PULAU BERHALA

PULAU BERHALA
EPISODE 67: MELAHIRKAN


__ADS_3

    "Maya ...!! Maya ...!! Abang pulang ...!!" begitu kata Podin saat turun daru mobil yang sudah berhenti di depan rumahnya.


    Podin kemudian masuk ke teras rumahnya. Ia melihat garasinya tertutup. Tentu ia khawatir dengan Maya. Karena tidak mendengar jawaban dari istrinya, maka Podin mencoba membuka pintu rumahnya. Ternyata pintu depan rumahnya itu tidak dikunci. Maka Podin pun langsung masuk ke dalam rumah.


    "Maya .... Abang pulang ...!!" begitu kata Podin setelah masuk ke dalam rumah. Ia berteriak lagi di ruang tamu untuk memanggil istrinya.


    "Abang .... Tolong, Bang .... Perutku ini, Bang .... Sakit, Bang ...." terdengar suara rintihan Maya dari dalam kamar tidurnya. Dan begitu mendengar rintihan suara istrinya itu, Podin langsung menuju kamarnya. Dan kemudian, di atas tempat tidur itu, Podin melihat kalau Maya sedang bergeletakan di kamar, terlentang di tempat tidur, sambil memegangi perut, seolah Maya tidak sanggup untuk bangun, tidak sanggup untuk turun dari tempat tidur. Maya hanya bisa menggeletak begitu saja.


    "Waduh .... Maya .... Ada apa, Maya? Kamu kenapa, Maya?" begitu kata Podin yang menanya kepada istrinya,  karena khawatir kalau terjadi apa-apa pada Maya yang sudah tergeletak di tempat tidur itu, tanpa ada yang menemani.


    "Tolong, Bang Podin .... Bang Podin ..., kenapa Abang lama sekali tidak pulang? Perutku sudah sakit, Bang .... Bayi dalam perutku sudah mau keluar. Abang ..., tolong Maya, Abang ...." begitu rintih Maya yang tentu minta tolong kepada suaminya.


    "Ya ampun ..., Maya .... Ini benar, kamu mau melahirkan?" tanya Podin pada Maya.


    "Iya, Bang .... Ini memang sudah waktunya, Bang .... Menurut dokter perkiraan bayi kita akan lahir, kalau tidak hari ini, ya besok ..., Bang." kata Maya yang tentu ingin segera dibantu oleh suaminya yang baru datang itu.


    "Walah .... Berarti saya ini pas .... Pas datang, pas kamu mau melahirkan, Maya .... Ya ..., ya .... Ayo, Maya .... Saya antar ke Puskesmas. Maya melahirkan di sana, ya .... Maya saya anter ya .... Ayo ..., ayo bangun pelan-pelan, Maya .... Ayo kita ke Puskesmas." kata Podin yang mengajak istrinya untuk bergegas berangkat ke Puskesmas.


    "Iya, Bang .... Tapi sebelum kita berangkat, tolong tas itu, Bang .... Tas itu isi pakaian saya, untuk salin saya, untuk ganti saya. Ada handuk dan juga ada sabun serta sikat gigi .... Ya, itu dibawa, Bang ...." begitu kata Maya yang sambil menunjuk tas yang rupanya sudah disiaplan, ada di dekat lemari.


    Podin pun langsung mengambil tas itu. Kemudian langsung bergegas mengambil barang-barang kebutuhan, serta tas yang berisi pakaian, yang sudah disiapkan oleh Maya, yang ada di kamarnya dekat lemari itu. Kemudian tas yang berisi perlengkapan mondok di Puskesmas itu dibawa oleh Podin dan dimasukkan ke dalam mobilnya. Selanjutnya, Podin kembali ke kamar, untuk memapah istrinya turun dari tempat tidur, dan kemudian menuntunnya perlahan menuju ke mobil.


