PULAU BERHALA

PULAU BERHALA
EPISODE 100: PELANGGAN BAIK


__ADS_3

    Sementara itu, setelah Podin pergi menuju Jakarta, setelah Podin meninggalkan rumahnya, meninggalkan istri dan kedua mertuanya, Lesti kembali ke tokonya. Ia menata barang-barang dagangannya. Dan tentunya Lesti juga mengamati barang-barang apa saja yang sudah mulai habis dan yang perlu untuk belanja lagi, untuk pesan dikirim kembali oleh suppliernya. Ya, kegiatan di toko sebenarnya memang sangat mengasyikkan. Saat tidak ada pembeli, Lesti bisa menata barang-barangnya, agar rapi dan mudah untuk diambil oleh para pembeli. Bahkan tentunya, Lesti juga bisa menata ulang barang-barang yang jauh dari jangkauan. Dan paling tidak, Lesti pun bisa mengira-ira, apa saja barang=barang dagangan yang perlu dibenahi, apa saja yang perlu ditambah, dan apa saja yang belum ada tetapi yang sering dibutuhkan oleh para pembeli. Itu harus diperhatikan oleh Lesti untuk mengisi tokonya tersebut.


    Dan saat Lesti menata barang-barang itu, ada seorang pembeli yang datang masuk ke toko Lesti.


    "Mau beli rokok, Mbak ...." kata lelaki yang masuk ke warungnya, pembeli itu laki-laki setengah abad. Ia mengenakan pakaian yang rapi dengan kemeja lengan panjang yang dimasukkan ke dalam celana, mengenakan topi bulat dan kacamata hitam. Kelihatan gagah dan keren, meskipun sudah berusia setengah abad lebih.


    Lesti yang awalnya berjongkok menata barang, langsung menegakkan tubuhnya dan bilang kepada pembeli yang datang itu, "Selamat datang di toko kami .....Mau beli rokok apa ya, Pak?" tanya Lesti kepada pengunjung tokonya tersebut.


    "Lesti ...?!" tiba-tiba laki-laki yang baru saja datang ke tokonya itu menyebut namanya.


    Tentu Lesti kaget, karena namanya disebut, yang berarti orang itu kenal dirinya. Tetapi Lesti lupa, siapa laki-laki itu. Bahkan Lesti tidak mengenalinya.


    "Benar, kan ..., kamu Lesti?" tanya laki-laki itu lagi.


    "Iya ..., benar .... Maaf, Bapak ini siapa ya?" tanya Lesti kepada laki-laki itu.


    "Pasti Lesti lupa sama saya .... Om Toro ...." kata laki-laki itu menyebut namanya, Om Toro.


    "Siapa, ya ...?" Lesti belum ingat juga, meskipun laki-laki itu sudah menyebut namanya. Dia masih bingung dengan laki-laki yang kini sudah berhadapan dekat dengan dirinya itu.


    "Ah ..., Lesti .... Kamu ini lupa ..., atau pura-pura lupa ...?" tanya laki-laki itu, yang tangannya bahkan sudah mencolek pipi Lesti.


    Tentu Lesti kaget, dan berusaha untuk menghindari colekan dari laki-laki tersebut.


    "Benar .... Saya lupa. Om ini siapa ya?" tanya Lesti kepada laki-laki itu, karena memang Lesti benar-benar tidak tahu siapa pembeli yang barusan datang ke tokonya itu. Meski pembeli itu agak kurang ajar, tetapi Lesti masih berusaha ramah kepada pelanggannya.


    "Lesti .... Saya saja tidak pernah melupakan kamu, kok .... Sekarang kamu malah tidak mengenali saya. Kamu ini bener Lesti, kan ...? Yang dulu jadi juru pijat jari lentik itu ...?" kata laki-laki tersebut mengingatkan profesi Lesti. Bahkan laki-laki itu sudah membuka kacamata dan topinya, agar Lesti lebih jelas mengamatinya.


    Lesti terus memandangi laki-laki itu, mulai dari ujung kepala hingga ujung kaki. Lantsa mengingat-ingat sosok lelaki yang berdiri di hadapannya itu. Lesti pun kini mulai menduga, laki-laki itu pasti pelanggannya. Ya, pelanggan saat Lesti menjadi tukang pijat jari lentik. Tetapi memang Lesti tidak pernah mengingat para pelanggannya.

