
Setelah Podin mendapatkan paket box yang ditaruh di depan pintunya, meski selalu disingkirkan tetapi tetap saja berpindah dan kembali berada di depan pintunya, entah siapa yang mengirimkan ke villanya, yang ternyata isinya adalah peti harta karun, Podin pun menduga dengan pasti, kalau kiriman paket itu memang untuk dirinya. Podin mulai mengingat-ingat berbagai peristiwa, tentang peti-peti harta karun itu. Podin mulai sadar, pasti ini yang mengirim bukanlah manusia, bukan tukang paket dari jasa pengiriman barang, tetapi pasti ini yang mengirim adalah utusan dari penguasa Pulau Berhala. Tentu tujuannya adalah mengingatkan kepada Podin, manakala ia pernah membawa peti-peti itu, ia pernah mengangkut harta karun-harta karun yang ditempatkan dalam peti-peti itu dari Pulau Berhala. Dan pastinya, seperti yang dikatakan oleh gadis kecil waktu ia panggil keluar dari dalam petinya, dengan suara menggelegar dan besar seperti layaknya suara penguasa Pulau Berhala, yang mengatakan bahwa Podin disuruh kembali menuju istana Pulau Berhala pada malam bulan purnama. Ya, tentunya Podin wajib memberikan korban persembahan bagi penguasa Pulau Berhala.
Podin mulai berpikir, bahwa peti-peti yang pernah ia bawa dari Pulau Berhala ini, datang menemuinya lagi. Dan peti-peti yang datang kepadanya itu, tentunya peti dari para korban persembahan yang pernah ia jadikan tumbal untuk mencari harta kekayaan di Pulau Berhala. Aewah-arwah dari tumbal korban persembahan itu akan datang lagi, dan tentunya mereka akan meminta pertanggungjawaban kepada Podin, sebagai orang yang sudah pernah mempersembahkan dirinya di istana Pulau Berhala.
Dan memang, sudah sangat lama, sudah berbulan-bulan, sudah kelewat berkali-kali kemunculan bulan purnama, Podin tidak pernah datang ke pulau itu lagi. Dan, apalagi setelah Podin diajari oleh Bang Kohar untuk mendapatkan harta kekayaan dengan cara memelihara tuyul, membangunkan makhluk kecil yang ada di dalam peti itu untuk menjadi tuyul yang bisa mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya, yang bisa mengisi peti-peti itu dengan lembaran-lembaran uang, Podin tidak lagi mau datang ke Pulau Berhala, tidak lagi mau berkunjung ke pulau pemujaannya itu. Podin tidak mau lagi mencari korban untuk dipersembahkan kepada penguasa istana Pulau Berhala. Dan tentunya, Podin tidak mau rugi. Podin tidak mau repot-repot. Podin tidak mau bersusah payah pergi ke Pulau Berhala, apalagi harus mencari korban yang akan dipersembahkannya di altar istana. Pasti hal itu tidak gampang. Mencari korban persembahan sangat beresiko. Dan bahkan, Podin juga sudah pernah dipermalukan di altar istana Pulau Berhala, manakala dirinya keliru membawa bocah pengemis kecil yang ternyata sudah tidak suci lagi.
Kini, di villa Podin sudah menumpuk ada lima buah peti. Dan pastinya, peti yang baru saja datang itu, Podin masih bertanya-tanya, siapa makhluk yang ada di dalam peti itu? Siapa bocah yang menghuni peti tunggal yang baru saja dikirimkan oleh tukang paket khusus itu?
Tentunya, Podin yang penasaran dengan peti itu, ia ingin tahu, ia ingin melihat makhluk yang tinggal, makhluk yang menghuni di dalam peti itu. Karena seingat Podin, ia baru mengorbankan dua persembahan di atas batu kisaran, yaitu bocah perempuan cilik yang culik dari perempatan jalan, dan bayinya sendiri yang baru saja dilahirkan oleh Maya, yang ia sembelih dengan pisau belati mata berhala yang terkenal sangat ganas untuk menebas leher korban. Tentunya Podin juga penasaran, ingin tahu siapa sebenarnya makhluk yang ada di dalam peti yang baru dikirimkan itu. Mungkinkah makhluk yang ada di dalam peti itu juga bisa dimintai tugas untuk mengambil uang-uang, kemudian mengisi petinya itu dengan lembaran-lembaran uang. Maka, Podin yang ingin tahu hal itu, dia pun ingin melakukan ritual kembali untuk melihat makhluk yang ada di dalam peti itu.