    "Ayo, Maya .... Pelan-pelan .... Kita berangkat ke Puskesmas." kata Podin yang membantu istrinya naik.


    "Iya, Bang .... Pelan-pelan ya, Bang .... Rasanya sakit sekali, Bang .... Tolong, Bang .... Aku nggak kuat, Bang .... Sakit, Bang ...." begitu rintih Maya yang tangan kirinya sambil memegang erat lengan Podin. Sedang tangan satunya memegangi bagian bawah perutnya. Mungkin ia khawatir kalau perutnya akan merojol dan bayinya keluar.


    Podin sangat hati-hati dan sabar. Baru kali ini hati Podin muncul kasih sayang yang teramat sangat, saat membantu istrinya yang akan melahirkan. Padahal dulu, zaman masih miskin, hidup bersama Isti, istrinya yang pertama, sampai melahirkan anak empat, Podin tidak urusan sama sekali. Semua yang menolong para tetangganya. Tapi kali ini, entah kenapa, tiba-tiba saja Podin sangat sayang dan perhatian, membantu secara baik pada Maya, istri sirinya yang akan melahirkan.


    Maya yang terlihat kesakitan dan susah untuk masuk ke mobil, istrinya dibantu untuk masuk ke dalam mobil. Memang Podin akan mengantarkan istrinya dengan menggunakan mobil jelek miliknya. Tetapi Podin lebih suka dengan mobilnya sendiri, itu katanya kokoh dan bandel.


    "Kok pakai mobil ini, Bang Podin? Tidak pakai mobil saya saja?" tanya Maya yang tentu inginnya pakai mobilnya, yang bagus dan tentunya lebih rendah, mudah untuk masuk dan duduk.

__ADS_1


    "Tidak apa-apa, Maya .... Mobil ini enak dan lebih kuat. Saya tidak biasa menyopir mobil bagus. Saya khawatir kalau nanti nyrempet atau lecet. Sayang mobilnya. Malah bisa tambah biaya mahal untuk memperbaiki mobil yang rusak." kata Podin pada istrinya, agar istrinya mau menerima kalau di ajak naik ke dalam mobilnya yang jelek itu. Tapi, walaupun sudah tua, mobil itu merupakan pegangan Podin dari pertama kali ia bisa menyetir kendaraan.


    "Iya ..., Bang .... Pelan-pelan ya, Bang .... Saya sudah tidak kuat, Bang .... Sudah sangat sakit sekali, Bang ...." begitu kata Maya yang berusaha naik ke mobilnya.


    Memang mobilnya Podin agak tinggi. Tetapi dengan dibantu oleh Podin, ditopang oleh suaminya, akhirnya Maya pun bisa duduk di kursi depan, tempat sebelahnya Podin nanti akan duduk menyetir. Setelah Maya bisa duduk dengan nyaman dan enak, Podin langsung menyalakan mobilnya, dan langsung berjalan menuju ke Puskesmas, tempat di mana Maya nanti akan melahirkan bayinya.


    "Bang ..., Bang Podin kok lama tidak pulang-pulang? Ke mana saja, Bang? Maya kangen sama Bang Podin." begitu kata Maya dalam perjalanan yang diantar oleh suaminya menuju ke Puskesmas.


    "Iya, Maya .... Saya kerja, saya cari uang." jawab Podin singkat. Tentu sambil konsentrasi menyetir mobilnya melintasi jalan-jalan sempit di perumahan. Maklum, Jakarta semuanya padat. Apalagi di perumahan, banyak warga kurang ajar yang parkir di jalan sembarangan. Tentu itu akan mengganggu orang yang lewat. Kalau mobilnya kesrempet, yang punya langsung mencak-mencak. Dasar rakyat tidak tahu sopan santun.


    "Uangnya mana, Bang?" tanya Maya pada suaminya. Meski dalam posisi seperti itu, kondisi perutnya mau meletus, Maya masih sempat menanyakan uang. Dasar perempuan mata duitan, yang dipikir, yang ada dalam angannya hanya uang ..., uang ..., dan uang.


