PULAU BERHALA

PULAU BERHALA
EPISODE 82: ADA APA JAKARTA?


__ADS_3

    Podin sudah mulai memasuki Kota Jakarta. Ya, setelah setengah hari melintasi jalan raya Padalarang menuju Jakarta, kini akhirnya sampai juga.


    "Lihat, Lesti .... Sekarang kita sudah sampai di Jakarta. Inilah ibu kota Indonesia, yang dinamakan kota metropolitan." begitu kata Podin sambil menunjukkan bangunan-bangunan yang ada di sekitar jalanan, bangunan-bangunan yang menjulang tinggi sebagai pencakar langit, dan jalan-jalan yang lebar, jalan-jalan yang memutar-mutar, jalanan yang sangat padat dengan lalu lintas, jalanan yang penuh dengan kendaraan.


    "Waduh, Kang .... Ramai banget .... Mobil sampai kayak begitu, jalanan sangat padat, sampai empet-empetan gitu .... Ini Jakarta memang seperti ini terus, Kang ...?! Waduh banyak yang macet ya, Kang .... Ya ampun ...,  bagaimana orang-orang ini bisa hidup nyaman di Jakarta, kalau semuanya seperti ini ...? Kok mereka betah tinggal di Jakarta? Itu yang naik-naik itu, yang melingkar-lingkar di atas itu juga jalan, Kang?" tanya  Lesti yang tentu ingin tahu tentang Jakarta yang jalannya pada penuh kendaraan dan bertingkat-tingkat.


    "Iya .... Ini kita sudah berada di jalan layang, Lesti .... Dan saat ini, kita berada di jalan atas .... Jalan yang kita lalui ini bukan di bawah, Lesti ..., tapi berada di atas .... Coba kamu lihat ke bawah, nah tuh, kan ..., rumah-rumah aja sudah ada di bawah kita. Kita ini berada di Jalan bagian atas, Lesti." kata Podin sambil menunjukkan atap-atap rumah yang berada di bawahnya, bahkan juga kendaraan-kendaraan yang lalu lalang di bawahnya.


    "Lesti takut, Kang .... Lesti takut kalau jatuh ...." kata Lesti yang tentu langsung memegang lengan suaminya yang sedang menyetir.


    "Tidak usah khawatir .... Pasti aman .... Di sini sudah ada pengamannya. Itu ..., di kanan kiri sudah ada dinding pembatasnya. Jadi kalau ada mobil agak keminggiran, nanti akan kena dinding pembatas itu. Tidak bakalan jatuh ke bawah." kata Podin yang tentu menenangkan istrinya.


    "Tempatnya masih jauh, Kang? Aku takut berada di jalan yang tinggi seperti ini .... Masak kita seperti melayang di awan .... Kang ..., kita seperti berada di langit. Rumah-rumah itu berada di bawah kita .... Seakan mobil kita ini berjalan di atas rumah. Cepetan turun, Kang ...." begitu kata Lesti yang betul-betul masih ketakutan dengan apa yang dialaminya, yaitu naik mobil di jalan yang sangat tinggi, yang berada di atas rumah para penduduk.


    "Iya ..., Lesti .... Sabar .... Masih lumayan, tempatnya masih jauh, Lesti .... Paling tidak ini kita masih butuh waktu sekitar dua jam untuk sampai ke tempat usaha kita .... Maklum, macetnya yang bikin lama ...." kata Podin yang memberitahu, kalau tempat usahanya masih cukup jauh dari tempat yang ia jalani sekarang.


    "Ya ampun, Kang .... Jauh amat ...." sahut Lesti.


    "Yah .... Hidup di Jakarta memang butuh kesabaran, Lesti ...." kata Podin.


    Memang, Jakarta adalah tempat yang mudah untuk mencari uang. Tetapi perjuangan hidup di kota metropolitan itu, tentunya juga sangat besar. Yah, cari uang banyak memang harus mau bekerja keras, mau berjuang, dan sanggup menempuh segala rintangan.


