PULAU BERHALA

PULAU BERHALA
EPISODE 102: AMBYAR


__ADS_3

    Podin yang kecewa karena tidak mendapatkan harta kekayaan dari Pulau Berhala, ia pun langsung meninggalkan bocah yang sudah tidak berdaya itu. Ia langsung melajukan mobilnya keluar dari tempat yang selama ini menjadi persinggahannya. Dan Podin pun langsung pulang. Tentu kali ini Podin akan menuju rumahnya di daerah Padalarang. Ya, di ruko yang ditempati oleh Lesti bersama kedua mertuanya, dan sekaligus sebagai tempat usaha Lesti untuk berjualan sembako.


    Tanpa berhenti, tanpa singgah ke tempat lain. Bahkan juga tanpa menginap di hotel pinggir kota yang biasa ia pakai untuk menginap setiap kali pulang dari Pulau Berhala. Tetapi kali ini, Podin memang sudah berniat untuk segera pulang, agar segera sampai di rumahnya. Dan nanti ia akan istirahat di rumah saja. Setidaknya untuk menghemat biaya.


   Pagi itu, sekitar jam sembilan pagi, Podin sudah sampai di tempat parkir, di depan rukonya. Podin pun segera memarkirkan mobilnya di tempat yang biasa ia gunakan untuk menaruh mobilnya, di dekat jalan keluar ruko. Lantas pudin pun bergegas keluar dari mobil, untuk segera masuk ke rumahnya. Tentu ia ingin segera istirahat, karena saking capek dan mengantuknya. Maklum, semalaman dia sudah dijengkelkan dan dikecewakan oleh bocah yang ternyata sudah sangat tidak berguna, bocah yang rencananya akan ia korbankan sebagai persembahan untuk penguasa istana Pulau Berhala, namun kenyataannya bocah itu sudah kotor, sudah tidak suci lagi. Sehingga, akibatnya persembahan Podin ditolak oleh sang penguasa istana Pulau Berhala. Tentu kejengkelan itu juga membuat Podin kesal dan semakin lelah pikirannya.


    Maka begitu sampai di rumahnya, Podin pun langsung masuk ke ruko itu, dan langsung naik ke lantai dua, tempat di mana terletak kamarnya. Ia ingin segera membaringkan tubuhnya yang sangat lelah dan sangat mengantuk itu. Podin naik tangga ke atas begitu saja, tanpa mempedulikan orang-orang yang sedang berbelanja di dalam toko itu. Bahkan ia juga tidak mengamati kalaupun di toko itu ada istri maupun mertuanya. Ya, memang, Podin sudah sangat mengantuk. Dia seharian penuh, bahkan mulai dari kemarin, asalnya pun dari Jakarta, menyetir mobilnya seorang diri, dan harus balik lagi ke rumahnya untuk pulang sendirian. Makanya, ia pun bergegas agar bisa segera sampai di kamarnya, untuk langsung merebahkan tubuhnya dan tidur sepuas-puasnya.


    Namun, saat Podin sampai di lantai dua, ketika Podin sudah berada di depan pintu kamarnya yang tertutup, di balik pintu itu, di dalam kamarnya, Podin mendengar suara istrinya sedang berbincang mesra. Podin pun menggagalkan niatnya untuk membuka pintu itu. Tetapi ia justru menempelkan telinganya di pintu tersebut. Ya, Podin menguping pembicaraan istrinya, yang ternyata Lesti sedang berbincang-bincang dengan seorang laki-laki di dalam kamarnya.


    Tentu hati Podin langsung menjadi panas. Darahnya mendidih. Jantung Podin berdetak kencang. Karena yang didengar oleh telinga Podin adalah pembicaraan-pembicaraan mesra antara seorang laki-laki dengan perempuan yang tidak lain adalah istrinya sendiri. Ya, pembicaraan orang dewasa. Bahkan kata-kata yang didengar oleh Podin sudah sangat keterlaluan. Tidak hanya seperti ketika Podin bercengkrama dengan istrinya. Tetapi kata-kata ini justru seakan menjelek-jelekkan Podin, yang dikatakan tidak jantan, tidak punya uang, tidak punya kemampuan, tidak punya pekerjaan, dan ia juga mendengar kalau istrinya bahkan siap untuk menikah dengan laki-laki yang diajaknya berbincang di dalam kamarnya itu.