    "Maya .... Kamu itu sekarang mau melahirkan .... Cobalah tidak usah tanya uang dulu .... Sekarang itu yang penting, Maya tahan perutnya ..., kuatkan sampai nanti kalau sudah sampai di Puskesmas, baru Maya bisa bicara. Ini Abang sedang konsentrasi menyetir, bawa kamu dalam kondisi kesakitan, jangan ditanyain uang melulu .... Baru datang sudah ditanyain uang." jawab Podin yang langsung menggerutu.


    Ya, tentunya memang sifat Maya seperti itu, yang selalu minta uang kepada Podin. Karena sejak awal, sejak pertama kali mengenal Podin, bertemu Podin, dan berpura-pura jatuh cinta kepada Podin, yang diharapkan dari Podin hanyalah uang. Maya ingin menggaet uang Podin, meski harus rela dinikah siri oleh laki-laki yang tidak ganteng itu. Yang penting uangnya.


    Dan setelah melintas beberapa gang sempit, dan juga melintas sedikit di jalan besar, akhirnya Podin sampai juga di Puskesmas, tempat yang akan digunakan untuk melahirkan Maya. Podin sudah melihatnya dan sudah hafal dengan Puskesmas itu, sejak pertama kali maya mengatakan dirinya hamil. Bahkan dulu sebenarnya Podin menghendaki agar istrinya periksa di Puskesmas itu saja. Tetapi Maya selalu mengatakan gengsi, mengatakan malu kalau diketahui oleh teman-temannya, tidak enak jika diketahui oleh kelompok sosialitanya. Katanya, kalau periksa kehamilan atau kesehatan di Puskesmas itu tempatnya orang miskin, yang kalau periksa harus pakai Jamkeskin, bukan tempatnya selebritis. Ya, itulah pendapat Maya yang selalu diperbudak oleh rasa Gengsi.


    "Iya, Bang .... Tolong, Bang ..., bantu Maya turun ...." sahut Maya yang akan turun.


    "Iya ..., sebentar .... Kamu tunggu dulu di situ. Abang akan minta bantuan pada pegawai Puskesmas yang berjaga." demikian kata Podin, yang kemudian langsung menemui orang yang berjaga di Puskesmas itu.


    Setelah Podin menyampaikan maksudnya, kalau istrinya akan melahirkan, kemudian orang yang berjaga itu pun membawa bed orang sakit, yang bisa didorong untuk membantu Maya saat turun dari mobil dan membawanya menuju ke ruang Puskesmas.


    "Ayo, Maya .... Pelan-pelan, turun dulu sebentar .... Terus Maya Rebahkan tubuhnya di atas bed ini. Nanti kami yang akan mendorong Maya masuk ke dalam ruang Puskesmas." kata Podin yang sudah bersama dengan petugas Puskesmas yang sudah menyiapkan bed yang bisa didorong itu.


    "Iya, Bang .... Sabar, Bang ..., pelan-pelan, Bang .... Perut saya sakit sekali, Bang." kata Maya yang dipapah oleh suaminya menuju ke bed pasien.


    Maya pun yang dibantu oleh Podin untuk turun dari kursi mobil, perlahan menuju bed yang sudah disediakan. Kemudian dibantu juga oleh Podin untuk merebahkan tubuhnya di atas bed pasien Puskesmas itu yang dipegangi oleh petugas Puskesmas. Dan selanjutnya, Maya sudah didorong masuk ke dalam ruang Puskesmas. Maya langsung ditangani oleh bidan Puskesmas yang kebetulan bertugas di sana, dan bidan itu pun memang khusus menangani orang-orang yang akan melahirkan, termasuk Maya yang sudah dua kali periksa ke Puskesmas itu. Dan tentunya, di tempat itu, bidan Puskesmas itu pun sudah tahu dengan kondisi Maya.


