
Podin jengkel. Podin kecewa. Podin Emosi, setalah harta karun yang ia ambil dari dalam istana itu, ternyata tidak bisa ia bawa pulang. Itu semua karena tukang perahu yang mengantarnya mengatakan tidak bisa membawa peti yang teramat besar dan berat tersebut.
Namun tentunya, setelah sampai di daratan, dan setelah membuka pintu mobil untuk pulang, dia baru sadar, kenapa tadi tidak membawa salah satu peti harta karus yang sudah ia seret hingga ke tepi pulau berhala itu? Kenapa tadi kedua peti harta karun itu ditinggalkannya begitu saja?
"Kampret ...!!! Kenapa pikiran saya cuntel ...??!! Kenapa dua peti yang susah-susah saya bawa, malah saya tinggalkan semuanya ...?! Kenapa juga saya tidak mengantongi perhiasan-perhiasannya? Kenapa tadi saya keluar tanpa membawa apa-apa? Kurang ajar ...!!! Dasar tukang perahu kampret ...!!!" Podin mengumpat, dan tentu menyalahkan orang lain.
Akhirnya, dengan penuh rasa kecewa itu, Podin pulang meninggalkan tempat itu. Setelah gagal mendapatkan harta karun, Podin akhirnya pulang dengan tanpa membawa hasil apapun. Ia tidak mendapatkan harta apapun. Bahkan seuntai kalung, atau sebutir koin atau sebuah cincin kecil pun tidak ia dapatkan.
Tentu Podin bingung, karena ia tidak bisa memperoleh uang yang banyak, dan tentunya juga tidak bisa segera membelikan mobil baru untuk Maya. Pasti nanti Maya akan marah. Pasti Maya tidak mau memberi kenikmatan lagi padanya. Apalagi Maya yang selalu menuntut untuk dibelikan mobil itu memang menjadi harapannya, agar bisa memamerkan harta benda yang diperoleh dari Podin. Agar dirinya menjadi lebih berkelas. Agar dirinya bisa diterima untuk kumpul-kumpul dengan orang-orang kalangan atas. Bahkan Maya juga ingin bertemu, kenal dan kumpul-kumpul dengan para selebritis.
Akhirnya, Podin yang bingung untuk mendapatkan uang itu, untuk membawa harta karun tersebut, ia pulang ke kampungnya, pulang ke perumahannya. Yang pasti, Podin akan mencari cara, bagaimana supaya bisa mendapatkan uang untuk membeli mobil buat istri mudanya.
"Buk .... Bu .... Saya akan menjual rumah ini." kata Podin pada istrinya, yang tentu dengan suara agak berat.
Isti kaget mendengar kata-kata suaminya itu.
"Loh ..., kenapa, Pak ...? Memangnya rumah ini kalau dijual, terus kita mau tinggal di mana? Berarti kita tidak punya rumah lagi, Pak?" tanya istrinya, yang tentu langsung merasa sedih.
"Saya tidak urusan mau tinggal di mana .... Pokoknya saya harus menjual rumah ini, karena saya butuh uang untuk bisnis yang ada di Jakarta ...!" kata Podin pada istrinya, yang tentu alasannya adalah untuk bisnis.
"Tapi Pak, kalau rumah ini dijual, kita bagaimana ...? Anak-anak mau tinggal di mana?" tanya Isti lagi kepada suaminya, yang tentu sangat khawatir jika rumah itu memang mau dijual.
"Saya tidak urusan .... Yang penting bisnis saya di Jakarta beres .... Saya butuh uang banyak. Saya harus menjual rumah ini untuk memenuhi kebutuhan keuangan bisnis saya di Jakarta. Tempat bisnis itu harus segera saya bayar." kata Podin yang tentu sambil mengangkat-angkat tangannya.
