PULAU BERHALA

PULAU BERHALA
EPISODE 21: MEMBUKA TOKO


__ADS_3

    Sebuah ruko dua lantai berukuran enam kali sepuluh meter, terdapat di bagian depan proyek perumahan yang sedang dikembangkan oleh pengembang perumahan elit di daerah perbukitan yang masih segar itu. Ruko-ruko yang jumlahnya lumayan banyak, berjejer di sepanjang depan perumahan, tentu berada di pinggir jalan utama perumahan, yang membelakangi komplek perumahan elit tersebut.


    Ruko itu terdiri dari dua lantai. Di bagian lantai pertamanya berupa ruangan kosong yang memang ruangan itu nantinya akan digunakan untuk usaha berjualan. Hanya pada bagian belakangnya terdapat tempat untuk dapur dan kamar mandi. Di pojok bersebelahan dengan kamar mandi di ruangan lantai satu itu, ada tangga yang naik ke atas. Tangga itu yang menuju ke lantai dua.


    Di lantai dua, pada bagian depan ada ruangan kosong yang langsung menghadap ke depan, dengan kaca-kaca jendela yang bisa digunakan untuk menyaksikan pemandangan di depan rumah. Ruangan kosong itu yang digunakan sebagai ruang keluarga. Tempat untuk aktivitas bermain anak sambil menonton siaran televisi. Podin sengaja tidak memberi kursi di tempat itu. Hanya digelari karpet tebal, serta kasur busa. Ada TV yang menempel pada dinding sisi kanannya. Ya, anak-anaknya pasti asik bermain di ruangan yang ada TV-nya tersebut.


    Sedangkan pada bagian tengahnya, lantainya agak sedikit menurun. Ruang itu langsung menghubungkan lantai satu dengan lantai dua yang terdapat tangganya. Di ruang itu oleh Podin diberi semacam meja makan beserta dengan empat kursi. Ruang makan sederhana yang cukup bagus. Tentunya untuk keluarga kecil ruangan itu sudah sangat baik dan menarik.


    Sedangkan pada bagian belakangnya, ada dua kamar di kanan dan kiri, yang ditengahnya terdapat kamar mandi. Kamar itu yang nantinya bisa digunakan untuk istirahat atau tidur keluarga. Setidaknya, kalau siang setelah pulang sekolah, Dewi bisa tidur bersama adik-adiknya. Demikian pula jika Podin atau Isti lelah, atau mengantuk, dia bisa istirahat di kamar tersebut.


    Isti lebih fokus di lantai pertama. Ya, bangunan ruko yang berupa ruang kosong tanpa sekat-sekat. Di bagian depan hanya dibatasi oleh rollingdoor. Ya, penutupnya hanyalah rollingdoor. Sehingga jika rolingdoor yang menutup bangunan selebar enam meter tersebut dibuka, maka dagangan yang ada di ruko itu terlihat semua. Tetapi Podin dan Isti, tidak membuka semua rollingdoor yang terbagi dalam tiga pintu itu, masing-masing dua meter. Podin hanya membuka dua roliingdoor, tentu agar tidak terlalu lebar membukanya.


    Ya, pada lantai satu itu, ditata rak dagangan serta etalase untuk menaruh barang-barang dagangan. Rak itu ditata berjajar di samping kanan dan kiri, sehingga kelihatan seperti berbaris, dari depan ke belakang. Sedangkan pada bagian tengahnya lebih longgar atau kosong, tentunya untuk jalan atau lewatnya para pembeli keluar masuk. Sedangkan yang di bagian belakang terdapat etalase kaca. Isinya barang-barang yang harganya lumayan mahal, yaitu rokok dan barang kecil-kecil lainnya.


    Di dekat etalase itu terdapat meja kecil. Oleh Isti meja ini digunakan sebagai tempat kasir atau pembayaran. Ya, pada meja itu di bagian bawahnya terdapat kotak-kotak sorok untu tempat menyimpan uang.


    SEdangkan yang di belakang sendiri, ada ruangan sekitar 2 meter, yang digunakan untuk tempat memasak dan kamar mandi. Dapurnya hanya terdapat tatakan tempat menaruh kompor dan wastafel tempat mencuci piring.


    Desain rumah toko ini sebenarnya sudah sangat bagus. Sehingga orang yang membelinya sudah tidak perlu menata lagi. Karena ruko ini memang didesain sebagai tempat untuk jualan atau perkantoran. Yam seperti itu desain sebuah rumah toko. Bangunan yang digunakan untuk toko dan tempat tinggal.


