PULAU BERHALA

PULAU BERHALA
EPISODE 91: MENANYAKAN BAYI


__ADS_3

    Pagi itu, saat akan berangkat kerja di tempat pembuatan desain interior eksterior, Bang Kohar sengaja mampir ke toko Lesti. Bang Kohar pura-pura akan beli kebutuhan sehari-hari. Ya, Bang Kohar membeli rokok dan kopi. Katanya untuk menghilangkan kantuk, sebagai penghilang suntuk dan dan katanta untuk mencari inspirasi.


    "Mau beli apa, Bang Kohar ...?" tanya Lesti yang tentu harus ramah kepada pembeli, apalagi yang sudah menjadi pelanggan.


    "Biasa, Teh Lesti .... Beli rokok ..., sama kopi ...." jawab Bang Kohar.


    "Wah, cocok itu .... Minum kopi sambil menghisap rokok .... Menikmati hidup ya, Bang Kohar ...." sahut Lesti yang tentu sambil tersenyum.


    "Ya ..., jaga-jaga kalau ngantuk .... Minum kopi sebagai teman kerja agar tidak ngantuk, Teh Lesti .... Ini suami Teh Lesti, Pak Podin mah, ke mana, Teh?" tanya Bang Kohar kepada Lesti saat membayar barang belanjaannya.


    "Sedang cari oleh-oleh, Bang Kohar .... Rencananya mau ke Jakarta, Bang Kohar, untuk urusan bisnisnya yang ada di Jakarta. Maklum kami ini kurang modal .... Uang kami sudah habis .... Makanya ini Akang Podin rencananya akan ke Jakarta, setidaknya mau pinjam uang dari usahanya yang ada di Jakarta, Bang Kohar." begitu jawab Lesti pada Bang Kohar.


    "Oh ..., jadi Pak Podin itu punya usaha di Jakarta juga ya, Teh Lesti?" tanya Bang Kohar pada Lesti, yang tentu terkaget kagum.


    "Betul ..., Bang Kohar .... Dulu sebelum dapet istri saya, Akang Podin itu usahanya ada di Jakarta. Waktu kemarin sempat kebakaran, saya diajak ke sana untuk melihat usahanya. Makanya, Akang Podin terus meminta saya untuk buka usaha toko sembako di Padalarang ini .... Setidaknya saya punya usaha di sini, bisa untuk tambah-tambah memenuhi kebutuhan hidup. Bisa untuk makan sehari-hari, Bang Kohar ...." begitu jawab Lesti yang tentunya menjelaskan kalau usahanya itu setidaknya bisa dipakai untuk menyambung kebutuhan hidup sehari-hari dan juga sebagai penopang usaha Podin yang ada di Jakarta.


    "Kalau boleh tahu, Teh Lesti .... Itu Pak Podin punya usaha apa di Jakarta?" tanya Bang Kohar yang tentunya penasaran karena ia ingin tahu usaha yang dikelola oleh Podin.


    "Tempat karaoke, Bang Kohar .... Untuk hiburan, begitu .... Gedungnya mah, besar pisan .... Gedungnya tinggi. Kata orang-orang di sana, kata karyawannya itu mah, rame pisan, Bang Kohar." kata Lesti yang menjelaskan kepada Bang Kohar.

__ADS_1


    "Seperti itu, ya ...? Wah, Pak Podin itu memang benar-benar seorang pengusaha yang sukses .... Bisa buka usaha di sana sini." begitu kata Bang Kohar yang tentunya sembari memuji kehebatan suami Lesti tersebut.


    "Ya, seperti itulah, Bang Kohar ..., yang namanya hidup pasti harus usaha .... Kalau tidak punya usaha seperti ini, saya mungkin sudah tidak punya tempat tinggal lagi, Bang Kohar." kata Lesti pada Bang Kohar, setengah mengeluh.


    "Lhah ..., memang kenapa tidak bisa punya tempat tinggal, Teh Lesti?" tanya Bang Kohar.


