PULAU BERHALA

PULAU BERHALA
EPISODE 138: TEMPAT SINGGAH HANTU


__ADS_3

    Pastinya Podin penasaran saat melihat hantu perempuan yang bertengger di atas dahan pohon besar itu, yang mengenakan gaun putih seperti layaknya hantu yang disebut dengan istilah orang-orang sebagai kuntilanak. Podin yang sudah mendengar banyak cerita tentang kisah villa yang dibelinya itu, yang konon katanya pernah dijadikan sebagai tempat pembunuhan perempuan. Pasti Podin ingin tahu hubungan antara perempuan yang dibunuh di villa itu, dengan hantu yang menakut-nakutinya, yang selalu bergentayangan di atas kepalanya, berpindah-pindah dari dahan ke dahan, dan bahkan bertengger di pohon-pohon yang sangat tinggi, tanpa ada rasa takut sedikitpun. Ya, namanya juga hantu, walaupun jatuh tidak bakal sampai ke tanah dan tidak bakal kesakitan ataupun luka-luka.


    Bagi warga lain, mungkin baru mendengar kata hantu saja sudah mengkorok bulu kuduknya. Apalagi sampai melihat hantu, pasti akan pingsan. Tapi bagi Podin, yang sudah terbiasa dengan arwah maupun hantu, tentunya kalau hanya ditakut-takuti oleh hantu perempuan seperti itu, tidak ada rasa takut sama sekali. Bahkan hal itu justru membuat Podin jadi penasaran ingin mengetahui hantu itu lebih dekat.


    Ya, malam itu, Podin justru berniat ingin menangkap hantu perempuan dengan gaun putih yang berlompatan dari dahan ke dahan itu. Pastinya Podin ingin tahu, siapa sebenarnya hantu perempuan itu? kenapa ia menjadi hantu? dan mengapa harus menakut-takuti orang?


    Serta merta Podin membawa minyak wangi yang sudah dioleskan pada kain putuih, yang biasa ia gunakan untuk membersihkan peti-peti keramatnya. Pastinya Podin ingin mengetahui, di mana tempat tinggal hantu itu? Apakah ada di dalam kuburan? Di pohon? Atau berada di benda-benda keramat lainnya. Maka malam itu Podin terus mengejar hantu perempuan yang gentayangan menggodanya itu.


    "Hai ..., perempuan cantik .... Turun, kamu ...!!" teriak Podin sambil membuka lembaran kain putih yang sudah dituangi minyak wangi, selebar sapu tangan, yang akan ia gunakan untuk menangkap hantu itu.


    "Kqiiqiqiqik ......." perempuan gentayangan itu justru tertawa mengejek Podin. Ia masih bertengger di atas dahan yang kira-kira tingginya sepuluh meter dari kepala Podin.


    "Hei ...!! Turun, kamu ...!!" bentak Podin lagi kepada perempuan gentayangan itu. Pasti itu adalah hantu kuntil anak.


    "Wuuszzz .... Siuuutt ......"


    Tiba-tiba saja kuntil anak itu sudah meluncur dari pucuk pohon, turun dengan cepat, dan tentunya langsung menuju ke arah Podin. Hampir saja menubruk Podin. Podin terkejut. Ia mengelak menghindari tubrukan dari hantu itu. Dan hantu perempuan dengan gaun putih yang kedodoran itu sudah berada tepat di hadapan Podin. Bahkan hantu itu sudah sangat dekat dan hampir menempel pada Podin.

__ADS_1


    Podin yang sempat menghindar karena takut kalau ditubruk oleh hantu itu, kembali menegakkan badannya, karena ternyata hantu itu tidak mengenai tubuhnya, hantu itu hanya melayang saja di hadapan Podin. Bahkan kakinya tidak menyentuh tanah. Ya, hantu itu mengambang saja di atas tanah.


    "Kiqiiqiqiqik ......." hantu kuntil anak gentayangan itu kembali tertawa mengikik di hadapan Podin, yang tentunya akan menakut-takuti Podin.


    "Semilah ..., semilah ..., semilah ...." Podin komat-kamit membaca mantra. Entah kata-kata apa yang diucapkan, tetapi yang jelas ia ingin menaklukkan hantu itu.


    "Kqiiqiqiqik ......." kuntil anak itu tertawa lagi. Pastinya perempuan gentayangan itu menertawakan Podin yang sudah berusaha mengejarnya itu.


    Namun Podin yang sudah siap membawa kain putih dengan di basahi minyak nyong-nyong, tangannya langsung menebarkan kain putih itu, dan tepat mengenai wajah hantu yang melayang di depannya itu. Di luar dugaan, hantu yang menakutkan itu ternyata setelah terkena kain kafan yang sudah dilumuri dengan minyak wangi yang baunya semerbak menusuk hidung itu pun langsung menjadi takhluk di hadapan Podin. perempuan dengan gaun putih kedodoran itu menjadi menurut pada Podin. Kuntil anak itu menjadi hantu yang lemah gemulai. Hantu itu tidak lagi terbang gentayangan melayang ke sana kemari, tidak lagi berloncatan ke dahan-dahan pada pohon besar yang tinggi, tetapi justru seakan menjadi perempuan yang pendiam, lemah gemulai dan penurut di hadapan Podin.