"Lah, kok pakai jual rumah segala .... Terus nanti kita bagaimana? Saya dulu kan sudah bilang, tidak usah bisnis ke Jakarta, kita mencari usaha di sini saja .... Tapi Bapak yang ngeyel, Bapak yang selalu membantah, dan bapak yang berkeinginan memaksa bisnis itu .... Sekarang kalau seperti ini, rumah mau dijual, kita besok itu mau tidur di mana?" kata Isti yang tentunya tidak rela kalau sampai rumahnya yang mewah itu dijual oleh suaminya.
"Bu ..., saya tidak punya apa-apa lagi ...! Kan harta karunnya sudah dihabiskan oleh kamu ...!" kata Podin yang mulai menaikkan tensi pembicaraannya.
"Ya ampun, Pak .... Kok Bapak menuduh seperti itu ...?!" Isti langsung emosi, karena merasa dituduh mencuri oleh suaminya.
"Nyatanya .... Barang yang ada di dalam peti itu habis!" bentak Podin.
Isti terdiam. Ia langsung mengusap air matanya, yang sudah membasahi pipinya.
"Saya tidak urusan dengan kalian mau tinggal di mana ...! Kan masih ada ruko yang bisa ditempati .... Terserah kamu mau tinggal di mana ...! Yang penting saya harus dapat uang secepatnya, untuk urusan bisnis saya di Jakarta." begitu kata Podin yang nadanya pun sudah mulai tidak enak didengar dan tidak bisa dikalahkan oleh istrinya.
"Pak ..., apa Bapak tidak kasihan dengan anak-anak ...." kata Isti yang tentu merasa kasihan kalau anak-anaknya nanti tidak bisa tinggal lagi di rumah itu.
"Itu bukan urusan saya ...! Saya tidak mau tahu ...! Yang penting saya harus segera menjual rumah ini ...." kata Podin yang sudah marah kepada istrinya. Ya, Podin sudah mulai menggebrak meja karena marahnya itu.
"Pak ..., aku tahu .... Bapak pasti punya istri baru .... Bapak pasti di Jakarta menikah lagi dengan perempuan lain. Bapak pasti sudah tergoda oleh wanita ...." begitu kata Isti yang juga emosi karena dibentak oleh suaminya, maka Isti pun langsung meluapkan isi hatinya, meluapakan perasaannya yang selama ini ia pendam. Tentu hati seorang wanita, perasaan seorang perempuan sangat merasakan adanya perubahan sikap pada suaminya. Makanya, Isti langsung saja mengatakan kalau suaminya itu sudah tergoda oleh wanita lain di Jakarta.
"Deg ....!" Podin langsung terhantam dengan kata-kata istrinya itu.
"Mau punya istri lagi, mau punya perempuan lain, itu bukan urusanmu ...! Itu karena kamu sudah tidak pantas menjadi pendamping saya ...! Kamu sudah tidak pantas untuk menjadi istri saya lagi ...! Kamu sudah tidak bisa melayani saya .... Untuk apa saya berumah tangga dengan kamu, kalau kamu sudah tidak bisa melayani saya ...? Untuk apa saya tinggal di sini, kalau kamu tidak bisa memenuhi kebutuhan saya ...?" kata Podin yang tentu langsung menyudutkan istrinya. Podin pun sudah membentak dengan nada tinggi. Tentunya ia semakin emosi.
Ketahuan dikatakan punya istri baru oleh istrinya, tentu Podin kebakaran jenggot. Tapi mau apa, kalau memang faktanya demikian. Tentu mudah ditebak, sudah ketahuan kalau dia sudah tidak sayang kepada istri dan anak-anaknya lagi. Dan Podin pun harus mengakui kalau dia punya istri muda yang ada di Jakarta.
"Huu ..., huhuhuk ...." suara tangis Isti langsung pecah. Ia hanya bisa menangis. Isti tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Ya, Isti hanya bisa meratapi nasibnya, meratapi dirinya dan anak-anaknya, karena ternyata dugaannya selama ini adalah benar. Karena ternyata suaminya memang sudah punya istri lagi. Suaminya sudah menikah lagi. Tentu ini adalah kehancuran dari rumah tangganya. Isti pasti akan ditinggalkan begitu saja, dan anak-anaknya pun akan ditelantarkan begitu saja. Isti tentu ketakutan kalau suaminya sampai menikah lagi, dan pastinya nanti setelah rumah itu dijual, pasti suaminya tidak akan pernah datang lagi dan tidak akan pernah menjenguk istrinya lagi, tidak pernah akan menjenguk anak-anaknya lagi. Dan yang pasti, suaminya pasti tidak akan mengurusi keluarganya lagi.
