PULAU BERHALA

PULAU BERHALA
EPISODE 125: PETI YANG HILANG


__ADS_3

    Setelah keluar dari penjara, keluar dari rumah tahanan sementara yang ada di Polsek, Podin bersama dengan para warga kembali ke rumahnya. Tentunya para warga meminta maaf kepada Podin dan langsung membawa pulang Podin dengan mengendarai sepeda motor yang beriring-iringan, berbonceng-boncengan, di arak orang banyak. Ya, karena saat orang-orang tadi menjemput, banyak warga yang ikut. Dan tentunya karena agak dekat, maka mereka cukup beriring-iringan dengan saling berboncengan naik kendaraan bermotor.


    "Terima kasih, Pak RT .... Terima kasih, Pak RW ..., sudah membantu saya, sudah mengeluarkan saya dari penjara." kata Podin yang menyalami Pak RT dan Pak RW. Tentunya ia merasa girang, karena merasa sudah bebas, sudah dikeluarkan dari penjara, sudah dibantu oleh Pak RT dan Pak RW, dan juga warga yang ikut mengiringnya beramai-ramai.


    "Sama-sama, Pak Podin .... Saya dan seluruh warga kampung ini, juga minta maaf kepada Pak Podin .... Kami semua sudah keliru, sudah bersalah dengan Pak Podin. Dan tentunya, sekali lagi kami semua minta maaf. Ini bukan kesengajaan, tetapi hanya karena salah sangka saja. Orang yang belum kenal Pak Podin menyangka Pak Podin itu maling. Mohon dimaafkan, Pak Podin." kata Pak RW yang mewakili para warga yang ikut berdiri di jalan depan rumah Podin, mengantar Podin pulang ke rumahnya. Dan tentunya, Pak RW juga menyampaikan maaf karena warga sudah keliru menangkap dirinya. Bahkan sudah mengeroyok.


    "Sama-sama, Pak RT, Pak RW, dan para warga semuanya .... Saya juga minta maaf. Terus terang, sebenarnya saya itu akan masuk rumah, tetapi karena rumah terkunci, dan saya tidak membawa kunci, saya tidak bisa masuk, terpaksa saya membuka paksa jendela itu. Dan saya masuk lewat jendela. Mohon dimaafkan saya juga." kata Podin kepada orang-orang yang masih mengerubung di depan rumahnya.


    "Lah ..., Pak Podin .... Kalau cuman kunci rumah itu, yang bawa itu saya. Kunci rumah itu dititipkan ke saya oleh Mpok Rina .... Karena Mpok Rina waktu pulang ke kampung, dia memang memesan ke saya, kalau misalnya ada yang mau beli rumah itu, biar bisa melihat ke dalam, kuncinya yang bawa saya, Pak Podin. Ini kuncinya saya kantongi." kata laki-laki yang tentunya dulu sudah pernah dititipin kunci untuk menjualkan rumah itu.


    "Wah, sudah terlanjur, Pak ...." kata Podin yang tentu terlanjur menyesal.


    "Yah ..., sudah nggak apa-apa .... Ini jadi pengalaman buat kami. Ya, nanti setidaknya saya juga akan menanyakan kepada warga lebih dulu, kalau misalnya terjadi hal-hal seperti ini lagi, kita lebih waspada dan hati-hati ...." kata Pak RW.


    "Iya, Pak RW ...." kata Podin yang kemudian menerima kunci dari orang yang membawanya itu, yang dulu pernah dititipi oleh istrinya.


    "Memangnya, Pak Podin itu mau apa, kok masuk ke rumah ini lagi? Katanya rumah ini, sama Mpok Rina mau dijual? Makanya kuncinya dititipkan saya." kata laki-laki itu, dan tentunya juga diperhatikan oleh warga yang masih mengerubungi Podin.


    "Saya itu mau mengambil pakaian, Pak .... Pakaian saya yang tertinggal, pakaian yang paling bersejarah, pakaian yang paling mempunyai kenangan tentang diri saya. Makanya saya mau mengambilnya untuk saya bawa balik ke Jakarta." kata Podin kepada orang-orang yang memperhatikan dirinya. Mereka masih saja mengerubungi Podin.