    "Itu gedung tinggi-tinggi untuk apa, Kang? Kok sampai sebegitunya tinggi, Kang? Apa orang-orang yang ada di atas sana itu tidak pada takut?" tanya Lesti sambil menunjuk gedung-gedung pencakar langit yang tentunya sangat tinggi dan menakutkan bagi orang kampung yang jarang masuk ke tempat-tempat yang seperti itu, terutama seperti halnya di Kota Jakarta dengan gedung-gedung pencakar langit.


    "Iya .... Itu gedung-gedung perkantoran .... Ada juga yang bangunan hotel .... Ada juga yang apartemen .... Macam-macam, Lesti .... Itu bangunan-bangunan memang harus dibangun menjulang tinggi, harus bertingkat. Banginan-bangunan itu ada yang tingkat lima puluh, ada yang tingkat tujuh puluh lima, ada yang tingginya sampai dua ratus meter. Pokoknya saling bersaing tingginya, deh ...." kata Podin pada Lesti.


    "Kenapa dia bangunnya harus bertingkat, Kang?" tanya Lesti yang masih penasaran dengan banyaknya gedung menjulang tinggi itu.


    "Yah ..., karena tanah di Jakarta itu mahal, Lesti .... Dan tanah di Jakarta sudah sangat terbatas. Daripada dia beli tanah, mending bangunnya di tingkat, gedungnya bertingkat, supaya dia tidak menghabiskan lahan dan menghemat pembelian tanah." begitu jelas Podin kepada istrinya, yang tentunya memberi pemahaman kepada Lesti, kalau tanah di Jakarta itu sudah sempit dan harganya pasti mahal. Makanya, orang-orang para pengusaha, para kontraktor, para pejabat lebih suka membangun gedung yang bertingkat, yang tinggi menjulang ke langit, karena dia pastinya akan menghemat biaya untuk membeli tanah.


    Ya, memang yang namanya Jakarta, tanah itu harganya sangat mahal, tanah itu ibarat emas. Bahkan dengan emas saja harganya bisa jadi lebih mahal tanah. Tentunya karena Jakarta adalah kota metropolitan, ibu kota sebuah negara, yang semua orang pada berdatangan ke Jakarta untuk mencari penghidupan, untuk mencari uang, untuk mencari pekerjaan, untuk bisnis para pengusaha, dan juga untuk tinggal para pejabat.


    "Nah ..., Lesti lihat .... Itu yang namanya Jembatan Semanggi. Dulu merupakan icon dari Kota Jakarta. Dulu bangunannta dirancang oleh Insinyur Sutami, anak bangsa Imdonesia yang pastinya kepandaiannya tidak kalah dengan orang asing. Ya, dinamakan Jembatan Semanggi karena bentuknya yang melingkar seperti bentuk tanaman semanggi. Jalannya melingkar seperti lingkaran dari daun-daun semanggi. Itulah kenapa ini dinamakan Jembatan Semanggi, yang bentuknya memang mirip daun semanggi." kata Podin yang menunjukkan Jembatan Semanggi kepada Lesti.


    "Bagus sekali, Kang .... Aku baru pertama kali ke Jakarta. Aku terheran, Kang .... Ya ampun ..., sangat indah, menakjubkan. Gedung-gedungnya yang tinggi mencakar langit, jalannya pada bertingkat, ada jalan yang melingkar seperti daun semanggi. Ya ampun ..., Kang .... Mobilnya juga bagus-bagus, nggak kayak mobil Kang Podin, sudah kuno dan ketinggalan model, Kang ...." kata Lesti yang tentu sambil bergurau mengejek mobil suaminya.