    "Iya, Bang Kohar .... Rumah kami yang dulu, untuk tempat tinggal kami, diminta oleh adik saya, si Joni .... Saya mah, disuruh mengalah sama Kang Podin .... Terus Ibu sama Bapak, ikut kami bawa kemari, tinggal bersama kami. Makanya, tempat ini untuk toko dan rumah .... Di sini kami tinggal berempat, Bapak, Ibu, saya dan Akang Podin .... Sekalian sebagai tempat tinggal dan tempat usaha." begitu jawab Lesti pada Bang Kohar yang menjelaskan juga kalau tempat usahanya itu juga dijadikan sebagai tempat tinggal, karena mereka sudah tidak punya rumah lagi, setelah warisannya diminta olehadiknya.


    "Oh ..., seperti itu .... Maaf, Teh Lesti, apakah Teh Lesti sudah punya anak?" tanya Bang Kohar yang mulai penasaran dengan bayi yang semalam muncul dari dalam peti harta karun yang kemarin hari dibelinya dari Lesti.


    "Kebetulan saya belum dikaruniai anak, Bang Kohar .... Doakan saya ya, Bang Kohar ..., agar kami cepat punya anak ...." kata Lesti sambil menunduk sedih, yang tentu juga pengen punya anak, ketika ia mendengar ditanya oleh Bang Kohar tentang anak.


    "Iya, Teh Lesti .... Semoga saja Teh Lesti cepat-cepat dikaruniai seorang anak." jawab Bang Kohar yang juga ikut-ikutan hilang senyumnya.


    "Terima kasih, Bang Kohar ...." jawab Lesti senang.


    "Saya doakan agar Teh Lesti cepat punya anak. Bapak Podin biar senang. Kakek neneknya bisa gendong cucu ...." kata Bang Kohar yang memberi semangat pada Lesti. Namun sebenarnya, Bang Kohar mulai kecewa, tentu karena tidak bisa menemukan jawaban, bayi siapa yang keluar dari dalam peti harta karun yang dimilikinya itu.


    "Terima kasih, Bang Kohar .... Saya mah, juga begitu .... Berdoa pengen segera punya anak. Semoga saja saya juga dikaruniai keturunan, Bang Kohar .... Karena katanya, kalau wanita tidak punya keturunan itu malu-maluin. Dibilang mandul ...." begitu jawab Lesti yang tentu dia juga banyak mendengar omongan orang, kalau wanita yang tidak punya anak itu pasti menanggung beban moral tersendiri, dan biasanya oleh para saudara atau tetangganya dikatakan sebagai wanita mandul, tidak punya harga diri, dan tidak punya arti, karena tidak punya keturunan.

__ADS_1


    "Terima kasih, Teh Lesti .... Saya mau berangkat kerja." kata Bang Kohar yang sudah membayar dan berpamitan berangkat kerja.


    "Mangga ..., Bang Kohar .... Semoga Bang Kohar juga sukses dalam hidupnya, dalam karirnya, dalam pekerjaannya ...." kata Lesti yang kemudian memandang laki-laki yang melangkah pergi meninggalkan warung dengan jalan yang gontai itu. Tentu karena apa yang diharapkan untuk menanyai asal-usul peti itu bakalan pupus tanpa hasil.


    Sore hari, setelah pulang dari kerja, kembali Bang Kohar mengamati peti harta karun yang masih saja ia gosok-gosok dengan tangan secara lembut, seakan Bang Kohar merasakan bahwa peti itu ibarat seperti bayi yang semalam ia sudah menyaksikan makhluk yang menghuni di dalam peti itu, dan Bang Kohar seakan sedang mengelus-elus tubuh sang bayi itu.


    Tentunya Bang Kohar merasa kasihan dengan bayi yang saat ia lihat sedang menangis, yang seakan kehausan ingin meminta air susu ibu. Bang Kohar yakin, pasti bayi ini mengalami penderitaan, bayi ini mengalami kesengsaraan. Mungkin saja bayi ini tidak sempat ******* air susu ibunya. Kemungkinan juga bayi itu sudah menjadi korban tindak kekerasan dari ibunya sendiri.


