
Pagi sekali Rina sudah mulai menata racikan dagangannya. Tentunya sejak bangun pagi, ia sudah sibuk di dapur, untuk memasak. Rencananya, hari itu Rina akan mulai berjualan. Hari itu Rina akan memulai membuka warung makannya, yang tentunya Rina sudah bersiap dengan berbagai masakan, dengan berbagai menu olahan. Ya, Rina sudah menyiapkan segala jenis makanan yang akan dia jual. Podin juga sibuk membantu istrinya. Dan yang pasti, Podin mendapat jatah bagian cicip-cicip. Tentu Podin sangat senang.
Rina pun langsung menata dagangannya itu di panci dan baskom, mangkok-mangkok besar, yang dijejer di rak penyajian, rak kaca yang dipesan dari tukang alumunium. Lantas rak itu pun ditutup dengan kain semacam korden mini. Tentunya agar tidak ada lalat yang masuk. Terlihat rapi dan menggugah selera. Tentunya sudah tersaji sayur lodeh, sayur gudeg, sayur sop, sayur pedas, orek tempe dan oseng-oseng. Ada juga bakmi, serta lauk pauk seperti telur dadar, ikan goreng, tempe dan tahu goreng, serta aneka gorengan lainnya.
Di meja sudah tertata tempat sendok garpu, tisu, serta ada botol kecap, saus dan sambal. Di atas meja itu juga terdapat kaleng krupuk. Setiap meja dikelilingi enam kursi. Di tempat itu ada enam meja, tiga di sisi kanan dan tiga lagi di sisi kiri. Jadi jalau misalnya kursi itu penuh, berarti sudah ada tiga puluh enam orang. Memang halaman rumah yang dibeli oleh Podin itu cukup luas. Sedangkan di dekat dengan meja dagangan, terdapat showcase, kulkas yang pakai tutp kaca, berisi aneka minuman ringan.
Tetapi pagi itu saat Rina masih menata barang dagangannya, kembali menyaksikan anak perempuan kecil dengan pakaian lusuh yang berdiri di depan rumahnya. Dasar orang baik, Rina pun langsung mengambil makanan-makanan yang ada di rak dagangannya itu, untuk dibungkus. Rina mengambil nasi, kemudian dikasih berbagai sayur dan lauk pauk. Ibarat kata orang yang biasa beli makan, mereka menyebutnya sebagai nasi rames. Nasi yang terdiri dari berbagai macam lauk pauk serta sayur-mayur komplit. Satu bungkus penuh. Rina yang membungkuskan nasi rames itu pun langsung memasukkannya ke dalam kantong plastik kresek, dan kemudian memberikan kepada anak yang berdiri di depan rumahnya itu. Ibarat kata, Rina memulai usahanya dengan bersedekah kepada seorang anak pengemis.
Seperti hari-hari kemarin, saat Rina memberikan nasi bungkus, anak itu diam tanpa berkata apapun. Seakan-akan bibirnya terkunci, atau mungkin bisu. Tetapi tangannya menerima pemberian dari Rina. Nasi bungkus itu langsung diterimanya. Namun saat Rina memberikan bungkusan itu, sambil memperhatikan mata anak itu, ternyata anak perempuan kecil dengan pakaian lusuh itu menerima makanan tanpa memandangi Rina, melainkan mata anak itu justru menatap tajam ke dalam rumah Rina. Ya, seolah anak itu mengamati dalam rumah itu, seolah ingin tahu, ada apa di dalam rumah Rina?
"Dimakan, ya .... Biar kenyang, biar tidak sakit ...." begitu kata Rina setelah memberikan nasi bungkus yang dimasukkan ke dalam kantong plastik kresek itu. Tentu habis memberikan nasi bungkus itu, Rina langsung akan kembali menata dagangannya.
Namun, baru saja Rina membalikkan badan, anak itu sudah menghilang. Rina kaget. Rina heran. Dan Rina mestinya juga bingung. Rina tengak-tengok, ketika kembali ingin melihat anak itu, yang ternyata sudah tidak ada. Anak itu sudah menghilang. Rina menengok ke kanan dan ke kiri, menengok ke jalan. Tetap saja ia tidak menemukan anak perempuan kecil yang mencangking plastik kresek berisi bungkusan makan yang tadi diberikannya, sudah tidak ketemu lagi. Rina langsung kembali ke tempat dagangannya kembali.
"Mas ..., Mas Podin apakah sudah memberitahukan ke orang-orang pabrik, karyawan-karyawan pabrik, kalau hari ini kita akan membuka warung makan?" tanya Rina pada suaminya, yang memang pernah dipesan untuk mengumumkan kepada para tetangga, kalau ia akan membuka warung makan.