    "Tidak apa-apa, Lesti .... Kalau Lesti mau yang bagus, besok kita beli yang bagus. Tapi mobil ini kan masih bisa dipakai .... Yang penting kan masih jalan lancar, nggak usah bagus-bagus, nanti malah dikira pamer." kata Podin pada Lesti, yang tentunya juga memberi pengertian agar tidak selalu menuntut harta benda yang mewah. Jangan sampai terulang seperti yang pernah ia alami saat menikah dengan Maya, yang selalu menuntut hal-hal yang bagus,  yang selalu menuntut hal-hal yang mewah. Minta ini minta itu, semuanya harus dipenuhi. Makanya Podin begitu terlepas dari Maya, dia sangat senang sekali. Dan kini, ketika dia mendapatkan Lesti, yang sudah senang tinggal di rumahnya, walaupun rumah kampung yang tidak begitu bagus, tetapi Podin sudah senang, karena istri yang sekarang ini, Lesti, tidak terlalu banyak menuntut. Lesti tidak begitu matre. Tidaklah begitu selalu menuntut harta kekayaan. Tidak menuntut kemewahan-kemewahan seperti Maya dulu. Ya, itulah Lesti, yang didasari sifat sederhana dari orang kampung yang memang tidak suka dengan hal-hal yang berbau kemewahan. Hidup sederhana, yang penting tenang dan senang.


    "Ini tempatnya masih jauh, Kang? Kok kita dari tadi muter-muter di jalan kayak gini terus ...? Bosen, Kang dengan kemacetan-kemacetan." kata Lesti yang sudah mulai jengkel dengan kemacetan di Jakarta.

__ADS_1


    "Baru pertama ke Jakarta sudah bosen .... Bagaimana mau buka usaha di Jakarta?" kata Podin yang tentunya menyindir istrinya.


    "Buka usaha di Jakarta ...?! Enggak lah .... Ngapain? Bikin pusing, Akang ...." sahut Maya yang rupanya tdak suka dengan hiruk pikuk Jakarta yang bikin pusing kepala.


    "Lhah ..., ini .... Katanya mau lihat tempat usaha Akang yang di Jakarta ...." sahut Podin yang masih menjajaki niatan istrinya.


    "Coba lihat ini, Kang .... Jalannya padat sekali, mobil-mobilnya banyak sekali, kita macet di sini, Kang ...." kata Lesti yang tentu mulai bosan dengan kemacetan di Jakarta.


    "Ya memang .... Seperti itulah yang menjadi ciri utama dari Kota Jakarta. Kemacetan di mana-mana. Kalau tidak macet berarti bukan Jakarta. Sebentar lagi, Lesti .... Ini sudah dekat. Yinggal turun saja, terus nanti lurus, di sana itu, sudah nyampe ke tempat usaha Akang .... Biar Lesti nanti tahu, bagaimana Akang punya usaha di Jakarta. Setidaknya kalau suatu ketika Lesti ingin mengelola, nanti bisa Lesti kelola. Tapi yang jelas, saya sudah bosan hidup di Jakarta. Saya sudah tidak sanggup menghadapi iklim dan suasana di Jakarta yang penuh dengan hiruk pikuk. Semuanya sibuk, bahkan satu dengan yang lain pun tidak mau mengenal, saling bersaing. Hidup di Jakarta, saya sudah tidak betah. Makanya, ketika saya dapat kamu, dan diajak tinggal di kampung seperti itu, walaupun rumahnya sederhana, tetapi bagi saya, hati saya lebih tenang, saya lebih nyaman, saya lebih tentram. Makanya saya senang tinggal di rumah kamu, Lesti." kata Podin kepada istrinya, yang tentunya dia mengungkapkan perasaannya, kalau dirinya sudah tidak ingin tinggal di Jakarta.


    Persoalan yang sebenarnya kenapa Podin tidak mau tinggal di Jakarta adalah tanggung jawab moral yang besar, karena Podin selalu ditanyai oleh setiap orang di sana sini, terkait dengan Maya bersama dengan bayinya. Itulah yang dihadapi oleh Podin, tanggung jawab yang sulit untuk dikatakannya.