Isti bingung, kalau sampai rumah itu dijual, lantas dia mau tinggal di mana? Dan pasti suaminya akan selalu tinggal di Jakarta, suaminya pasti tidak akan pulang. Tidak ada lagi orang yang bisa diharapkan mau memberi nafkah untuk dirinya dan anak-anaknya yang masih kecil-kecil itu. Isti hanya bisa menengais, mengucurkan air mata, tanpa bisa berkata apa-apa lagi. Ia hanya bisa pasrah. Harapannya, dia akan bergantung pada ruko yang bisa ditempati bersama dengan anak-anaknya, serta tempat untuk mencari rezeki buat memenuhi kebutuhan hidupnya. Biarlah suaminya meninggalkan dirinya, bersenang-senang dengan istri mudanya.
__ADS_1
"Kamu itu masih beruntung, saya sudah mau membelikan ruko untuk kamu .... Silakan kamu urusi ruko itu, silakan tinggal di ruko itu. Pokoknya rumah ini akan saya jual!" lagi-lagi, Podin membentak istrinya.
Tentu, Isti terus menangis, meski ditutupi kain pakaiannya, untuk menahan suaranya, takut didengarkan oleh anak-anaknya yang sudah ada di dalam kamar.
"Sudah ...!! Pokoknya mulai besok, kamu sudah tidak boleh tinggal di rumah ini lagi ...! Rumah ini akan saya jual ...! Angkuti barang-barangmu, bawa ke ruko kamu ...! Silakan secepatnya angkat kaki dari rumah ini ...!!" begitu bentak Podin pada istrinya, sekaligus mengusir istri dan anak-anaknya.
Tentu Isti akan semakin tersakiti hatinya. Suara tangisnya pun semakin mengeras. Walaupun Isti mencoba untuk bisa menerima, tidak ingin membesar-besarkan persoalan ini.
Namun rupanya, anak-anaknya yang ada di dalam kamar terbangun karena mendengar suara yang cukup keras, suara yang membentak-bentak, suara dari Bapaknya yang marah-marah kepada ibunya, bahkan juga mendengar suara tangisan dari ibunya. Akhirnya tiga anak yang masih kecil-kecil itu pun keluar dari kamar, untuk melihat apa yang sedang terjadi.
"Bu .... Ibu kenapa menangis, Bu ...?" begitu tanya Dewi saat melihat ibunya sedang menangis di hadapan bapaknya. Tentu ketiga anak itu mendekat kepada ibunya, Isti langsung memeluk tiga anak itu. Khawatir kalau sampai dimarahi oleh bapaknya.
"Tidak apa-apa, Nak .... Ibu tidak apa-apa .... Ayo kamu tidur lagi .... Besok harus bangun pagi ...." kata Isti yang menyuruh anak-anaknya agar masuk kamar dan tidur lagi.
"Tidak, Bu .... Saya mau menemani Ibu .... Ibu kenapa menangis?" Dewi dan adik-adiknya yang juga ikut bersedih melihat ibunya menangis, tentu tidak mau meninggalkan ibunya.
Akhirnya, Isti mengajak Dewi, Asri dan Anto, masuk ke kamar tidur. Ya, tiga anak itu langsung dibawa ke kamar, karena Isti tidak ingin anak-anaknya terlibat dengan permasalahannya. Isti tidak ingin anak-anaknya tahu dengan permasalahan keluarga. Isti tidak ingin masalah yang dihadapi oleh ibunya ataupun bapaknya didengar oleh anak-anaknya. Maka kemudian Isti memeluk tiga anaknya itu di atas tempat tidur. Isti mengajak anaknya untuk kembali tidur bersama.