    Hati Podin semakin membara. Ia sudah tidak sabar untuk mengetahui siapa laki-laki yang berada di dalam kamar bersama istrinya itu? Sedang apa istrinya bersama laki-laki itu?


    Lantas tangan Podin mulai berusaha membuka pintu kamar itu. Namun ternyata pintu itu dikunci. Podin yang sudah semakin emosi dan tidak sabar untuk ingin tahu siapa sebenarnya laki-laki yang ada di dalam kamarnya dan sedang apa mereka berdua di dalam kamar, maka tanpa pikir panjang, dengan emosi yang sudah meluap-luap, dengan hati yang sudah membara, dengan jantung yang sudah berdegup semakin kencang, ia langsung mendobrak pintu itu dengan menabrakkan tubuhnya.


    "Bruaghhhk ....!!!"


    Pintu itu pun terbuka seketika, dan Podin pun menyaksikan istrinya dengan seorang laki-laki lain sedang bermesraan di atas kasur tempat tidurnya. Istrinya bersama laki-laki lain sedang beradu kasih tanpa mengenakan pakaian, tanpa tertutup kain selembar pun.


    "Haaah ....?!" Lesti menjerit kaget. Dan tentu langsung berusaha menarik selimut untuk menutupi dirinya yang tanpa pakaian itu. Yah, Lesti sudah selingkuh selama ditinggal pergi oleh Podin.


     "Lesti ...!! Kurang ajar sekali kau, Lesti ...!! Berani sekali kau menghianatiku, Lesti ...!! Sedang apa kalian berdua di dalam kamar ini ...?!!" bentak Podin pada dua orang yang malah berpelukan di tengah kasur itu, dan menutupi tubuhnya dengan selimut.


    Tentu Lesti tidak mengira kalau suaminya bakal pulang. Bahkan ia juga tidak menyangka akan didobrak pintunya. Demikian juga laki-laki yang bersama dengan Lesti itu. Ia pun juga terjingkat. Mereka tertangkap basah sedang melakukan kegiatan yang tidak senonoh.


    Lesti diam tidak bisa menjawab apa-apa. Dia hanya bisa memeluk laki-laki yang ada di ranjangnya itu, dengan wajah ketakutan. Tentunya Lesti sudah tertangkap basah oleh suaminya sendiri, bahwa dirinya sedang bermesraan dengan laki-laki lain. Ya, Lesti benar-benar tertangkap basah.

__ADS_1


    "Lesti ..., kamu itu perempuan tak tahu diuntung ...!!!" kata Podin sambil telunjuknya menuding ke arah wajah Lesti.


    Namun, Podin tidak mau memukul istrinya. Ia juga tidak memukul laki-laki yang tidur bersama istrinya itu. Tetapi Podin justru melangkah masuk ke kamar itu, dan langsung membuka lemari. Lantas Podin mengambil surat-surat ruko itu, sertifikat yang dimiliki oleh Podin. Lantas Podin pun pergi berlalu dengan cepat meninggalkan kamarnya yang masih terdapat sepasang manusia mesum berpelukan di atas ranjang itu. Tentunya Podin tidak jadi tidur. Tetapi justru turun dari lantai dua, dan pergi meninggalkan ruko itu, dengan hanya membawa sertifikat kepemilikan ruko tersebut. Ya, ruko itu memang atas nama Podin. Ruko itu memang milik Podin. Maka wajar kalau sertifikat itu juga ia ambil. Dan keputusannya, Podin akan menjualnya dan pergi meninggalkan Lesti serta keluarganya.