    "Iya, Akang .... Nanti kalau misalnya Lesti suka, boleh saya bisa tinggal di Jakarta. Coba lihat nanti, seperti apa tempat usaha Kang Podin .... Tapi kalau Lesti tidak suka, Lesti juga ikut sama Akang .... Yang penting bagi Lesti sekarang sudah punya suami Akang, sudah bisa hidup berkeluarga dengan Akang. Lesti sudah senang hidup sama Akang .... Lesti sudah tidak seperti dulu lagi, yang oleh orang-orang saya dikatakan sebagai penghuni dunia hitam." begitu jawab Lesti, pasti ingin hidup lebih tenang, ingin hidup nyaman, seperti halnya yang diungkapkan oleh Podin.


    "Kita sudah sampai ...." kata Podin.


    Sebentar kemudian, mobil Podin sudah minggir, perlahan dan berhenti di pinggir jalan. Ya, sebenarnya Podin sudah sampai di tempat usahanya dulu, yaitu di depan gedung karaoke. Namun Podin langsung terdiam. Ia kaget saat melihat gedung usahanya. Dia tidak bisa berkata apa-apa, hanya bisa memandangi gedung tempat usahanya itu. Podin hanya bisa diam tanpa bisa berbuat apa-apa, meski ia sudah memarkirkan mobilnya dan sudah mematikan mesin mobil itu. Tetapi kali ini, seakan kakinya tak bisa bergerak, seakan tubuhnya lunglai, seakan tangannya tidak bisa bergerak lagi. Dia tidak bisa membuka pintu mobil itu, bahkan untuk turun dari mobil.


    "Ada apa, Kang?" tentu Lesti bingung melihat suaminya yang tiba-tiba diam dan tidak bisa bergerak apa-apa, bahkan kelihatan gemetar, hanya bisa memandangi ke depan saja, tetapi masih diam tidak bisa menjawab pertanyaan istrinya. Dia hanya termangu.


    Dan saat itu, tiba-tiba ada datang seorang laki-laki dengan tubuh tegap dan gagah, datang menghampiri Podin.


    Dengan terbata-bata Podin terjingkat. Ia kaget. Ia sadar kalau ternyata dirinya sudah termangu beberapa saat, angannya melayang entah ke mana. Dan saat dipanggil oleh si John, pegawai keamanannya yang dulu bekerja di tempatnya itu, membikin Podin tentu terkaget dan langsung membuka pintu.


    "Ada apa ini ...?!" begitu kata Podin yang langsung berteriak kaget, karena menyaksikan hal yang terjadi di depan gedung tempat usahanya.


    Saat itu, Lesti memandangi suaminya dengan penuh keheranan.


    "Ada apa, Akang ...? Apa sebenarnya yang terjadi?" tanya Lesti pada suaminya. Dan tentunya Lesti juga ingin tahu, siapa laki-laki yang gagah itu, yang tiba-tiba datang langsung memanggil nama suaminya dan langsung membuka pintu mobil itu untuk menghampiri suaminya.


    Lesti pun langsung turun dan terus memandangi suaminya bersama laki-laki itu, ingin tahu apa yang akan dikatakan oleh laki-laki yang barusan menghampiri suaminya itu.


    "Hancur, Pak Podin .... Hancur .... Rusak semua, Pak Podin .... Kita hancur, Pak ...." begitu kata laki-laki yang barusan menghampiri Podin.


    "Iya ..., ini kenapa kenapa, John ...?!" Podin langsung memegangi bahu karyawannya yang bekerja di bagian keamanan itu. Podin tentu bingung menyaksikan apa yang diamati di depan gedungnya. Di situ sudah ada garis polisi dari pita warna kuning yang direntangkan di depan gedung itu. Itulah sebabnya Podin terkaget, heran dan bingung, bahkan tidak bisa masuk ke halamannya. Dan ia pun hanya bisa berhenti di depan saja, di pinggir jalan.


    "Kenapa ini, John ...?! Ada apa ...?! Apa yang terjadi?" tanya Podin pada si John, karyawannya yang bisa ia temui.


    "Kemarin malam gedung kita kebakaran, Pak ...." kata pegawai keamanannya itu.