    Satu bulan lamanya Isti menunggu pembangunan ruko itu selesai. Kini ruko itu sudah jadi. Meskipun langsung ingin membuka tokonya, untuk berjualan barang kelontong seperti yang sudah direncanakan sebelumnya. Isti tidak hanya menjual makanan-makanan kecil sebagai jajanan anak-anak, tetapi juga ada jualan rokok, jualan barang-barang kebutuhan rumah tangga lainnya. Pasti Isti saat melihat ruko yang dimilikinya itu bagus, ia senang. Yah, cita-citanya menjadi pedagang akan terkabul.


    Pada lantai satu, yang hanya digunakan untuk berjualan, Isti mulai menata barang-barang daganganmya, yang dibelanjakan oleh suaminya. Begitu melihat keadaan ruko yang baru itu, dan tentunya senang, Podin yang sudah meminta tolong kepada Pak Mandor untuk melengkapi prasarananya, yaitu perabot dan rak-rak dagangan. Semuanya lengkap. Ruko itu sudah sangat menyenangkan hati Podin dan istrinya. Ia tidak bakal dicap sebagai pengangguran lagi.


    Podin langsung membantu istrinya untuk menata warungnya itu. Mereka mulai menata barang-barang yang sudah dibelanjakan. Bahkan menaruh barang-barang yang akan dijual di toko istrinya itu.


    "Barang dagangannya masih sedikit ya, Pak ...." kata Isti pada suaminya saat menata barang yang baru saja dibelanjakan oleh suaminya, di rak dagangannya.


    "Iya, ya .... Padahal belanjanya sudah satu mobil. Tapi kok belum bisa memenuhi rak-rak toko kita yam, Bu ...." sahut Podin yang juga merasa kalau belanjanya masih terlalu sedikit.


    "Besok berarti harus belanja lagi, Pak ...." kata istrinya.


    "Ya .... Sedikit demi sedikit, Bu .... Besok lama kelamaan kan juga penuh. Sambil jalan, sambil ;ihat-lihat, kira-kira apa yang perlu dibeli." kata Podin pada istrinya.


    Dewi, anak perempuannya yang sekarang menjadi anak terbesar, anak perempuan yang masih duduk di kelas dua  SD ini, dia mulai mau membantu ibunya. Dewi dan juga adik-adiknya yang masih kecil-kecil berusaha ikut ribut di tokonya yang baru itu.


    "Dewi ..., tolong bantu Ibu." kata Isti yang memanggil anaknya yang kini menjadi paling besar di keluarganya.


    "Ya ..., Bu .... Ada apa ...?" kata Dewi yang langsung mendekat kepada ibunya.


    "Ambilkan barang-barang itu, bawa kemari .... Mau Ibu tata ...." kata ibunya,


    "Ini Bu ...." kata Dewi yang langsung menyerahkan barang yang diminta oleh ibunya.


    "Sekarang Ibu minta tolong lagi .... Yang ini ditata di rak yang sebelah sana ..., bagian depan dahulu ...." kata Isti lagi, yang meminta Dewi menata barang dagangan.

__ADS_1


    "Iya, Bu ...." jawab Dewi yang langsung menata barangnya.


    Dewi yang tentu juga diikuti oleh adik-adiknya, meski masih kecil dan tentu belum sanggup apa-apa, tetapi mereka ikut ribut seakan membantu ikut menata barang-barang dagangan. Tentu ibunya senang menyaksikan anak-anaknya yang rajin tersebut.


    Sementara itu, Podin masih terus mengeluarkan barang-barang dari dalam mobilnya. Barang yang ia beli dari pasar grosir. Ya, Podin yang disuruh kulakan oleh istrinya. Membeli barang-barang untuk kebutuhan dagangan di tokonya,


    "Buk ..., adik minta jajan ...." kata Dewi yang melihat adiknya yang mengambil jajanan yang sedang ditata di rak itu.


    "Walah ..., sudah jadi penglaris .... Yam suruh ambil satu-satu ...." kata ibunya, yang tentu langsung menyuruh untuk mengambil. Maklum, karena mereka sedang menata jajanan, maka mereka pasti kepingin. Ibunya yang selalu memberi jajanan pada anaknya, tentu mengizinkan anaknya mengambil satu buah jajanan dari tokonya itu.


