
Tiga bulan sudah pembangunan rumah Podin dilaksanakan, dan tentu oleh pemborong bangunan yang profesional. Oleh sebab itu, dalam waktu tiga bulan, rumah itu pun sudah terbangun secara bagus. Ya, Podin sudah mengeluarkan uang lebih dari satu miliar untuk membayar bangunan rumah yang baru itu, yang tentunya sesuai dengan yang dikehendaki, rumahnya lumayan besar, pekarangannya luas, bahkan juga sudah dikelilingi pagar kawat pada bagian kanan kiri dan belakangnya. Sedangkan bagian depan diberi pagar tembok dan pintu dari besi. Pastinya sudah aman, dan juga jauh dari perkampungan. Ua, karena bangunan rumah Podin berada di kawasan perladangan.
Tentunya Podin merasa senang. Podin kembali bisa tinggal di daerah yang sepi, yang nantinya pasti Podin akan kembali bisa melakukan ritual-ritual pemanggilan tuyul yang ia sembunyikan di dalam peti-peti harta karunnya itu, yang kini ada lima buah peti harta karun yang ia miliki. Namun tentunya setelah peristiwa dia diusir dari apartemen, dan kemudian juga harus mengalami masalah di villanya yang baru, villa yang ia beli, villa yang ada di tengah rimbunan tumbuhan pohon-pohon besar, yang ibarat kata villa itu berada di tengah hutan. Namun kenyataannya, villa itu mengundang banyak permasalahan, manakala Podin harus menemukan jasad yang dikubur tanpa ada penghormatan layaknya jasad manusia sama sekali, kerangka manusia yang ia temukan di dalam koper yang di pendam di dalam tanah di bawah pohon besar dan ditindih batu. Bahkan selanjutnya Podin ditemui banyak arwah gentayangan, Podin ditemui banyak hantu, yang tentunya itu adalah permasalahan baru bagi Podin. Karena para hantu itu, para arwah yang mendatangi Podin itu, meminta bantuan, meminta agar jasad-jasadnya dikuburkan dengan layak.
Ya, jika Podin melakukan semua itu, menggali satu persatu jasad-jasad yang dikubur secara tidak wajar di sekitar villanya, pasti akan bermasalah dengan hukum. Dan Podin bisa jadi akan dituduh menjadi pembunuh, menjadi orang yang sudah menguburkan mayat-mayat di dekat villanya itu. Pasti Podin merasa ketakutan, kalau nanti dirinya akan menjadi tersangka, dan kembali ditangkap ole polisi.
Dan kini, setelah tiga bulan lebih lamanya Podin menunggu selesainya pembangunan itu, dan sekarang rumah yang dibangun itu sudah selesai. Rumah yang seperti dikehendaki oleh Podin. Rumah yang menyendiri jauh dari para tetangga. Walaupun sebenarnya tidak jauh dari pemukiman rakyat yang ada di kampung, hanya agak ke arah area perladangan. Tetapi rumah Podin tetap saja masih menyendiri dan jauh dari para tetangganya.
Ya, seperti itulah yang dikehendaki oleh Podin, agar dirinya bisa menyepi menyendiri, menjauh dari keramaian orang-orang kampung, dan yang pasti Podin akan aman, nyaman dan tidak terganggu saat melakukan ritual untuk mencari harta kekayaan dengan memanfaatkan arwah yang sudah ia pelihara di dalam peti-peti harta karun miliknya yang ia bawa dari Pulau Berhala.
Podin kini tinggal di daerah pedesaan di kawasan Parung. Walaupun masih tergolong sangat ramai dan dekat dengan Metropolitan, tetapi Podin yang tinggal di pedesaan, di kawasan daerah pertanian kawasan Parung yang wilayahnya masih sangat sepi, dan masih jauh dari sarana kemegahan kota metropolitan. Ya, tempat yang ditinggali oleh Podin adalah desa yang jauh dari kota. Pedesaan yang ditinggali Podin berada di daerah perkampungan di perbukitan Parung, yang dihuni oleh masyarakat petani sayur mayur. Yah, merekalah yang menyuplai sayuran dan hasil bumi lainnya ke ibu kota.
Namun tentunya, hidup di desa tidaklah seperti hidup di kota. Hidup di desa tidak seperti hidup di tengah hutan sendirian. Ya, ketika Podin memiliki rumah di desa, Podin harus mengikuti aturan-aturan yang ada di desa itu. Podin harus mengikuti segala macam kegiatan sosial yang ada di desa itu. Walaupun rumahnya jauh dari penduduk, walaupun rumahnya jauh dari para tetangga, tetapi kenyataannya, warga desa tetap merasa bahwa Podin adalah bagian dari masyarakatnya, Podin adalah bagian dari warga kampung desa tempat tinggalnya.
