
Tangan-tangan perkasa yang telah mengangkat kapal yang ditumpangi oleh Podin itu, memunculkan gelombang besar yang menyapu kapal itu, lantas tangan-tangan misterius itu mengombang-ambingkan kapal itu. Tangan-tangan yang menempel pada bahu kapal itu tidak menyeret masuk ke dalam air, ternyata tidak menelan kapal itu ke dalam air, tidak membawa kapal itu masuk ke dalam lautan. Tetapi tangan-tangan misterius itu itu seakan mengembang-ambingkan kapal, menaikkan, kemudian dibanting turun, lantas menaikkan kembali dan membanting kapal itu lagi. Namun kapal itu tidak sampai hancur, kapal itu masih utuh, dan bahkan dua orang yang menumpang di kapal itu tidak terjatuh. Kedua penumpangnya tidak jatuh dan masuk ke dalam air laut.
Lantas, tiba-tiba saja tangan-tangan misterius yang diikuti dengan gelombang tinggi itu kemudian melemparkan kapal itu ke sana kemari, sehingga dua orang itu merasa pusing, dua orang itu merasa ketakutan. Dan akhirnya, saat matahari akan tenggelam di bumi bagian barat, dan saat matahari akan bersembunyi di balik alam, yang nanti sebentar lagi akan berubah menjadi gelap, Podin dan orang yang mengendarai kapal itu, mereka dilempar jauh tinggi, dan dihempaskan oleh gelombang yang sangat besar. Kapal itu seakan dilemparkan dari tengah laut dan terbang melayang hingga jatuh tepat ada di tengah Pulau Berhala.
"Bruokgh....!!! "
Kapal itu jatuh di atas tumpukan mayat-mayat yang hanya berupa tubuh manusia tanpa kepala.
Podin yang masih mampu untuk berpegangan pada kapal itu, dia sanggup untuk tidak terlepas dari badan kapal. Maka Podin masih bisa menguasai dirinya, dan masih tetap berada di dalam kapal, meski tubuhnya sempat terhantam galangan kapal itu.
Namun si tukang kapal itu, yang tidak siap untuk mengalami bencana ini, ia tidak berpegangan, karena harus mengendalikan motor pada kapalnya. Dan saat terjatuh, ia pun terlempar keluar dari kapalnya. Tetapi tubuh si tukang kapal itu jatuh tepat berada di depan tumpukan mayat manusia-manusia tanpa kepala itu. Dan tentunya tubuhnya sudah membentur dinding yang terbuat dari timbunan tumbuh-tubuh tanpa kepala yang bergelimpangan itu. Tukang kapal itu pun langsung kaget, langsung ketakutan, langsung gemetaran, karena menyaksikan banyaknya tubuh manusia tanpa ada kepalanya, yang tentunya sudah menjadi mayat. Dan akhirnya, dia pun jatuh pingsan.
Sementara itu, bagi Podin yang memang sudah mempunyai pikiran untuk masuk ke Pulau Berhala itu, Podin yang sudah mempunyai pikiran serakah, dia justru merasa senang saat melihat kapal itu jatuh di depan pintu istana Pulau Berhala. Ya, pintu istana yang pernah ia saksikan, yang terbuat dari tumpukan tubuh-tubuh manusia tanpa ada kepalanya, tubuh-tubuh yang ditumpuk di kanan dan di kiri, seakan menjadi sebuah pintu masuk ke dalam istana. Tentu Podin merasa senang, karena kapal yang jatuh itu berada dekat dengan gerbang istana Pulau Berhala, yang nantinya dia pasti akan mudah untuk memasukkan peti-peti yang berisi harta karun itu, dan langsung menaruhnya di atas kapal tersebut. Ya. ini sebuah kebetulan, atau mungkin memang ini yang dilakukan oleh tangan-tangan yang melemparkan kapal tersebut, sehingga memudahkan Podin nantinya untuk mengangkut harta karun sebanyak-banyaknya.