"Oh, tentu sudah, Rin .... Begini, Rin .... Sebenarnya saat kita membuka warung makan ini, kita harus mengundang orang-orang, kemudian memberikan potongan harga kepada orang-orang yang akan makan, sehingga mereka akan senang, dan tentunya pada datang kemari. Kemarin saya udah bilang pada beberapa orang, kalau warung kita hari ini memberikan diskon lima puluh persen. Yah, anggap ini sebagai syukuran kita dan perkenalan kepada warga di sini. Pokoknya kita buka saja hari ini. Nanti kalau kita buka, dan ada yang pada beli, lumayan, Rina ...." kata Podin yang menyampaikan rencananya.
"Ndak papa, Mas .... Baik itu .... Yah, anggap saja sebagai tanda syukuran kita. Dan semoga mendapat ridlo dari Ilahi." jawab Rina yang setuju dengan rencana suaminya itu, untuk memberikan diskon, potongan harga separo.
"Kamu masaknya belum banyak, kan? Nah, nanti semoga saja, setidak-tidaknya ada yang datang untuk makan di warung kita. Kalau misalnya saja ada yang datang sekitar sepuluh orang karyawan saja yang hari ini jajan di warung kita, besok pasti akan mengajak teman-temannya yang lain." begitu kata Podin pada Rina, yang tentu berharap warungnya yang baru saja dibuka itu akan ramai oleh pembeli.
"Iya, Mas .... Semoga saja akan ada pembeli yang datang hari ini." jawab Rina yang yakin kalau warungnya akan laris.
Dan memang benar. Setelah Rina menyuruh suaminya menyampaikan ke orang-orang, kepada para tetangga, terutama orang-orang, karyawan-karyawan yang kost di sekitarnya, kalau di rumahnya sudah mulai membuka warung makan, maka saat itu sudah ada beberapa orang yang datang mau membeli makanan di tempatnya Podin . Lumayan, ada seorang ibu yang beli sayur dan lauk. Dan saat itu, kalau ibu itu cocok dengan harga dan rasa masakannya, pasti nanti sang ibu tersebut akan menyampaikan kepada tetangga-tetangga yang lain, kalau Podin dan Rina berjualan makanan, berjualan masakan.
"Mangga, Ibu .... Dicoba masakan saya ...." kata Rina pada pembeli yang pertama kali datang ke warungnyanya.
"Iya, Pok .... Semoga laris .... Jualannya ada sayuran apa? Lauknya apa?" tanya ibu yang belanja itu.
"Ini, ada sayur lodeh, oseng, sop, orek tempe .... Lauknya ada ikan goreng, telur dadar, rendang, ayam goreng .... Ini, Bu .... Silahkan pilih sendiri ...." kata Rina yang sambil menunjukkan dagangannya.
"Saya beli sayur oseng, sama orek tempe .... Lauknya ikan goreng dua saja." kata ibu itu sambil menunjuk yang akan dibeli.
"Sudah, Bu ...?" tanya Rina.
"Sudah. Berapa, ya ...?" tanya ibu itu yang siap akan membayar.
"Sayur lima ribuan, ikan goreng empat ribu kali dua .... Jumlah total delapan belas ribu, Bu. Untuk hari ini cukup bayar lima puluh persen. Jadi bayar sembilan ribu saja." kata Rina pada ibu pembeli itu.
"Walah ..., dapat diskon, ya .... Alhamdulillah .... Terima kasih, Pok ...." kata pembeli itu, yang tentunya pulang dengan senang hati.
__ADS_1
Selanjutnya, selang beberapa menit kemudian, ada ibu-ibu yang datang lagi, juga akan membeli sayur dan lauk. Tentu Rina senang dengan datangnya pembeli kedua, lumayan. Setelah itu, datang seorang laki-laki yang akan sarapan pagi, membeli nasi di warung Rina. Ya, lumayan. Sudah mulai ada pembeli yang berdatangan. Berarti menambah datangnya pelanggan.
"Gimana, Rin ...?" tanya Podin pada istrinya.
"Walah, Mas .... Lumayan .... Sudah banyak yang beli .... Tadi yang sarapan pagi di sini saja ada sekitar lima orang." jawab Rina yang terlihat bingar karena sudah melayani pembeli.
"Semoga nanti siang saat jam istirahat akan ramai." kata Podin yang ikut senang.
Dan di siang hari, saat waktunya orang-orang pada makan siang, saat para karyawan istirahat, warung "Mpok Rina" mulai ramai dan penuh sesak oleh orang-orang yang ingin menikmati makan siang.
"Wah ..., enak ini masakannya ...."
"Wah ..., cocok ini sambalnya, mantap ini .... Bisa berkeringat makan di sini Wah."
"Cocok sekali ...." begitu kata para pembeli, yang rata-rata memuji masakan Rina.