    "Wah ..., ya sudah .... Kalau gitu diambil saja. Mungkin masih ada. Barang-barangnya masih utuh. Saya juga nggak pernah masuk rumah itu. Ya maklum saya kan dari pagi sampai sore bekerja di pabrik, dan tidak tahu kalau kemarin pagi itu Pak Podin dipukuli warga. Saya sudah berangkat kerja di pabrik." kata laki-laki itu.

__ADS_1


    Akhirnya, Podin pun akan masuk ke rumah. Podin mulai membuka pintu pagar, yang tentunya juga dibantu oleh para warga. Maklum kondisi Podin tentunya dalam keadaan babak belur. Bahkan tidak hanya wajahnya yang hancur, tetapi bahkan juga tangan dan kakinya yang memar dan penuh luka.


    "Pak Podin, kamu kan babak belur .... kaki dan tangannya juga sakit ..., sini, kami bantu membukakan pintu." kata salah seorang yang kemudian membantu membukakan pintu. Ya, memang Podin yang memar-memar di seluruh tubuhnya, tentu mengalami rasa sakit yang tidak karu-karuan, karena dipukuli oleh para tetangganya sendiri, yang mengira dia sebagai seorang pencuri.


    Lantas pintu itu sudah dibuka, dan Podin pun masuk. Orang-orang pun juga banyak yang mengikuti masuk. Kemudian Podin mencoba membuka pintu rumahnya. Dan ternyata juga gampang untuk membukanya. Lantas Podin pun masuk rumah itu. Demikian juga beberapa orang tetangganya, ikut masuk ke dalam rumah Podin. Bahkan ada tetangganya yang membantu membetulkan jendela yang kemarin sempat dicongkel oleh Podin. Dan jendela itu pun akhirnya dipaku supaya tertutup, supaya tidak ada orang yang masuk ke rumah itu lagi.


    Memang, barang-barang di rumah itu tinggal barang-barang yang tidak berharga. Paling hanya kursi dan kasur serta lemari pakaian saja. Sedangkan barang-barang elektronik dan barang berharga lainnya sudah dibawa oleh Rina, untuk dibawa pulang ke kampungnya. Ya, waktu Rina pulang kampung, memang dia menyewa truk untuk mengusung barang-barang berharganya. Termasuk barang-barang yang ada di dapur tempat ia berjualan di warung makan. Seperti kulkas, freezer, kompor dan barang lain yang mudah dibawa, semuanya sudah diangkut dan dibawa pulang ke kampungnya.


    Podin langsung menuju kamar. Ia tolah-toleh, tentu ia mencari sesuatu. Ya, Podin mencari barang yang sudah diincar saat dia datang ke kampung itu, jauh-jauh dari Jakarta. Podin rela datang ke kampungnya untuk menengok rumah yang kini sudah kosong, sudah ditinggalkan oleh istrinya. Podin yang sudah masuk ke kamarnya, dan tentu ia berpura-pura membuka lemari. Podin berpura-pura mencari baju yang ada di lemari pakaian. Pastinya Podin tidak langsung menengok ke kolong bawah tempat tidur, karena masih banyak tetangganya yang mengikuti dia. Dan pastinya Podin juga akan merahasiakan barang yang dicarinya itu.


    Lantas Podin hanya menurunkan dua potong baju. Ya hem lengan panjang yang memang masih kelihatan sangat bagus dan bahkan mungkin masih baru. Hem lengan panjang yang berwarna putih, dan satu lagi berwarna biru muda. Memang baju itu terlihat sangat bagus. Maka para tetangganya pun langsung percaya kalau Podin datang ke rumah itu dengan alasan akan mengambil bajunya, itu meyakinkan para tetangganya.


    Selanjutnya, Podin meletakkan baju yang diambilnya dari lemari itu di atas tempat tidur. Kemudian ia pura-pura merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Tentunya Podin berpura-pura kecapaian. Podin berpura-pura mengantuk,  dan Podin berpura-pura semua tubuhnya terasa sakit dan pegal.


    "Uya, betul begitu, Pak Podin .... Istirahat saja dulu." sahut yang lainnya, ikut menasehati.


    "Betul, Pak Podin .... Pak Podin pastu ngantuk dan capek .... Apalagi Pak Pudin juga sakit seperti itu, tubuhnya memar semua. Obatnya diminum, terus Pak Podin tidur dulu. Jangan pulang dulu .... Nanti malah nyopirnya tidak konsentrasi." kata Pak RW yang memberi nasehat kepada Podin.


