
Entah berapa lama Podin pingsan di ruang tengah villanya, tentu tidak ada orang yang tahu, dan tentu tidak ada orang yang bakalan membantu atau menolongnya. Walaupun ibarat kata sampai Podin meninggal pun, pastinya tidak ada orang yang mengetahuinya. Ya, karena memang villa itu berada di tengah-tengah tanaman yang lebat, seperti layaknya tinggal di tengah hutan, jauh dari perkampungan, dan kalaupun berteriak tidak ada tetangga yang mendengar satu pun. Itulah akibat dari rumah yang jauh dari tetangga, rumah yang jauh dari penduduk lainnya, rumah yang hanya menyendiri seperti halnya rumah yang berada di tengah hutan sendirian.
Hingga matahari sudah tinggi, Podin baru sadar, Podin baru bangun. Ya, mungkin saja Podin pingsan, kemudian berlanjut menjadi tidur yang nyenyak. Oleh sebab itulah, Podin kini tidak merasakan ngantuk lagi, tidak merasakan capek, tidak merasakan sakit maupun lelah. Seperti halnya Podin baru saja bangun dari tidur yang sangat nyenyak. Seakan Podin bisa menikmati tidurnya. Dan yang ia rasakan kini adalah lapar. Ya, tentunya karena hari memang sudah siang, matahari sudah beranjak separoh langit, tentu Podin yang dari semalam pingsan, dan kini setelah ia sadar dengan perut yang kosong, perutnya itu langsung keroncongan. Podin pun harus segera mengisi perutnya itu.
Ya, Podin membiarkan begitu saja peti-peti yang masih ada di tengah ruang villanya. Podin tidak mengurusi peti yang sudah membuatnya pingsan itu, peti yang ternyata berisi arwah anaknya itu, peti yang ternyata adalah kiriman dari utusan penguasa Pulau Berhala itu, yang tentunya mengingatkan Podin pada nasib anaknya yang terlindas truk dan kehilangan kepalanya itu. Ia membiarkannya peti itu tetap pada tempat pemujaannya, dan meninggalkan begitu saja. Tentu karena saking laparnya.
Podin langsung ke kamar mandi, tentu ia harus kencing dan cuci muka. Selanjutnya Podin pergi keluar untuk mencari makan. Podin memilih warung makan yang paling dekat dengan tempat tinggalnya. Podin sudah malas untuk berjalan jauh, dia agak malas untuk memilih-milih warung, yang tentu membutuhkan langkah kaki yang lebih banyak. Padahal perutnya sudah perih saking laparnya. Maka ia pun begitu keluar dari gang jalan tempat tinggalnya itu, saat sampai di tepi jalan raya, dan kebetulan di pojok gang itu memang ada warung makan, Podin langsung membelokkan diri dan masuk ke warung makan di pojokan itu.
Tentu karena hari sudah siang, orang-orang sudah mulai pada mencari makan siang. Dan tentunya, banyak orang yang sudah masuk ke warung itu, banyak orang yang sudah harus mengisi amunisi perutnya, banyak orang yang makan di warung itu. Dan pastinya, warung itu lumayan ramai. Makanya, Podin pun harus sabar untuk bisa dilayani oleh pemilik warung itu.
"Bapak ..., mau makan apa?" tanya perempuan muda, pelayan warung itu kepada Podin.
"Nasi sama orek tempe, lauknya ayam goreng." jawab Podin yang tentunya sambil menunjuk ke arah tempat panci-panci dagangan dan piring yang berisi ayam goreng.
"Minumnya apa, Pak?" tanya sang pelayan itu lagi kepada Podin.
"Jeruk hangat, manis." jawab Podin yang kemudian duduk di kursi yang agak senggang.
Memang, setiap jam makan siang, warung itu ramai oleh pengunjung, ramai oleh orang-orang yang akan makan siang. Tentu warung itu sudah penuh dengan orang yang makan, orang yang mengisi perutnya yang sudah lapar. Memang setelah beberapa kali Podin mencoba makan di beberapa warung makan di sekitar situm warung inilah yang rasa masakannya enak, dan harganya juga tidak terlalu mahal. Menunya pun komplit. Ada macam-macam pilihan menu, dan tentu bagi seorang pembeli yang melihat banyak menu, dia akan lebih suka karena semuanya tersedia di warung makan itu. Seperti halnya waktu Podin membuka usaha warung makan bersama Rina, istrinya yang ketiga, semua menu ada di warung makannya, makanya warungnya laris.