"Aku pesan nasi rames, lauknya telur ceplok." kata salah seorang pembeli yang baru datang.
"Siap, Mang .... Tunggu sebentar ...." begitu kata Rina yang langsung meladeni para pembeli pelanggan-pelanggan barunya yang hari itu baru mulai makan.
"Sudah, Pok .... Ini berhitung, saya makan nasi rames, lauknya mendoan, minumnya es teh. Berapa?" kata salah seorang pembeli yang sudah selesai makan.
"Walah, ini pakai diskon, toh?" kata pembeli yang kaget membayarnya itu. Tentunya, banyak pembeli yang kaget ketika Rina mengatakan membayarnya lima puluh persen.
"Iya, Mang .... Kita baru buka. Ini harga perkenalan .... Semoga para pembeli, para pelanggan menjadi senang dan bisa menikmati masakan yang kami sediakan." begitu kata Podin yang ikut nimbrung saat para pelanggan itu akan membayar.
"Waduh ... Bayarnya cuman lima puluh persen ..., lumayan .... Walah ..., walah ..., walah .... Ini asik sekali." kata orang-orang yang pada makan di warung itu.
"Ya ..., bersyukur .... Besok datang lagi. Besok masih diskon, ya?!" tanya beberapa pembeli yang tentu berharap dapat diskon kembali.
"Besok masih diskon apa ndak?!" tanya orang-orang yang tentunya senang karena mendapatkan potongan harga hari itu.
"Ya .... Kami akan berusaha untuk memberikan potongan harga sampai satu minggu." sahut Podin yang menjawab secara tegas.
"Alhamdulillah ...." sahut orang-orang yang tentu senang bisa makan enak dengan harga yang murah.
Hari itu, dagangan Rina sangat laris. Dan tentu karena rasanya yang enak serta harganya yang murah. Disukai oleh banyak para pembeli. Pastinya Rina senang. Yang pasti Rina gembira dengan apa yang dicapainya, yaitu dengan ramainya warung yang barusan dibukanya. Dan tentu hal itu sangat membuat Rina berbangga karena bisa berjualan dengan laris.
"Pok ..., makan ...." kata seorang laki-laki yang baru saja masuk ke warung Rina, dia akan makan di tempatnya Rina.
"Waduh .... Sudah habis, Mang ...." kata Rina yang menyaut pembeli itu, karena memang dagangannya sudah habis ludes terbeli.
__ADS_1
"Waduh ..., nggak jadi makan ini .... Padahal saya lapar." kata laki-laki itu, yang tidak jadi duduk di kursi makan warungnya Rina, karena sudah kehabisan.
"Besok ya, Mang .... Saya akan masak lebih banyak lagi. Semoga saja besok masih kebagian." kata Rina yang menjanjikan kepada calon pelanggannya.
"Iya, Pok ...." sahut orang itu sambil pergi.
"Makasih, Pak ...." begitu sahut Rina.
Rina mulai membersihkan meja-meja makan. Termasuk mengambil piring dan gelas kotor. Dan langsung membawanya ke wastafel. Di situ, Podin, suaminya, sudah membantu mencuci piring dan gelas kotor.
"Mas ..., hari ini lumayan .... Kita laris, Mas ...." kata Rina pada suaminya yang masih mencuci piring.
"Semoga saja besok juga laris ...." sahut suaminya.
"Iya, Mas .... Tapi mendengar obrolan para pembeli tadi, kelihatannya mereka senang." kata Rina.
"Iya .... Banyak yang bilang cocok." sahut Podin.
Dari larisnya warung makan Rina yang baru saja buka itu, tentu Rina merasa senang. Demikian juga Podin, yang tentunya juga gebira melihat istrinya yang sukses berjualan. Tidak hanya pandai saat membantu melayani di warungnya Bu Hendro, tetapi kenyataan saat ia membuka warung sendiri, tetap bisa menjalankan usahanya itu.
Namun, ada hal yang membuat Rina masih penasaran, yaitu dengan anak perempuan kecil yang mengenakan pakaian lusuh, pengemis kecil yang selalu datang ke rumahnya. Walau Rina sudah berbaik dengan anak itu, walau Rina sudah selalu memberi makanan kepada anak itu, tetapi Rina penasaran, siapa sebenarnya pengemis cilik itu dan di mana rumahnya? Mungkinkah anak itu tinggal dekat dengan rumah Rina? Terus kenapa anak itu juga tidak sekolah? Kenapa anak itu selalu datang ke rumah Rina? Dan kenapa anak itu hanya selalu berdiam diri tidak pernah berkata apa-apa? Bahkan tidak pernah menjawab ataupun, dan juga tidak pernah mengucapkan terima kasih saat diberi makan nasi bungkus oleh Rina. Apakah anak itu bisu tuli, sehingga orang tuanya tidak mempedulikannya?