    Akhirnya Dewi memberikan jajanan yang diminta oleh adik perempuannya, Asri. Ia juga mengambilkan untuk adiknya yang paling kecil, yaitu Antok. Namanya anak-anak, pasti ketika melihat jajanan ia langsung memintanya.


    "Ibu ..., saya minta jajanan ini satu ya ...." begitu juga kata Dewi yang sudah mengambil jajanan yang ada di rak dagangan itu, sebungkus makanan kecil. Tentu Dewi juga kepingin jajanan itu seperti adik-adiknya.


    "Iya .... Jangan banyak-banyak, satu saja .... Nanti kalau jajanannya dimakan terus, Ibu bisa rugi ...." kata ibunya kepada anak-anaknya.


    "Walah .... Lha kok sudah pada dimakan, jajanannya ...?" kata Podin yang begitu masuk menyaksikan anak-anaknya sudah pada makan jajanan.


    "Hehe ..., Iya, Pak .... Boleh kok, sama Ibu ...." kata Dewi yang menjawab bapaknya.


    "Jangan banyak-banyak lho, ya .... Nanti bangkrut ...." bapaknya juga bilang begitu, sama dengan ibunya.


    "Iya, Pak ...." jawab Dewi.


    "Iya, Pak ...." sahut Dewi.


    Dewi langsung kembali membantu ibunya. Pasti ia merasa senangm karena ibunya membuka toko. Itu artinya nanti segala kebutuhan di rumahnya akan terpenuhi. Dan kalau ia mau minta apa-apa, di toko itu sudah ada, tinggal mengambil begitu saja. Dan juga, hidupnya pasti berkecukupan, karena pasti kalau punya toko, uang ibunya akan selalu ada dan cukup.


    "Yang ini tidak di taruh ke mana, Bu ...?" tanya Dewi yang kini menjadi anak paling besar di keluarganya, pasti harus bisa bertanggung jawab dan mengajari adik-adiknya.


    "Taruh di atas sini ya .... Coba kamu lihat, bagus dah kalau ditata di sini ...." kata ibunya.


    "Iya, Bu .... Bagus .... Lebih kelihatan kalau ada orang yang mau beli." kata Dewi yang kemudian menata barang-barang itu, di rak yang sudah tersedia. Lantas Dewi pun terus membantu menurunkan barang-barang dagangan yang baru saja dibawa oleh bapaknya dari mobil.


    "Waduh ..., ini anak Bapak semuanya rajin .... Pkut membantu berjualan. Pasti nanti dagangannya akan laris. Pasti nanti barang-barangnya cepat habis." kata Podin yang barusan mengangguk barang satu dus dan ditaruh di toko itu.


    "Anak kita sudah pada mau membantu, Pak ...." kata Isti yang tentu senang dengan sikap anak-anaknya.


    "Ya .... Besok biar ikut latihan berjualan. Bahkan juga kita ajak belanja ke pasar, untuk membeli jajanan buat latihan ...." kata Podin.


    "Iya, Pak .... Biar besok kalau sudah besar bisa pintar jualan, ya Pak." sahut istrinya.


    "Besok kita masih harus menambah barang-barang lagi ya, Bu .... Ternyata belanjaan satu mobil kok masih terlalu kurang untuk mengisi rak ini." kata Podin yang setelah barangnya tertata, ternyata masih terlalu sedikit.


    "Kalau beli makanan yang seperti ini, boleh nggak ...? Kemudian jajanan yang begini, kira-kira cocok nggak? Kalau di sekolah Dewi, jajanan makanan kecil yang laris itu makanan kecil yang seperti apa? Seperti ini ayau yang seperti ini ....? tanya ibunya pada Dewi sambil menunjukkan beberapa jajanan yang dijual ibunya.

__ADS_1


    "Biasanya anak-anak suka dengan ciki-cikian, Bu ..., yang harganya juga murah. Satu bungkus paling seribu rupiah ..... Uang saku mereka kan juga sedikit, Bu ...." jawab Dewi yang sering melihat jualan di kantin.


    "Iya .... nanti sambil lihat iklan di TV .... Jajanan apa yang sekarang sedang ngetren, besok kita belanja." Podin ikut menimpal.


    "Iya, Pak .... Nanti akan tiba-tiba misalnya jualannya ini sudah laris, terus kita masih kekurangan barang, besok bisa ditambahi." sahut istrinya.


