PULAU BERHALA

PULAU BERHALA
EPISODE 97: RAHASIA PENGEMIS CILIK


__ADS_3

    Setelah gagal untuk mendapatkan harta benda dari istana Pulau Berhala, dan juga setelah korbannya ditolak, persembahannya tidak diterima oleh penguasa istana Pulau Berhala, bahkan bocah kecil cakon korban persembahan Podin yang sudah ditaruh di atas meja batu itu dilempar keluar oleh para algojo istana, Podin hanya bisa pasrah, tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Tidak sanggup protes, bahkan untuk bertanya pun Podin sudah ketakutan. Dua orang algojo yang ada di atas altar istana itana itu, sudah mengusir Podin untuk turun dari tempat persembahan. Tentu Podin hanya bis menurut saja.


    Podin yang melangkah kecewa, uang terlihat lesu dan lemas, hanya bisa diam sambil merenung. Tentunya ia ingin tahu, apa sebenarnya yang menyebabkan korban persembahannya ditolak? Mengapa Penguasa istana Pulau Berhala itu marah dan tidak mau menerima persembahannya? Apa yang terjadi dengan anak kecil itu? Mengapa pula para algojo istana itu langsung mengangkat calon korban persembahan Podin, dan langsung dilempar keluar? Apa yang menjadi masalah dengan korbannya, sehingga tidak diterima? Apa yang menyebabkan persembahannya ditolak?


    "Houweeek ..... Huweeeek .... Huweeek ....." bocah pengemis cilik itu muntah-muntah di luar istana di pinggir halaman istana, setelah dilemparkan oleh para algojo.


    "Ya ampun .... Kamu itu ngapain ...?" Podin bingung melihat bocah yang dibawanya itu.


    Tentunya Podin heran dengan yang terjadi pada bocah laki-laki pengemis yang dibawanya itu. Podin ingin tahu, apa yang tadi dimakan anak itu, apa yang sudah masuk ke dalam perutnya, sehingga anak itu sampai muntah-mintah, semua dalam perutnya keluar. Dan tentu baunya menuntut Podin harus menutup hidungnya.


    "Kamu itu kenapa?" tanya Podin kepada bocah yang ia bawa, dan sedang muntah-muntah menjijikkan itu. Tentunya Putin masih sangat penasaran dengan bocah itu, yang ditolak oleh penguasa Pulau Berhala.


    "Houweeek ..... Huweeeek .... Huweeek ....." bocah itu kembali muntah-muntah. Pastinya saat dilempar keluar istana oleh dua orang algojo tadi, perutnya langsung terkocok. Ia pun merasa pusing, dan perutnya langsung mual-mual. Tentunya apa yang ada di dalam perutnya itu, mendesak lambung dan ingin keluar dari perutnya.


    "Kamu ini kenapa? Ada apa sampai muntah-muntah seperti ini? tanya Podin yang sudah berada di samping anak itu, dan sudah mengelus pundak anak itu.


    Namun anak itu tidak menjawab. Anak itu malah muntah lagi. Ya, bocah pengemis cilik itu muntah-muntah berkali-kali. Tentu Podin langsung menutup kembali hidungnya, karena bau yang tidak sedap, bau enzim yang keluar dari perut anak itu. Dan bau itu memang sangat yidak enak di hidung. Tidak seperti biasanya tumpahan orang hamil muda atau bayi yang kebanyakan minum susu. Tetapi memang pada tumpahan anak itu ada bau yang tidak sedap, sangat menusuk hidung.


    "Kamu itu tadi makan apa ...? Kok sampai muntah-muntah seperti ini?" tanya Podin yang sedianya ingin membantu bocah itu untuk bangkit dari tersungkurnya di tepi pelataran istana itu.


    "Saya mabok, Om .... Haouweeek ...." jawab anak itu yang kembali muntah.


    "Mabuk ...?! Mabuk bagaimana ...?!" tanya Podin kepada anak itu, tentu merasa agak bingung dengan jawaban anak itu.


    "Saya mabuk minuman, Om .... Saya terlalu banyak minum minuman keras, Om ...." jawab anak itu yang mulai mengaku kalau dirinya minum minuman keras.


    "Ya ampun ..., Bocaaaaah. Minuman keras ...?!" Podin tentunya kaget mendengar jawaban anak itu, ternyata bocah yang masih kecil itu sudah mabuk minuman keras yang diminumnya. Dan ternyata memang apa yang diduga oleh Podin semula, dari bau yang menyengat di tempat anak itu muntah, memang tidak seperti biasanya. Yernyata ini adalah bau minuman keras.