    Bidan dan perawat yang ada di situ langsung membawa masuk Maya ke dalam ruangan untuk melahirkan. Dalam Puskesmas atau rumah sakit maupun klinik, dikenal dengan istilah Ruang VK. Ya, Maya sudah dimasukkan ke dalam ruang kelahiran.

__ADS_1


    Podin tidak boleh masuk. Podin disuruh menunggu di luar. Katanya sebentar lagi bayi Maya akan keluar. Tetapi Podin tidak boleh melihatnya. Ya, Podin hanya bisa mendengar dari luar.


    Namun Podin tidak mau berada di depan ruang kelahiran itu. Podin justru keluar dari ruangan Puskesmas itu. Dia keluar untuk menghirup udara segar, untuk menghirup udara yang tidak berbau obat. Memang yang namanya di dalam ruangan berobat, di dalam ruangan Puskesmas atau pun rumah sakit, pasti baunya adalah bau obat.


    Podin kemudian pergi ke halaman Puskesmas. Dia mendekat ke arah mobilnya yang diparkir di depan Puskesmas. Lantas Podin menyandarkan tubuhnya pada mobil itu. Lalu ia mengambil rokok. Podin pun menyulut rokok. Kemudian menyedot asap rokok itu dalam-dalam. Pertanda Podin ingin menghilangkan penat yang ada di dalam pikiran dan perasaannya. Ya, memang sebenarnya Podin tidak begitu banyak merokok. Jarang merokok. Tetapi mungkin kali ini ia harus menghisap rokok itu, untuk menghilangkan rasa yang bingung, rasa yang menyusahkan, rasa yang menakutkan, rasa yang mengkhawatirkan.


    Sedotan rokok Podin sangat dalam, sehingga menghasilkan asap yang sangat banyak, saat asap rokok itu dilepaskan ke atas, ia tiupkan ke udara, kemudian terbawa naik ke atas. Lantas Podin pun mengamati kepulan asap rokoknya yang membumbung ke udara tersebut. Gumpalan asap rokok yang sangat tebal itu ia amati terus. Dan saat asap rokok itu habis, Podin terbelalak, ia menyaksikan bulan dari balik asap rokok yang semakin menipis itu. Ya, Podin langsung terperangah saat tiba-tiba ia melihat bulan yang sudah hampir penuh. Bilan yang sudah hampir bulat sempurna.


    Di saat matanya yang memandangi bulan itu, tiba-tiba saja Podin kembali teringat bulan purnama. Begitu mata Podin menyaksikan bulan yang ada di atas kepalanya itu, seketika itu pula Podin teringat pada malam bulan purnama. Ya, sekitar lima hari lagi, bulan purnama akan muncul. Malam yang seharusnya ia datang membawa bayi itu, bayi yang dilahirkan oleh Maya untuk dibawa ke Pulau Berhala, untuk diserahkan dan dipersembahkan kepada Sang Penguasa Pulau Berhala.


    Podin menjatuhkan rokoknya ke tanah. Kemudian puntung rokok itu diinjak dengan ujung sandalnya. Podin tersenyum. Podin bahagia. Mata Podin kembali berbinar. Ya, sebentar lagi, di malam bulan purnama, ia akan membawa bayi itu, bayi yang dilahirkan oleh Maya, ke istana Pulau Berhala. Itulah janjinya kepada Maya, ia akan memberikan uang yang banyak. akan memberikan perhiasan dengan jenis aneka rupa, akan memberikan emas dan intan permata kepada Maya. Tentunya dengan menyerahkan bayi yang pernah diminta oleh Podin, bayi yang sebentar lagi akan dilahirkan oleh Maya.


