
Benarkah Podin setia pada Tuhan? Benarkah Podin sudah beriman kepada Yesus? Benarkah Podin sudah diurapi dengan roh kudus?
Tentu di dalam kehidupan keyakinan yang dialami oleh Podin, kepercayaan iman dan ketaqwaan bukanlah hal yang mudah dilakukan. Meningkatkan iman bukanlah hal yang gampang diucapkan, seperti halnya yang dialami oleh Podin. Dan tentu karena Podin yang sebelumnya adalah orang yang tidak mengenalTuhan, Podin yang sebelumnya adalah orang yang bersekutu dengan setan, Podin yang sebelumnya sudah dimanjakan oleh penguasa dari Pulau Berhala. Maka, kehidupan yang berubah secara drastis itu, tentunya membuat Podin mengalami sedikit guncangan. Yaitu pola hidup yang harus selalu bersandar pada Tuhan, bukan kepada penguasa kegelapan.
Cik Melan memang istri yang baik. Ia selalu mengajarkan kebaikan-kebaikan kepada suaminya. Terutama menanamkan firman-firman Tuhan tentang kebenaran hidup. Yah, seperti itulah istri yang semestinya. Selalu mengingatkan kepada suaminya untuk menuju jalan yang benar. Jalan yang dari Tuhan, bukan jalannya orang-orang sesat. Memang jauh berbeda dengan istri Podin sebelumnya, yang rata-rata adalah perempuan matre, yang hanya mengharap harta benda yang dimiliki oleh suaminya.
Tentunya, Podin sangat senang dengan Cik Melan. Tidak hanya cantik secara wajah, tetapi kenyataannya, Cik Melan memang wanita yang benar-benar baik dan cantik secara lahir dan batin.
Namun yang namanya cobaan hidup bukanlah hanya dari materi saja. Manakala usaha-usaha Podin sudah berkembang, toko maupun tempat usaha lain sudah berjalan secara lancar, serta bisa dilepas dan dipercayakan kepada karyawan, kini Podin justru jatuh sakit. Yah, sakit secara fisik, yang mengakibatkan seluruh tubuhnya terasa lemas dan tidak bertenaga. Tentu hal itu membuat Podin jadi tidak bisa apa-apa lagi, karena harus rebahan saja di tempat tidur. Tentunya Podin sudah berobat ke mana-mana. Sudah diperiksakan ke berbagai dokter. Berbagai macam obat sudah diminumnya. Namun hasilnya tidak juga muncul. Sakit penyakitnya belum juga hilang.
"Pak Podin ini sakit apa ...?" setiap kali ada orang yang menjenguk di rumahnya, selalu menanyakan hal itu.
"Tidak tahu ...." demikian juga jawab Podin. Ia selalu mengatakan tidak tahu.
"Ya ampun ..., Pak Podin ...."
"Kok tidak dibawa ke dukun saja .... Siapa tahu ada dukun yang bisa menyembuhkan ...."
__ADS_1
"Aku memang sedang sakit .... Entah sakit apa yang aku alami ini .... Aku tidak tahu jenis sakit penyakitnya .... Yah ..., sudah dibawa ke dokter oleh istriku .... Ganti-ganti dokter, malahan .... Sudah dibawa ke rumah sakit oleh istriku .... Beberapa kali juga .... Tetapi faktanya ..., tetapi kenyataannya ..., dokter tidak bisa menemukan jenis penyakit apa yang aku derita ini .... Dokter tidak dapat mengatakan jenis penyakit apa yang aku alami ini .... Tubuhku menyusut drastis .... Berat badanku langsung turun seketika .... Itu sudah menunjukkan aku sedang mengalami sakit yang parah .... Tubuhku menjadi kurus kering .... Itu sudah menjadi bukti bahwa aku mengalami sakit beneran .... Namun saya mau bilang apa ...? Saya mau mengatakan apa ...? Jika ditanya orang, "Podin ..., kamu sedang sakit ya? Kamu sakit apa sih ...?", seperti itu selalu mereka tanyakan .... Aku tidak bisa menjawab. Karena kenyataannya dokter tidak bisa memberikan jawaban tentang sakit penyakit yang aku derita. Istriku ..., Cik Melan ..., meskipun seperti itu, dia sangat sayang padaku. Cik Melan sangat setia kepadaku .... Mungkin kalau terjadi pada istri-istri yang lain, bisa jadi aku ditinggalkan begitu saja. Tetapi bagiku ..., sungguh saya sangat beruntung punya istri Cik Melan. Saya sangat beruntung punya istri yang baik seperti dirinya. Saya sangat bersyukur punya istri yang setia. Yah, bagi saya Cik Melan memang istri yang paling baik, istri terbaik yang pernah aku temui. Ia rela merawatku dengan tanpa pamrih .... Ia merawatku dengan penuh kasih sayang .... Ia merawatku dengan penuh kesabaran .... Bahkan mulutnya selalu mendoakanku .... Bahkan bibirnya selalu memohon kepada Tuhan, agar Tuhan mengangkat seluruh penyakit yang ada di dalam tubuhku, agar Tuhan mengangkat apa saja yang mengganggu dalam tubuhku. Ia selalu memohon agar Tuhan memberikan kesehatan kembali kepadaku. Memang sudah cukup lama sakitku ini, setelah aku merasa pergi meninggalkan dunia-dunia gelap, setelah aku harus melupakan penguasa kejahatan, setelah aku harus melawan penguasa dari Pulau Berhala yang selalu menuntutku .... Hanya dengan nama Tuhan, Cik Melan. istriku itu, sudah menuntun aku untuk melawan dunia kegelapan yang selama ini telah menjadi sumber kehidupanku .... Setelah aku percaya kepada Tuhan, aku tidak akan berpaling lagi .... Aku tidak akan kembali lagi untuk meminta-minta kepada roh-roh jahat ..., kepada penguasa-penguasa kegelapan ..., kepada penguasa istana Pulau Berhala." kata Podin yang tergeletak di tempat tidur, dengan kondisi fisik yang sangat menyedihkan.
