PULAU BERHALA

PULAU BERHALA
EPISODE 83: DI KAMAR HOTEL


__ADS_3

    Setelah diantar ke hotel oleh karyawannya yang bertugas di bagian keamanan, Podin langsung pesan kamar dan masuk ke kamarnya. Di kamar hotel, Podin hanya bisa diam. Wajahnya terlihat sedih dan sayu. Tentu karena ia sangat terpukul dan sedih, barusan kehilangan tempat usaha, di mana gedung karaoke tempat hiburan yang menjadi tempat usahanya sudah terbakar. Pasti dia tidak bisa mengatakan kepada istrinya kalau dirinya adalah pengusaha. Podin termenung, dan seakan putus asa. Kini, habis semuanya.


    "Akang .... Akang Podin kenapa ...? Akang Podin terlihat sedih ...? Sudahlah, Akang .... Jangan sedih ..., jangan terlalu dipikirkan .... Itu semua takdir Illahi, yang mengingatkan kepada kita, bahwa harta, benda, kekayaan, itu semua hanyalah titipan dari Yang Maha Kuasa .... Kita manusia tidak bisa apa-apa. Kalau semua harta benda dan kekayaan itu diambil oleh Yang Kuasa, kita tidak bisa mengelak, kita tidak bisa menahannya, kita tidak bisa untuk meminta kembali ...." begitu kata Lesti yang mencoba untuk menenangkan dan menyuport hati suaminya.


    "Iya, Lesti .... Akang tahu .... Tetapi Akang malu .... Akan tidak bisa menunjukkan tempat usaha Akang kepada Lesti .... Akan tidak bisa membuktikan bahwa Akang punya usaha .... Akan tidak bisa mengatakan kepada Lesti bahwa usaha Akang di Jakarta itu sukses, usaha Akang itu bagus, usaha Akang itu maju .... Dan Lesti belum sempat melihatnya .... Nggak bisa, Lesti .... Saya malu pada Lesti." kata Podin yang tentu dia tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya, karena niatnya ke Jakarta adalah ingin menunjukkan tempat usahanya kepada Lesti.


    Dan tentu Podin juga khawatir kalau sampai dikatakan bahwa tempat usaha yang diceritakan oleh Podin itu hanya bohong-bohongan saja. Dan tentunya teman-teman Lesti tidak bisa menerima cerita-cerita bohong seperti itu. Lesti tidak bisa membuktikan kebenaran dari ejekan dari teman-temannya Lesti. Sebenarnya saat Podin mengajak Lesti ke Jakarta, ia ingin menunjukkan bahwa ia benar-benar seorang pengusaha di Jakarta, Podin benar-benar punya tempat usaha. Namun ketika ia mengajak istrinya, ingin membuktikan apa yang dikatakannya, ingin menunjukkan tempat usahanya, ingin memberitahukan kepada istrinya bahwa dia punya usaha yang besar di Jakarta. Dan itu semua sia-sia, karena tempat usaha itu sudah terbakar. Tentunya, Podin sangat kecewa karena tidak bisa membuktikan kepada istrinya, kalau tempat usahanya itu bisa menghasilkan uang yang banyak.


    "Tidak apa-apa, Akang .... Saya tahu, saya maklum, dan saya menyadari sremuanya. Saya sudah melihat sendiri, Akang Podin memang punya usaha, Akang Podin punya tempat usaha yang bagus, yang mewah, yang menarik, dan tentu Akang Podin punya penghasilan besar dari tempat usaha itu. Namun apa boleh dikata, itu semua kehendak Illahi, takdir Yang Maha Kuasa .... Yang di atas yang menentukan segalanya .... Kita hanya bisa berusaha, tetapi semuanya itu yang menentukan hanyalah Yang Maha Kuasa .... Saya bisa menerimanya, Akang .... Saya tidak marah, saya percaya sama Akang ...." begitu kata Lesti, sambil mengelus bahu suaminya. Tentunya agar Podin bisa menerima kenyataan itu, dan agar Podin segera bangkit dari keterpurukannya.