Seperti kala itu, saat Podin akan masuk menempati rumahnya yang baru, seperti saat itu, waktu Podin akan tinggal di rumahnya yang baru itu, tiba-tiba saja beberapa orang warga, beberapa orang penduduk, beserta dengan pengurus rukun kampung dan rukun warga kampungnya, dan tentu juga tidak ketinggalan dari pihak kelurahan, para perangkat desa berdatangan menemui Podin yang kala itu diantar oleh Cik Melan, Bang John beserta salah seorang dari pengembang perumahan yang membangun rumahnya Podin tersebut. Ya, tentunya para warga kampung itu, tentunya para perangkat desa itu, dan pengurus wilayahnya, akan menyambut kedatangan Podin, akan mengenalkan diri. Dan pastinya juga akan menganggap Podin sebagai warga baru, sebagai orang yang baru saja datang ke kampungnya. Lebih dari itu, pastinya mereka semuanya akan menyampaikan terkait hal-hal yang harus dilakukan Podin, hal-hal yang harus diikuti Podin sebagai kegiatan sosial masyarakat di kampungnya.
Tentu Podin kaget saat menyaksikan banyak orang berdatangan ke rumahnya, saat pengurus kerukunan warga dan banyak perangkat desa beserta pengurus wilayah berdatangan ke rumah Podin, yang kelihatan senang. Ya, mereka tampak gembira menyambut kedatangan Podin sebagai warga baru di kampungnya.
"Selamat siang, Bapak-bapak, Ibu ..... Benarkah ini dari keluarga Pak Podin? Mana yang namanya Pak Podin?" tanya salah seorang laki-laki yang tentunya perangkat desa kepada empat orang yang ada di rumah baru tersebut.
__ADS_1
"Saya, Pak .... Maaf mengganggu ketenangan Bapak-bapak dan Ibu-ibu semuanya. Maaf ini saya baru mau pindah, Pak ...." begitu kata Podin yang didampingi oleh bendahara perusahaannya, didampingi oleh karyawan keamanan di perusahaannya, serta salah seorang pengembang yang sudah membangun rumah Podin. Dan tentunya Podin pun menyalami laki-laki itu.
"Terima kasih, Pak Podin .... Kami mengucapkan selamat datang di kampung ini .... Ini saya mengajak para warga, mengajak para tetangga, untuk berkenalan dengan Pak Podin .... Dan tentunya Pak Podin ini yang kami sambut menjadi warga baru di kampung kita ini. Selamat datang di kampung kami, Pak .... Semoga Bapak Podin kerasan, semoga Bapak senang tinggal di kampung kami ini." begitu ucap salah seorang perangkat desa yang tentunya merasa senang saat menyaksikan kedatangan Podin, yang sebentar lagi akan menjadi warga kampungnya itu.
"Pak Podin, rupanya kita kedatangan tamu banyak sekali, Pak ..... Padahal kita tidak membawa apa-apa .... Apakah kita perlu mengundang penjual minuman untuk menyuguhkan sajian kepada para tamu ini, Pak Podin?" bisik Cik Melan kepada bosnya, yang tentu memberi tahu tentang kondisi kalau kedatangan tamu.
"Tolong minta sama Bang John, mencarikan bakul, Bang John disuruh untuk mengundang orang yang jualan, kita borong semuanya saja, bila perlu dengan jajanan atau apapun yang bisa kita undang ke tempat kita ini, biar mereka bisa makan-makan di sini." kata Podin yang juga senang melihat kedatangan para tetangganya itu, orang-orang kampung yang menyambut dia dengan sukacita itu.
Dan tentunya Podin pernah mengalami hal semacam itu, menyaksikan orang-orang kampung, orang-orang yang polos, orang-orang kampung yang apa adanya, bahkan ada juga seorang nenek-nenek yang hanya mengenakan pakaian seadanya ikut menyambut kedatangan Podin. Ini bukti bahwa warga kampung ini memang masih dalam keadaan miskin. Dan ini betul, terlihat dari kondisi penduduknya, dari kondisi masyarakat yang rata-rata masih sangat sederhana tersebut, pakaiannya pun hanya pakaian yang seadanya. Bahkan masik banyak anak yang hanya mengenakan pakaian lusuh serta kotor. Pasti orang tuanya tidak mampu untuk membelikan pakaian yang layak. Maka dalam hatinya Podin pun mulai ingin membantu berbagi kepada warga kampung itu.
