
Podin merasa kasihan melihat istrinya yang sudah pontang-panting mengurus usahanya yang ada di Jakarta, dan kini harus mengurus juga usaha toko sembakonya yang di Parung. Ketika diminta oleh istrinya untuk membuka toko sembako di Parung, sebenarnya Podin yang hanya bisa melihat bagaimana toko itu berjalan dengan lancar, Podin yang hanya bisa menonton dua orang yang membantu istrinya meladeni para pembeli, Podin yang hanya bisa menyaksikan istrinya sibuk mengurusi tokonya, Podin hanya sanggup bilang bahwa itu adalah tokonya. Tahu hal itu, menyaksikan istrinya yang repot, dan tentu juga kecapaian, Podin tentu merasa bahwa dirinya harus bertanggung jawab, manakala istrinya pontang-panting sendirian tidak ada orang yang membantunya. Apalagi saat ini, untuk mengisi barang-barang dagangan di toko itu, tentu istrinya harus berpikir keras agar dagangannya bisa cepat berputar, bisa digunakan lagi untuk berbelanja, dan bisa memenuhi barang-barang yang dibutuhkan oleh masyarakat, memenuhi barang-barang yang selalu ditanyakan oleh para pembeli yang masuk ke tokonya, namun kenyataan barang itu belum ada di tokonya.
"Pah ..., dagangan kita ini ternyata masih banyak yang kurang .... Masih banyak barang dagangan yang ditanyakan oleh para pelanggan, tetapi kita belum memiliki. Yah, kita belum bisa berbelanja. Ternyata usaha dagang itu tidak gampang .... Usaha berjualan itu ternyata butuh pemikiran ekstra. Setidaknya untuk mengadakan barang sebanyak ini, kita harus benar-benar memutar otak, menjual barang yang laris, kemudian membeli barang lagi. Ternyata berdagang itu tidak hanya sekedar jual beli. Kita juga harus memikirkan barang-barang yang paling cepat laku harus distok banyak, dan barang-barang yang belum ada tetapi selalu ditanyakan oleh para pembeli juga harus segera diadakan." begitu kata Cik Melan pada suaminya, yang tentunya ia juga memberikan gambaran tentang bagaimana sulitnya membuka usaha toko, bagaimana sulitnya orang berjualan.
Namun begitu, kenyataannya, Cik Melan tidak pernah mengeluh dengan keuangan. Cik Melan tidak pernah menuntut tentang barang-barang yang belum ada. Cik Melan tidak pernah memaksa suaminya untuk menambah modal modal usaha. Semuanya itu sebenarnya, Cik Melan ingin mengajari suaminya berwira usaha, agar pikirannya tidak bengong. Maklum, selama ini yang dikhawatirkan oleh Cik Melan adalah Jika Podin tidak punya toko atau kegiatan usaha, suaminya itu diam di rumah saja, pasti para perempuan kampung akan banyak yang menggoda.
"Iya ..., Mah .... Saya paham .... Sabar ya, Mah .... Nanti pasti ada jalan untuk bisa memenuhi dagangan kita ini." Podin pun tentu menghibur dan memotivasi istrinya.
"Betul, Pah .... Kita tidak usah tergesa-gesa. Yang penting usaha dagang kita ini berjalan terus .... Toko seperti ini saja sudah lumayan besar, sudah ada barang-barang dari supplier yang hanya ditinggal, kita belum bayar. Katanya bayarnya besok kalau barang-barang itu sudah laku. Lumayan bisa untuk memenuhi toko." kata istrinya yang tentu juga memberitahu Podin kalau di tokonya itu memang ada barang-barang yang dikirim oleh suplayer tetapi belum dibayar. Memang banyak supplier yang menaruh barang ke toko, sedangkan pembayarannya biasanya kalau barang itu sudah terjual. Itu juga taktik dagang dari pemasaran.
Memang kelihatannya membuka toko itu mudah. Membuka usaha toko itu gampang, tinggal membuat ruang dan mengisi ruangan itu dengan barang-barang. Tetapi sebenarnya usaha dagang tidaklah semudah itu. Orang yang membuka usaha dagang harus bisa memikirkan bagaimana untuk mengembangkan usahanya, harus tahu barang apa yang selalu dibutuhkan oleh pembeli, barang apa yang bisa menghasilkan keuntungan besar, barang apa yang belum ada di tokonya, dan barang apa yang harus segera dipenuhi, dan masih banyak lagi permasalahan-permasalahan yang dihadapi sebagai pengusaha dagang.
Mungkin Cik Melan hanya membandingkan, ketika mengelola keuangan di gedung hiburan karaoke, di mana yang dilakukan hanya satu pekerjaan saja, yaitu menunggu orang yang datang akan berkaraoke, menarik minat orang untuk berkaraoke di tempatnya, mengiming-imingi orang untuk masuk ke tempat hiburannya, maka orang-orang yang pada datang dan berkaraoke di tempat usahanya itu akan membayar begitu saja. Lantas uang itu dikelola untuk membayar karyawan, dan sisanya adalah keuntungan yang bisa digunakan untuk mengembangkan usaha.
__ADS_1
Tetapi ketika Cik Melan membuka toko sembako, persoalannya adalah barang yang laku, barang yang dibutuhkan masyarakat, barang yang belum ada, barang yang selalu dicari oleh orang, serta bagaimana bisa mengatur keuntungan sebaik mungkin agar harganya bisa terjaga lebih murah dari toko lain, tetapi bisa mendatangkan untuk yang lebih besar. Tentu ini adalah hal baru bagi Cik Melan, yang tentunya ia harus belajar lagi untuk membuka usaha dagang. Tidak hanya itu saja, Cik Melan juga butuh orang yang bisa membantu melayani di tokonya, setidaknya orang itu bisa dipercaya, jujur dan sanggup bekerja dengan baik. Setidaknya mereka paham tentang harga-harga barang, mereka paham tentang hitung dagang, agar tidak kurang di dalam menghitung harga serta tidak keliru dalam memberikan kembalian uang kepada pembeli. Dan mereka juga harus paham tentang uang yang keluar dan masuk ke dalam laci kasir. Dan satu hal lagi yang harus dikuasai yaitu orang itu sanggup membukukan keuangannya.