__ADS_1


    "Benar, Om .... Saya masih belum begitu ingat." kata Lesti yang memang tidak ingat orang itu.


    "Lesti .... Kamu itu bagaimana ...? Saya cari kamu ke mana-mana .... Kenapa sekarang kamu malah jadi jualan seperti ini? Padahal saya sangat rindu dengan pijitanmu, Lesti .... Dan terus terang, Lesti ..., saya rindu untuk tidur lagi bersama dirimu .... Kamu benar-benar wanita yang berselera tinggi .... Kamu bisa membangkitkan gairah saya, Lesti." kata laki-laki itu yang pasti kembali menggoda Lesti, untuk mengingatkan profesi Lesti pada masa lalunya.


    "Maaf, Om .... Sekarang saya sudah tidak memijat lagi .... Sekarang saya sudah menjadi pedagang, sudah membuka toko ini, dan saya akan berjualan .... Walaupun usaha saya kecil-kecilan seperti ini, tapi mudah-mudahan berkah." kata Lesti kepada laki-laki itu, yang tentunya ia ingin mengubur profesinya yang lama, ingin melupakan apa saja yang pernah ia lakukan di lembah hitam. Dan kini, ia ingin membuka lembaran baru dengan usaha membuka toko sembako dan kelontong.


    "Lesti .... Bagaimanapun juga, saya masih merindukanmu .... Saya masih ingin mendapatkan pijitan-pijitan dari kamu .... Dan tentunya, saya juga masih ingin kamu bangkitkan gairah laki-laki saya .... Mau kan, Lesti ...? Ayolah, Lesti .... Jangan menolak tawaranku." kata laki-laki itu yang sudah mulai mencubit pantat Lesti.


    "Maaf, Om .... Kalau mau belanja silakan belanja apa ... Terus setelah membayar silahkan pulang. Saya mau menata dagangan saya, dan saya mau menghitung dagangan saya untuk order baru." kata Lesti yang secara halus sebenarnya menolak dan mengusir laki-laki itu dengan bahasa yang sangat sopan dan santun serta tidak ingin menyakiti ataupun mengusir secara kasar kepada laki-laki yang sudah mencoba untuk merayunya kembali tersebut.


    "Lesti, kamu ini lupa dengan kehidupanmu. Saya tahu siapa sebenarnya dirimu. Dan saya tetap akan memintamu untuk membangkitkan gairahku. Mau kan, Lesti? Tidak hari ini, tidak mengapa. Mungkin di lain waktu saya minta tolong kepada kamu untuk membangkitkan gairah hidupku kembali." begitu kata laki-laki itu yang kemudian membayar rokok yang dibelinya, lantas pergi meninggalkan toko itu.


    Tenang rasa hati Lesti, laki-laki penggoda itu sudah pergi. Dan pastinya, Lesti tidak ingin mengulangi masa lalu yang terlalu kelam, sehingga adiknya sendiri saja menganggap dirinya najis untuk didekatinya. Lesti sudah tidak menggagas lagi. Ia kembali menata barang daganganmya. Dan tentunya juga meladeni para pembeli yang lain. Ya, karena warung Lesti sudah lumayan laris, banyak pembeli yang datang dan pergi. Ibarat kata silih berganti,  datang membawa rezeki. Lesti konsentrasi dengan barang-barang dagangannya yang ada di tokonya tersebut.


    Namun, selang beberapa hari kemudian, pada saat Lesti berada di toko itu, dan tentunya masih meladeni para pembeli, ada sebuah mobil sedan mewah warna merah yang berhenti di halaman parkir, tepat di depan ruko di mana Lesti berjualan. Lesti memandangi orang yang keluar dari mobil itu. Dan ternyata, yang datang itu pembeli yang kemarin lusa datang ke tokonya. Pembeli yang menyebut dirinya bernama Om Toro itu.


    Laki-laki lebih setengah abad itu datang lagi ke toko Lesti. Tentu Lesti menjadi gelisah dan bingung. Mau apa lagi laki-laki itu datang lagi? Paling dia mau menggoda dirinya.


