
Podin sudah tidak punya lagi peti-peti harta karun yang pernah ia jadikan sandaran untuk mencari harta kekayaan. Tentunya kini dirinya tidak bisa lagi untuk mengundang tuyul yang selalu diharapkan dapat mencarikan uang, dapat mencarikan harta kekayaan, sehingga kini tidak dapat meminta uang dari tuyul lagi. Dan pastinya para tuyul yang dulu pernah ia pelihara itu sudah tidak bakal mendatangi Podin lagi.
Memang, tuyul-tuyul sudah banyak memberikan uang kepada Podin. Tetapi kini, ketika peti-peti keramat miliknya itu sudah diberikan semuanya kepada Bang Kohar, bahkan kamar yang sempat dirahasiakan, kamar yang sempat tidak boleh dimasuki oleh siapa saja, kini menjadi kamar yang terbuka, kamar yang sudah bersih, kamar yang tidak ada lagi barang-barang yang menakutkan. Ya, bahkan di dalam kamar itu sudah disediakan tempat tidur. Yang pastinya terlihat lebih bagus dan menarik. Seandainya saja ada tamu, tentunya jika tamu itu menginap, maka kamar itu dipakai untuk menginap tamu-tamu yang datang ke rumahnya.
Ya, Podin memang sudah melepas semua kaitannya dengan arwah-arwah yang sempat ia pelihara, peti-peti keramat yang sempat dia puja-puja. Dan kini, ia sudah tidak lagi mempunyai hubungan dengan makhluk-makhluk yang pernah dia puja, dia pelihara, selalu ia usapi dengan minyak wangi.
Memang Cik Melan orangnya keras. Cik Melan orangnya selalu berdasar pada kebenaran agama yang dianutnya. Cik Melan orangnya sangat tegas. Jika memang ada perlakuan dari suaminya yang menyimpang dari ajaran yang tidak benar berdasarkan firman-firman Tuhan, maka Cik Melan pun segera mengingatkan suaminya, Cik Melan segera menasehati suaminya. Bahkan Cik Melan juga menyebutkan ayat-ayat dalam kitab suci, ayat-ayat dalam buku wasiat Firman-Firman Tuhan, seperti kotbah, Cik Melan langsung mengingatkan kepada Podin, bahwa suaminya harus mengikuti kebenaran-kebenaran dari nilai-nilai agama yang sesuai dengan firman Tuhan, yang diajarkan dalam agamanya.
Ya, mau tidak mau Podin harus mengikuti apa yang dikatakan oleh istrinya. Karena menurut Podin yang sudah bisa menerima kehidupan beragama, memang itulah kebenaran dari ajaran-ajaran agama, kebenaran dari Tuhan. Dan Podin pun sedikit demi sedikit sudah mulai yakin, sudah mulai percaya. Iman tentang ketuhanannya sudah mulai tumbuh. Dan ia ingin menjadi orang yang diselamatkan oleh Tuhan, tidak masuk di dalam api neraka. Tetapi Podin ingin menjadi orang yang selamat dan masuk surga.
"Pah ..., besok kita ke gereja." kata Cik Melan pada suaminya, yang tentunya ingin mengajak Podin agar berangkat ke gereja.
"Ya ..., Mah .... Gereja yang di mana?" tanya Podin pada Cik Melan.
"Gimana kalau kita sekalian ke Jakarta, Pah ...? Kita ke gereja sambil menengok perkembangan usaha kita yang ada di sana .... Terus kita menginap di sana, dan paginya kita terusan ke gereja. Saya pengin ke gereja tempat kita menikah dulu ...." kata Cik Melan memberi alternatif pada Podin.
"Iya ..., Mah .... Tidak apa-apa .... Sekalian kita menengok saudara-saudara yang ada di sana." jawab Podin yang tentu juga senang akan diajak melihat tempat usahanya. Tempat hiburan karaoke yang ada di Jakarta, yempat usaha pertama kali Podin membuka usaha, yang kebetulan pengelole keuangannya adalah Cik Melan, yang kini menjadi istrinya.
"Ya, udah .... Kalau begitu besok sore, kita berangkat ke Jakarta." kata Cik Melan yang tentu sangat senang mendengar jawaban suaminya yang gembira saat akan diajak ke gereja.
Memang, tempat usaha yang ada di Jakarta, tempat hiburan karaoke, secara sepenuhnya oleh Cik Melan sudah dipasrahkan kepada Amoy yang dipercaya untuk mengelola keuangannya. Amoy adalah sepupu dari Cik Melan, anak dari tantenya. Tentu mempunyai karakter yang sama, sifat yang sama, bahkan cara pengelolaan keuangan yang sama dengan Cik Melan. Kebetulan Amoy juga lulusan dari akademi keuangan. Yah, hitung-hitung bagi-bagi rezeki dengan sepupunya, Amoy. Dan tentunya, Amoy yang baik itu setelah dipasrahi tempat usaha hiburan karaoke milik Podin, yang bahkan Amoy menyebutnya sebagai milik Cacik-nya itu, pastinya benar-benar berjalan dengan baik.
__ADS_1
Oleh sebab itu, Cik Melan maupun Podin tidak meragukan lagi dengan pengelolaan tempat usaha hiburan karaoke yang ada di Jakarta itu. Semuanya pasrah pada Amoy. Namun kenyataannya, uang yang dikelola oleh Amoy, semuanya masuk ke dalam rekening Cik Melan. Amoy masih menganggap dirinya sebagai karyawan dari perusahaan itu. Sebagai pekerja yang dibayar oleh caciknya. Ya, memang oleh Podin tempat usaha itu sudah dipasrahkan sepenuhnya kepada istrinya. Tentu Podin maupun Cik Melan sangat senang, sangat bangga dengan pekerjaan yang dilakukan oleh adik sepupunya itu.