Lantas Cik Melan yang sudah dibisiki oleh bosnya agar menyuruh Bang John untuk menanyakan kepada warga kampung, siapa tahu ada yang jualan es atau jualan makanan-makanan kecil yang bisa diborong untuk dibawa ke rumah Podin yang baru itu, agar mereka bisa makan-makan bersama di rumah Podin tersebut.
"Maaf, Pak .... Boleh saya tanya?" kata Bang John kepada laki-laki itu.
"Ya, ada apa? Silakan." sahut laki-laki yang bekerja sebagai perangkat desa tersebut.
"Kami sebenarnya tidak siap untuk menerima kamu sebanyak ini. Tetapi kami ingin tahu, apakah ada warga sini yang jualan minuman atau jualan es, maupun jualan jajanan atau makanan-makanan kecil yang bisa diminta untuk datang kemari, Pak? Untuk menyajikan minuman buat para tamu, para warga yang datang ini. Kami malu, Pak ..., tidak bawa apa-apa." begitu kata Bang John kepada laki-laki yang tadi sudah menyambut kedatangannya tersebut.
"Walah, tidak usah repot-repot ...." sahut laki-laki itu.
__ADS_1
"Tidak, Pak .... Tapi ini sekedar untuk obat haus ...." kata Bang John.
"Ada .... Ya, di kampung kami, warga kami ada yang jualan es, ada yang jualan jajanan gorengan, ada yang jualan bakso, ada yang jualan mie ayam. Bagaimana ...?! Apakah kita undang ke sini?" tanya laki-laki itu.
"Benar, Pak .... Silakan, Pak .... Apa orangnya yang jualan ada di sini?" kata Bang John.
"Kita minta bantuan remaja atau orang yang masih muda saja, untuk mengundang para penjual itu. Biar yang jualan datang ke sini." kata lakiplaki itu yang lantas mengundang beberapa orang remaja.
"Iya, Pak .... Nanti biar para tetangga ini, bisa minum dan makan semua di sini. Nanti yang bayari bos saya. Jangan khawatir, Pak .... Bos kami uangnya banyak." kata Bang John kepada orang yang tadi sudah memberikan sambutannya untuk menerima kedatangan Podin tersebut.
Dan tentunya, laki-laki yang bekerja sebagai perangkat desa itu pun memanggil beberapa orang anak muda, yang kemudian mereka disuruh untuk memanggil para pedagang es, pedagang mie ayam, pedagang bakso serta jajanan lainnya, untuk dibawa ke tempatnya Podin. Tentu mereka yang disuruh untuk memesan dan memanggil para pedagang itupun dengan senang, dengan girang langsung berlari membawa kendaraan sepeda motornya mencari para pedagang itu agar mau datang ke rumah baru, rumah Podin yang akan ditempatu itu.
Memang rumah Podin ini agak jauh dari kampung, tetapi para penjual yang dikabari kalau dagangannya akan di borong, pasti mereka senang. Tentunya dagangannya akan kelarisan dan segera habis. Maka setiap penjual yang dikabari seperti itu, mereka langsung berduyun-duyun berdatangan ke rumah tetangganya yang baru itu.
Tidak hanya para penjual jajanan yang senang. Tetapi para warga yang lain pun juga berduyun-duyun datang ke rumah tetangganya yang berada di luar kampungnya, yang berada di area perladangan. Ya, tentunya karena sebentar lagi setelah sampai di rumah baru itu, mereka akan disuruh makan-makan secara gratis di tempat itu. Dan pastinya mereka semuanya akan menghabiskan dagangan penjual minuman dan penjual jajanan.
Hari itu, Podin bergembira bersama dengan warga masyarakat, yang tentunya disaksikan oleh Cik Melan, disaksikan oleh Bang John, disaksikan oleh pemborong yang sudah membangunkan rumah Podin itu. Dan tidak ketinggalan, disaksikan oleh para warga masyarakat yang tentu karena mendengar ditraktir, disuruh makan-makan, disuruh minum secara gratis di rumah Pudin yang baru itu, maka orang sekampung berdatangan semua. Dan tentu, di halaman rumah Podin yang baru itu menjadi ramai dan penuh sesak dengan orang-orang kampung yang berdatangan ke rumahnya.
Podin tersenyum gembira. Ia merasa puas. Ia merasa senang. Podin sangat gembira, karena hari itu dia bisa mentraktir orang satu kampung. Podin menjadi orang yang sangat baik dan murah hati.
__ADS_1