PULAU BERHALA

PULAU BERHALA
EPISODE 65: MENGUSIR PODIN


__ADS_3

    Cerita tentang Puput yang akan diperkosa oleh Podin, akhirnya terkuak juga. Entah siapa yang membocorkan rahasia itu, entah siapa yang bicara, entah siapa yang bercerita. Tetapi kenyataannya, tetangga-tetangga, orang-orang yang biasa berlangganan makan di warung Rina, akhirnya tahu juga apa yang menyebabkan Puput harus pulang kampung. Namanya juga mulut orang banyak, pasti suatu ketika hal semacam itu pasti akan terbongkar juga. Ya, sepandai-pandai orang menyembunyikan barang busuk, pasti suatu saat akan tercium juga oleh orang lain.


    Tentunya, yang menjadi sasaran pertanyaan pertama adalah Rina, karena Rina yang meladeni para pelanggan di warungnya. Seperti halnya siang itu, saat ada pembeli yang mulai datang ke warungnya. Ia menanyakan masalah Podin.


    "Mpok Rina ..., memang benar ya, Mas Podin katanya mau memperkosa Puput?" tanya salah seorang yang baru saja datang akan makan di warung Rina.


    Spontan jantung Rina seakan mau copot. Tentu langsung berdetak kencang. Jantung Rina langsung berdegup tidak karuan. Dan tentu saja wajah Rina langsung berubah menjadi merah mendengar kata-kata dari salah seorang pelanggan di warungnya itu, yang menanyakan tentang kebenaran Podin yang akan memperkosa Puput.


    Rina diam tidak menjawab. Tentu ia malu. Bahkan kemudian ia berhenti saat akan mengambil nasi. Rina tidak sanggup untuk mengambilkan makanan serta lauk pauk dari pemesannya. Ya, Rina seketika itu, begitu mendengar kata-kata Podin akan memperkosa Puput dari orang yang baru datang itu, kata-kata itu adalah aib yang sangat menyakitkan hatinya.


    "Bapak dengar dari siapa?" tanya Rina kepada orang yang memesan makanan itu.


    "Mpok Rina itu bagaimana sih ...?! Berita itu sudah banyak yang tahu .... Sudah banyak yang bicara .... Sudah banyak yang cerita .... Makanya, saya itu tanya kepada Mpok Rina, ingin tahu kebenarannya bagaimana?" kata orang itu lagi, ketika menjawab pertanyaan yang disampaikan oleh Rina.


    "Kalau Bapak pengen tahu, kalau pengen ngerti ..., ya tanya saja kepada orang-orang yang bercerita itu. Kok tanyanya malah sama saya. Dan saya tidak pernah bercerita kayak gitu ...." jawab Rina yang tentu bibirnya mulai mecucu. Dia pasti jengkel, dan tentu emosinya kembali naik.


    Akhirnya, Rina pun tidak jadi melayani orang yang akan beli makan dan menanyakan masalah suaminya itu. Piringnya diletakkan kembali karena sudah emosi kepada orang yang menanyainya itu.


    "Makan saya mana, Mpok? Kok tidak dijualin ...? Terus saya mau makan apa?" kata laki-laki yang sedianya mau makan tersebut.


    "Nggak usah makan ...!" jawab Rina ketus. Dan pembeli itu malah di tinggal duduk di kursinya yang dekat dengan meja dagangannya.


    "Lhoh .... Mpok Rina ini bagaimana, sih ...?!" kata laki-laki itu yang tentunya kecewa karena tidak jadi dilayani.


    "Cari makan di luar saja, sana .... Nggak usah makan di sini. Ngapain datang-datang malah menanyai yang tidak-tidak." begitu kata Rina yang sudah marah kepada calon pembelinya itu.


    "Bagaimana sih, Mpok Rina ini .... Saya lapar, pengen makan, kok tidak dilayani, malah dimarahi .... Padahal saya makan juga gak pernah ngutang, gak pernah ngebon ...." kata orang yang memesan makanan itu dengan rasa kecewanya.


    "Kamu tidak sopan ...! Kamu menanya yang nggak pantas dan menjengkelkan ...! Sana pergi ..., tidak usah beli makanan lagi di sini ...!" begitu jawab Rina yang tentu juga marah kepada calon pembelinya yang justru disuruh pergi.


    "Ya sudah, kalau nggak boleh dibeliin makanannya, nggak boleh ke sini lagi ..., ya sudah .... Warung makan juga tidak cuman di sini. Sebelum Podin dan Mpok Rina mendirikan warung makan di sini, saya juga sudah makan di tempat orang lain. Saya juga tidak kapiran makan. Masih ada warung lain dan bisa makan. Makan tidak harus di sini Mpok Rina. Kalau memang Mpok Rina menolak saya, ya sudah .... Permisi." begitu kata calon pembeli itu, yang langsung balik kanan dan pergi meninggalkan warung Rina.