    Tentu Lesti bingung dengan kata-kata itu. Ia tidak pernah janjian apa-apa, dan Lesti pun tidak pernah mengatakan apa-apa pada laki-laki itu.


    "Maaf, mau beli apa, Pak?" tanya Lesti yang berpura-pura tidak paham dan lupa dengan laki-laki itu.


    "Aah ..., Lesti .... Kamu kok begitu? Masa sama saya memanggil Pak ...? Saya tidak akan beli apa-apa di tokomu ini .... Tetapi saya akan membeli diri kamu, Lesti." begitu kata laki-laki itu yang membisikkan kata-kata di telinga Lesti.


    Lesti yang bingung, lantas mencari jawaban yang mungkin bisa menolak apa yang dimaksud oleh laki-laki itu.


    "Maaf, Pak .... Saya sudah berkeluarga, saya sudah punya suami. Dan sekarang saya membuka usaha toko. Dan saya tidak pernah menjadi tukang pijat lagi." kata Lesti kepada laki-laki itu.


    "Halah ..., Lesti .... Gimana kamu ini? Saya jauh-jauh datang kemari pengen merasakan pijitan kamu, Lesti .... Saya rindu berat sama kamu .... Ayolah, Lesti ..., kita ke hotel sebentar .... Pijatlah aku, munculkan gairahku kembali, seperti dulu kamu sudah menggairahkan diriku." kata laki-laki itu, yang tentunya mengajak kencan sama Lesti.

__ADS_1


    "Maaf, Pak .... Pembeli toko saya banyak .... Saya akan melayani para pembeli." kata Lesti yang tentunya secara halus mengusir laki-laki itu. Tentu Lesti berusaha menolak ajakan laki-laki yang datang itu.


    "Lesti, kok begitu .... Jangan menolak rezeki, Lesti .... Kamu mau minta uang bayaran berapa banyak, Om Toro akan kasih .... Bahkan harga tokomu ini berapa, Om Toro siap menggantinya." kata laki-laki itu yang membuntuti Lesti. Laki-laki itu tentunya ingin memaksakan kehendak kepada Lesti.


    "Maaf, Pak .... Pembeli saya ramai .... Tolong Bapak paham keadaan toko saya. Silakan Bapak pergi meninggalkan tempat ini." kata Lesti yang pasti sibuk melayani para pembelinya.


    "Baik, Lesti .... Saya akan pergi. Tapi tolong lain waktu layani saya. Ini sedikit rezeki untuk Lesti." kata laki-laki itu yang meletakkan amplop coklat di atas meja kasir Lesti. Dan laki-laki itu pun pergi meninggalkan toko Lesti.


    Lesti mengambil amplop coklat yang tergeletak di mejanya. Ia mengintip isinya. Ada sebongkok uang warna merah dalam amplop itu. Pasti ini jumlah yang sangat banyak.


    "Siapa itu tadi, Lesti ...?" tiba-tiba ibunya menanya, pastinya laki-laki yang baru saja datang itu.


    "Om Toro, Bu ...." jawab Lesti.


    "Om Toro itu siapa?" tanya ibunya lagi.


    "Dulu langganan pijat Lesti ...." jawab Lesti lagi.


    "Dia mau ngapain?" tanya ibunya lagi.


    "Nyari saya, Bu .... Minta tolong untuk pijat sama Lesti .... Tapi Lesti menolak, karena Lesti sudah tidak memijat lagi." jawab Lesti yang tentunya tidak ingin menjadi tukang pijat lagi.


    "Lah ..., ada orang minta tolong kok ditolak. Kasihan ...." kata ibunya yang tentu merasa kasihan pada laki=laki yang ditolaknya tadi.


    "Kalau Lesti melayani pijat, siapa yang akan menjaga toko, Bu?" kata Lesti beralasan.


    "Kamu kan bisa pijat di kamar atas ..., di kamarmu .... Nanti Ibu yang jaga tokonya." kata ibunya yang memberi saran.


    Lesti Lesti Diam termangu, tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya sanggup memegangi amplop coklat yang ditinggalkan oleh Om Toro, dan meraba tumpukan uang yang ada di dalam amplop itu.

__ADS_1


    "Pelanggan yang baik." kata Lesti dalam hatinya.


__ADS_2