Kalau masalah menghitung keuangan, Cik Melan masih bisa mengatasi. Bahkan bisa mengajari orang yang ikut membantu melayani di tokonya. Tetapi satu hal yang paling sulit menata karyawan adalah membangun karakter orang yang ikut membantu di tokonya. Upaya yang paling sulit dilakukan adalah memilih orang yang baik, yang jujur dan yang bertanggung jawab.
Podin sudah banyak membantu di tokonya. Setidaknya Podin ikut terlibat di dalam menangani usahanya. Podin ikut membantu menata barang, ikut membantu mengecek barang, bahkan juga ikut membantu meladeni para pembeli. Dan Podin tentunya ingin belajar banyak tentang bagaimana cara orang berusaha, orang berjualan, orang berdagang. Podin ikut istrinya berjualan di tokonya yang baru itu. Setidaknya, kalau istrinya pergi ke Jakarta, kalau istrinya harus mengurusi keuangan di tempat usahanya yang ada Jakarta, Podin bisa membantu di tokonya.
Selain itu, walaupun di tokonya juga sudah ada pelayan, sudah ada dua orang pekerja, laki-laki dan perempuan yang masih muda, yang membantu penjualan di toko Podin, yang membantu melayani para pembeli. Memang, Cik Melan yang gigih di dalam usaha, sudah bisa melatih dua orang karyawannya itu, yang satu orang bekerja di bagian dalam, dan yang satu orang lagi, yang laki-laki, berada di bagian luar. Bahkan sudah dilatih untuk mengantar-ngantarkan barang ke tempat para pelanggannya. Sedikit demi sedikit, pastinya dua karyawan itu akan paham dengan pekerjaannya. Dan lama-kelamaan, masyarakat yang ada di sekitar toko itu pada berbelanja ke toko sembako Podin yang baru itu.
Cik Melan pun kali ini sudah melatih suaminya, melatih Podin untuk menangani keuangan. Podin disuruh menjadi kasir. Setidaknya penerimaan uang pembayaran sudah dilakukan dan ditangani oleh Podin. Dan yang pasti, itu diajarkan oleh Cik Melan kepada suaminya, agar sewaktu-waktu saat Cik Melan pergi, saat Cik Melan meninggalkan toko itu, maka Podin sudah bisa mengatur keuangan di tokonya. Paling tidak, toko itu selalu ada pemiliknya. Kalau tidak ada Cik Melan, Podin setiap hari harus berada di toko itu. Podin setiap hari harus ikut membantu melayani para pembeli di tokonya. Podin juga harus ikut meladeni orang-orang yang pada mencari barang, membeli kebutuhan rumah tangga di toko sembako miliknya.
Benarkah ini awal dari perubahan kehidupan Podin?
Namun pastinya, Podin bingung ketika ia melihat para pelayannya, dua orang yang membantu meladeni para pembeli, saat ada pembeli yang menanyakan barang yang dibutuhkan, namun kenyataannya di warung itu, di toko milik Podin itu, barang yang dia cari tidak ada. Dan kedua orang pelayannya itu, yang satu laki-laki yang berada di bagian depan dan yang satu lagi perempuan yang berada di bagian dalam, selalu menanyakan kepada Podin yang duduk menghadapi kotak kasir berisi uang, yang selalu duduk di tempat kasir selama istrinya berada di Jakarta.
__ADS_1
"Pak Podin ..., ada barang ini?"
"Pak, ada yang mencari seperti ini ...."
"Pak Podin, ada pembeli mencari barang."
"Pak, barang yang begini kok tidak ada, ya ...?"
"Pak Podin, kita belum punya ini ...."
Begitu kata-kata yang sering keluar dari dua orang pelayannya itu. Dan Podin selalu kebingungan ketika harus menjawab pertanyaan-pertanyaan para pembeli, manakala barang-barang yang dicari oleh para pembeli itu memang tidak ada. Tentu Podin merasa kasihan kepada para pembeli yang balik dengan tangan kosong, tidak membawa hasil dari barang yang dia cari. Demikian juga dengan para pelayan di tokonya itu, yang selalu bingung untuk menjawab kepada para pembeli. Bagaimana alasannya manakala para pembeli itu tidak mendapatkan hasil barang yang akan dia beli? Dan tentu para pelayan itu juga tidak nyaman ketika harus menjawab barangnya tidak ada.
Hal itulah yang menyebabkan Podin kepikiran bagaimana agar barang-barang yang belum ada itu bisa terpenuhi? Hal itulah yang menyebabkan Podin berusaha, bagaimana cara memenuhi barang-barang kebutuhan masyarakat yang selalu ditanyakan? Bagaimana caranya memenuhi barang-barang dagangan yang ada di tokonya? Bagaimana caranya agar para pelayan itu selalu bisa mencarikan barang yang ditanyakan oleh para pembeli?
__ADS_1
Dan tentunya, Podin ingin tokonya bisa menjadi toko yang paling lengkap di kotanya, dengan persediaan semua jenis barang kebutuhan masyarakat. Untuk itulah, Podin musti memikirkan bagaimana caranya bisa mendapatkan tambahan modal kembali, bagaimana caranya bisa menambahi uang kepada istrinya untuk berbelanja dalam rangka memenuhi semua barang dagangan yang ada di tokonya.