Podin memang beruntung. Kapal besar yang dilemparkan oleh tangan-tangan misterius itu sudah tepat berada di depan pintu istana. Tentunya Podin merasa senang, karena mendapat kesempatan untuk mengambil harta kekayaan sebanyak-banyaknya yang bisa dia masukkan ke dalam kapal besar itu. Ia tidak usah menyeret terlalu jauh lagi, peti-peti yang tentu sangat berat untuk membawanya. Maka kini, ketika nanti ia mengeluarkan dari altar istana, dengan cepat dan mudah akan langsung masuk ke dalam kapal.
"Di mana tukang kapal tadi ...? Walah ..., pingsan ...." gumam Podin saat mencari tukang kapal yang mengantarkannya. Dan tentu Podin tersenyum sinis saat melihat tukang kapal itu pingsan di bawah tumpukan mayat yang bergelimpangan tanpa kepala.
Podin langsung melangkah masuk ke dalam istana itu, tanpa menghiraukan si tukang kapal yang masih tergeletak pingsan. Tentu Podin berkeinginan akan segera mengambil seluruh harta kekayaan yang ada di dalam istana itu. Namun tiba-tiba saja, saat Podin akan melangkah memasuki pintu istana, ada kepala ular yang menjulur dan menggantung tepat di lubang yang akan dilewati Podin.
Podin kaget. Podin terhenti. Podin takut. Seekor ular raksasa yang menghalangi pintu itu. Podin langsung terjingkat dan melompat mundur. Tentunya Podin sangat ketakutan, karena ular raksasa itu sudah menjulurkan lidahnya dan membuka mulutnya, sehingga terlihat taringnya yang besar panjang dan runcing, siap akan menerkam orang yang ada di depannya.
Ya, akhirnya Podin harus mundur. Namun karena Podin tidak bisa melihat ke belakang, ia terjengkang hingga terjatuh. Dan kepala ular itu sudah turun mendekati tubuh Podin. Tangan Podin berusaha merayap mundur, untuk menghindari moncong ular raksasa itu yang sudah semakin dekat dengan tubuhnya. Podin terus merangkak mundur, semampu mungkin berusaha untuk ke belakang, menjauh dari ular itu. Podin sangat ketakutan karena kepala ular itu, mulut ular yang menganga itu, gigi-gigi ular yang menyeringai itu sudah semakin dekat kepadanya. Ular itu sudah mendesis dan siap memangsa tubuh Podin.
Namun, saat dirasa dirinya sudah bisa bangkit, Podin yang ketakutan itu langsung berdiri dan tentu saja melarikan diri menghindari gigitan ular yang sudah mendekat ke tubuhnya.
Tetapi rupanya, Podin tidak sadar, bahwa ular raksasa yang besarnya sama dengan batang pohon kelapa itu, tubuhnya panjang, yang melingkar di tengah Pulau Berhala tersebut. Maka ketika Podin berusaha untuk melarikan diri, tiba-tiba saja ekor ular yang ada di belakang tubuh Podin langsung menghantam tubuhnya. Podin kembali terjatuh. Podin tidak bisa apa-apa saat dihantam oleh ekor ular raksasa itu. Podin hanya bisa pasrah, jika saja dirinya, kalau dirinya itu akan dimakan oleh ular raksasa tersebut. Podin sudah tak berdaya. Podin sudah tidak sanggup bergerak. Podin hanya bisa mengatakan meminta ampun.
"Ampun ..., ampun ..., ampun ...." begitu kata-kata Podin meminta ampun, sambil kedua tangannya menyembah ular yang sudah ada di depannya itu dan siap untuk memangsanya.
" Hai ..., manusia serakah ...!! Sungguh berani kamu memasuki Pulau Berhala ini tanpa seizin penjaga pulau ini .... Kamu tidak mengindahkan aturan yang ada di pulau ini. Kamu sudah melanggar tatanan pulau ini. Berani sekali kamu mengusik ketenangan dan ketentraman pulau ini. Hai manusia serakah ...!! Mau apa kau sebenarnya??!!" begitu tiba-tiba terdengar suara menggelegar dari mulut ular yang ada di depannya itu.