    Namun tentunya, yang namanya usaha berjualan, yang namanya berdagang, belum tentu langsung laris begitu saja. Belum tentu pembelinya langsung banyak berdatangan. Ya, seperti halnya yang dialami oleh Isti bersama keluarganya. Rukonya yang baru itu, bahkan baru sendirian dia berjualan di tempat itu, belum ada orang lain yang berjualan di tempat itu, belum ada pedagang-pedagang lain yang membuka rukonya, baru Podin bersama istrinya sendiri yang membuka ruko itu, dan langsung menempati serta berjualan di situ. Itu adalah usaha yang sangat berani.


    Tentunya, kalau ruko itu belum laris, belum banyak orang yang beli, belum banyak orang yang berdatangan untuk membeli barang-barang dagangannya, istilah orang mengatakan toko Isti masih sepi, tidak ada pembeli.


    "Toko kita kok sepi ya, Pak ...." kata istrinya pada Podin, saat berada di toko itu berduaan yang sepi tanpa pembeli.


    "Ya sabar ..., Bu ...." jawab Podin pada kesah istrinya.


    "Seharian tidak ada yang beli .... Paling para tukang itu yang pada beli rokok." kata Isti pada suaminya lagi.


    "Namanya juga tuko baru. Tempatnya juga di perumahannya yang baru. Warga yang tinggal juga masih sepi, belum banyak penghuninya. Besok kalau sudah pada ditempati, pasti ramai ...." kata Podin yang meminta agar istrinya bersabar.


    "Iya, Pak .... Yang penting gak nganggur ya, Pak .... Setidaknya kita sudah membuka usaha. Ya kalau nanti perumahannya sudah penuh penghuninya, pasti jadi tamai ya, Pak ...." kata Isti yang juga bisa menerima kenyataan kalau rukonya memang masih sepi.


    "Iya .... Setidaknya kita bisa mengajari anak-anak untuk menata dagangnya kita, bisa mengajari anak-anak untuk berjualan, ya walaupun ibarat kata nanti jualan itu dimakan sendiri oleh anak-anak kita. Ya tidak apa-apa,  kalau kita tidak ada jajanan di toko kita ini, mereka juga meminta uang untuk beli jajanan di luar. Nah kalau misalnya dia mengambil barang di sini, anggap saja kita sudah membelikan jajanan kepada anak-anak. Ya, sambil latihan berjualan." begitu kata Podin, yang tentu tidak ingin istrinya kecewa dengan keadaan tokonya yang sangat sepi itu.


    "Iya, Pak .... Saya sabar .... Semoga saja besok kalau perumahan ini sudah ramai, nanti toko kita juga ikut ramai." begitu kata Isti pada suaminya, yang juga pasrah dengan keadaannya. Ia pun sadar tentang hal itu. Seperti itulah yang namanya usaha. Tidak gampang seperti orang mengemis, yang hanya menyadongkan tangan langsung dapat uang. Namanya usaha itu dibutuhkan kesabaran. Yang namanya usaha harus ulet, harus bisa menerima keadaan dan tidak mudah putus asa. Setidaknya nanti, kalau perumahan itu ramai, sudah banyak penghuni, pasti juga akan banyak rezeki yang datang. Yang penting niat usaha.


    "Sebenarnya, kalau lihat orang-orang di perumahan ini, baik yang sudah menempati maupun para tukang yang pada bekerja, sekarang saja toko kita sudah lumayan kok, Pak .... Setiap hari setidaknya ada para tukang yang mampir beli rokok, ada para tukang yang mampir beli jajanan. Yah, kita dapat masukkan, Pak, walaupun sedikit yang penting ada uang bisa untuk belanja lagi." kata Isti yang tentu juga merasa senang, karena setiap saat masih ada pembeli-pembeli yang berdatangan untuk membeli rokok ataupun jajanan lainnya.


    "Iya .... Semoga saja nanti bisa lebih baik dari itu. Oh ya, Bu .... Coba kira-kira barang apa yang dibutuhkan oleh pembeli, yang kita belum punya barangnya .... Nanti kita akan belanja barang-barang yang tidak ada itu, kita belanjakan semua kebutuhan warga. Semoga kebutuhan yang diminta oleh para pembeli itu bisa kita layani, bisa kita belanjakan. Dan paling tidak, kita bisa menolong mereka." begitu kata Podin yang tentu ingin melengkapi dagangan-dagangannya.


    "Iya, Pak .... Saya juga pengennya begitu. Ini ada catatan dari para pembeli yang ingin membeli barang-barang itu, mereka pesan supaya dibelanjakan. Ya, kita mesti membelikan pesanan orang-orang, Pak .... Tentunya barang yang belum ada di yoko kita. Makanya saya ingin nanti catatan ini, Bapak belanjakan di pasar." kata Isti kepada suaminya.