__ADS_1


    Rina kembali duduk di depan dagangannya. Tentunya ia kecewa dengan ulah suaminya yang kini ceritanya sudah mulai menyebar kepada orang-orang lain. Ddan tentunya Rina menuduh, ini pasti ulahnya Pak Mitro, pamannya Puput yang sudah dilapori oleh keponakannya. Kalau bukan Pak Mitro, bisa Puput yang bercerita kepada orang yang menanyai, sebelum ia pulang ke desanya.


    Tanpa terasa, Rina pun meneteskan air mata. Ia menangis sedih, lantaran suaminya sudah dituduh oleh orang-orang. Bahkan cerita itu katanya sudah dibicarakan oleh banyak orang, kalau Podin akan memperkosa Puput pelayan warung makan yang membantu Rina.


    "Permisi ..., Mpok Rina .... Mpok Rina, saya mau makan ...." kata orang laki-laki yang datang ke warung Rina,  dan orang itu pun langsung menuju ke tempat dagangan Rina yang ada di meja.


    Rina kaget. Ia tersadar dari lamunannya. Dan Rina pun langsung berdiri sambil mengusap air matanya.


    "Eeh .... Ada Mang Dadang ...." kata Rina menyambut pelanggannya itu.


    "Lhah .... Mpok Rina kenapa ...?!" tanya laki-laki yang dipanggil Mang Dadang itu. Tentunya Mang Dadang pun melihat Rina yang duduk ada di dekat meja tempat dagangan itu dalam posisi melamun dan menangis.


    "Mau pesan apa, Mang Dadang ...?" tanya Rina.


    "Kok, Mpok Rina menangis ...? Memang ada apa, Mpok Rina?" tanya laki-laki yang baru datang ke warung Rina itu. Memang Mang Dadang itu juga karyawan pabrik, pelanggan di warungnya Rina, sehingga sudah biasa dengan Rina dalam berkomunikasi.


    "Tidak apa-apa, Mang .... Cuman sedih saja, karena sekarang saya harus sendirian lagi ..., tidak ada yang membantu. Ternyata memang capek, Mang ...." jawab Rina yang tentu menyembunyikan apa yang sedang dipikirkannya.


    Rina yang tadinya akan berdiri untuk menanyai pembeli itu, Mang Dadang yang mau makan, tidak jadi meladeni pembelinya. Rina kembali duduk. Ia kembali meneteskan air mata, bahkan terlihat sesungguhan. Tangisnya sudah terdengar oleh Mang Dadang yang akan beli tadi.


    "Kenapa Mpok Rina? Kok malah menangis? Memang saya ini keliru ya mengatakan seperti itu? Maaf Mpok Rina ..., bukan maksud saya untuk mengatakan seperti itu, tapi saya hanya gojekan saja. Ini tadi hanya bergurau, jangan diambil hati, Mpok Rina .... Saya tidak sungguh-sungguh bicara." kata Mang Dadang yang tentu dia ketakutan dengan apa yang dibicarakannya, karena sudah membuat Rina menangis.


    "Tidak, Mang .... Saya tidak apa-apa .... Cuman saya kecewa saja. Maaf, Mang ..., saya tidak bisa meladeni makan, karena perasaan hati saya seperti diiris-iris. Hati saya sakit. Entah kenapa, tapi ini saya tidak bisa menyembunyikannya. Saya tidak sanggup lagi untuk meeladeni. Maaf ya, Mang .... Kalau mau makan, ambil sendiri saja .... Saya tidak bisa meladeni, Mang ..., tangan saya gemetar, jantung saya berdetak kencang, perasaan saya tidak karu-karuan, saya tidak kuat Mang ...." begitu kata Rina yang tangisnya justru semakin keras dan semakin menjadi.


    "Walah .... Lho kok malah tidak mau jualan .... Lah terus, saya bagaimana ini? Kok malah disuruh ngambil sendiri .... Lah nanti kalau kebanyakan bagaimana? Dan rasanya pasti ya kurang sedap kalau tidak bau tangannya Mpok Rina ...." begitu kata Mang Dadang, laki-laki karyawan pabrik langganan Rina yang biasa jajan di warung itu, baik untuk sarapan, makan siang, maupun makan malam. Tentunya dia hafal dengan bagaimana cara Rina meladeni para pelanggan-pelanggannya.


    "Sudah Mang, nggak papa .... Kalau memang mau makan, ambil sendiri saja. Terus terang perasaan saya tidak kuat menahan masalah ini semua, Mang." kata Rina yang tentu dia sangat terpukul dengan kata-kata dari dua orang yang baru saja datang ke warungnya.