    "Tapi, Lesti ..., kamu belum melihat secara nyata, bagaimana usaha Akang." kata Podin yang masih saja merasa menyesal karena tidak bisa menunjukkan tempat usahanya kepada istri barunya itu.


    "Tidak apa-apa, Akang .... Lesti percaya, nanti kalau Yang Kuasa itu menghendaki, Akang akan diberi tempat usaha baru. Nah, bisa jadi Lesti nanti bersama Akang membuat tempat usaha baru itu ...." kata Lesti yang masih mengelus punggung suaminya, yang tentu Lesti juga merasa kasihan terhadap suaminya. Barusan suaminya cerita kalau istrinya meninggal bersama dengan bayinya saat melahirkan, dan kini ia ingin menunjukkan tempat usahanya, tetapi nasib sial sedang dialami oleh Podin, dan kini tempat usahanya itu baru saja terbakar. Pasti Podin sangat terpukul melihat kenyataan itu, dan tentu sangat kecewa. Hatinya hancur karena tidak bisa membuktikan kalau dirinya adalah seorang pengusaha kepada istri yang diajaknya ke Jakarta.


    "Betul juga, kamu, Lesti .... Tapi untuk memulai usaha itu, kita butuh modal yang besar .... Kita butuh uang yang banyak. Tidak hanya sekedar untuk mencari tempatnya saja, tetapi kita juga harus membangun tempatnya, kita juga harus mengisi apa-apa yang dibutuhkan dalam usaha-usaha kita itu, dengan semua kebutuhan yang diperlukan dalam usaha kita." kata Podin yang tentu memberi gambaran kepada istrinya, kalau mau membuka usaha pastinya memang dibutuhkan biaya yang sangat besar.


    "Iya, Kang ..., saya tahu .... Tapi setidaknya kita bisa merintis dari usaha yang kecil-kecilan saja dulu, Akang .... Tidak harus yang besar, tidak harus pakai tempat yang bertingkat, tidak harus pakai tempat yang sangat mewah,  tidak harus pakai gedung yang besar, tidak harus dengan modal yang besar, Akang .... Kita mulai dari yang kecil-kecil dulu." kata Lesti yang memberikan motivasi kepada suaminya, dan yang pasti, Lesti juga ingin suaminya tidak berlarut dalam kesedihan, suaminya tidak terpukul dengan kejadian-kejadian yang sangat menyakitkan itu. Dan tentu, Lesti ingin suaminya segera bangkit agar bisa bergairah untuk menata hidup kembali.


    "Iya, Lesti .... Saya pasrah sama Lesti .... Kira-kira, usaha apa yang harus kita kembangkan dengan dana yang sedikit dan yang tidak begitu besar? Setidaknya kita punya tempat usaha yang bisa memberikan nafkah kehidupan, penghasilan untuk kita." kata Podin pada istrinya, tentu Podin mulai sadar bahwa untuk membuka usaha memang tidak harus langsung besar, tetapi bisa jadi usaha itu dimulai dari yang kecil-kecilan lebih dahulu.


    "Iya, Akang .... mungkin kita mulai buka warung .... Yah, warung kecil-kecilan, warung kampung, Akang .... Itu modalnya tidak besar, paling kita cuman butuh uang untuk belanja. Nanti warungnya di rumah saja, kita buka pagar rumah kita, untuk membuat warung." begitu kata Esti memberi pendapat kepada suaminya, yang tentu ini bisa dijadikan masukan. Setidaknya mereka bisa membuka usaha kecil-kecilan di rumahnya sendiri.


    Podin langsung teringat dengan usaha yang pernah dilakukan oleh Isti, istrinya yang pertama, istrinya yang sah, istrinya yang sudah melahirkan 4 orang anaknya. Budin langsung teringat pada istri tua itu, yang pernah membuka usaha jualan di ruko. Ya, waktu itu Podin membeli ruko untuk usaha jualan istrinya, yang akhirnya ruko itu harus dijual lagi olehnya, karena Maya, istri keduanya menuntut untuk dibelikan mobil mewah. Ya, Podin terpaksa harus mengusir istri sah dan anak-anaknya, karena ruko itu harus dijualnya demi memenuhi tuntutan istri muda.