    Bang Kohar mulai berpikiran yang negatif. Mungkin saja bayi itu sengaja dibuang oleh orang tuanya. Mungkin karena kehadirannya tidak diharapkan oleh orang tuanya. Bisa jadi karena bayi itu lahir di luar nikah, atau mungkin laki-laki yang menghamili perempuan yang melahirkan itu tidak mau bertanggung jawab dan tidak mengakui bayinya. Mungkin ibunya, yang tidak bisa menerima kenyataan kehadiran si bayi itu, langsung membuang bayi itu. Bisa jadi, peti itulah yang digunakan untuk membuang bayi yang tidak diharapkan itu. Ya, peti yang bagus itu digunakan untuk meletakkan bayinya, agar orang yang melihatnya tertarik dan langsung mengambil peti itu.


    Tetapi Bang Kohar masih merenung, siapa sebenarnya yang punya bayi itu, siapa sebenarnya yang sudah memasukkan bayi itu ke dalam peti tersebut? Bang Kohar juga ingin tahu, apakah peti itu memang digunakan secara sengaja untuk membuang bayi tersebut, apakah bayi itu hidup atau mati? Jika bayi itu sudah mati, lantas di mana jasad yang asli dari bayi itu? Jika memang dikubur, di manakah kuburan bayi itu berada?


    Bang Kohar juga mulai berpikir, apakah mungkin jasad bayi itu dikuburkan dengan wajar? Ataukah bayi itu justru hilang dari peti itu karena dimakan oleh binatang buas? Tetapi mengapa peti itu muncul arwah bayi? Kalau memang peti itu tadinya terisi orok yang dibunuh oleh orang tuanya, bayi yang sengaja dibuang oleh orang tuanya, pastinya arwah itu menjadi penasaran. Dan biasanya, arwah gentayangan seperti itu pasti akan mencari sasaran orang yang mau memelihara atau merawatnya. Jika ketemu orang yang baik, mungkin akan dicari jasadnya dan jika ketemu akan dikuburkan secara layak. Tetapi jika ketemu orang tamak, dia pasti akan memanfaatkan arwah gentayangan itu dijadikan tuyul. Tuyul itu akan disuruh mencari uang untuk menumpuk harta kekayaan.


    Namun masih ada pertanyaan yang mengganjal di benak Bang Kohar, bagaimana peti itu bisa jatuh ke tangan Pak Podin? Bagaimana peti itu bisa disimpan oleh Pak Podin?


    Maka sebenarnya, Bang Kohar punya keinginan untuk ketemu langsung dengan Podin, yang tentunya ingin menanyakan asal usul peti antik yang kini menjadi miliknya itu. Dan pastinya, Bang Kohar ingin tahu siapa sebenarnya pemilik peti itu.


    Namun sayang, Podin sudah akan berangkat ke Jakarta. Dan pastinya, Podin sekarang keadaannya sedang sibuk, karena Podin, seperti yang diceritakan oleh Lesti kepada Bang Kohar, punya usaha di Jakarta. Dan tentunya Podin yang akan mengurusi anak buahnya dan pasti mengecek usahanya yang ada di Jakarta, kini sedang sibuk-sibuknya untuk menyiapkan apa-apa yang akan dibawa ke Jakarta. Apalagi, Podin adalah pemimpin perusahaan, sekaligus pemilik tempat usaha itu, pastinya Podin tidak sekedar menjenguh anak buahnya, tetapi juga akan mengurusi macam-macam.

__ADS_1


    Bang Kohar harus sabar menunggu kembalinya Podin dari Jakarta. Dan jika seorang bos perusahaan mengontrol tempat usahanya, pastinya tidak cukup sehari dua hari. Bisa jadi berhari-hari.


    "Yah .... Harus sabar untuk bisa ketemu Pak Podin ...." gumam Bang Kohar sambil mengelus-elus peti antiknya itu. Peti harta karun seperti milik Alibaba.


__ADS_2