Tetapi Rina dasarnya adalah wanita yang baik hati. Rina adalah orang yang suka beramal. Rina bukanlah orang pelit, bukan orang kikir, tetapi ia selalu berbaik hati kepada siapa saja. Apalagi hanya dengan seorang pengemis cilik yang sangat memelas. Rina tidak tega menyaksikan bocah kecil yang sudah menjadi pengemis itu, bocah kecil yang memelas yang tidak punya apa-apa. Dan tentu rasa iba Rina itu sudah menjadi empati kepada anak yang selalu datang di depan rumahnya tersebut.
"Mas Podin ..., saya kasihan melihat ada seorang anak kecil yang selalu datang mengemis di tempat kita. Meski saya selalu memberikan sebungkus nasi kepada dia, tetapi saya melihat anak itu tidak tega, Mas. Iya ..., anak itu hanya mengenakan pakaian lusuh, pakaian kotor yang tidak pernah berganti, Mas. Bahkan seakan Anak itu tidak pernah mandi ..., kelihatan sangat kotor sekali, Mas. Dan wajahnya terlihat pucat, mungkin karena kurang makan atau kurang gizi. Bahkan ia juga tidak pernah bicara, dan seakan juga tidak pernah menghiraukan kata-kata saya saat saya bilang padanya. Mungkin anak kecil bisu tuli dan tidak diurusi orang tuanya. Saya kasihan sekali sama anak kecil itu, Mas." kata Rina yang menceritakan apa yang ia lihat dan alami kepada suaminya.
"Ya, kalau ada hal seperti itu, dikasih saja, Rin .... Kita jangan ragu-ragu untuk memberikan sesuap nasi kepada pengemis. Kita jangan ragu-ragu untuk memberikan sedikit sedekah kepada orang yang membutuhkan. Apalagi melihat anak yang seperti itu, mestinya kita harus berbaik pada mereka. Paling tidak bisa menolong anak itu. Sokor kalau misalnya kita punya pakaian-pakaian pantas pakai yang muat dan bisa dipakai anak itu, pasti anak itu akan senang." begitu kata Podin yang tentu membuat hati Rina menjadi senang dan tenang, karena Podin ternyata juga mendukung dengan apa yang dilakukannya untuk menolong anak kecil itu.
"Iya, Mas .... Saya itu juga kepikiran kalau besok kita ke pasar, saya pengen belikan baju yang pantas, walaupun tidak mahal tetapi terlihat bagus bisa dipakai anak itu." kata Rina kepada suaminya, yang tentu Rina juga ingin berbaik kepada anak itu. Apalagi dirinya belum punya anak, belum punya momongan, sehingga melihat anak kecil yang seperti itu ia pun punya rasa iba untuk menolongnya.
"Iya ..., silakan saja. Yang penting anak itu mau dan pantas, jangan sampai nanti sudah kamu beli, anaknya tidak mau. Malah sia-sia." begitu jawab Podin yang tentunya juga memberi pengertian kepada istrinya.
"Iya, Mas Podin ...." jawab Rina.
"Ya sudah .... Karena ini warung kita sudah habis-habisan, kita sementara tutup. Dan saya akan istirahat dulu. Besok pagi-pagi kita ke pasar pagi, kita belanja ditambah jumlahnya. Kita membeli kebutuhan-kebutuhan kita, untuk jumlah yang lebih banyak. Kita memenuhi permintaan-permintaan dari pelanggan kita, supaya mereka lebih bisa menikmati hidangan di warung kita ya, Rina .... Saya mau tidur dulu. Saya capek dan ngantuk." begitu kata Podin kepada istrinya, dan tentu langsung masuk ke kamar dan tidur.
"Iya, Mas. Terima kasih saran dan nasehatnya. Saya mau beres-beres warung dahulu, biar terlihat rapi dan tidak kotor." kata Rina yang kemudian langsung berbenah membereskan warungnya.
Saat Rina menengok ke depan rumah, kembali Rina melihat anak perempuan kecil dengan pakaian lusuh itu melintas di depan rumahnya. Spontan Rina langsung mengamati anak itu. Tetapi anak itu tidak berhenti. Seakan anak itu tidak menghiraukan Rina yang berberes di warungnya. Sepertinya anak itu tahu kalau warung makan Rina sudah habis-habisan, sudah tidak ada makanan lagi.
"Aneh .... Kenapa anak itu tidak berhenti? Apa ia tahu kalau di warung sudah tidak ada masakan?" gerutu Rina yang tentu merasa agak aneh dengan melintasnya anak perempuan kecil yang biasanya ia beri makanan tersebut.
__ADS_1