__ADS_1


    Podin juga teringat dengan istri yang ketiganya, yaitu Rina, yang membuka usaha warung makan. Ya, waktu itu di Karawang, warung makan Rina sangat laris, sangat maju, dagangannya pun semakin banyak, tempat usahanya semakin besar, dan pasti punya keuntungan besar, karena pelanggan-pelanggannya dari orang-orang karyawan pabrik yang sangat banyak jumlahnya. Warung makan itu sebenarnya sudah sangat-sangat mapan. Namun sayang, lagi-lagi karena Podin tergiur oleh perawan pelayan di rumah makan istrinya, perawan yang membantu di warung istrinya. Ya, Podin ingin merasakan daging perawan. Tetapi kenyataannya, Podin harus menerima sangsi, Podin diusir oleh istrinya, dan oleh para tetangganya.


    Kini ketika Lesti, istri terakhirnya, juga mengusulkan untuk membuka usaha warung kecil-kecilan di rumah, maka ingatan Podin langsung tertuju pada usulan usaha istrinya. Memang paling gampang untuk buka usaha adalah usaha dagang, usaha warung yang tentu modalnya juga tidak begitu besar. Tetapi keuntungannya sudah pasti bisa dinikmati, bahkan bisa digunakan untuk menghidupi keluarganya. Ya, Podin mulai terbayang dengan usulan Lesti untuk membuka warung di rumahnya.


    "Bagaimana, Akang? Kalau Akang setuju, Lesti juga punya modal sedikit, Kang .... Setidaknya bisa dibuat tambah-tambah. Nanti Lesti minta tambahan sama Akang Podin. Akang Podin masih punya uang? Ya, nanti buat tambah-tambah, Akang ..., untuk modal jualan Lesti." begitu kata Lesti yang tentunya mulai ingin meminta modal dari suaminya. Setidaknya untuk membuka usaha di rumahnya.


    "Iya, Lesti .... Mungkin kamu benar .... Kita memang harus merintis lagi dari nol, usaha kecil-kecilan. Saya pun sudah bosan hidup di Jakarta, maka saya juga kepikiran, bagaimana kalau kita buka usaha warung kecil-kecilan di rumah kita. Ya ..., setidaknya kita bisa tinggal di rumah yang nyaman, kita bisa menata rumah tangga kita, tetapi kita juga punya usaha di situ. Setidaknya untuk hiburan kita." begitu kata Podin yang sudah mulai tersenyum pada Lesti.


    Tentu, ketika melihat senyuman suaminya itu, Lesti kembali bahagia, Lesti kembali cerah. Itu artinya bahwa suaminya akan bangkit dan tentu ingin menata lagi kehidupannya dengan membuka usaha di rumahnya sendiri.


    "Terus ..., sekarang kita pulang, Akang? Kita balik ke kampung? Kita mau membangun tempat usaha, kan ...?" kata Lesti yang mengajak Podin untuk pulang ke kampungnya.


    "Sebentar, Lesti .... Sebaiknya kita istirahat sejenak di sini. Saya masih sangat tidak fokus, tidak konsentrasi. Saya khawatir, nanti saat menyetir kendaraan saya bisa gagal fokus, tidak konsentrasi di jalanan. Maka sebaiknya kita untuk sementara waktu menginap dulu di Jakarta, menunggu tenagaku pulih, agar saya tidak kecapean dan bisa menyetir secara maksimal." begitu kata Podin pada Lesti, yang meminta agar pulangnya ditunda barang beberapa hari. Tentunya untuk memulihkan tenaga dan pikiran Podin yang sedang kacau saat menyaksikan tempat usahanya yang mengalami kebakaran.


    "Ting ... tung ...." tiba-tiba bel kamarnya berbunyi. Pertanda ada tamu di luar kamar yang akan bertemu atau ada perlu dengan penghuni hotel.


