
Karena setiap hari hidupnya di bayang-bayangi oleh gadis kecil yang selalu datang dalam mimpinya, yang selalu mengganggu dalam lamunannya, bahkan kadang-kadang juga muncul saat ia duduk sendirian. Akhirnya, Rina tidak bisa konsentrasi di dalam berjualan. Rina tidak bisa memenuhi tuntutan para pelanggannya untuk menyediakan masakan, yang akibatnya tentunya para pelanggan Rina pada kecewa. Para pelanggan yang tidak terpenuhi keinginannya, karena menunya yang semakin sedikit, mereka pun berpindah untuk mencari warung makan yang lain.
Ya, akhirnya dagangan yang ada di warung makan Rina mulai banyak yang berkurang. Rak makanan mulai pada kosong. Bahkan kadang-kadang, Rina berjualan dengan jenis makanan seadanya, tetapi kadang-kadang ia libur tidak berjualan. Alasannya karena tidak bisa berbelanja ke pasar, tidak bisa membeli barang-barang bahan kebutuhan untuk masak, karena semalam tidak bisa tidur, takut dengan arwah bocah yang masih sering muncul menakut-nakutinya.
"Mpok Rina .... Kenapa sekarang Mpok Rina jarang jualan ...? Saya sering kecewa kalau datang kemari, karena tahu-tahu sampai di sini, Pok Rina tidak jualan?" tanya salah seorang karyawan pabrik yang kebetulan pulang dari kerja, ia mampir ke warung Rina.
Tentu Rina yang duduk sendirian di warungnya itu, masih dalam keadaan melamun. Ya, karena kini warungnya sudah sepi pembeli. Tidak seperti dulu, yang selalu ramai. Rina sendiri selalu kewalahan.
"Iya ...,Pak .... Saya kurang enak badan .... Saya kurang tidur .... Kalau malam saya ketakutan. Saya tidak bisa tidur, takut kalau arwah bocah perempuan cilik yang gentayangan itu mendatangi saya, mengganggu terus." jawab Rina yang tentu mengutarakan permasalahan dalam hidupnya. Itulah sebabnya, kenapa Rina kadang-kadang tidak berjualan.
"Lah, memang Pok Rina masih sering didatangi bocah itu?" tanya laki-laki itu yang sambil mengambil makan di meja persediaan nasi, untuk ia makan, sebagai makan malamnya.
"Betul, Pak. Apa itu karena saya sudah salah, sudah membuang peti-peti yang ada di dalam kolong tempat tidur saya itu ya, Pak?" tanya Rina kepada orang yang duduk dekat dengan dirinya tersebut, dan tentu sambil menemani pelanggannya iyu.
"Bisa jadi .... Apa tidak sebaiknya peti itu kamu ambil lagi? Terus kamu kembalikan ke tempat semula, biar aman, biar anak itu tidak gentayangan lagi." kata laki-laki itu memberi saran kepada Rina.
"Sebenarnya saya sudah mencoba mencari ke tempat sampah di mana saya membuang peti itu .... Tetapi peti itu sudah tidak ada .... Mungkin sudah diangkut dan dibuang ke tempat pembuangan akhir." kata Rina yang sedih karena peti yang dibuangnya dan sudah ia cari kembali memang sudah tidak ada di tempat pembuangan sampah. Pastinya tempat pembuangan sampah yang ada di dekat pasar itu memang sudah dibersihkan oleh petugas kebersihan pasar. Dan tentu termasuk peti yang dibuang oleh Rina juga di angkit dan dibuang ke tempat pembuangan akhir.
"Wah kalau begitu saya tidak bisa mengatakan apa-apa, Pok .... Apa tidak sebaiknya Pok Rina menanyakan hal ini kepada orang pintar saja ...? Ya, semacam dukun seperti itulah, yang tahu bagaimana sebenarnya kondisi rumah Pok Rina ini. Siapa tahu ada orang pintar yang bisa memberi syarat rumah Pok Rina ini, sehingga rumah ini bisa kembali aman, Mpok Rina bisa tidur nyenyak, dan Mpok Rina bisa jualan lagi, dan laris seperti dulu." kata laki-laki itu kepada Rina, yang tentunya juga memberi saran agar Rina meminta bantuan ke orang pintar alias dukun.
"Lah, kalau mencari orang pintar yang bisa melihat rumah saya itu di mana, Pak? Apa Bapak tahu tempatnya? Atau, siapa orangnya yang bisa menyarati rumah saya ini, Pak?" tanya Rina kepada laki-laki yang sedang makan di warungnya itu.