Namun tentunya, Dewi yang sudah bisa berpikir, anak yang sudah bersekolah itu, menanyakan lagi kepada ibunya.
"Bu ..., Bapak kenapa, Bu ...? Kok Bapak marah-marah sama ibu ...?" tanya Dewi pada ibunya, sambil berusaha tidur.
"Tidak apa-apa, Dewi .... Bapak hanya mau menjual rumah kita ini ...." kata ibunya pada Dewi.
Tentu walaupun Dewi masih anak-anak, dia kaget mendengar jawaban ibunya.
"Kenapa dijual, Bu ...? Ini kan rumah bagus .... Ini rumah yang sangat besar, sangat menarik, sangat enak untuk ditempati .... Kenapa mau dijual sama bapak ...?" tanya Dewi kepada ibunya, yang tentunya ia juga kecewa kalau sampai rumah yang bagus itu dijual.
"Tidak apa-apa, Dewi .... Bapak butuh uang .... Bapak sudah tidak punya uang .... Uangnya sudah habis untuk mengembangkan bisnisnya di Jakarta .... Bapak butuh modal. Makanya rumah ini akan dijual untuk usahanya di Jakarta ...." kata Isti kepada anaknya, agar anaknya paham dengan masalah yang sedang dihadapi oleh orang tuanya. Dan tentu, Isti tidak mau mengungkap kalau bapaknya kawin lagi.
"Tidak apa-apa .... Besok kita tidurnya di toko. Kita tidur di sana, kita menempati toko itu. Pokoknya kita nanti di ruko itu, sambil jualan, sambil menjadi rumah kita. Malah kita tidak bolak-balik sana kemari, kita tinggal menetap di toko itu saja ...." kata ibunya yang menenangkan anak-anaknya.
"Iya .... Nggak apa-apa tinggal di toko .... Saya juga senang kok, jajanannya banyak ...." begitu Asri yang masih belum bisa tidur itu menjawab dengan lugu. Memang anak sebesar Asri tentu belum punya nalar untuk berpikir jauh. Seperti halnya untuk mengetahui masalah yang dialami oleh ibunya.
"Iya ..., nggak papa .... Yang penting kita bisa tinggal, kita masih punya rumah, kita masih bisa tidur ...." begitu kata Isti menjelaskan kepada anak-anaknya, yang tentu tetap sambil menahan isak tangis.
"Tapi kan rumahnya besar ini, Bu .... Di toko itu kan sempit." protes Dewi.
"Tidak apa-apa, Dewi .... Yang penting kita bisa tidur. Kan di ruko ada kamar dua, kamar yang satu untuk kamu sama Asri, yang satu untuk Ibu sama Antok .... Masih bisa tidur nyaman, kan ...." begitu kata ibunya menjelaskan pada anak-anaknya.
"Iya, Bu ...." sahut anak-anaknya.
"Nah .... Sekarang kalian tidur .... Besok kita pindah ke toko. Besok kita membawa barang-barang yang akan kita bawa, barang-barang kalian yang ada di sini, besok semuanya kita bawa ke toko. Semua pakaian-pakaian, bukumu ya, Dewi .... Besok semuanya kita bawa ke toko, dan kita tata di sana." kata ibunya kepada tiga anaknya, agar besok bisa bangun pagi dan mengamasi barang-barangnya.
"Tapi, Bu ..., aku pengin kasur yang ini .... Kasur ini lebih empuk, lebih enak untuk tidur. Kalau yang di toko itu kasurnya tidak empuk ...." kata Dewi yang masih selalu membandingkan.
"Iya ..., besok kita pindah ke sana, apa yang kamu mau kita bawa ke sana ...." begitu kata Isti pada anak-anaknya, yang tentunya ingin menenangkan anak-anaknya agar bisa menerima kenyataan.
