PULAU BERHALA

PULAU BERHALA
EPISODE 48: MENCOBA LARI


__ADS_3

    "Bang ..., kok ngasih uangnya cuman sedikit ...?" begitu tanya Maya kepada Podin, yang menerima uang dalam amplop dari pemberian suaminya. Memang jumlahnya menurut Maya, uang dalam amplop itu belum begitu banyak seperti yang diharapkan.


    Tetapi Podin, yang sudah merencanakan untuk memberikan uang kepada istrinya sedikit demi sedikit, tentunya Podin juga tidak mau memberikan uang itu terlalu banyak. Bahkan juga merahasiakan harta kekayaannya yang ia simpan di tempat lain. Podin sengaja tidak memberikan semuanya kepada istrinya yang meski diberi banyak tetap minta terus itu.


    "Maya ..., ini uang hasil jerih payah Abang. Ambillah buat memenuhi kebutuhan kamu. Sudah cukup lah, dengan uang sebanyak itu .... Ini saya sudah susah payah mencarinya, Maya .... Dan sebagian aku berikan kalung buat kamu, Maya .... Kalung ini sudah sangat cantik. Ini sangat bagus. Kalung ini sangat indah, Maya .... Cocok sekali buat kamu ...." begitu kata Podin kepada istrinya, yang tentu juga dengan harapan Maya mau menerima apa yang diberikan itu.


    "Abang ..., kalung apaan ini ...?! Jelek gini dibilang bagus .... Uang sedikit dibilang banyak ...." kata Maya yang protes kepada suaminya.


    "Maya .... Aku sudah susah payah mencari uang, aku sudah susah payah mencari rezeki .... Kenapa kamu masih seperti itu? Harusnya Maya itu menerima apa yang aku berikan ini. Harusnya Maya bersyukur. Harusnya Maya berterima kasih. Bukannya kamu malah selalu saja menuntut pada saya." kata Bodin yang tentu juga kesal dengan Maya, saat dirinya selalu dipaksa untuk memberikan uang yang lebih, bahkan ketika ia memberikan perhiasan itu masih saja dihina oleh istrinya dengan celaan kalau perhiasan itu tidak bagus.


    "Bang .... Gue maunya itu uang yang banyak .... Bukan uang yang sedikit kayak gini, Bang .... Gue tuh maunya perhiasan-perhiasan yang banyak dan bagus-bagus .... Tidak cuman seuntai kalung kecil seeprti ini .... Kalau perhiasan seperti ini saja, gak ada artinya buat Maya, Bang ...!" kata Maya yang sudah melempar kalung itu lagi kepada Podin. Rupanya Maya tidak senang dengan apa yang diberikan oleh Podin itu, karena jumlahnya dianggap terlalu kecil, terlalu sedikit. Tidak sesuai dengan yang diharapkan.


    "Maya .... Cobalah kamu pikir .... Saya ini sudah susah payah mencari uang, sudah susah payah membelikan kalung untukmu, kamu masih saja menolak. Kamu masih saja menuntut ini itu .... Bagaimana kamu itu ...? Sepertinya kamu itu tidak pernah mau berterimalah dengan apa yang sudah saya berikan .... Kamu itu mau tahu bagaimana suamimu bersusah payah cari uang .... Bahkan tidak pernah mau tahu bagaimana capeknya suamimu ini mencari uang. Harusnya kamu itu sadar susahnya orang mencari uang .... Bukannya marah-marah seperti itu. Masak sudah dikasih seperti ini masih saja menuntut macam-macam." kaya Podin yang tentu juga mulai tidak senang dengan cara Maya yang selalu menuntut.


    "Tapi Bang ..., aku itu butuh uang yang banyak, butuh uang yang tidak sedikit, dan aku juga butuh perhiasan-perhiasan yang bagus-bagus .... Tidak cuman satu ini saja, Bang .... Masak kumpulnya dengan artis, pakaian nggak pernah ganti ..., perhiasan cuman satu ..., udah nggak bisa ke salon ..., nggak punya uang .... Nanti kalau misalnya kita ada acara makan-makan, terus saya mau bagaimana Bang ...?! Malu aku sama teman-teman aku .... Malu aku sama orang-orang yang dekat dengan aku .... Mereka sudah percaya dengan aku, tapi kalau aku nggak ada uang, mereka akan pergi, Bang ...!" kata Maya yang tetap menuntut masalah keuangan pada suaminya.


    "Maya .... Cobalah kamu mengerti .... Perusahaan saja uangnya yang pegang kamu. Yang ngatur kamu. Aku yang punya tempat usaha itu malah nggak pernah kamu kasih uang .... Sekarang kamu masih nuntut lagi. Terus itu uang perusahaan di kemanain ...?!" tanya Podin yang tentu juga agak emosi karena selalu dituntut oleh Maya.