__ADS_1


    "Dari mana kamu bisa minum minuman keras?" tanya Podin yang penasaran.


    "Saya membawa, Om .... Ini ...." kata bocah itu yang menunjukkan bungkusan plastik kresek, tempat menyimpan pakaian kumalnya, ternyata di dalamnya ada plasik kecil yang berisi minuman keras. Ternyata diam-diam, anak ini sudah menyembunyikan, membawa minuman keras dalam buntalan pakaian kotor.


    "ya ampun .... Jadi kamu ini tadi minum minuman keras?" Podin kembali terheran dengan kelakuan bocah kecil itu. Tentu Podin sadar, jika memang anak ini sudah mabuk minuman keras, berarti anak ini sudah dianggap kotor, sudah dianggap tidak suci lagi oleh penguasa istana Pulau Berhala, dan tentunya tidak pantas untuk dipersembahkan.


     "Iya ..., Om ...." jawab anak itu dengan nada suara yang memang seperti orang tak berdaya, kata-kata seorang bocah yang mabuk minuman keras.


    "Kok bisa ...?! Kamu dapat dari mana minuman keras itu?" tanya Podin yang penasaran.


    "Sebenarnya itu untuk minum-minum bersama teman-teman setiap malam, Om .... Saya bawa, tadi pagi dikasih teman-teman. Mestinya saya kumpul dengan teman .... Makanya saya sebenarnya tidak mau diajak kemari, karena saya bawa minuman keras ini, Om ...." jawab anak itu yang pastinya membawa minuman untuk dinikmati bersama teman-temannya setiap kali kumpul-kumpul.


    "Ya ampun .... Jadi kamu itu kalau kumpul-kumpul dengan teman-temanmu di sana, terus pada minum-minum gitu? Kamu mabuk-mabuan?" tanya Podin kepada anak itu lagi, yang tentu semakin gemas dan jengkel dengan kelakuan anak itu.


    "Benar, Om .... Memang kami kalau kumpul-kumpul itu, tiap malam, pasti pakai acara minum-minum, minuman keras. Bahkan juga ada yang bawa dan minum obat-batan ...." kata anak kecil yang mabuk itu, pastinya ia akan membuka semua rahasianya.


    "Maksud kamu, obat-obatan terlarang ...?!" tanya Podin ingin tahu kejelasannya.


    "Dasar kurang ajar .... Bocah cilik kelakuannya tidak karuan .... Sudah mabuk-mabukan, minum-minuman keras,  masih pakai obat-obatan terlarang segala .... Terus ..., perbuatan apalagi yang sudah kamu lakukan jika kumpul-kumpul begitu, hah ...?" tanya Podin yang tentu sangat gemas dengan anak itu. Ia tidak menyangka kalau bocah kecil itu, yang paling paling baru berusia sepuluh tahun, tetapi kelakuannya sudah seperti berandal remaja, orang-orang nakal, orang-orang yang suka minum-minuman keras, suka mabuk-mabukan.


    "Iya ..., banyak, Om .... Pokoknya kalau kami kumpul, ya untuk senang-senang ...." jawab anak itu lagi yang memang suaranya sudah persis sama seperti orang yang mabuk berat, suaranya orang tak berdaya karena kebanyakan minum. Pasti ia sudah halu.


    "Terus ..., pakai acara pacar-pacaranm nggak? Kamu juga berhubungan intim dengan teman-teman kamu sendiri ...?" tanya Podin yang pastinya juga curiga dengan kelakuan anak-anak berandal itu, anak-anak jalanan yang memang sudah tidak terkendali lagi. Nalar dan perilakunya sudah bejat dan tidak bisa diatur. Pasti mereka sudah hidup bebas dengan teman-temannya.


    "Iya ..., Om ...." jawab anak itu, yang pasti membuat Podin kaget.


    "Haah ...?! Jadi kamu bocah tengil sekecil ini sudah tidak perjaka lagi ...?! Kamu sudah berhubungan intum dengan temanmu ...?!" Podin membelalak, ia kaget mendengar jawaban anak itu.

__ADS_1


    "Habis ..., kami tidak bisa menolak, Om .... Kami diajak melakukan itu .... Bahkan kami dipaksa .... Saya tidak bisa berbuat apa-apa, Om .... Tapi yang penting kami senang, Om .... Kalau kami kumpul-kumpul, apapun pasti kami lakukan, Om .... Yang penting happy." kata anak itu, yang tentu menceritakan apa yang sudah dilakukan di kalangan anak-anak jalanan.