__ADS_1
Podin yang tadinya sudah pasrah ketakutan karena merasa sudah akan diterkam oleh ular itu, tiba-tiba saja dia pun kembali punya harapan. Dia langsung bisa berpikir kembali untuk mengiba kepada ulare itu. Podin yakin bahwa ular itu adalah ular yang menjaga Pulau Berhala ini. Podin juga yakin bahwa ular itu akan membantunya, bahkan akan memberikan harta karun yang dimintanya.
"Maafkan saya, ular raksasa ...." kata Podin terbata-bata karena masih takut.
"Panggil aku Sang Penunggu ...!!" kata ular itu yang menyebutkan kalau dirinya adalah Sang Penunggu.
"Iya, Sang Penunggu .... Maafkan saya .... Saya datang kemari memohon belas kasihan .... Saya butuh harta benda yang ada di dalam istana itu .... Saya ingin mendapatkan harta kekayaan dari istana Pulau Berhala ini." kata Podin yang masih diselimuti rasa ketakutan, karena mulut ular itu masih saja menjulur-julurkan lidahnya hendak memangsa dirinya.
"Huahahaha ....!!! Tidak semudah itu untuk mendapatkan harta kekayaan dari tanah Pulau Berhala ini. Kamu harus melakukan persembahan-persembahan untuk mendapatkan harta kekayaan itu. Kamu harus memberikan sesaji untuk mengambil harta kekayaan di sini. Untuk mendapatkan harta kekayaan itu, harus ada gantinya sebagai persembahannya. Kamu harus mempersembahkan pengorbanan yang akan diminta oleh para penunggu Pulau Berhala ini ..... Huahahaha .....!!!" begitu kata ular itu yang suaranya menggema memekakkan telinga Podin.
Mendengar kata-kata dari ular raksasa itu, tentunya Podin justru ingin tahu, apa sebenarnya yang dikehendaki oleh sang penjaga pulau berhala ini? Bahkan ia ingin tahu dan ingin ketemu siapa sebenarnya yang menjadi penguasa Pulau Berhala ini? Ya, Podin penasaran dan ingin bertemu dan meminta segala harta kekayaan yang ada di pulau itu kepada Sang Penguasa Pulau Berhala.
"Persembahan ...? Bagaimanakah caranya supaya kami bisa mendapatkan harta kekayaan itu?" tanya Podin kepada ular Sang Penjaga yang sudah berhadapan dengannya itu. Dan tentu lidahnya yang bercabang dua itu menjulur seakan mau menjilat tubuh Podin. Dan saat mulutnya yang menganga itu menjulurkan lidahnya, air liur pun menetes dari mulutnya. Sangat menjijikkan.
"Hahaha ....! Serahkan dulu dan persembahan kepala anak-anakmu kepada penguasa Pulau Berhala, sehingga kamu dapat meminta apa yang kamu mau. Dan kamu pun bisa membawa apa yang kamu inginkan dari Pulau Berhala ini. Ya .... Persembahan itu bisa kamu lakukan pada malam bulan purnama. Saat malam bulan purnama nanti tiba, saat sinar bulan itu penuh, berada tepat di atas Pulau Berhala ini, datanglah kemari, dan kamu harus mempersembahkan kepala dari anak-anak yang kamu sayangi. Anak-anak yang kamu cintai itu harus kamu persembahkan untuk penguasa Pulau Berhala ini .... Huahahaha ....!!!" begitu suara yang didengar oleh Podin, saat ia dipesan oleh ular raksasa itu.
Begitu mendengarkan apa yang diminta oleh ular Sang Penjaga itu, Podin pun mulai berpikir untuk mempersembahkan kepala anak-anaknya yang masih kecil-kecil, anak-anaknya yang ia cintai. Namun tentunya. Podin juga berkeinginan untuk tetap mendapatkan harta kekayaan itu. Podin berkeinginan untuk tetap membawa pulang peti-peti harta karun yang ada di dalam istana itu.