    "Ya sudah .... Kalau begitu, saya tidak jadi makan di sini. Saya akan buat mie rebus di tempat kost saja .... Sekali-sekali makan mi rebes pakai telur, terus dirajangi cabai rawit .... Kelihatannya enak itu. Ya sudah, Bu Rina. Terima kasih ya .... Saya pulang saja" begitu kata Mang Dadang, langganan setia Rina, yang tidak jadi makan. Dan ia pun langsung berbalik pulang ke tempat kostnya lagi.


    Sepeninggal orang itu, Rina kembali sesenggukan menangis, meratapi nasibnya. Tetapi memang suaminya yang kurang ajar. Rina tentunya jengkel dengan ulah Podin yang memang akan memperkosa Puput. Dan pasti cerita ini sudah tersebar ke seluruh kampung. Pastinya cerita buruk itu sangat mudah disebarkan dan mudah didengar orang banyak.

__ADS_1


    Yang pasti, ulah Podin itu sudah mencoreng mukanya sendiri dengan kelakuannya yang tidak pantas. Namun Rina sebagai pedagang warung makan yang menjadi istrinya Podin, pasti juga ikut kena getahnya. Dan kini, Rina terkena imbas dari ulah suaminya yang kurang ajar itu. Akibatnya, para pelanggannya pada kabur begitu saja, orang-orang yang akan makan tidak jadi beli dan tidak jadi makan. Malah mengolok-olok Podin maupun Rina.


    Memang, setelah beberapa waktu dari kasus geger di warung Rina, yang menyebabkan Puput pulang desa, warung Rina sementara ini agak sepi. Pembelinya sudah banyak berkurang. Yang jelas Pak Mitro dan teman-temannya sudah tidak lagi jajan dan makan di warung Rina. Bahkan siang itu, setelah Rina menolak dua orang pelanggannya, hingga sampai sore hari, di warung Rina tidak ada orang yang datang untuk beli maupun makan.  Mungkin saja dua orang yang tadi datang, juga bercerita kalau Rina justru marah-marah dan menyuruhnya pergi ke warung lain, Rina tidak mau meladeni para pembeli.


    "Mas Podin ...!!!! Mas Podin ...!!!! Mas Podin ...!!!!" Rina berteriak keras memanggil suaminya.


    Podin yang memang sebenarnya pemalas, selalu saja tidur. Pekerjaannya molor melulu. Maunya tidak kerja, tetapi bisa dapat uang banyak. Itulah pemalas.


    "Ada apa lagi, Rina ...?! Kok teriak-teriak kayak orang kesurupan ...." jawab Podin yang keluar menemui istrinya, tentu sambil menguap.


    "Lihat ini ...! Semua dagangan masih utuh, tidak ada yang beli .... Ini semua gara-gara Mas Podin yang kelakuannya bejat ...!!!" kata Rina yang membentak suaminya.


    "Sabar ..., Rina .... Ini ada apa? Kok saya yang disalahkan?" sahut Podin yang tanpa dosa, merasa tidak bersalah.


    "Iya ...!! Ini semua gara-gara ulah Mas Podin yang memperkosa Puput ...!!" kata Rina yang semakin emosi pada suaminya.


    "Ya ampun ..., Rina .... Itu khilaf ...." Podin masih saja beralasan.


    "Khilaf apa ...?!! Memang saya kurang cantik ...!!! Memang saya tidak pernah melayani ...!!! Dasar laki-laki buaya ...!!! Pergi sana ...!!! Tinggalkan saya ...!!! Jangan pernah kembali lagi ke tempat ini ...!!!" puncak emosi dari Rina, akhirnya ia mengusir suaminya.


    "Maafkan, saya ..., Rina ...." Podin mencoba memegang tangan Rina.


    "Jangan sentuh saya ...!!! Cepat pergi ...!!!" bentak Rina yang semakin marah.


    "Tapi saya kan suami kamu, Rina ...." Podin masih berusaha mendekati istrinya.


    "Tidak ada suami-suaminan ...!!! Kita cerai ...!!! Sekarang cepat pergi ...!!!" kata Rina yang semakin tegas mengusir suaminya.


    Beberapa mata dari kejauhan memandangi pertengkaran antara Rina dengan Podin. Meski mereka tidak berani menampakkan dirinya, meski hanya sekedar mengintip dari palik jendela maupun pintu, meski hanya menempelkan telinganya di celah angin-angin, tetapi mereka tahu apa yang sebenarnya terjadi. Bahkan mereka tahu bagaimana Rina tega mengusir suaminya.


    Dan mereka pun, para tetangga, dan juga para pelanggan di warung Rina, menyaksikan bagaimana Podin mengangkut barang-barangnya di masukkan ke mobil. Podin pun pergi meninggalkan rumah yang sudah beberapa bulan ditempainya bersama Rina sebagai istri sirinya.

__ADS_1


    Podin sudah diusir oleh Rina.


__ADS_2