    "Ya sudah kalau Abang nggak mau memenuhi apa yang aku minta .... Maya juga nggak akan ngasih apa-apa sama Abang .... Abang juga nggak boleh tidur sama aku .... Silakan tidur di luar. Jangan tidur di kamar sama aku. Dan jangan sentuh aku lagi ...." begitu kata Maya yang mengancam suaminya. Lantas Maya pun masuk ke kamar, dan seperti biasa, ia langsung menutup pintu kamar tanpa membolehkan suaminya masuk menemuinya.


    Demikian juga dengan Podin. Seperti biasa, Podin harus tidur di luar, tidak bisa tidur bersama istrinya. Ya, memang seperti itulah yang selalu dilakukan oleh Maya, apabila apa yang dikehendaki, apabila apa yang ia tuntut, apabila apa yang ia minta dari Podin tidak terpenuhi, maka ancamannya pasti yidak boleh tidur bersamanya. Podin bisa gigit jari, karena malam itu dirinya tidak bisa tidur bersama istrinya. Dan tentunya, ia juga tidak bisa melampiaskan hasrat kerinduannya kepada Maya.


    Tetapi bagi Podin, yang sudah berbagi pendapat kepada orang-orang yang ada di tempat kos, dimana ia menyewa kamar kos bersama dengan karyawan-karyawan pabrik, ternyata ada untungnya. Banyak hikmahnya. Karena justru di tempat kost itu, saat kumpul dengan karyawan-karyawan yang kost bersamanya, Podin sudah mendapatkan masukan, sudah mendapatkan nasehat-nasehat dari orang-orang teman satu kostnya. Kalau istrinya selalu menuntut, Podin disuruh mengurangi kepercayaan kepada istrinya. Bahkan ada juga teman-teman kostnya itu yang mengatakan, tidak perlu takut dengan istri.


    Memang. teman-temannya di tempat kos itu, yang rata-rata adalah laki-laki, yang juga pada meninggalkan anak istri di rumahnya, maka curhatan-curhatan seperti yang dialami oleh Podin itu pun banyak yang membujuk Podin untuk berani dengan istrinya. Teman-temannya membujuk agar jangan kalah sama istrinya.


    Ya, tentunya, orang-orang yang kost bersama Podin adalah laki-laki semua. Makanya mereka juga mempunyai jiwa laki-laki yang tidak mau dikekang oleh istrinya, ada yang brutal, ada yang kurang baik, bahkan ada yang semaunya. Ada seorang teman yang mengatakan kepada Podin, "Kalau istrimu rewel, kalau istrimu macam-macam, kalau istrimu selalu menuntut sama kamu ..., tinggalkan saja, Mas Podin .... Ingat, wanita tidak cuman satu .... Ingat, di dunia ini masih banyak perempuan-perempuan yang butuh laki-laki. Jangan khawatir kalau misalnya ditolak sama istri, pergi saja cari istri baru ...." begitu kata teman satu kostnya itu, yang pernah berbincang dengan Podin.


    Memang, kala itu Podin mengeluh tentang istrinya yang selalu menuntut minta ini minta itu. Akhirnya Podin pasti memutus pikirannya, bahwa Maya bukanlah istri yang sah. Maya hanyalah istri siri, yang dinikah secara sembunyi-sembunyi tanpa sepengetahuan istri tuanya. Bahkan Podin juga tidak mempunyai beban kepada Maya, seandainya ia meninggalkan Maya sewaktu-waktu. Tidak ada ikatan resmi. Karena tidak ada surat nikah yang sah. Bahkan tidak ada ikatan yang mengatur tentang hak waris istri siri jika sewaktu-waktu ditinggalkan oleh suaminya. Ya, Podin yang sudah dicekoki oleh teman-teman kostnya itu, kini ia pun mulai berani memberontak jika Maya selalu menuntut dirinya.


    Makanya, ketika ia memberikan amplop yang hanya berisi uang sepuluh juta itu, mestinya bukan uang yang sedikit, dan juga seuntai kalung yang diberikan kepada istrinya, tetapi Maya justru menolaknya, bahlan melemparkan kalung pemberian Podin itu, tentunya Podin merasa sakit hati. Apalagi Maya menolak untuk tidur bersama. Itu sangat menyakitkan. Dan Podin juga sudah menebak bahwa Maya akan menuntut lagi lebih banyak dari apa yang ia berikan, dan kenyataan itu memang benar terjadi. Bahkan Maya malah marah-marah dan meminta lagi lebih banyak dari apa yang ia berikan. Mungkin benar yang dikatakan teman-teman kostnya, Podin kalah sama istri. Bahkan ia diledeki oleh orang-orang di tempat kostnya, kalau dirinya termasuk ASTI, asosiasi suami-suami takut istri.