    "Lesti ..., kelihatannya ada tamu. Coba kamu buka pintu kamar itu, kamu tanya, siapa yang datang dan mau apa." kata Podin yang masih merebahkan tubuhnya di tempat tidur, karena saking capeknya dalam memikirkan masalah kehidupannya.


    Lesti pun langsung beranjak, mencoba membuka pintu kamar untuk mengetahui tamu yang memencet tombol bel pintunya itu.


    "Maaf, siapa ya? Ada perlu apa, ya?" tanya Lesti setelah membuka sedikit pintunya, dan ia melihat seorang perempuan muda yang berdiri di depan pintu kamar hotel tersebut.


    "Saya Cik Melan .... Apa benar ini kamar Bapak Podin? Saya karyawannya ingin ketemu dan bicara dengan Bapak Podin." kata perempuan muda itu yang tentu mengenalkan diri dan menyebutkan maksud serta tujuannya.

__ADS_1


    "Iya, benar .... Silakan masuk." kata Lesti pada perempuan muda itu, dan menyuruhnya masuk ke kamarnya.


    "Maaf, Pak Podin ..., mengganggu ketenangan Bapak ...." kata perempuan muda yang cantik itu, setelah masuk ke kamar hotel Podin.


    "Loh, Kamu Cik .... Sini ..., sini ..., sini .... Silakan duduk. Bagaimana? Mau apa? Ada apa? Bagaimana kok sampai terjadi kebakaran seperti itu?" tentu Podin langsung menyambut dengan berbagai pertanyaan kepada karyawannya yang bekerja di bidang keuangan itu, yang dipercaya oleh Podin untuk mengelola usahanya saat ditinggalkan olehnya.


    "Maaf, Pak, mengganggu. Ya, ini saya mau melaporkan masalah usaha kita, Pak. Terus terang bahwa kemarin itu ada kejadian yang memang kurang menyenangkan di hati Bapak, mohon maaf, itu bukan kesengajaan dan itu adalah kelalaian dari pengunjung yang tidak mematikan puntung rokok. Sudah diselidiki semua, Pak .... Dan saya perlu menyampaikan bahwa sebenarnya tanpa sepengetahuan Bapak Podin, saya sudah mengasuransikan gedung Bapak, saya sudah mengasuransikan tempat usaha itu. Maaf Pak, itu karena saya waktu itu kepikiran kalau tempat usaha kita rupa-rupanya memang akan mengalami kebangkrutan. Maaf Pak, sekali lagi saya minta maaf karena sudah lancang mengambil keputusan sendiri. Dulu saya memang agak khawatir, saat Ibu Maya sering mengambil uang di tempat kita. Oh, iya ..., Pak .... Kalau boleh tahu, bagaimana kabar Ibu Maya? Saya dengar dari si John, Ibu Maya beritanya kurang menyenangkan, Pak .... Apa benar Ibu Maya sudah meninggal, Pak?" begitu kata perempuan muda itu, yang sudah duduk di kamar hotel dan tentunya di situ ada Lesti juga yang mendengarkan pembicaraan mereka.


    "Iya, Cik .... Betul itu .... Semua sudah terjadi. Maya memang sulit untuk diatur. Maya memang sulit untuk dinasehati. Saya berterima kasih atas simpati dari Cici. Dan ternyata saya pun cepat mendapatkan ganti untuk bisa menghibur diri saya, mau mendampingi hidup saya. Ini istri saya yang baru, gantinya Ibu Maya. Namanya Lesti, kami baru saja menikah." kata Podin yang tentu seakan-akan dia masih mengalami trauma dan sok berat.


    Karyawannya itu langsung menyalami Lesti, berkenalan. Dan pastinya perempuan muda itu juga menjelaskan kalau dirinya adalah karyawan suaminya.