    Seperginya Podin dari kamarnya yang sudah ditobrak itu, tentu Lesti menangis sesunggukan. Ia kecewa. Ia merasa bersalah. Dan Lesti sudah keliru melakukan hal yang tidak senonoh bersama Om Toro yang sudah menggodanya, yang sudah memberikan uang. Dan kini, Lesti tidak bisa apa-apa lagi, tidak bisa mencegah Podin pergi. Bahkan ia tidak bisa untuk menahannya agar tetap berada di rumah itu. Bahkan juga, Lesti tidak sempat untuk meminta maaf.


    "Sudahlah ..., Lesti .... Jangan menangis .... Tidak perlu sedih .... Om Toro akan membantumu." kata laki-laki yang sudah tidur bersama dengan Lesti itu, tentu dengan janji-janji manisnya. Dan setelah mengenakan pakaian, laki-laki yang sudah merasa puas itu pun akhirnya turun, untuk mengakhiri percintaannya.


    Lesti yang masih berada di kamar itu, ia terus saja menangis. Sedangkan laki-laki itu sudah pergi meninggalkan Lesti, bahkan pergi meninggalkan ruko itu, dan pulang meninggalkan kenangan pahit bagi Lesti. Ya, laki-laki itu sudah meninggalkan luka yang mendalam bagi Lesti, yang kini dia harus menanggungnya sendiri,  karena Podin sudah pergi meninggalkan dirinya, meninggalkan keluarganya, dan meninggalkan rukonya begitu saja.


*******


    Selang satu minggu dari kejadian itu, seorang pegawai pemasaran perumahan datang ke ruko Lesti, bersama dengan laki-laki muda dan perempuan muda, yang memang sebagai seorang suami istri. Pegawai pemasaran itu mengantarkan sepasang suami istri yang baru saja menikah tersebut untuk melihat kondisi ruko yang ditempati oleh Lesti.


    "Maaf ..., mau beli apa ya?" tanya Lesti kepada tiga orang yang berdiri di depan rukonya, sambil mengamatti ruko tersebut. Lesti tentu tidak mengira jika tiga orang itu adalah pegawai pemasaran perumahan dan sepasang suami istri yang akan membeli ruko itu.


    "Iya, betul .... Memang ada apa, ya?" tanya Lesti yang tentu juga bingung dengan kedatangan tiga orang tersebut, karena Podin sudah pergi dari ruko itu, dan sekarang entah berada di mana.


    "Maaf, Ibu .... Ini saya dari kantor pemasaran perumahan yang kebetulan ditugaskan untuk mengantarkan calon pembeli ruko ini." kata pegawai pemasaran itu yang tentu langsung menusuk jantung Lesti, hingga dadanya tersa sesak.


    "Mohon izin, kami ingin melihat ruko ini, untuk melihat kondisinya, Ibu ...." kata laki-laki muda yang akan membeli ruko Lesti.


    "Betul, Ibu .... Karena kami sudah merasa punya pembeli yang rupa-rupanya cocok dan ingin membeli ruko ini, yang seminggu lalu ditawarkan oleh Pak Podin, makanya ini Bapak dan Ibu pembeli ini ingin melihat langsung bangunannya." tambah pegawai pemasaran pada Lesti.


    Lesti langsung kaget mendengar kata-kata orang tersebut. Lesti langsung syok mendengarkan kata-kata dari orang-orang itu, yang mengatakan kalau ruko itu sebentar lagi akan dibeli oleh orang lain. Dan tentunya sebentar lagi Lesti harus pergi meninggalkan ruko itu. Lesti harus rela untuk melepas ruko yang selama ini dia gunakan sebagai tempat usaha. Lesti akan kehilangan tempat tinggal.


    Tiga orang yang datang itu pun mulai mengamat-amati tempat usaha Lesti, ruko yang akan dibelinya itu. Bahkan ia juga meminta izin untuk melihat keadaan bangunan yang ada di belakang dan yang ada di lantai dua. Dan mereka pun langsung berkeliling di ruko Lesti tersebut.