    Podin kembali teringat, kalau semua uang perusahaannya yang menguasai adalah Maya. Kalau uang perusahaan itu, dirinya tidak pernah tahu, berapa keuntungannya, berapa pendapatannya, berapa yang bisa ia gunakan untuk kehidupan sehari-hari. Tetapi semuanya itu dikuasai oleh Maya. Semua itu hanya Maya yang tahu. Podin tidak pernah mendapatkan bagian, bahkan kalau Podin meminta, katanya uang perusahaan harus diatur sebaik mungkin, tidak boleh diambil sembarangan. Padahal Maya justru yang menggunakan uang itu setiap harinya untuk berfoya-foya.

__ADS_1


    Podin seakan hanya dibohongi oleh Maya. Podin seakan hanya ditipu. Podin seakan hanya mempunyai perusahaan tempat hiburan karaoke itu saja, tanpa pernah mendapatkan bagian keuntungan ataupun hasilnya. Ya, itulah yang dilakukan Maya, yang sudah menguasai harta kekayaan Podin. Dan memang, sebenarnya kalau dihitung-hitung, Podin akan kecewa, akan rugi besar seandainya meninggalkan tempat usahanya itu begitu saja. Karena Podin sudah banyak mengeluarkan uang untuk tombok membenahi dan menutup utang tempat usaha itu. Ya, Podin sudah menjual rumah mewahnya yang ada di Perumahan Permata, hanya dengan harga satu miliar, semua uangnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan Maya dan perusahaannya. Begitu juga saat Maya menuntut untuk memperbaiki keadaan sarana prasarana yang ada di tempat hiburan itu, terpaksa Podin harus menjual ruko yang digunakan sebagai tempat usaha istrinya yang sah, untuk menghidupi anak-anaknya. Tetapi Podin harus tega mengusir istri dan anak-anaknya tanpa memberikan apa-apa, Podin harus tega menyengsarakan istri dan anak-anaknya. Itu semuanya hanya digunakan untuk kepentingan Maya semata.


    Itulah yang akhirnya lama-kelamaan rasa penyesalan Podin sudah menyengsarakan anak dan istrinya muncul. Rasa jengkelnya dengan Maya juga mulai keluar. Apalagi setelah mendapatkan nasehat dari teman-teman di kostnya. Saat di kost juga mendengar cerita-cerita teman-temannya yang ada di sana, walaupun mereka hanyalah seorang karyawan-karyawan pabrik, tetapi kata-kata mereka itu ada benarnya. Kata-kata mereka itu menguatkan hati Podin untuk tidak selalu menuruti kemauan istrinya.


    Podin akhirnya mulai mengendalikan diri dari kekangan Maya. Podin ingin melepaskan diri dari ikatan Maya. Podin ingin menolak permintaan-permintaan Maya yang selalu menuntut uang maupun harta benda. Podin akhirnya mencoba memberanikan diri untuk memberikan batasan kepada Maya. Tidak hanya sekedar menurut saja. Tidak hanya sekedar selalu memenuhi keinginan Maya. Tetapi kini Podin ingin mencoba untuk menguatkan pendapatnya, untuk menguatkan dirinya agar tidak selalu diikat oleh Maya.


    Seandanya terjadi, Podin pun siap berpisah dengan Maya. Semuanya itu akan dilakukannya demi berusaha keluar dari jeratan asmara Maya.


    Ketika Maya menutup pintu kamarnya, yang tentunya tidak memberi kesempatan kepada Podin untuk tidur bersamanya, maka Podin keluar lurah. Ia langsung menjalankan mobilnya. Tentunya ia tidak akan tidur di kursi tamu rumahnya, Podin tidak khawatir mau tidur di mana, karena Podin masih punya tempat kost. Ya, Podin masih bisa tidur di kamar kostnya. Tentu malah lebih senang dan bebas karena bisa mengobrol bersama dengan para karyawan-karyawan dari pabrik yang selalu bisa diajak berbincang. Ya, mestinya ngobrol antara laki-laki, ngobrol antara orang-orang yang punya kemampuan yang beda-beda, punya pikiran berbeda-beda, dan tentunya bisa mendapatkan berbagai masukan dari teman-teman kostnya itu.


    "Pak Podin ini kerjanya di mana sih ...?" tanya seorang teman yang ada di kost. Saat itu Podin akan mandi, tetapi harus antri kamar mandi yang dipakai oleh banyak orang. Akhirnya Podin harus mengalah, karena para karyawan pabrik itu lebih membutuhkan untuk segera berangkat ke tempat kerjanya.


