Tetapi kali ini, Isti benar-benar sangat terpukul. Ia merasa sangat kesepian. Ia merasa dalam kehidupannya menjadi sunyi. Karena Lebaran kali ini, anak-anaknya yang masih kecil-kecil tidak ditunggui oleh orang tuanya. Isti sendiri juga sedih karena suaminya tidak pernah pulang menjenguknya.
"Antok tidak dibelikan mercon, Bu ...?" tanya anak laki-lakinya yang paling kecil itu pada ibunya.
"Ya ampun ..., Antok .... Jangan main mercon .... Nanti bisa meletus .... Nanti kalau kebledosan kamu bisa luka-luka ...." kata ibunya pada anaknya yang paling kecil itu.
"Tapi, dulu bapak selalu membelikan Antok mercon kalau pas lebaran begini ...." Antok protes merasa dulu sering dibelikan petasan oleh bapaknya. Ya, tentu walaupun Antok masih kecil, ia masih ingat manakala setiap lebaran Podin selalu membeli petasan dan kembang api untuk anak-anaknya. Walaupun hanya sekedar sebatang atau dua batang. Namun setidaknya, dia ingin membahagiakan anak-anaknya, ia ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya.
Namun sayang, lebaran kali ini Podin yang ditunggu-tunggu juga tidak datang.
"Iya ..., Bu .... Biasanya kalau bapak pulang nanti dia membelikan kita kembang api." begitu juga kata Asri yang masih ingat kalau lebaran bapaknya membelikan kembang api. Lantas kembang api itu dinyalakan. Kemudian dicantolkan pada dahan-dahan pohon, anaknya senang bersorak gembira menyaksikan letupan-letupan kembang api itu.
Tentunya, pada lebaran kali ini, Asri juga ingin memperoleh kembang api dari bapaknya. Sayangnya apa yang dia harapkan, apa yang dia inginkan, apa yang dia rindukan, di hari lebaran kali ini, bapaknya tidak pulang.
"Sudahlah ..., besok kalau Bapak kamu pulang, pasti Bapak akan membelikan petasan sama kembang api." begitu kata ibunya yang tentu menenangkan anaknya.
"Kalau misalnya saya beli sendiri, boleh tidak, Bu ...?" begitu tanya Asri kepada ibunya.
Isti terdiam. Dia bingung untuk menjawabnya. Seandainya dia mengizinkan anaknya untuk beli kembang api, itu artinya anaknya sudah boros. Karena uang yang mereka miliki kali ini, sebenarnya sangat dihemat, sangat diirit. Ia butuh banyak uang untuk memenuhi keperluan hidupnya. Tetapi kalau anaknya ingin membeli kembang api, itu berarti dia harus mengeluarkan uang untuk membayarnya. Tentu bagi Isti, walaupun itu harganya hanya sekitar lima ribu sampai sepuluh ribu rupiah saja, tetapi jumlah uang sebesar itu sangat berarti untuk keperluan hidupnya. Ya, kali ini memang Isti tidak berani untuk hidup boros, tidak berani sembarangan mengeluarkan uang yang tanpa ada tujuannya yang bermanfaat. Kalau ia membelikan anak-anaknya kembang api, itu artinya Ia juga mengajarkan anaknya hidup boros, tidak bisa menghemat pengeluaran.
"Beli mercon, beli petasan, beli kembang api Itu tidak baik, Asri ..., Antok .... Sayang uangnya dihambur-hamburkan tanpa ada manfaatnya .... Kalau hanya mercon, kalau hanya kembang api, kita kan bisa melihat orang-orang yang pada menyulut. Nah, coba nanti kita ke lantai dua. Kita ke atas. Kita akan melihat bagaimana kembang api-kembang api itu pada bermekaran di langit. Kita bisa menyaksikannya lebih jelas dan terlihat bagus. Jadi, malah tidak bahaya. Kalau kamu beli sendiri, Terus nyulut mercon itu sendiri, terus meletus dan ledakannya kena kamu, malah bahaya .... Bisa luka, bisa ya bahaya .... Pokoknya tidak usah beli mercon, bahaya." begitu kata ibunya yang tentu memberikan gambaran kepada anaknya, bahwa petasan maupun kembang api itu sebenarnya bahaya bagi anak kecil.
__ADS_1
"Tapi ..., dulu Bapak membelikan mercon kembang api ...." protes Asri yang tentu ingat ketika ia dibelikan petasan dan kembang api oleh bapaknya. Ya, waktu itu bapaknya membelikan kembang api dan petasan, kemudian yang menyulut kembang apinya juga bapaknya, yang nyulut petasan juga bapaknya.
"Bapak kan sudah dewasa .... Sudah besar, dan berani menyulut petasan .... Tidak apa-apa, karena sudah bisa memperkirakan letusannya. Nah, kalau kamu yang masih kecil, apa berani menyulut petasan sendiri? Nanti kalau kebledosan bagaimana?" begitu kata ibunya pada anak-anaknya yang masih kecil itu.
"Ya nanti yang nyulut petasannya Ibu ...." kata Asri yang lagi-lagi ingin memaksa kepada ibunya.
"Iih, Asri .... Ibu takut .... Ibu tidak berani, nanti kalau kabledosan malah Ibu sakit ...." begitu kata ibunya ya tentu beralasan untuk tidak beli petasan.
Gambaran semacam itu tentunya sudah bisa diterima oleh anak-anaknya.