Hanya sebentar Podin dan Cik Melan menengok tempat hiburan karaoke miliknya itu. Yang jelas, ia melihat banyak mobil yang terparkir di halaman. Itu artinya bahwa tempat hiburan karaoke sudah penuh tamu. Artinya, pemasukan keuangan pasti lumayan.
*******
Pagi itu, Cik Melan bersama suaminya, Podin, berangkat ke gereja bersama. Tentunya Cik Melan senang bisa mengajak suaminya ke gereja. Apalagi bagi dirinya, gereja itu penuh kenangan. Gereja yang tidak mungkin ia lukapan, di mana Cik Melan maupun Podin, dulu ketika mereka menikah, tempat itulah, gereja itulah saksi pernikahan mereka berdua.
Demikian juga dengan Podin yang sudah menjalin hubungan suami istri bersama dengan Cik Melan, tentunya dia juga ingat persis bagaimana dulu ia menerima pemberkatan di gereja itu. Bahkan juga menikah di gereja itu. Bahkan Podin dan Cik Melan juga mendapat sambutan hangat dari teman-teman gerejanya. Menerima ucapan selamat atas pernikahan yang dilakukan oleh mereka. Bagi Podin maupun Cik Melan, tentu kenangan itu masih teringat di benak mereka berdua.
Dan kini, ketika Podin diajak oleh istrinya untuk masuk ke gereja itu kembali, untuk berbakti di gereja itu, mengikuti kebaktian di tempat itu, tentunya ini adalah hal yang sangat indah, hal yang penuh kenangan, hal yang penuh dengan kemesraan sebagai seorang suami istri yang setia mengikuti ajaran Kristus. Terutama Cik Melan, ia bangga bisa mengajak suaminya mengikuti kebaktian di gerajanya.
Pagi itu, Cik Melan yang datang bersama dengan suaminya untuk melakukan kebaktian di gereja, benar-benar sangat senang, benar-benar sangat gembira. Terutama ia mendapat sambutan yang luar bisasa dri teman-teman jemaat gerejanya.
"Pagi, Pak Podin .... Tuhan memberkati ...."
"Ameinnnn ...."
"Pagi yang indah .... Diberkati Tuhan kiranya ...."
"Haleluya ...."
__ADS_1
"Sehat ..., Pak Podin ...."
"Tuhan memberkati ...."
Begitu menyenangkan sambutan dari para jemaat di gereja itu yang tentunya senang dengan kehadiran Cik Melan maupun Podin. Dan tentunya, Cik Melan juga senang mendapatkan sambutan seperti itu. Apalagi saat ia melihat wajah suaminya yang juga tersenyum dan nampak gembira. Pasti hati Cik Melan gembira menyaksikan suaminya yang senang diajak kebaktian.
Acara kebaktian pun dimulai. Puji-pujian pun juga dimulai. Dipimpin oleh seorang perempuan anggota jemaat, yang pastinya pada pagi itu mendapat bagian tugas memimpin puji-pujian. Semua jemaat mengikuti, bernyanyi memuji kebesaran Tuhan. Ada beberapa anak muda yang memainkan musik. Ada juga beberapa anak perempuan yang juga memainkan rebana dengan hiasan pita, menyanyi sambil menarikan rebana yang cantuk itu. Terlihat menarik dan menyenangkan. Tentunya para jemaat yang mengikuti puji-pujian itu juga senang. Apalagi sambil bertepuk tangan. Mereka terlihat bersemangat semuanya.
Demikian juga Podin, yang terlihat senang dan gembira bersama dengan jemaat yang lain, memuji kemuliaan Tuhan. Pasti Cik Melan gembira, begitu menyaksikan suaminya yang mengikuti puji-pujian dengan gembira, mengikuti puji-pujian dengan sangat senang, bahkan Podin ikut bertepuk tangan dengan semangat, bahkan sangat semangatnya mengalahkan Cik Melan.
Ya, walaupun Podin belum hafal dengan syair-syair lagu yang dinyanyikan dalam puji-pujian itu, tetapi setiap kali berdendang, setiap kali mengikuti puji-pujian Tuhan, Podin terlihat sangat gembira, sangat antusias, dan sangat senang. Ya, tepuk tangannya pun sangat luar biasa. Podin mengikuti pujian bahkan sambil berdendang, bahkan sambil bergoyang, seperti layaknya dia menikmati puji-pujian itu seperti halnya dia sedang menghibur diri, tidak hanya sekedar memuji Tuhan, tetapi juga menyenangkan dirinya sendiri. Senyum lebar, bahkan sering kali ia membuka mulutnya sambil seakan mau tertawa, karena saking bahagianya. Yah, hari itu, Podin benar-benar memuji Tuhan dengan puji-pujian yang penuh sukacita.
Tentu Cik Melan yang menyaksikan semua itu, menyaksikan suaminya, ia ikut bahagia, Cik Melan ikut gembira, ia ikut senang menyaksikan suaminya yang benar-benar bersukacita memuji Tuhan.
"Hidup baru ...."
"Hidup baru ...."
"Urapan Roh Kudus ...."
"Allah Bapa .... Sang Putra .... Roh Kudus .... Telah memberikan hidup baru bagi Pak Podin ...."
__ADS_1
"Haleluya ...."