Ya, Podin memang sedang mengalami cobaan hidup, dihampiri penyakit yang menggerogoti tubuhnya. Sudah berkali-kali dibawa ke rumah sakit. Sudah banyak dokter yang menangani penyakitnya. Namun kenyataannya, sudah hampir satu bulan, penyakit yang ada di dalam tubuh Podin itu belum juga ditemukan. Apa jenis penyakitnya, dan apa penyebabnya. Dan kenyataannya, tubuh Podin terus menyusut. Badannya menjadi kurus. Bahkan bisa dikatakan tinggal kulit yang membalut tulang-tulangnya.
"Mah ...." kata Podin pada istrinya, kebetulan Cik Melan sedang menyuapi dirinya.
"Iya, Pah .... Ada apa ...?" jawab Cik Melan yang balik bertanya. Ingi tahu apa yang diinginkan suaminya.
"Mamah tidak bosan merawatku ...?" tanya Podin yang tentunya sangat mengejutkan Cik Melan.
Nabi Ayub yang dianugerahi kekayaan harta yang melimpah, dengan memiliki hewan ternak seperti unta, sapi, kambing, kuda, dan keledai yang sangat banyak jumlahnya ..... Selain kaya harta, Nabi Ayub juga dikenal dengan sifatnya yang penuh kedermawanan. Kekayaan yang ia miliki ia pergunakan untuk kebaikan kepada setiap orang, seperti disumbangkan kepada fakir miskin, untuk membantu anak yatim, memuliakan tamu-tamunya, dan lain-lain. Namun Tuhan kemudian memberikan cobaan penyakit kepada Nabi Ayub. Tidak hanya sakit penyakit saja cobaan yang diberikan .... Tetapi seluruh harta dan kekayaannya juga habis .... Nabi Ayub tidak punya apa-apa lagi. Namun kesabarannya, imannya, dan keyakinannya kepada Tuhan ..., akhirnya sakit yang diderita oleh Nabi Ayub pun diangkat oleh Tuhan, disebuhkan dan dipulihkan kembali sehat. Saya yakin, Pah .... Ini semua adalah cobaan hidup bagi kita. Saya percaya, Tuhan pasti akan mengangkat semua sakit penyakit yang ada dalam tubuh Papah, dan digantikan dengan kesehatan ...." kata Cik Melan yang tentunya memberi semangat kepada suaminya.
Podin terdiam. Tentunya ia meresapi kata-kata istrinya yang baru saja didengarnya itu. Jika kata-kata itu adalah firman Tuhan, kisah seorang nabi, maka tentunya Podin mulai sadar dengan dirinya. Siapa Podin itu? Ia hanyalah manusia biasa. Bukan seorang Nabi seperti Nabi Ayub yang diceritakan oleh istrinya. Nabi Ayub pasti memiliki kekayaan yang sangat banyak dan bahkan mungkin tidak bisa dihitung jumlahnya. Begitu Tuhan mengambil harta kekayaannya, dan Nabi Ayub jatuh miskin hingga tidak memiliki apa-apa, ia masih tetap setia kepada Tuhan. Nabi Ayub tidak berpaling meninggalkan Tuhan. Dan kenyataannya, Tuhan memulihkan kesehatannya. Tuhan mengangkat sakit penyakitnya, Tuhan menyembuhkan tubuhnya. Bahkan Tuhan juga mengembalikan harta kekakayaannya berlipat-lipat kali ganda.
Sungguh Tuhan itu maha baik. Tuhan itu selalu menolong umatnya yang setia dan beriman kepada-Nya. Untuk apa ragu-ragu dengan kekuatan dan kekuasaan Tuhan?
"Mah ...." kata Podin.
__ADS_1
"Iya, Pah .... Ada apa ...?" tanya Cik Melan yang masih tetap setia merawat suaminya.
"Bawa aku ke gereja .... Saya ingin berdoa di sana ...." kata Podin yang meminta pada istrinya.
"Pah .... Tubuh Papah ini masih lemah .... Masih sakit .... Belum bisa bangun ...." sahut Cik Melan.
"Tapi aku ingin berdoa di gereja, Mah .... Biar Tuhan mengangkat sakit penyakit yang asda dalam tubuhku ini ...." sahut Podin yang tentunya ingin sembuh setelah mendengar cerita Nabi Ayub tadi.
"Apa tidak sebaiknya kita mengundang Pak Pendeta dan para jemaat untuk berdoa di rumah kita saja ...?" usul Cik Melan.
"Tidak, Mah .... Aku yakin, aku percaya, Tuhan akan segera menyembuhkan diriku, kalau aku lebih dekat dengan Tuhan. Bawalah aku ke rumah Tuhan, Mah ...." kata Podin yang memaksa meminta kepada istrinya.
Cik Melan meneteskan air mata. Tentu karena menyaksikan kepercayaan dan iman dari suaminya yang begitu besar.
"Iya, Pah .... Besok Minggu kita ke gereja." kata Cik Melan yang terus memeluk tubuh suaminya, sebagai rasa bahagianya menyaksikan iman suaminya.
Cobaan sakit dapat meningkatkan keimanan dan ketakwaan seseorang. Seperti halnya Podin, yang sedang mengalami cobaan hidup.
__ADS_1