__ADS_1
"Kalau memang Mpok Rina mau, coba nanti saya tanya-tanya kepada teman-teman, siapa tahu ada yang kenal orang pintar dan tahu rumahnya. Nanti biar dibantu untuk mencarikan orang pintar itu." kata laki-laki itu kepada Rina, yang berniat membantu untuk mencarikan orang pintar.
"Iya, Pak .... Wah, terima kasih, Pak .... Saya sudah dibantu. Tolong ya, Pak, kalau nanti tahu tempatnya atau rumahnya orang pintar itu, sekalian tolong orang itu diajak untuk kemari, untuk melihat rumah saya ini. Terus terang saja, saya masih ketakutan dengan arwah gentayangan si bocah kecil yang sering kemari itu. Saya tidak menyangka, saya juga tidak mengira kalau ternyata bocah yang sering saya beri makan itu adalah arwah gentayangan." kata Rina yang tentunya juga menyesal sudah memberikan makanan dan pakaian kepada bocah yang kini justru menakut-nakuti dirinya itu.
"Jangan begitu, Mpok Rina .... Berbuat baik itu tidak ada salahnya. Mungkin anak itu pun sebenarnya tidak mau menakut-nakuti Mpok Rina .... Mungkin juga, bisa jadi anak itu sebenarnya mau minta tolong, minta ditunjukkan ke tempat jasadnya berada. Dia sebenarnya ingin menunjukkan di mana jalan menuju ke tubuhnya itu berada. Mungkin anak itu mati secara tidak wajar dan sebenarnya mau minta tolong kepada Mpok Rina, tapi kita memang tidak tahu bahasa mereka. Itu yang menyebabkan kadang-kadang kita justru berubah menjadi ketakutan." kata laki-laki itu kepada Rina, yang tentunya dia menenangkan hati Rina yang selama ini memang ketakutan.
"Terima kasih, Pak .... Benar juga, mungkin saja memang seperti itu. Tapi yang namanya ketemu arwah, orang-orang yang penakut seperti saya ini, pasti tidak berani, Pak. Pasti ketakutan." kata Rina yang memang wajar sebagai seorang perempuan yang di rumah sendirian, takut dengan hal-hal yang gaib seperti itu. Apalagi rumah Rina memang sepi, setelah ditinggalkan oleh Podin yang diusir oleh Rina maupun para tetangga.
"Ya ..., sudahlah Mpok Rina .... Nanti kami akan membantu, akan berusaha untuk mencarikan orang yang bisa memberi syarat rumah Mpok Rina ini, agar rumah Mpok Rina bisa kembali tentram, kembali nyaman, dan tentunya juga tenang." kata laki-laki itu yang selanjutnya memberikan uang, membayar nasi kepada Rina. Kemudian ia pun berpamitan pulang.
Rina mulai agak tenang, setelah mendengar kata-kata dari orang tadi yang rencananya akan membantu untuk mencarikan orang pintar yang bisa memberi syarat agar rumah Rina ini menjadi tenang, tidak diganggu lagi oleh arwah yang gentayangan.
Tentu, Rina sangat berharap kalau orang itu bisa menyingkirkan arwah yang gentayangan, yang selalu mengganggu Rina. Walau laki-laki gemuk brewokan itu sudah masuk dan mengelilingi ruangan rumah Rina, namun Rina tidak berani berkata-kata apapun. Rina serem melihatnya. Rina hanya diam dan hanya sanggup mengamati orang brewok itu dari kejauhan.
Lantas laki-laki gemuk yang brewokan, yang mengenakan pakaian serba hitam dan ikat kepala juga kain hitam itu, ia duduk bersila di tengah pintu rumah Rina. Lantas laki-laki itu mulai membuka bungkusan daun pisang, berisi bunga. Ya, pastinya ini adalah bunga untuk sesaji. Dan sebentar kemudian, laki-laki itu juga membuka bungkusan plastik kecil yang berisi kemenyan. Lantas kemenyan itu ditaruh dekat dengan bunga yang sudah diletakkan di lantai di depan pintu rumah Rina. Lantas kemenyan itu dibakar.
Bau wangi yang sangat menyengat dari asap kemenyan yang dibakar itu, langsung menyebar menyelimuti rumah Rina. Dan orang-orang yang ada di situ, yang menyaksikan aksi si dukun itu, mereka langsung penutup hidungnya, karena bau bakaran kemenyan yang menyebar ke mana-mana, yang langsung menusuk ke hidung mereka.