    Kini, Podin mulai gusar dengan keluarnya bayi yang akan dilahirkan oleh Maya. Podin menunggu keluarnya bayi itu, bayi yang sebentar lagi akan keluar dari perut Maya, bayi yang tentunya sangat diharapkan oleh Podin, karena dalam waktu sebentar lagi, dalam masa beberapa hari lagi, Podin harus datang ke Pulau Berhala, untuk mempersembahkan bayi itu pada tengah malam bulan purnama.


    Memang, Podin sudah berjanji kepada Maya, pada saat Podin memaksa Maya hamil, memaksa Maya untuk melahirkan anak, dan anak itu akan ditukarkan dengan uang dan harta benda kepada sang raja. Mereka akan menyerahkan bayi yang dilahirkannya itu kepada sang raja, yang katanya akan diganti dengan harta kekayaan dalam jumlah yang banyak. Dan tentunya, Maya, perempuan mata duitan, wanita matre itu sangat tergiur dengan kata-kata suaminya. Maya akan sangat senang melihat uang dalam jumlah yang banyak, memiliki harta kekayaan yang berlimpah, punya emas yang menggunung, melihat perhiasan, intan permata, yang tidak terhitung jumlahnya. Ya, pemberian sang raja yang pasti sangat kaya raya, sang raja yang pasti murah hati dan baik kepadanya. Jika kata-kata Podin itu benar, pasti nanti Maya akan ketagihan untuk hamil, akan senang melahirkan anak, dan anak-anaknya akan diserahkan kepada sang raja kenalan suaminya itu untuk ditukar dengan harta kekayaan serta kemewahan.


    Podin melangkan mondar-mandir, ke kanan, ke kiri, maju, mundur. Bahkan juga mengelilingi mobilnya yang diparkir di halaman Puskesmas tersebut. Saking gelisahnya menanti kelahiran bayi Maya. Ya, Podin sangay penasaran. Podin sangat gelisah. Ia ingin segera tahu keadaan bayi yang akan dilahirkan oleh istrinya itu. Bahkan beberapa kali Podin mendekat ke ruang melahirkan, tempat di mana istrinya sedang dibantu oleh bidan dan perawat. Podin mondar-mandir di depan ruang VK, yang di dalamnya ada Maya, ada bidan, dan ada perawat yang sedang membantu proses persalinan istrinya. Beberapa kali Podin menempelkan telinganya di pintu ruang melahirkan tersebut. Tentunya Podin ingin mendengar apa yang terjadi di dalam ruang utu.


    "Aduh .... Aduh .... Aduh .... Aduh, sakit .... Sakit sekali ....!" begitu suara Maya yang didengar oleh Podin dari balik pintu, sedang merintih kesakitan.


    "Sabar .... Tarik napas .... Dorong ..... Tarik napas lagi ..... Dorong yang kuat ...." suara bidan yang membantunya memberi aba-aba kepada Maya.


    Podin yang berada di balik pintu, merasa sangat gelisah mendengar proses persalinan itu. Baru kali ini ia menunggui orang melahirkan. Tentunya jantungnya berdebar cemas. Bukannya memikirkan Maya, tetapi justru yang penting adalah keselamatan anaknya.


    "Ooaerrrr .......! Oe .......!"


    Hingga akhirnya, terdengar suara tangis bayi dari dalam ruang kelahiran itu. Tangisan bayi itu adalah pertanda kalau bayi itu sudah keluar dari berut ibunya.


    Podin lega mendengar suara tangis bayi itu. Podin merasa plong. Dan tentunya Podin senang karena bayi itu pastinya selamat, bayi yang barusan dilahirkan oleh maya sudah keluar dan hidup.


    Podin senang. Podin gembira. Podin bahagia. Karena sebentar lagi, dalam waktu beberapa hari lagi, ia kembali menjadi orang kaya. Podin akan memenuhi janjinya, memberikan harta kekayaan yang berlimpah kepada Maya. Pasti Maya akan senang bisa hidup bergelimang harta.

__ADS_1


__ADS_2