__ADS_1


    "Kebakaran bagaimana, John ...? Bagaimana nasib teman-teman kamu? Bagaimana para karyawan? Bagaimana sekarang keadaannya, John? Bagaimana semuanya? Apakah ada korban? Yerus bagaimana urusan masalah ini, John? Kenapa bisa terjadi seperti ini, John?" seperti itu kata Podin yang tentu langsung bingung dan langsung kaget mendengar kata-kata dari karyawannya itu, dan tentunya ingin tahu semuanya.


    "Ada yang luka bakar, Pak Podin .... Tapi syukur, tidak ada korban jiwa .... Semuanya bisa menyelamatkan diri." jawab pegawai keamanan itu.


    "Ada apa, Akang ...?" tanya Lesti yang ingin tahu dengan suaminya.


    "Ini .... Tempat usaha Akang, tempat hiburan itu sudah mengalami kebakaran ...." jawab Podin lemas.


    "Ya ampun, Akang .... Kenapa bisa begitu ...?" tanya Lesti yang tentu juga kecewa. Baru pertama kali ingin tahu usaha suaminya, ternyata sudah hancur duluan. Lesti hanya bisa mengamati gedung dengan tulisan karaoke itu sudah hangus dan tertutup jelaga bekas kebakaran.


    "Terus, bagaimana teman-teman kamu ...?" tanya Podin pada karyawannya yang terus berjaga di gedung karaoke itu.


    "Teman-teman, para karyawan tidak ada yang celaka, Pak .... Semuanya baik-baik saja .... Tetapi ada satu orang pengunjung yang mengalami luka bakar sedikit, itu karena dia memaksa turun lewat lift." kata si petugas keamanan karyawannya Podin itu.


    "Syukurlah ...." Podin lega.


    "Semoga pemeriksaannya oleh pihak berwajib cepat selesai, Pak .... Oh, iya .... Bagaimana kabarnya Ibu Maya, Pak?" tanya karyawannya.


    "Nasib saya sedang apes, John .... Ibu Maya dan bayinya meninggal ...." kata Podin yang langsung menunduk, pura-pura bersedih.


    "Ya ampun, Pak Podin .... Yang tabah, Pak ...." kata laki-laki gagah itu.


    "Iya, John .... Ini Teteh Lesti .... Gantinya Ibu Maya .... Kami baru saja menikah. Mestinya Teteh Lesti ini yang ingin melihat tempat usaha kita .... Eh, malah jadinya seperti ini." kata Podin sambil mengenalkan Lesti pada karyawannya.


    "Terima kasih, Ibu ..., Teteh .... Maafkan kami .... Ini benar-benar kecelakaan, Pak .... Tidak ada unsur kesengajaan dari karyawan." kata si John yang langsung kenalan dengan istri baru Podin.


    "Urusan kepolisian bagaimana? Apa sudah ditangani?" tanya Podin.


    "Sudah beres semua, Pak .... Tenang saja .... Pak Podin tidak perlu khawatir." kata petugas keamanannya.


    "Ya, sudah. Tolong semuanya ditangani secara baik." sahut Podin yang memesan kepada karyawannya.


    "Siap, Pak ...." kata karyawannya dengan meyakinkan.


    Podin pasrah. Ia kecewa. Baru ingin menunjukkan tempat usahanya pada sitri barunya, malah ternyata sudah kebakaran lebih dulu. Hancur sudah harapannya. Tentu Podin sok berat.


    "John ..., tolong carikan tempat aku dan istriku untuk istirahat." kata Podin yang sudah tidak sanggup berpikir panjang, meminta tolong pada karyawannya. Tentunya Podin ingin menenangkan pikirannya lebih dahulu.


    "Siap, Pak .... Bapak menginap di Hotel Oriental saja .... Tidak jauh dari sini, Pak .... Biar saya yang menyetir mobilnya, biar Bapak nyaman." kata karyawannya itu yang langsung bersiap mengantarkan bos-nya ke hotel.

__ADS_1


__ADS_2