__ADS_1
Matahari mulai tenggelam di langit barat. Di luar villa Podin, mulai terdengar suara binatang-binatang yang menyambut malam, mulai terdengar konser hewan penggerek. Apalagi villa yang ditempati oleh Podin berada di tengah-tengah tanaman yang besar-besar, pohon yang tinggi-tunggu dan lebat. Di situ terdapat banyak hewan-hewan penggerek, yang setiap menyambut datangnya malam mengeluarkan suara yang sangat ramai. Demikian juga kukuk burung hantu, yang merdu terdengar di telinga. Demikian juga dengan desir angin yang menghembus pucuk-pucuk pepohonan, menghasilkan suara yang indah sebagai simponi alam, menyambut datangnya malam.
Podin yang tentu penasaran dengan peti yang baru saja datang itu, ia ingin segera menyaksikan makhluk pujaannya yang baru, penghuni yang ada di dalam peti itu. Maka Podin pun mulai melakukan kegiatan merawat peti yang baru saja datang, yang dikirimkan oleh makhluk gaib yang tidak ia ketahui. Namun Podin yakin bahwa peti itu pasti dikirimkan oleh utusan penguasa Pulau Berhala yang sengaja diberikan kepada Podin. Dan tentunya kalau peti itu pasti pernah ia bawa, pernah ia simpan di rumahnya. Bahkan Podin juga mengira, kalau peti itu adalah peti harta karun yang pertama kali ia bawa, saat ia mendapatkan harta kekayaan yang berlimpah. Sehingga harta kekayaan itu bisa mengalahkan kemiskinannya, bisa merubah kehidupannya, dari kehidupan yang hina papa tanpa punya apa-apa, dan akhirnya Podin dan keluarganya menjadi orang kaya raya yang bisa membeli rumah di perumahan mewah dengan harga miliaran. Bahkan kala itu, Podin langsung berubah menjadi orang kaya raya yang tidak ada bandingan di kampungnya sendiri. Sehingga ia beserta dengan istri dan anak-anaknya berpindah hidup di rumah gubug menjadi rumah yang mewah.
Ya, itu terjadi saat pertama kali Podin mendapatkan harta kekayaan dari Pulau Berhala, di mana waktu itu ia ditunjukan jalannya oleh seorang kakek yang sudah memberikan uang dari koin emas. Ya, kala itu Podin memang benar-benar mendadak menjadi orang kaya baru, yang tentunya berubah menjadi orang yang hidup dengan bergelimang harta benda.
Tentunya kala itu Podin juga masih merasa kurang. Perpindahan dari hidup miskin menjadi kaya raya ternyata justru membuat Podin ingin bertambah lagi harta kekayaannya. Kala itu, Podin masih terus berharap untuk mendapatkan harta kekayaan. Podin masih meminta lagi harta kekayaan yang sangat banyak. Makanya meskipun dia sudah berubah jadi kaya, Podin tidak bersyukur, Podin tidak berterima kasih. Meskipun hidupnya sudah bergelimang harta benda, tetapi Podin justru masih merasa kurang. Dan akhirnya, kala itu Podin yang sudah punya rumah mewah, sudah punya sepeda motor, ia kembali pergi ke Pulau Berhala, dan tentunya ia kembali mengambil harta kekayaan yang ada di Pulau Berhala itu.