Rina yang sangat berharap, dukun itu bisa membantunya untuk menyingkirkan arwah bocah cilik yang selalu mengganggunya itu. Tentu Rina juga terlihat agak tegang. Dan pastinya, Rina juga mengikuti dan menyaksikan semua prosesi ritual dari sang dukun tersebut.
Sebentar kemudian, setelah asap bakaran kemenyan itu membumbung menyelimuti ruangan rumah Rina, dukun itu mulutnya mulai komat-kamit membaca mantra. Setelah beberapa saat, tiba-tiba saja tangan si dukun itu yang sedang menengadah memanjatkan mantra, tiba-tiba terlihat bergetar kencang, bahkan tubuhnya juga bergoyang karena getaran itu. Bahkan seakan-akan, tubuh dukun itu akan terangkat dari duduknya yang bersila di lantai di tengah pintu. Tetapi dukun itu masih kuat, masih bisa mempertahankan dirinya untuk tetap berada di depan kembang sesaji dan kemenyan yang dibakar tersebut. Mulutnya mulai menyeringai. Giginya nampak meringis seakan mau menggigit tulang. Bibirnya komat-kamit semakin cepat dan mulai terdengar suara yang aneh dari mulutnya itu. Ya, ada sesuatu yang aneh terjadi.
__ADS_1
Dan tiba-tiba, tubuh dukun yang gemuk itu terjengkang, jatuh di lantai rumah, kepalanya membentur tembok. Dan dukun itu terlihat meringis kesakitan, sambil mengelus-elus kepalanya yang benjol karena terbentur tembok.
"Saya tidak sanggup .... Saya tidak sanggup ...! Saya tidak sanggup ...!" kata dukun itu yang menyerah tidak bisa mengalahkan kekuatan gaib yang ada di dalam rumah Rina. Lantas ia berpamitan minta pulang, karena sudah menyerah kalah, tidak berani meneruskan lagi usahanya untuk mengusir kekuatan jahat yang ada di rumah Rina itu.
Meski demikian, Rina tetap memberikan amplop berisi uang, sebagai uang transport kepada dukun itu. Tentu Rina kecewa, Rina kembali bersedih, karena apa yang diusahakan oleh dukun itu, untuk mengusir arwah jahat yang ada di rumahnya, ternyata sang dukun sudah gagal. Dan itu artinya, Rina belum bisa tenang, belum bisa nyaman untuk tidur di rumahnya sendiri.
Cerita tentang dukun yang dilempar dan terpental di rumah Rina, saat akan mengusir arwah jahat itu, langsung menyebar ke seluruh kampung. Pastinya orang-orang menjadi paham, mengerti dan semuanya tahu, kalau di rumah Rina ada makhluk jahat. Di rumah Rina ada arwah yang gentayangan. Maka, orang-orang langsung pada takut untuk datang ke warung maupun rumah Rina. Mereka takut kalau sampai diganggu oleh arwah yang gentayangan itu.
Akibatnya, warung rina tidak ada pembeli. Warung Rina sepi. Warung Rina tidak laku. Dan Rina pasti bangkrut.
"Pak, saya mau pulang ke kampung saja .... Saya tidak betah tinggal di sini. Dan terus terang, saya sudah tidak mungkin lagi berjualan, Pak .... Warung saya sepi pembeli, bahkan tidak ada lagi orang yang mau makan di warung saya ini .... Saya nganggur, Pak .... Saya tidak sanggup menderita di rumah ini." kata Rina kepada laki-laki yang sudah menolongnya untuk mencarikan dukun itu.
"Kenapa harus pulang kampung, Pok Rina ...?" tanya laki-laki itu, yang tentu juga merasa kasihan kepada Rina.
"Saya tidak sanggup menderita lebih lama lagi, Pak .... Daripada saya di sini juga nganggur, tidak jualan, dan juga ketakutan di sini ..., lebih baik saya pulang kampung saja. Saya akan menenangkan diri du kampung, Pak." kata Rina yang sudah berniat untuk pulang kampung.
"Terus ..., rumah dan warung ini bagaimana?" tanya laki-laki itu.
"Biar saja .... Saya titip rumah saya. Bila perlu akan saya jual, Pak .... Seandainya nanti ada yang akan membeli, tolong hubungi saya ya, Pak ...." kata Rina yang sekaligus mau menjual rumahnya itu. Tentu karena dirasa rumah itu sudah tidak aman lagi. Berhantu.
Akhirnya, Rina pun berkemas. Ya, ia memaksakan diri untuk pulang kampung. Rina akan kembali ke rumah orang tuanya.
__ADS_1