"Rumahnya mana, Pak?" tiba-tiba ada seorang laki-laki yang duduk di hadapannya, dengan jaket lusuh, sebagai pertanda bahwa dia penduduk daerah sekitar situ, yang bertanya kepada Podin. Ya, penduduk asli daerah Cisarua memang banyak mengenakan jaket, untuk melindungi badannya dari sengatan matahari yang sebenarnya tidak terasa karena uadara dingin. Tetapi kalau tidak dilindungi dengan jaket, tubuhnya bisa gosong terbakar matahari.
"Iya ..., saya warga baru, tinggal di sana itu ..., di villa yang ada di tengah itu. Dari jalan ini terus masuk ke ujung, lewat jalan pribadi." jawab Podin sambil menunjukkan arah-arahnya dengan telunjuk tangannya.
"Oh ..., baru ya, Pak ...?" sahut yang ada di sebelahnya.
"Sudah berapa hari tinggal di situ?" tanya orang yang ada di sebelahnya lagi, yang tentunya dia paham dengan villa yang ditunjukkan oleh Podin, karena mereka adalah penduduk asli di situ.
"Iya ..., betul. Saya baru beberapa hari tinggal di situ. Tapi sudah beberapa kali makan di warung ini." jawab Podin sambil tersenyum.
"Sendirian ...?!" tanya orang itu lagi dengan wajah meragukan.
__ADS_1
"Iya, betul .... Saya sendirian. Ya, maklum .... Saya sudah tidak punya istri, dan juga tidak ada anak." jawab Podin yang tentu sambil berekspresi agak memelas.
"Waduh, kasihan, Bapak ini .... Memang istri Bapak ke mana?" tanya orang itu lagi kepada Podin, dan pastinya beberapa orang yang ada di situ juga ikut memandangi Podin.
"Ya ..., namanya hidup .... Kadang suka, kadang susah. Saat kami susah, mungkin istri saya tidak betah. Istri saya ikut orang lain, ikut laki-laki lain yang kaya dan bisa membahagiakan." jawab Podin semakin memelas. Pastinya ia mengisahkan Lesti, yang terpikat dengan laki-laki kaya.
"Wah ..., kasihan, Bapak ini .... Memang perempuan suka begitu, Pak. Kalau lihat laki-laki kaya, langsung ngiler." kata laki-laki sebaya Podin yang duduk di depannya.
"Eeh ....! Saya tidak, ya ...!" perempuan penjual makanan itu tiba-tiba protes.
"Kok ..., tidak cari lagi, Pak? Apa tidak kesepian?" tiba-tiba ada seorang perempuan separuh baya yang nimbrung ikut bicara di situ. Kelihatannya orang itu juga penduduk situ, karena dilihat dari pakaiannya yang biasa saja dan mengenakan jaket lusuh juga, pastilah dia bukan pelancong. Kalau orang yang berpiknik, sudah terlihat dari pakaiannya yang bagus dan kelihatan baru.
"Saya masih trauma." kata Podin yang sok suci.
"Kamu, mau ...?!" seloroh yang lain, yang pastinya menggoda perempuan itu.
"Iiih .... Cuman nanya ...!" perempuan itu langsung mencubit laki-laki yang menggodanya.
"Itu villa Bapak?" tanya perempuan itu lagi, yang habis mencubit temannya.
"Punyanya bos perusahaan saya ...." jawab Podin berbohong, takut kalau perempuan itu langsung nempel, dan pastinya juga takut kalau dimintai sumbangan oleh warga.
"Maaf, Pak ..., kalau boleh tahu ..., Bapak tinggal di situ sendirian tidak takut?" tiba-tiba juga ada orang lain yang ikut menimbrung bicara, laki-laki agak muda yang langsung memandang Podin dengan penuh tanda tanya.
"Takut ...?! Emang kenapa ...?!" sahut Podin yang tentu tidak merasa curiga apapun dengan pertanyaan-pertanyaan mereka.