Maka malam itu, Podin yang sudah mulai merawat peti yang baru saja dikirimkan kepadanyaitu, ia sudah mulai mengelus-elus peti itu dengan menggunakan kain kafan yang sudah dibatasi minyak wangi, minyak nyong-nyong yang baunya sangat pekat menusuk hidung. Podin membersihkan seluruh permukaan peti itu. Tidak hanya pada bagian depannya saja, tidak hanya pada bagian permukaannya saja, tetapi juga pada bagian dalam peti itu. Ya, tentunya Podin juga penasaran dengan peti itu. Pastinya dia juga ingin menyaksikan makhluk yang menghuni peti itu, makhluk yang ada di dalam peti keramatnya itu. Dan pastinya, nanti malam, Podin ingin meminta kepada makhluk penghuni peti itu untuk pergi mencari uang, mengumpulkan harta kekayaan yang sebanyak-banyaknya, dan mengisi peti itu, memenuhinya dengan uang yang tak terhitung banyaknya. Ya, makhluk yang menghuni peti tersebut diminta agar mau mencarikan uang untuknya, mau mencarikan harta kekayaan untuk dirinya. Dan tentunya Podin juga mengharap makhluk yang ada di dalam peti itu akan tunduk dan menuruti semua perintah dan permintaannya.
__ADS_1
Seperti biasa, seperti yang lalu lalu, seperti yang sudah sering dilakukan oleh Podin, maka malam itu pun ia mulai melakukan ritual untuk memanggil arwah yang menghuni peti yang baru saja ia terima tersebut. Podin ingin tahu seperti apa wujud arwah yang ada di dalam peti itu. Podin mulai membuka bungkusan daun yang berisi aneka rupa kembang yang berisi bunga sesaji. Podin juga mulai membakar kemenyan. Ia berharap bau harum wangi asap kemenyan yang dibakarnya itu segera dicium oleh makhluk yang ada di alam lain, segera memunculkan makhluk yang ada di dalam peti itu. Ya, mulut Podin mulai komat-kamit membaca mantra. Podin sudah memanggil makhluk yang ada di dalam peti itu. Dan betul, tidak lama kemudian tutup peti itu seacara perlahan mulai terbuka. Dan saat tutup peti itu terbuka secara penuh, keluarlah makhluk yang menghuni peti keramat itu.
Namun, alangkah kagetnya Podin, saat ia menyaksikan makhluk yang keluar dari peti itu. Wujudnya bukan bayi kecil, bukan anak perempuan kecil, tetapi yang keluar adalah anaknya sendiri. Ya, Eko, anak sulung Podin yang dulu pernah tertabrak truk di depan sekolahannya saat anak itu mau masuk ke sekolahan. Anak yang dulu sempat menjadi geger, karena saat bocah itu tertabrak truk, kepala Eko itu hilang. Dan bahkan menjadi lebih geger, lebih menakutkan bagi warga di sekitar sekolahnya, karena arwah Eko yang tanpa kepala itu, keluyuran setiap malam di depan sekolah itu, yang katanya itu adalah hantu Eko yang tanpa kepala yang mencari kepalanya yang hilang terlindas truk.
Podin tahu persis peristiwa itu. Podin tahu persis, bahwa arwah yang keluar dari peti mendatanginya adalah anaknya yang pertama, anaknya yang paling besar, anak yang paling disayangi, anak yang paling didamba-dambakan. Podin masih ingat betul, saat ia pulang dari Pulau Berhala dan membawa peti harta karun yang diboncengkan pada motornya, saat dia sampai di rumahnya, Podin menerima kabar kalau anak pertamanya itu, kalau anak yang disayanginya itu terlindas truk di depan sekolahnya dan kepalanya hilang. Ya, itulah Eko, anak Podin yang paling dia sayangi, dan kini sudah menjelma menjadi arwah, dan datang menghampiri bapaknya.
"Pak .... Tolong saya, Pak ...." kata arwah yang baru saja keluar dari dalam peti itu, yang tentunya memanggil dan meminta tolong kepada bapaknya.
Podin yang menyaksikan arwah anaknya itu, tidak tahan membendung gejolak hatinya yang memberontak karena iba. Tentu Podin menyesal, merasa kasihan kepada anak kesayangannya itu.
__ADS_1
Tanpa ia sadari, Podin sudah pingsan dan menggeletak di tengah ruangan villa miliknya.