    "Saya juga berterima kasih, karena Cici ternyata pintar, bisa mengatur tempat usaha kita, dan tentunya berkat Cicik juga usaha kita bisa diselamatkan. Saya pasrah sama Cici, tolong kamu atur semua kebutuhan, semua keperluan dan semua apa yang harus dipenuhi dalam tempat usaha kita itu. Saya pasrahkan semuanya tempat usaha itu kepada Cici. Barusan saya bicara dengan istri saya yang baru ini, saya ingin tinggal di kampung saya, ingin menikmati hidup di kampung. Saya ingin meninggalkan Jakarta. Jadi tolong, Cici yang meneruskan usaha itu. Terus terang saya sudah bosan tinggal di Jakarta, saya tidak bisa hidup di tempat yang penuh keramaian dan penuh sesak ini, saya bersama istri saya ingin menenangkan diri di kampung saja." kata Podin kepada perempuan muda itu, yang ternyata memang bisa diandalkan untuk meneruskan usahanya. Ya tentunya Podin bangga punya karyawan yang pandai seperti itu, dan bisa mengambil keputusan. Dan ternyata keputusan-keputusan yang diambil tanpa izinnya itu pun bermanfaat dan sangat membantu perusahaannya dikala perusahaan itu mengalami ambang kebangkrutan.


    "Terima kasih, Pak ..., atas kepercayaan Bapak. Tetapi bagaimanapun juga tempat usaha itu adalah milik Bapak. Namanya juga masih nama Bapak. Dan semuanya adalah hak dan wewenang Bapak. Saya hanya sekedar menjalankan kewajiban saya sebagai karyawan Bapak." begitu kata perempuan yang menjadi karyawan keuangan itu, dan tentunya dia juga tahu bahwa tempat usaha itu bukan miliknya, tetapi tetap milik Podin dan harus diserahkan kepada Podin sebagai yang berwenang untuk memilikinya.


    "Maaf, Cik .... Tadi kami memang sudah memutuskan, bahwa kami, terutama saya, tidak bisa hidup di kota yang besar ini. Kehidupannya terlalu keras buat kami, kehidupannya terlalu berat buat kami. Kami tidak bisa hidup di tempat yang seperti ini. Saya rela, saya sebagai istrinya Akang Podin, saya tidak ingin membebani pikiran dari Akang Podin. Biarlah para karyawan yang meneruskan usaha ini. Kami akan pulang ke kampung lagi, akan balik ke kampung, untuk membuka usaha kecil-kecilan di kampung. Kami ingin tinggal di kampung yang tidak begitu ramai seperti tempat ini." tiba-tiba Lesti menimbrung pembicaraan antara Podin dengan karyawannya itu.


    "Terima kasih, Ibu .... Ibu Lesti terlalu baik buat kami. Saya tahu, ibu orang baik. Semoga Yang Maha Kuasa mengaruniakan segala yang Ibu butuhkan. Terima kasih, Ibu .... Terima kasih, Pak Podin, atas kepercayaannya kepada kami. Tetapi, bolehkah kami meminta nomor rekening Bapak? Nanti saya akan memasukkan sebagian hasil keuntungan dari usaha kita langsung ke nomor rekening Bapak." kata perempuan muda itu, yang tentunya dia juga ingin menyampaikan hasil keuntungan kepada pemiliknya.


    "Tidak usah, Cik .... Nanti sewaktu-waktu, kalau ada kesempatan saya akan berkunjung ke sini. Dan juga, kalau Cicik ada waktu, silakan main ke rumah kami. Kami tinggal di daerah Padalarang. Nanti biar istri saya yang kontak-kontakan sama Cici. Maaf, saya sudah bosan pakai HP, jadi saya memang sekarang ini tidak punya HP."  begitu kata Podin kepada perempuan muda itu, yang tentunya Podin pasrah sepenuhnya tempat usahanya itu kepada karyawannya. Podin ingin menyerahkan sepenuhnya tempat usahanya yang sudah dikelola dan diselamatkan oleh karyawannya itu. Biar tempat usahanya itu bisa memberikan penghasilan bagi karyawan-karyawannya.


    Pembicaraan di kamar hotel itu pun berlangsung mesra, penuh rasa kekeluargaan dan sangat menyenangkan. Lesti pun hanyut dengan sikap suaminya yang betul-betul sangat bijaksana.

__ADS_1


__ADS_2