    "Terima kasih, Pak RT, Pak RW, Bapak-bapak semuanya .... Memang saya rencananya mau tidur dulu .... Saya mau istirahat dulu .... Tubuh saya sakit semua, badan saya pegal semua, dan saya juga ngantuk .... Karena semalam di tahanan saya tidak bisa tidur. Di ruang tahanan saya juga dipukuli oleh orang yang ada di sana. Saya dihajar, dikeroyok dua orang tahanan di sana .... Saya tidak berani membalas. Saya hanya pasrah dan diam .... Hanya bisa merasakan kesakitan ...." begitu kata Podin yang tentu menceritakan keadaannya di rumah sakit.


    "Wah ..., memang betul begitu, Pak Podin? Jadi ada pukul-memukul di dalam penjara?" tanya orang-orang yang mendengar cerita Podin.

__ADS_1


    "Iya .... Tapi saya tidak berani melawan ...." jawab Podin.


    "Ya, sudah .... Obatnya diminum .... Terus buat istirahat." kata yang lainnya.


    Dan tentunya, orang-orang pun merasa kasihan kepada Podin. Mereka langsung menyuruh Podin untuk tidur, untuk istirahat lebih dahulu di rumahnya sendiri.


    "Ya, sudah .... Sana, Bang Podin tidur .... Istirahat ...." kata yang lainnya.


    "Iya, Pak Podin .... Buat tidur dulu ya, Pak .... Biar cepet sembuh .... Biar segera sehat .... Biar tidak ngantuk saat nyetir ...." sahut yang lainnya.


    "Bener, Pak Podin .... Jangan sampai nanti nyetirnya tidak konsentrasi." yang lain nambahi.


    "Wah, kok malah ngobrol terus .... Ayo pulang .... Biar Pak Podin istirahat." kata Pak RW yang mengajak pulang warganya.


    "Kalau begitu, kami pulang dulu, Pak Podin .... Silakan Pak Podin istirahat." kata orang-orang yang berpamitan pulang.


    "Iya ..., iya ..., Pak .... Terima kasih semuanya ..., Bapak-bapak, Mas, Bang, Om .... Terima kasih sudah membantu saya, sudah mengeluarkan saya dari penjara. Terima kasih semuanya." kata Podin yang tentu sambil menyalami orang-orang yang pada berpamitan akan pulang.


    Dan akhirnya, para warga, para tetangga Podin, orang-orang yang tadi berduyun-duyun menjemput Podin, bahkan ikut mengantarkan ke Puskesmas, ikut mengantarkan Podin berobat, dan kemudian juga mengantar kembali ke rumahnya, kini semuanya sudah pada pulang. Dan hanya tinggal Podin sendirian. Podin lega. Podin tenang. Podin merasa nyaman, walaupun tubuhnya masih terasa sakit semua, walaupun tubuhnya hancur remuk berantakan, dan tentu ia merasa senang, karena apa yang disandiwarakan sudah selesai. Orang-orang pun sudah pada pulang meninggalkan Podin seorang diri di dalam kamar. Dan tujuan Podin, sebentar lagi akan tercapai. Yaitu mengambil dua peti harta karun miliknya, yang pernah ia bawa dari Pulau Berhala.


    Serta merta Podin berjongkok di pinggir tempat tidurnya. Ia langsung melongok ke kolong tempat tidur. Ia ingin melihat kembali peti harta karun yang dulu ia sembunyikan di tempat itu. Dan ia akan mengambilnya, membawanya ke Jakarta, untuk mengeluarkan tuyul, dan meminta agar tuyul-tuyulnya nanti menghasilkan banyak uang bagi Podin.

__ADS_1


    Namun, betapa bingungnya Podin. Betapa kecewanya ia. Berkali-kali ia mengamati kolong tempat tidur itu, ternyata barang yang ia cari, barang yang ia dambakan, barang yang sangat ia harap, dua buah peti yang ia sembunyikan di dalam kolong itu sudah tidak ada.


    Lemas sekujur tubuh Podin. Sudah wajahnya babak belur, tubuhnya remuk, kini jiwanya ikut melayang. Hancur gara-gara peti itu sudah kabur. Hilang entah ke mana. Podin benar-benar terpukul dengan hilangnya peti itu.


__ADS_2