"Ya ampun ..., Pak .... Villa itu dulu pernah dipakai untuk pembunuhan .... Makanya, villa itu terus lama tidak ditempati. Sempat pernah ada garis polisi. Sekarang bapak berani menempati seorang diri ...?! Hiii .... Kalau saya takut, Pak .... Warga sisi saja tidak ada yang berani mendekat ke tempat itu." kata orang itu, yang tentu langsung menunjukkan ekspresi ketakutan.
"Memang, betul begitu?" tanya Podin pada orang-orang yang ada di warung itu, tentu Podin mulai menunjukkan perubahan wajah.
"Pak ..., kami warga kampung sini asli .... Kami penduduk asli sini. Makanya kami tahu sejarahnya villa itu." kata orang-orang yang ingin menyatakan bahwa memang villa itu dulu pernah digunakan untuk pembunuhan, yang akhirnya villa itu terus tidak ditempati. Dan tentunya oleh pemiliknya, bila bisa dijual maka villa itu akan dijual saja. Dan tentunya Podin yang kala itu membelinya dengan harga murah, tidak pernah menyangka sama sekali kalau di villa itu sudah pernah terjadi pembunuhan. Pantas saja villa itu dijual dengan harga yang sangat murah.
__ADS_1
"Eeh ..., sudah .... Jangan bicara seperti itu. Kasihan si Bapak ini .... Dia tinggal di situ sendirian, nanti malah tidak betah. Jangan menakut-nakuti." kata perempuan penjual di warung makan itu, yang tentunya tidak ingin kehilangan pelanggan kalau sampai ditakut-takuti dan Podin pergi meninggalkan villa itu.
"Ya ..., semoga saja Bapak tidak kenapa-kenapa .... Yang yakin saja, tidak ada apa-apa di sana .... Semoga saja Bapak aman, tentram, nyaman, dan damai tinggal di villa itu." begitu sahut yang lain, yang tentunya juga tidak ingin melanjutkan cerita buruk tentang villa yang kini ditempati oleh Podin itu.
Akhirnya, Podin menikmati makanannya, dan tentunya perutnya sudah kenyang. Lantas setelah membayar makanan, ia pun balik pulang, kembali ke villanya. Ya, dengan berjalan santai, Podin sambil melihat kanan kiri. Dan tentunya, Podin juga ingat dengan kata-kata dari orang-orang lain yang makan bersama-sama dengan dirinya itu, yang menceritakan kisah tentang villa itu. Namun bagi Podin, tentunya itu bukan masalah, kalau hanya sekedar cerita tentang pembunuhan di villanya. Jika pun villa itu pernah dijadikan tempat pembunuhan, Podin tidak takut. Podin tidak gentar. Bahkan bagi Podin, sudah terlalu sering untuk bercumbu dengan arwah-arwah gentayangan. Podin bahkan juga sering menghadapi hantu-hantu seperti itu. Sering melihat kenyataan di alam lain yang sering tidak masuk akal, bahkan Podin juga sering mengalami hal seperti itu sendiri. Apalagi ketika ia masih sering pergi ke Pulau Berhala, bukan hanya sekedar hantu, tetapi tubuh-tubuh manusia tanpa kepala yang bergelimpangan dan ditumpuk-tumpuk bagaikan bata pada bangunan istana Pulau Berhala, kepala-kepala tanpa tubuh yang bergelindingan ditata di jalanan, ibarat batu makadam yang diinjak-injak oleh orang yang masuk ke Pulau Berhala. Apalagi hanya sekedar villa yang pernah dijadikan tempat pembunuhan, Podin tidak bakalan miris, tidak bakalan merasa takut sama sekali.
Dan setelah sampai di vuillanya, Podin langsung mengamati bangunan itu. Mengamati ruangan-ruangannya, mengamati bangunan yang bagus itu. Podin juga memperkirakan, seperti apa kira-kira kasus pembunuhan yang terjadi di tempat itu? Podin kembali berfikir, mengapa orang-orang pada takut dengan cerita-cerita seperti itu? Mengapa orang-orang pada gentar dengan berita tentang tempat yang dijadikan pembunuhan? Padahal itu adalah hal biasa. Padahal tempat itu tidak ada apa-apanya. Mayatnya sudah tidak ada di situ. Orang yang meninggal dibunuh juga sudah tidak ada di situ. Bahkan mungkin kuburan dari orang yang dibunuh itu sangat jauh dari keberadaan villa ini. Padahal villa itu sangat bagus. Dan di sekitarnya tidak ada kuburan. Di situ tidak ada tempat yang digunakan untuk mengubur mayat yang dibunuh. Tetapi kenapa mereka masih takut? Kenapa mereka masih menyingkiri, menjauhi tempat yang hanya diceritakan sebagai tempat pembunuhan?