"Kalau Bapak nanti jadi menjual rumah ini, terus Bapak berbisnis di Jakarta, berarti Bapak malah tidak pulang-pulang lagi ke sini ya, Bu ...." tiba-tiba Dewi menanyakan tentang bapaknya.
"Ya, kamu berdoa saja, supaya Bapak sering pulang kemari ...." jawab ibunya.
__ADS_1
"Tapi, Bu .... Biasanya kalau dia sudah kerja di Jakarta , terus lupa kepada kita. Pasti tidak mau menengok kita lagi ...." begitu Dewi mencoba untuk menyampaikan perasaannya kepada ibunya.
"Iya ..., tidak apa-apa, Dewi .... Kan Bapak kerja .... Dan kita kan juga sudah punya usaha, kita sudah jualan di toko, dan toko kita kan sekarang laris ...." sahut ibunya.
Pagi itu, Podin yang sudah siap menjual rumahnya, begitu bangun dari tidurnya langsung menyuruh istrinya untuk mengangkut barang-barang miliknya, agar segera dibawa berpindah ke ruko. Ruko istrinya itu, yang sudah dibelikan oleh Podin, setidaknya dalam pikiran Podin, tentu toko yang ada di ruko itu, sudah bisa memberikan penghasilan kepada istrinya. Anggapan Podin, tentunya ruko itu bisa menghidupi istri dan anak-anaknya. Ia tidak mau urusan lagi untuk memberikan nafkah kepada anak dan istrinya. Podin tentunya sudah merasa bertanggung jawab, kalau dirinya sudah membelikan ruko itu sebagai tempat usaha, agar istrinya bisa mencari nafkah sendiri.
Begitu sudah diusir oleh Podin, pagi itu pun Isti langsung membangunkan anak-anaknya yang masih kecil-kecil. Dia langsung menyuruh anak-anaknya untuk mengemasi semua barang-barang miliknya, barang-barang yang akan dibawa ke ruko. Pagi itu, mereka akan pindahan dan tinggal di tokonya, karena rumah itu akan dijual oleh bapaknya.
"Pak Satpam ..., saya minta tolong untuk dicarikan kendaraan pick-up, ya ...." kata Isti yang menelepon satpam yang berjaga.
"Mobil bukaan, Bu ...? Untuk apa, Bu?" tanya satpam itu, yang tentu ingin tahu.
"Ini, saya mau minta tolong mengangkut barang, untuk saya bawa ke ruko ...." jawab Isti.
"Siap, Bu ...." jawab satpam itu tegas. Yang tentu langsung mencarikan mobil pick-up yang banyak lewat di jalan depan pos penjagaan.
Hanya menunggu sebentar, akhirnya mobil pick-up yang dipsean sudah sampai di depan rumah Isti. Lantas sang sopir membantu Isti, untuk mengangkat kasur yang diminta oleh anaknya. Bahkan Isti juga membawa meja makan dan empat kursinya.
Anak-anaknya tentu ikut sibuk mengangkuti barang-barangnya. Tidak hanya mainan, tetapi juga membantu membawa tas berisi pakaian serta buku-buku.
"Mau pindahan, Bu?" tanya sopir itu.
"Iya, di bawa ke ruko ...." sahut Isti yang tentu merahasiakan permasalahannya.
Akhirnya, Isti bersama anak-anaknya, sudah pindah menempati ruko. Mereka tinggal di ruko.
*******
Seperti yang sudah direncanakan oleh Podin, ia akan menjual rumah itu. Maka hari itu, Podin pun pergi ke tempat pemasaran di perumahan itu, tentunya untuk minta tolong membantu menawarkan rumahnya, agar bisa cepat terjual. Tentunya pihak pemasaran, berjanji akan membantu. Yang pasti nanti akan dimasukkan dalam barang yang ditawarkan oleh pengembang. Ya, seperti dulu, waktu Podin membeli rumah itu, rumah yang akan dijual oleh pemiliknya dangan perantara pemasaran perumahan.
Bahkan setelah selesai berembug dengan pemasaran perumahan, Podin juga menemui Pak Mandor. Tentu ia juga meminta tolong kepada Pak Mandor untuk menjualkan rumahnya.