    "Ah ..., Mas .... Saya ini hanya karyawan di tempat hiburan. Kalau pas ada rezeki, ya lumayan dapat uang bisa untuk makan .... Tetapi kalau pas sepi, ya tidak dapat apa-apa." kata Podin yang menjelaskan dan tentu ia berbohong kalau dirinya adalah karyawan tempat hiburan, karena sebenarnya tempat hiburan itu adalah miliknya sendiri.


    "Tapi naiknya mobil masih lumayan bagus ...." kata temannya di kost itu lagi.


    "Yah, lumayan .... Bisa buat jalan. Yang penting masih cukup untuk beli solar ...." jawab Podin.


    "Tasik ...." jawab Podin jujur.


    "Istri dan anaknya kok tidak diajak ke Jakarta?" tanya orang itu lagi.


    "Istri saya sudah pergi entah ke mana tidak tahu ...." jawab Podin yang agak terlihat kecewa.


    "Maaf, Pak .... Kalau anaknya kemarin itu?" tanya laki-laki itu, yang tentu masih ingat saat pertama kali Podin datang di kost itu bersama anak kecil.


    "Sudah saya antar ke tempat kakek dan neneknya di kampung." jawab Podin yang tentu kelagapan diingatkan anak perempuan kecil itu.


    "Walah .... Berarti di sini bujang lagi, ini ...." ledek laki-laki yang terus masuk ke kamar mandi, gantian dengan temannya yang keluar.


    "Ayo, Pak Podin ..., sarapan ...." ajak salah seorang teman kost.


    "Saya belum mandi." jawab Podin.

__ADS_1


    "Mandinya nanti .... Saya kenalkan pelayannya yang cantik .... Janda kembang, Pak Podin ...." kata orang itu yang tentunya mengiming-imingi Podin dengan pelayan yang cantik.


    "Ya udah ..., ayo ...." kata Podin yang langsung ikut, karena tertarik dengan pelayan yang katanya cantik itu.


    Mereka berdua masuk ke warung makan yang ada di sebrang jalan dari rumah kost-kostan itu. Meski dekat, baru kali ini Podin masuk ke warung makan itu. Ya, warung makan sederhana, yang biasa dipakai sebagai tempat makan oleh para karyawan. Tentu karena harganya yang murah, sesuai dengan kantong karyawan pabrik.


    "Ayo, Pak Podin .... Ini menunya macam-macam .... Silahkan pilih sesuai selera ...." kata teman kostnya itu, yang sudah terbiasa makan di warung itu, entah sarapan maupun makan malam.


    "Iya, Mas ..., terima kasih ...." sahut Podin yang langsung mengamati menu yang di jereng di meja warung itu.


    "Ini karyawan baru, ya ...?" tiba-tiba ada perempuan cantik yang menanyainya. Ya, perempuan yang memegang piring dan sendok garpu, akan melayani pembelinya.


    "Baru kost di situ ...." jawab Podin.


    "Mau makan sama apa?" tanya perempuan cantik itu, yang diduga oleh Podin, pasti perempuan ini yang dikatakan janda kembang oleh temannya tadi. Ya, masih muda dan terlihat cantik, meski tidak banyak dandan.


    "Nasi sama orek tempe, lauknya telur ceplok." jawab Podin yang tentu langsung tersenyum pada pelayan yang cantik itu.


    "Minumnya apa, Bang ...?" tanya pelayan itu lagi.


    "Kopi hitam ...." jawab Podin masih tetap tersenyum dan memandangi perempuan itu.


    "Itu janda kembang ...." bisik teman kostnya di telinga Podin.


    Tentu pikiran Podin langsung berlari jauh, rasanya ingin ia kist di tempat ini saja, agar bisa mendekati janda kembang yang masih muda dan cantik itu. Pastinya, kalau perempuan pelayan warung makan itu dandan, dia tidak bakalan kalah cantik bila dibanding Maya. Seandainya saja Maya selalu marah-marah dan banyak menuntut, kenapa dirinya tidak lari menjauhi Maya, dan memilih mendekati janda kembang itu.


    "Ach .... Mungkin saya harus lari .... Menjauh dari Maya, mendekat perempuan pelayan warung makan ini ...." Podin pun langsung melamun.


    "Bang ..., ini kopinya .... Kok melamun saja ...." tiba-tiba perempuan itu sudah berada di sisi Podin dan menaruh kapi di mejanya.


    "Eh, iya .... Terima kasih .... Barusan melamunkan dirimu ...." jawab Podin yang langsung menggoda.


    "Ih .... Belum kenal sudah merayu ...." sahut perempuan itu yang langsung meninggalkan Podin.

__ADS_1


__ADS_2