    Berarti anak ini memang benar-benar sudah tidak terurus oleh keluarga mereka. Anak-anak ini sudah melakukan kebebasan yang sebebas-bebasnya, yang sudah di luar batas norma dan tata aturan. Dan pastinya, sudah melanggar moral, sudah melanggar tatanan kehidupan masyarakat. Dan jelas, karakter bocah ini sudah sangat bobrok. Bocah yang mestinya masih polos dan belum tahu apa-apa, tetapi sudah rusak, bahkan hancur di jalanan.


    "Terus ..., kamu gituan itu gimana ...?" tanya Podin yang semakin penasaran dan ingin tahu kelakuan bocah bejat itu.


    "Ya ..., di mana-mana, Om .... Kadang di taman .... Kadang juga di kamar mandi pom bensin .... Bashkan juga di trotoar, Om ...." jawab anak itu apa adanya, memang begitulah kata-kata anak mabuk, yang mengalir begitu saja tanpa ada kesadaran.


    "Ya ampun .... Terus ..., kamu melakukan kayak gituannya sama siapa?" tanya Podin lagi.


    "Ya ..., sama teman-teman, Om .... Pokoknya teman-teman kalau berkumpul, semuanya senang-senang, foya-foya, Om .... Hidup itu untuk apa, Om .... Yang penting bagi kami happy ...." kata anak itu yang tentu mulai menuturkan apa yang dilakukannya.


    "Temanmu itu juga masih kecil? Atau sudah ada yang besar?" tanya Podin lagi, yang masih penasaran dengan apa yang dilakukan oleh anak itu.


    "Ya ..., banyak, Om .... Ada yang kecil, ada yang besar, Om .... Saya ini termasuk yang kecil ...." jawab anak itu menyebutkan teman-temannya.


    "Ya ampun ..., bocah .... Lah, kalau sekecil kamu, itu apa bisa melayani temanmu yang besar?" tanya Podin mulai ingin menelisik caranya.


    "Dia yang ngajari saya, Om .... Tapi enak kok, Om ...." jawab bocah tengik itu.


    "Terus ..., kalau gituan ya bergantian, begitu?" tanya Podin yang semakin penasaran dengan cara hidup anak jalanan.


    "Iya, Om .... Pokoknya kami senang-senang .... Kadang ya berdua , bertiga .... Kalau banyak perempuannya, ya nanti nambah-nambah .... Kalau banyak laki-lakinya, ya nanti bergantian. Pokoknya hidup kami itu menyenangkan, Om .... Tidak ada susahnya. Ngapain hidup sekali kok dibikin susah. jawab anak itu yang seakan tanpa dosa.


    "Kurang ajar sekali anak-anak itu .... Dasar bocah biadab ..., nggak punya tata krama, nggak punya aturan, hidup kok kayak hewan saja kalian itu .... Ya ampun anak kecil ..., usiamu itu masih bayi ..., kamu belum genap sepuluh tahun .... Sudah gituan berganti-ganti pasangan .... Pantas penguasa istana menolak kamu ...." gerutu Podin yang tentunya sangat jengkel, sangat geram dan sangat marah pada anak itu.


    Dan yang pasti, apa yang diharapkan oleh Podin, apa yang menjadi tujuan Podin, semuanya gagal, semuanya sirna. Podin tidak jadi mendapatkan apa-apa. Ia harus menanggung malu, karena persembahannya ditolak oleh penguasa istana Pulau Berhala. Dan ternyata, seperti yang dikatakan oleh sang penguasa istana itu, kalau anak itu sudah tidak suci, anak itu sudah kotor, ternyata semuanya benar. Anak itu sudah tercemar dengan pergaulan bebasnya yang tanpa batas. Podin sudah keliru mengambil bocah.

__ADS_1


    Pantas anak ini tidak dikehendaki untuk dipersembahkan. Kenyataannya, anak ini sudah tidak perjaka lagi. Anak ini sudah melakukan perbuatan-perbuatan hina dan nista. Anak ini sudah melakukan perbuatan kumpul kebo, hidup bebas, yang oleh orang-orang dikatakan sebagai kelompok kebebasan seperti hewan. Ya, apalagi ditambah anak itu dalam keadaan mabuk, yang habis minum-minuman keras. Tentu oleh penguasa istana Pulau Berhala, anak tersebut ditolak dan tidak diterima untuk dijadikan korban persembahan.


    Podin kecewa, karena harus pulang dengan tangan hampa. Podin kecewa, karena sudah keliru memilih anak untuk dipersembahkan. Podin pun pulang tanpa membawa apa-apa.


__ADS_2