"Ya, Asri ..., Antok ..., kita jangan main petasan atau kembang api. Coba lihat di televisi, ada berita banyak orang yang luka-luka karena kebledosan kembang api, kebledosan petasan, kebledosan mercon .... Makanya lebih baik kita nonton saja dari jendela itu, kan kelihatan dan lebih aman .... Nanti kita masuk ke lantai dua, kita buka jendela kita, terus nonton dari sana .... Begitu, ya ..., daripada beli mercon, daripada beli kembang api, mendingan uangnya ditabung .... Besok bisa digunakan untuk keperluan-keperluan yang bermanfaat." begitu kata Dewi, kakaknya yang besar, yang sungguh pintar untuk memberikan penalaran kepada adik-adiknya. Tentu Dewi juga merasakan bahwa kehidupan ibunya masih sangat sulit dan masih sangat membutuhkan uang. Bahkan Dewi juga sudah kepikiran kalau orang tuanya itu butuh uang banyak. Dan itu dibuktikan karena rumahnya yang besar, rumahnya yang megah, rumahnya yang mewah sudah dijual dengan alasan bapaknya butuh uang untuk usaha yang di Jakarta. Dewi, anak kecil yang masih duduk di kelas dua SD itu sudah sanggup memikirkan hal semacam itu. Ini menunjukkan bahwa Dewi adalah anak yang baik, anak yang cerdas, anak yang pintar, anak yang mengerti dengan kebutuhan orang tuanya.
"Nah ..., sudah sekarang lebih enak kalau kita makan ketupat sama opor, ya .... Ini, coba lihat ..., ibu sudah masak ketupat sama opor. Nah kalian masih suka makanan lebaran ini, kan ...?" kata ibunya yang sudah menunjukkan ketupat yang ada di atas meja itu, dengan sayur opor yang ada di dalam mangkok besar.
"Asik .... Ibu masak opor ...." begitu anak-anaknya menyaut, dan tentu dia sangat gembira karena melihat di atas meja itu sudah siap, sudah tersaji ketupat dengan sayur opornya.
"Ya ..., sekarang kita makan bersama menikmati ketupat lebaran, menikmati opor lebaran. Nah ..., kan justru enak .... Daripada dibuat beli mercon, mending uangnya buat masak ketupat sama opor .... Ya, kan ...?" kata ibunya, yang lantas mengiris ketupat-ketupat itu, dibelah dan dipotong kecil-kecil, dimasukkan dalam piring, kemudian diberi kuah opor. Lantas Isti mengambil paha ayam yang ada di dalam opor itu, paha ayam itu kemudian disisir untuk diambil dagingnya, agar Antok, anaknya yang paling kecil bisa langsung memakannya tanpa kesulitan karena sudah dihilangkan tulang-tulangnya.
"Ini dia .... Opor ayam sama ketupat buat anak Ibu yang paling kecil .... Mantap, Antok .... Ayo dimakan ...." kata ibunya yang menyerahkan piring berisi ketupat dengan sayur opor ayam itu kepada anaknya yang paling kecil.
"Terima kasih, Ibu ...." begitu sahut Antok yang tentu langsung mencicipi kuahnya. "Hmm ..., enak ...." begitu katanya sambil mengacungkan jempol tangannya.
Selanjutnya, Isti kembali meracik makanan khas lebaran itu untuk anaknya yang besar, Dewi dan adiknya. Isti mengambil lagi ketupat-ketupat itu, kemudian dibelah dan dipotong-potong menjadi kecil-kecil, lantas diberi sayur opor ayam dan kuahnya yang cukup banyak, lantas diberikan kepada kedua anak perempuannya.
"Ayo, Asri .... Ini untuk Dewi ...." kata ibunya yang membagikan piring-piring berisi ketrupat dengan opor ayam tersebut.
Lantas, Isti bersama anak-anaknya, mereka berempat langsung menyantap ketupat opor di malam lebaran itu. Ya, mereka berempat menikmati malam lebaran dengan memakan ketupat dan sayur opor, tanpa ada bapaknya, dan juga sudah tidak ada Eko, anak terbesarnya yang sudah meninggal.
*******
Sementara itu, di Jakarta, Podin yang menikmati lebaran bersama istri mudanya, tentu sangat jauh berbeda dengan istri dan anak-anaknya yang tinggal di ruko. Ya, Podin bersama Maya, istri mudanya itu, dia berfoya-foya, mereka menikmati lebaran dengan cara ala orang kaya, cara selebritis, cara orang-orang berduit, cara orang-orang yang suka menghambur-hamburkan uang.
__ADS_1
Ya, Podin bersama Maya, mereka menikmati malam lebaran itu dengan cara bersenang-senang di sebuah hotel mewah di Puncak, yang mereka sewa untuk merayakan lebaran, dengan menikmati indahnya pemandangan alam, indahnya tempat wisata wisata. Mereka menikmati suasana lebaran dengan cara bersenang-senang dan berfoya-foya di tempat hiburan.
Seperti itulah kenyataan Podin yang sudah melupakan nilai-nilai agama, sudah merupakan nilai-nilai tradisi, sudah melupakan nilai-nilai kebersamaan di dalam lebaran, sudah melupakan anak dan istrinya yang menderita. Tetapi dia justru menikmati hari raya yang mestinya disakralkan itu, merayakan lebaran itu dengan kegiatan-kegiatan yang tentunya sangat bertentangan dengan makna Idul Fitri itu sendiri. Podin bersama Maya menikmati Idul Fitri dengan berbagai kesenangan yang mengumbar hawa nafsu.