Namun saat mendengar syarat yang harus dia penuhi, yaitu harus mempersembahkan kepala anak-anaknya yang ia cintai, tentu hal itu akan menjadi berat. Hal itu akan menjadi beban bagi dirinya. Tentu Podin akan berpikir untuk mengorbankan anak-anaknya sendiri. Maka dalam keraguannya itu, Podin mulai mundur lagi dari hadapan ular raksasa itu. Ia melangkahkan kakinya ke belakang. Podin mulai ragu-ragu untuk memilih apa yang harus dilakukan. Antara mengambil harta kekayaan itu dan mengorbankan kepala anak-anaknya untuk dipersembahkan kepada berhala-berhala yang ada di pulau itu, atau pulang hampa tanpa membawa apa-apa.
Podin baru menyadari, bahwa sebenarnya dirinya sudah bersekongkol dengan para berhala. Podin sebenarnya sudah meminta harta kekayaan yang diberikan oleh para berhala. Dan tentunya Podin sudah mengorbankan satu anak kesayangannya, yaitu Eko, anak laki-lakinya yang paling besar. Tanpa ia sadari kepala anaknya itu sudah diangkut oleh iblis menjaga Pulau Berhala tersebut. Ya, Eko yang terlindas truk, kepalanya hilang tidak diketemukan. Bahkan Podin juga sadar kalau tubuh anaknya yang hilang dari dalam peti, hilang dari dalam kuburan itu, pasti juga diangkut oleh ponggawa-ponggawa penguasa Pulau Berhala.
Podin mulai berpikir kembali, akankah ia siap mengambil harta karun yang ada di dalam istana Pulau Berhala itu dengan cara mengorbankan anak-anaknya? Ataukah ia harus lari sekencang mungkin, untuk menghindari patukan ular raksasa itu, dan meninggalkan pulau itu untuk menyelamatkan diri?
Dan di saat itu, Podin teringat bahwa dia pernah membawa dua peti harta karun keluar dari istana itu. Peti-peti yang sudah diseret dan akan dibawa keluar dari pulau itu, namun karena tukang perahu waktu itu mengatakan kalau perahunya tidak bisa membawa harta karun yang terlalu berat, maka peti yang sudah diseret oleh Podin itu ditinggal di pantai. Ya, Podin teringat, bahwa peti-peti itu sudah dibawanya hingga ke tepi pantai. Maka ia pun bangkit berdiri. Podin ingin mencoba mencari peti-peti yang sudah dibawanya keluar, dan sudah dibawanya hingga sampai di tepi pantai.
Tanpa memikirkan ular raksasa itu lagi, tanpa melihat ular raksasa itu lagi, Podin pun langsung berlari kembali meninggalkan ular itu, berlari pergi menuju ke pantai, di mana ia pernah diantar dan dijemput oleh tukang perahu yang menjadi suruhan dari penjaga Pulau Berhala. Podin langsung berniat akan menuju ke tempat itu.
Namun tiba-tiba saja ekor ular itu kembali menyabet tubuh Podin. Bahkan kali ini sabetan ekor ular itu lebih kencang dan lebih keras. Akibatnya, Podin pun terhempas dan jatuh di atas timbunan mayat-mayat tanpa kepala itu. Namun yang namanya niat sudah sangat kuat, Podin tidak memperdulikan lagi di mana ia berada, Ia tetap berusaha berlari menjauhi ular itu. Ia tidak melawan ekor ular yang sudah memukul tubuhnya itu, tetapi ia bangun kembali dan berlari meninggalkan ular raksasa itu.
Namun, lagi-lagi, ekor ular raksasa itu kembali memukul tubuh Podin. Ia kembali terjatuh. Dan kali ini, ia membentur dinding dari timbunan mayat-mayat tanpa kepala. Podin terjatuh di atas tumpukan manusia-manusia yang dijadikan pagar istana itu. Ya. pagar istana yang terbuat dari tumpukan mayat manusia tanpa kepala. Seperti mayat hidup, tangan dari mayat tanpa kepala itu langsung bergerak akan menangkap tubuh Podin yang terjatuh menimpanya. Tentu, ketika Podin terjatuh di atas timbunan tubuh-tubuh tanpa kepala itu, zombi-zombi yang dijadikan pagar, pasti tubuh-tubuh itu berteriak kesakitan. Maka tangan-tangan yang ada di tubuh itu berusaha untuk memukul, berusaha untuk menampar, berusaha untuk mendorong tubuh Podin yang menimpanya.