__ADS_1


    Lesti tidak bisa berkata apa-apa, selain hanya mempersilahkan orang-orang yang datang itu sambat mamandanginya saja. Lesti sudah lemas seluruh tubuhnya. Jika memang benar ruko itu akan dibeli oleh pasangan pengantin muda itu, lantas ia akan tinggal di mana? Lesti harus pergi ke mana? Ia harus tidur di mana? Bagaimana dengan bapak dan ibunya? Lesti tidak tahu lagi tempat untuk singgah, apalagi kalau ia harus memikirkan Bapak dan ibunya yang sudah tua. Mau diajak ke mana mereka berdua?


    "Maaf, Bapak .... Kalau boleh saya tahu, ruko ini memang sudah dijual, ya ...?" tanya Lesti yang kebingungan.


    "Betul, Ibu .... Kebetulan yang akan beli ya, Mas dan Mbak ini ...." jawab pegawai pemasaran perumahan itu.


    "Terus ..., sudah jadi? Maksud saya sudah dibayar?" tanya Lesti lagi.


    "Sebentar lagi, Ibu .... Ini baru mau memastikan bangunannya memang masih bagus dan terawat." jawab laki-laki itu lagi.


    "Rencananya hanya dijual bangunannya saja kan? Kapan kira-kira dibayar?" tanya Lesti lagi.


    "Iya, Ibu ..... Hanya bangunannya saja. Dan setelah ini setuju, maka langsung bayaran, Bu .... Tinggal transfer saja kok, uangnya ...." jawab laki-laki itu.


    "Iya, Ibu .... Kami senang dan cocok ..... Ini akan segera kami bayar." kata pasangan suami istri muda itu.


    "Ditransfer ke Pak Podin ...?" tanya Lesti yang terlihat memelas dan sedih.


    "Betul, Bu .... Kemarin Pak Podin sudah menyampaikan kepada kami, kalau bangunan ruko ini akan dijual, katanya Pak Podin akan pindah ke luar kota, dan pembayarannya minta ditransfer." sahut laki-laki muda yang akan membeli rumah itu.


    "Iya, Ibu .... Dan mungkin minggu depan kami sudah harus menempati ruko ini untuk usaha kami ...." kata yang perempuan, dengan tutur kata yang halus dan lembut. Dan itu artinya, Lesti harus segera pindah meninggalkan tempat itu. Tentunya calon pembeli tersebut tidak tahu masalah yang dihadapi oleh Lasti dengan Podin.


    Hati Lesti kembali merasa seperti di cabik-cabik. Kesalahannya yang fatal itu sudah mengakibatkan hancurnya kehidupan yang semula sangat menyenangkan Lesti. Tapi kini, semuanya hancur berantakan. Lesti yang sedianya ingin insaf, namun kenyataannya, kini Lesti harus menanggung semua resiko yang harus dialaminya. Kata-kata insaf dan tobat ternyata sangat sulit dilakukannya, hanya tergiur dengan godaan laki-laki buaya.


    Lantas Lesti mengangkat HP-nya. Ia menelepon Om Toro. Pastinya ia ingin meminta bantuan kepada laki-laki yang sudah berjanji akan menolongnya. Sekali ditelepon, tidak diangkat.  Kembali Lesti meneleponnya. Tidak juga diangkat lagi. Tiga kali Lesti menghubungi, tetapi kali ini justru panggilannya langsung dimatikan. Dan saat dipanggil lagi, HP Om Toro sudah tidak aktif.


    "Kurang ajar betul Om Toro .... Di telepon tidak diangkat, malah HP dimatikan .... Di mana dia sekarang ...?!!!" Lesti menggerutu memarahi laki-laki yang yang sudah ia pilih untuk meremehkan suaminya sendiri.

__ADS_1


    Ingin rasanya Lesti mengamuk laki-laki yang sudah merusak keluarganya itu. Ingin rasanya Lesti membunuh Om Toro.


__ADS_2