    "Oh, ya, Bu .... Tentu nanti akan saya tanyakan di grosir langganan kita. Tapi ini saya akan memberitahu kepadamu, kemarin saya ketemu dengan sales .... Katanya dia itu sales belanjaan yang mengirimi ke pasar-pasar dan toko-toko .... Nah kemarin itu, dia menawarkan kepada saya kalau untuk belanja seperti barang-barang kelontong itu bisa melalui dia. Saya kemarin sudah katakan kepada sales itu, kalau memang harganya sama dengan grosir, bisa terjangkau dapat untung, saya mau dan setuju. Setidaknya kita tidak repot-repot ke pasar, tinggal telepon dia langsung datang. Seperti itu, Bu ...." kata Podin kepada istrinya.


    "Walah .... Iya, Pak .... Malah beneran, Pak .... Kita tidak usah ke pasar, mereka sudah datang kemari. Dan itu pasti lebih enak karena nanti setiap ada kebutuhan warga kita bisa pesan sekalian. Beneran, Pak ..., kita tidak repot. Kita hanya tinggal telepon, nanti dia datang mengantarkannya. Bukannya begitu, Pak? kata Isti  kepada suaminya yang tentu bagi Isti ini malah memudahkan usahanya.


    "Iya, betul ..... Makanya ini saya sampaikan ke ibu agar ibu nanti bisa mencatat barang-barang apa saja yang tidak ada di warung kita yang dibutuhkan oleh para pembeli. Malah tadi juga ada agen es cream yang juga menawarkan mau menaruh es cream itu di tempat kita. Dia ngasih peralatannya komplit, kita hanya menjualkan saja ...." kata Podin yang juga mendapat tawaran dari agen es cream.


    "Walah .... Enak itu, Pak ...." sahut istrinya, yang tentu sambil tersenyum malu, karena sudah kemecer kepingin es cream.


    Seminggu kemudian. Akhirnya, Podin dan istrinya sudah berlangganan dengan sales-sales dari berbagai perusahaan untuk mengisi warungnya. Ya, tentu rak-rak yang ada di warungnya, yang dulunya masih banyak yang kosong, barang-barang yang ada di etalase dan rak yang dulunya masih sedikit, belum terisi barang, akhirnya kini setelah ada sales yang datang dan menawarkan dagangan-dagangannya, ke toko yang dibuka oleh Isti, kini ruko itu semakin penuh dan semakin lengkap. Dagangannya komplit. Memenuhi semua kebutuhan, mulai dari beras, minyak goreng, gula pasir, tehm kopi, mi instan, kecap, kebutuhan-kebutuhan memasak, termasuk juga kebutuhan sabun cuci, sabun mandi, sampo, bahkan ada juga peralatan-peralatan dapur seperti sosrok, wajan, bahkan juga ada panci, ember dan gayung, semuanya ada di dalam toko itu. Ya, toko Isti kini semakin lengkap. Tentunya ketika nanti ada orang yang datang atau pindahan akan masuk ke rumahnya yang baru, dan mereka belum punya perlengkapan rumah tangga, tentu mereka akan datang ke tokonya Isti untuk mencari kebutuhan pokoknya memenuhi perlengkapan-perlengkapan itu.


    Isti senang menyaksikan dagangannya yang sudah banyak, dagangannya yang semakin memenuhi ruko itu, dan tentunya, setidak-tidaknya hasil jualannya bisa ia gunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.


    Demikian juga Podin, yang tentu senang menyaksikan istrinya bahagia. Menyaksikan ketiga anaknya yang juga senang karena sering mengambili jajanan dagangan ibunya. Bahkan Isti sekarang lebih sering tinggal di rukonya, ketimbang tinggal di rumah mewahnya. Tentu di rukonya, mau apa-apa sudah tersedia dan lengkap. Semuanya kebutuhannya sudah terpenuhi di ruko itu. Bahkan akhirnya, anak-anaknya pun lebih merasa senang, anak-anaknya merasa lebih betah berada di ruko. Walau alasannya membantu ibunya yang sibuk mengurusi barang dagangannya itu.


    Ya, kini kehidupan Podin dengan keluarganya sudah semakin makmur. Keluarga Podin sudah lebih tertata, dan hidupnya kini semakin bahagia.

__ADS_1


__ADS_2