__ADS_1
Merasa dirinya akan diraih oleh tangan-tangan yang gerayangan tanpa bisa melihat itu, Podin pun bergegas menggerakkan tubuhnya, menghindari tangan-tangan yang akan menangkapnya. Dengan rasa ketakutan, Podin berusaha untuk keluar dari tumpukan mayat-mayat hidup tanpa kepala itu. Lantas Podin berusaha untuk keluar Kembali, dan berlari menuju jalanan yang akan mengantarkannya ke tepi pantai dari Pulau Berhala tersebut.
Namun, lagi-lagi, saat tubuh Podin sudah bisa bangkit, saat Podin sudah berusaha untuk berlari, tiba-tiba saja ular itu kembali menyapukan ekornya dan kembali mengenai tubuh Podin. Akibatnya, kali ini Podin terlempar jauh dan jatuh di tengah jalanan, tempat ia akan berjalan itu. Namun aneh, jalanan yang biasanya dilalui oleh Podin itu sangat halus, ternyata kali ini jalanan itu bergelombang. Ya, seperti jalanan yang dipasangi dengan batu-batu macadam. Seperti jalanan yang ditimbuni batu-batu. Namun saat Podin berusaha bangkit dari tempat jatuhnya itu, matanya terbelalak, Podin kaget, ternyata jalanan itu dipenuhi bukan oleh batu-batu yang sebesar butiran buah kelapa, tetapi ternyata yang tertata di jalanan itu adalah kepala-kepala manusia. Ya, jalanan itu dipenuhi kepala-kepala manusia yang tanpa tubuh. Potongan kepala-kepala yang tertata secara rapi, potongan kepala-kepala manusia yang ditata hingga membentuk sebuah jalan.
Tentu Podin sangat kaget dan ketakutan. Bahkan Podin berusaha untuk menghindar. Bahkan ia berusaha untuk pergi dari jalanan itu. Ya, kepala-kepala itu menampakkan wajahnya dengan mata terbelalak, dengan wajah sangarnya yang menyeramkan, bahkan mulutnya pun meringis menampakkan gigi-ginya. Dan tentunya, kepala-kepala yang kejatuhan tubuh Podin itu, yang terinjak kaki Podin itu, langsung membuka mulutnya akan memangsa orang yang menginjak-injak dirinya.
Podin ketakutan. Podin ingin segera berlari meninggalkan tempat itu. Namun tentunya, ketika ia melangkah, tetap saja kakinya menginjak kepala-kepala yang tertata di jalanan tersebut. Menakutkan sekali, karena semua kepala-kepala itu terlihat garang, terlihat sangar, terlihat akan memakan orang-orang yang menginjaknya. Dan giginya yang tajam-tajam, giginya yang terlihat menyeringai, bahkan giginya yang sudah terlihat siap untuk memangsa orang yang menginjak kepalanya itu, seakan menempatkan Podin di jalan neraka manusia.
Podin yang sudah sangat ketakutan itu, ia langsung menginjakkan kakinya dan berlari sekuat tenaga. Tentu Podin menginjak-injak kepala-kepala yang sudah siap menggigitnya. Hingga akhirnya, Podin pun bisa menghindari semua kepala-kepala yang ia injak-injak. Tidak perduli. Biar saja kepala itu kesakitan. Yang penting dirinya bisa keluar. Yang penting dirinya bisa selamat. Yang penting ia bisa berlari dari ancaman kepala-kepala manusia tanpa tubuh itu.
Akhirnya, Podin pun bisa menyelamatkan diri, bisa menghindari kepala-kepala yang tertata menggelinding di jalanan itu. Dan kini, Podin sudah berada di tepi pantai yang biasa ia gunakan untuk datang dan pergi, tempat yang biasa digunakan untuk merapatkan perahu oleh tukang perahu yang menjadi suruhan penjaga Pulau Berhala itu. Dan tiba-tiba saja, saat Podin sampai di tepi pantai itu, ternyata di tempat itu sudah berdiri tukang perahu yang berada di atas perahu kecilnya, yang biasa ditumpangi oleh Podin.