Bagi Podin, itu semua adalah keberuntungan. Bagi Podin yang tidak mau rugi, tidak mau membayar mahal villa seperti itu, kalau ada yang murah kenapa tidak mau? Kalau villa itu dijual dengan harga sangat murah, kenapa dia tidak membelinya? Itulah sebabnya, maka Podin yang berniat memang ingin menyendiri, Podin yang berniat ingin menjauh dari keramaian orang, Podin yang berniat ingin punya rumah yang jauh dari tetangga, jauh dari penduduk, maka cerita horor yang ditakuti orang seperti itu, justru menjadi keberuntungan baginya. Ya, dengan cerita-cerita horor seperti itu, pastinya orang-orang kampung justru tidak ada yang berani datang ke villa itu, orang-orang kampung justru tidak ada yang berani mengusik keberadaan Podin. Dan tentunya, orang-orang kampung tidak ada yang berani menginjakkan kakinya ke villa itu karena mereka ketakutan dengan cerita mistis tentang villa yang digunakan untuk pembunuhan itu.
Namun, malam itu ternyata beda. Saat Podin pulang dari makan malam, saat ia melintas di jalan makadam yang masuk menuju villanya, tiba-tiba saja ada sesosok bayangan hitam berkelebat melintas di atas kepalanya. Tentu Podin kaget. Apa itu tadi yang seakan mau menyambar dirinya?
Podin berhenti sejenak. Ia mengamati sekelilingnya. Matanya berkeliling mengamati dahan-dahan dan pepohonan yang ada di sekitarnya. Tidak terlihat apa-apa. Podin pun kembali melangkah melintasi jalan milik pribadinya itu.
Namun, lagi-lagi Podin terkaget. Baru selangkah kakinya menjangkah, tiba-tiba saja, bayangan hitam itu kembali melintas di atas kepalanya. Dan kali ini, bayangan hitam itu sangat rendahm bahkan hampir saja menatap wajah Podin.
Mata Podin pun langsung mengikuti arah bayangan hitam yang hampir menabraknya itu. Dan bayangan hitam itu sudah bertengger di dahan pohon yang ada di samping kiri villanya. Anehnya, bayangan yang tadi akan menyambar itu berwarna hitam, kini setelah bertengger di dahan, berubah menjadi seorang perempuan yang mengenakan pakaian semacam longdress berwarna putih.
"Kqiqiqikkikqi ....! Kqiqiqikkikqi ....!!" perempuan itu mengkikik tertawa menakutkan, seakan mau menakut-takuti Podin. Dan pastinya, kain putih seperti gaun itu melambai-lambai seperti tertiup angin.
Podin yang sedianya ditakuti, malah mendekat. Podin melangkah menuju pohon yang diduduki oleh perempuan aneh itu.
"Apa ini yang namanya kuntil anak?" tanya Podin dalam hati. Tentunya baru kali ini Podin bertemu dengan makhluk perempuan liar itu.
"Hai, perempuan ...!! Turun ...!!!" bentak Podin pada hantu gentayangan yang menakutinya itu.
Namun, rupanya hantu itu tidak mau turun. Tetapi terjun dari atas dahan yang lumayan tinggi, dan langsung melayang, yang seakan mau menyambar Podin.
Podin kaget. Podin membungkukkan badannya, menghindari sambaran kuntil anak itu. Namun, hantu perempuan itu sudah menghilang dari pandangan Podin.
Mungkinkah ini perempuan yang menjadi korban pembunuhan di villa itu? Seperti yang tadi siang sudah diceritakan banyak orang di warung makan? Kenapa hantu perempuan itu menemui Podin? Apakah ia akan meminta tolong kepada Podin? Ataukah hanya sekedar menakut-takuti Podin? Lantas, kemana perginya hantu perempuan yang mengenakan gaun putih tadi?
__ADS_1