    "Hei ..., perempuan tak beruntung .... Tunjukkan ..., di mana tempat keberadaanmu .... Aku akan membantumu." kata Podin kepada hantu itu, dan tentunya Podin berniat akan mencari tempat yang selama ini disinggahi oleh hantu perempuan bergaun putih itu, dan tentu tempat singgah hantu itu akan diambil oleh Podin.


    Tanpa tertawa lagi, tanpa menakut-takuti lagi, bahkan tanpa mengeluarkan kata-kata, tanpa suara, tanpa menjawab kepada Podin yang menanyainya, hantu itu sudah membalikkan tubuhnya, seakan berjalan, tetapi tidak menginjak tanah, hanya mengambang saja di atas tanah, perlahan menuju ke arah belakang bangunan villa yang kini ditempati oleh Podin.


    Podin mengikuti hantu perempuan dengan gaun putih kedodoran, serta rambut panjang terurai yang menutupi punggungnya, tentu dengan rasa was-was. Podin pastinya berpikir bahwa perempuan itu akan menunjukkan di mana sebenarnya tempat keberadaannya, tempat ia singgah, di mana sebenarnya tempat hantu itu tinggal. Podin pun dengan sabar terus mengikuti. Namun harus tetap hati-hati, karena meski sudah tinggal di villa itu beberapa hari, Podin belum pernah berkeliling ke belakang villanya.


    Dan tentunya karena malam hari, tempat itu gelap, tidak ada lampu penerangannya. Itu tentunya salah Podin sendiri yang tidak memberi lampu penerangan. Enakan si hantu, yang hanya melayang begitu saja, tidak khawatir kalau sampai menyandung kayu ataupun batu. Bahkan juga tidak khawatir kalau banyak semak dan duri. Tetapi bagi Podin, pastinya semua itu akan mengenai dirinya. Ia harus tersandung berbagai barang. Bahkan juga tertusuk duri-duri yang tumbuh liar di belakang villanya. Ya, tetapi itu semua tidak ia hiraukan. Yang penting Podin bisa menemukan tempat singgah arwah perempuan yang gentayangan itu.

__ADS_1


    Hantu perempuan dengan pakaian gaun putih yang kedodoran itu, yang berjalan mengambang di depannya, tiba-tiba berhenti. Cukup jauh dari bangunan villanya. Sekitar dua puluh lima meter. Tepat di bawah pohon yang paling besar yang ada di kebun yang mengelilingi villa itu. Podin yakin, pasti tempat singgah ****** anak itu ada di situ. Podin juga yakin, sebentar lagi ia akan menemukan tempat persinggahan hantu itu. Dan tentunya, Podin akan mengambil benda atau barang yang dijadikan sebagai tempat singgahnya arwah perempuan itu.


    Perempuan itu membalikkan badannya. Menatap Podin yang tadi mengikuti di belakangnya. Tetap diam dan tidak keluar sepatah kata pun. Padahal tadi saat tertawa menakutkan orang. Namun wajahnya terlihat berekspresi sedih. Ada sesuatu yang pastinya membuat perempuan itu bersedih.


    Lantas arwah perempuan itu tangannya menunjuk ke bawah. Ya, menunjuk ke arah dekat pohon tempat ia berhenti. Pastinya Podin memahami maksud arwah itu. Pasti perempuan itu menunjukkan tempat bersemayamnya. Yah, tempat arwah itu tinggal.


    Podin pun mendekat, Menuju ke arah yang ditunjuk oleh hantu itu. Podin menuju ke bawah pohon besar yang ditunjuk hantu itu. Lantas Podin berjongkok, ingin mengetahui tempat yang ditunjukkan itu.


    Namun karena kondisi gelap, pastinya mata Podin tidak bisa melihat dengan jelas. Tidak bisa mengamati secara gamblang. Sayang, ia tadi tidak membawa lampu senter. Maka Podin hanya mampu meraba dengan tangannya, hanya sanggup mengira-ira, ada apa di tempat itu.


    Podin hanya sanggup merasakan, kalau di bawah pohon besar itu, ada batu yang menggeletak di situ. Namun tangan Podin tidak sanggup untuk membongkar batu itu. Ya, Podin yakin, pasti batu ini yang ditunjukkan oleh arwah gentayangan itu. Podin yakin, inilah tempat singgah dari arwah itu.


    Setelah meyakini apa yang ditemukan, Podin ingin tahu kebenarannya, yang tentunya ia ingin menanyakan kepada perempuan yang sudah menuntunnya di tempat itu. Namun saat ia mendongakkan kepalanya, hantu perempuan bergaun putih tersebut sudah tidak ada. Hantu yang dianggapnya kuntil anak itu sudah lenyap. Hilang tanpa bekas.


    Podin menarik nafas panjang. Pertanda ingin melepas penat. Tentunya juga lega, sudah menemukan tempat persemayaman arwah yang ditunjukkan oleh hantu itu. Namun malam itu terlalu gelap, tidak mungkin bagi Podin untuk membongkar batu yang ada di bawah pohon itu. Maka Podin pun memutuskan, akan membongkarnya besok kalau hari sudah terang.


    Podin kembali masuk ke villanya, dengan penuh tanda tanya. Tempat apakah yang ditunjukkan oleh arwah perempuan tadi? Ada apa di sana? Mungkinkah itu tempat ia dikubur oleh orang jahat? Lantas, apa hubungannya dengan villa ini?

__ADS_1


__ADS_2