"Mau pulang, Pak ...?" begitu tanya si tukang perahu itu, yang kembali diamati oleh Podin, memang tukang perahu itu adalah manusia tanpa kepala. Ya, di bagian leher atasnya saja yang ditutup dengan caping keropak yang sangat lebar, sehingga tidak kelihatan kalau ia sebenarnya tidak mempunyai kepala. Benar, tukang perahu itu hanyalah tubuh manusia tanpa kepala. Tetapi dia bisa menjadi tukang perahu, tentunya ia adalah ponggawa dari Pulau Berhala, yang disuruh mengantar dan menjemput tamu-tamu yang akan datang dan masuk ke Pulau Berhala.
Tanpa pikir panjang, karena rasa ketakutannya, maka Podin pun langsung menuju ke perahu itu.
"Iya .... Tunggu sebentar ...." kata Podin yang tentu akan bersiap untuk berlari menghindari kejaran amarah dari kepala-kepala tanpa tubuh itu, yang telah ia injak-injak.
Namun sesaat sudah ditunggu oleh penarik perahu yang akan mengantarnya itu, Podin masih menengok ke kanan dan ke kiri. Podin masih melihat ke sana kemari. Tentunya dia mencari peti yang pernah ia seret, dan tentunya dia ingin membawa kembali salah satu peti yang sudah ia bawa sampai ke pinggir pantai itu. Tetapi, Podin tidak melihatnya peti-peti itu lagi. Podin merasa kehilangan benda-benda yang pernah ia seret. Ia kehilangan benda yang pernah ia bawa ke pantai itu. Dua buah peti yang pernah diseretnya, ternyata sudah tidak ada di tempat itu lagi.
"Apakah sudah ada orang yang datang ke sini dan mengambil-peti-peti yang dulu saya seret sampai ke tempat ini?" begitu gumam Podin yang kehilangan barangnya. Peti-peti yang ia cari-cari memang benar-benar sudah tidak ada lagi di tempat itu.
"Ayo, Pak .... Cepat .... Hari sudah mau berganti ...!" begitu kata tukang perahu itu menyuruh Podin untuk segera naik ke atas perahunya.
Namun, lagi-lagi, Podin yang masih tengok-tengok ke kanan dan ke kiri, berusaha untuk mencari peti itu, tetap saja tidak menemukannya.
Tukang perahu itu yang rupanya sudah bersiap untuk menjalankan perahunya. Dia pun sudah mendorong galah yang ada di tangannya. Lantas perahu itu seakan sudah mau berjalan ke tengah laut.
Begitu melihat perahu itu sudah akan berjalan, maka Podin pun langsung berlari dan meloncat ke dalam perahu itu. Beruntung bisa sampai masuk ke dalam perahu tersebut. Beruntung Podin masih selamat. Dia tidak tercebur ke dalam laut.
Dan akhirnya, hanya dua atau tiga kali dorongan galah yang dipegang oleh tukang perahu itu, ternyata perahu kecil itu pun sudah sampai di tepi pantai, tempat biasanya Podin naik dan turun. Dari atas perahu itu pun, Podin melompat turun. Podin sudah sampai di seberang. Podin sudah sampai di pantai, di mana dulu ia selalu naik dan turun perahu dari tempat itu.
__ADS_1
Podin masih berdiri di atas batu yang ada di tepi pantai itu. Podin masih termangu memandangi pulau itu. Bahkan dia juga kecewa, bahkan dia juga merasa kehilangan benda-benda yang pernah ia bawanya. Tentu itu sangat mengecewakannya.
Di pantai itu, Podin memandangi perahu kecil yang tadi sudah mengantarkannya, dan kembali ke Pulau Berhala. Namun tanpa disadari oleh Podin, perahu itu sudah hilang begitu saja.