"Pak Mandor, saya minta tolong dibantu lagi .... Saya mau menjual rumah saya yang ada di perumahan itu. Tolong Pak Mandor membantu menawarkan kepada orang-orang yang mau membeli." kata Podin kepada Pak Mandor.
"Memangnya kenapa ...? Rumah bagus seperti itu, rumah mewah begitu, kok mau dijual ...? Apa kurang bagus?" tanya Pak Mandor kepada Podin.
"Saya butuh uang, Pak Mandor ...." jawab Podin polos.
"Kamu itu selalu begitu .... Rumah kamu itu, Din ..., rumah yang paling bagus, rumah yang sangat mewah, rumah yang megah, dan letaknya pun tidak sembarangan .... Itu rumah kamu letaknya ada di perumahan elit. Tidak semua orang bisa punya rumah seperti itu .... Lha kok malah mau dijual itu bagaimana?" kata Pak Mandor yang tentunya juga sudah menduga, kalau Podin pasti butuh uang.
"Saya butuh uang untuk bisnis saya yang ada di Jakarta, Pak ...." jawab Podin.
"Oo ..., ternyata kamu ini sekarang berbisnis di Jakarta, ya .... Bagaimana bisnismu di Jakarta? Pasti lancar dan menghasilkan uang banyak ...." kata Pak Mandor kepada Podin.
"Ya, itu, Pak .... Di Jakarta banyak saingan. Saya akan menambah modal, makanya rumah itu akan saya jual, supaya modal kami bertambah, dan usaha saya yang di Jakarta ini bisa lebih maju dan lebih menguntungkan ...." kata Podin, yang tentu sudah membohongi Pak Mandor.
"Ya, kalau memang begitu, apa boleh buat .... Akan saya bantu, nanti kalau ada orang yang mau beli, kalau ada yang mencari rumah mewah, nanti saya akan menghubungi kamu." kata Pak Mandor, yang tentu juga tidak terlalu serius menanggapi pembicaraan Podin itu.
"Iya, Pak .... Terima kasih, Pak ..., saya mohon bantuannya." Begitu kata Podin yang kemudian dia pun berpamitan meninggalkan Pak Mandor.
Memang sebenarnya, saat ini pikiran Podin sedang stres. Ia ingin mencari sumber dana yang lain, untuk usahanya membelikan mobil buat istri mudanya. Kali ini, Podin benar-benar pusing memikirkan uang untuk untuk memenuhi tuntutan istri mudanya. Ia harus segera membelikan mobil Maya. Tentunya Podin takut kalau balik ke Jakarta, karena kalau sampai ia pulang, pasti Maya akan menanyakan, "Mana mobilnya ...?" dan Maya pasti akan meminta, "Ayo, Bang ..., segera belikan mobil untukku." begitu kira-kira yang ada dalam pikiran Podin. Makanya ketika ia belum mendapatkan uang, tentu dia pergi ke beberapa temannya, yang jelas menawarkan rumah mewahnya itu, agar segera laku terjual. Ia meminta tolong pada teman-temannya, agar rumahnya itu segera ada yang mau membelinya. Dan tentunya, Podin sudah menawarkan rumahnya itu dengan harga yang jauh lebih murah dari saat ia membelinya dulu. Ya, itu semua ia ingin segera mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhannya.
__ADS_1
Seperti itulah kira-kira gambaran orang yang kebingungan untuk memenuhi permintaan dari istri muda. Memang, Podin saat ini sedang tergila-gila dengan kenikmatan yang diberikan oleh Maya. Tetapi apa yang diminta oleh Maya, apa yang dituntut oleh Maya kepada suaminya, itu terlalu tinggi.
Namun entah kenapa, Podin takluk begitu saja dengan semua omongan istri mudanya. Ia lebih tega mengusir istri dan anak-anaknya, ketimbang tidak menuruti permintaan Maya. Mungkinkah Podin sudah terkena guna-guna istri muda?