PULAU BERHALA

PULAU BERHALA
EPISODE 127: LEBIH LICIK


__ADS_3

    Pagi hari itu, Podin ke pasar. Ia sengaja duduk di dekat tempat pembuangan sampah yang ada di pasar. Podin mengamati dan mencari orang yang biasa membersihkan sampah di situ. Namun mungkin Podin terlalu pagi atau mungkin sudah kesiangan, sehingga di situ, tukang bersih-bersih di tempat pembuangan sampah itu sudah tidak ada. Bisa jadi belum datang. Karena kalau melihat kondisi sampah yang masih berserakan, pastinya belum dibersihkan oleh tukang sampah. Podin mendekat ke warung yang ada di situ, ia bertanya kepada pemilik warung yang ada di dekat tempat pembuangan sampah itu.


    "Bu, apakah orang yang biasa membersihkan di tempat pembuangan sampah di sini sudah datang? Orang yang bertugas membersihkan tempat sampah ini?" tanya Podin pada pedagang yang ada di paling ujung pasar, yang dekat dengan tempat sampah itu. Pastinya Podin beranggapan kalau pedagang itu tahu kapan waktunya orang yang bekerja membersihkan sampah itu akan memilah-pilah sampah dan membuangnya ke dalam bak, serta membersihkan lingkungannya. Paling tidak biasanya sambil menunggu datangnya truk pengangkut sampah yang akan membawa sampah itu dan dibawa ke tempat pembuangan akhir.


    "Oo ..., Akang Kadi yang bersih-bersih di situ ...? Kalau Akang Kadi biasanya bersih-bersih sore hari, Pak. Biasanya sekalian nanti, setelah orang-orang pasar sudah selesai, sekalian membersihkan pasar. Biasanya mengangkuti sampah yang dari pasar, baru truknya datang, terus sampah-sampah itu dibersihkan, dimasukkan ke dalam truk. Lantas diangkat oleh truk yang akan membuang ke tempat pembuangan akhir." jawab ibu-ibu pedagang yang ada di pinggir, dekat dengan tempat pembuangan sampah itu.


    Podin pun lega. Pastinya ia nanti bisa ketemu dengan orang yang mengurusi kebersihan sampah di pasar itu. Dan tentu Podin bisa menanyakan masalah peti yang sekitar sebulan yang lalu pernah dibuang oleh istrinya di tempat itu, kepada tukang sampah. Dan pastinya, ia masih menunggy cukup lama, bisa meninggalkan tempat itu dan sorenya akan datang ke tempat itu lagi untuk menemui tukang bersih-bersih di tempat sampah tersebut.


    "Oh, iya, Bu .... Terima kasih, Bu .... Kira-kira, datangnya jam berapa ya, Bu?" tanya Podin lagi kepada perempuan penjual di toko itu.


    "Paling sekitar jam empat, atau mungkin kadang-kadang habis ashar. Ya, antara jam tiga sampai jam empat. Biasanya dia bersih-bersih di sini, dan nanti diangkat oleh truk." jawab pedagang itu.


    "Terima kasih, Bu." kata Podin yang tentunya bisa memperkirakan waktu, nanti dia akan menemui orang yang dicarinya, tukang membersihkan sampah di pasar situ.


    "Memangnya ada apa, Pak? Kok mencari orang yang bersih-bersih sampah? Apa mau dikasih sesuatu, ya? Mau ngasih bingkisan, ya?" tanya pedagang itu, yang tentunya menebak pada Podin yang mencari tukang sampah tersebut. Memang, biasanya banyak orang baik, banyak orang yang suka beramal, banyak orang yang suka memberi, mencari tukang sampah itu untuk menyampaikan sesuatu. Ya, semacam bingkisan atau semacam hadiah, atau apapun yang biasa diberikan untuk petugas-petugas yang memang rela bekerja di tempat-tempat yang dihindari oleh orang lain itu. Bahkan kalau hari Jumat, rezeki mereka mengalir berlimpah. Katanya orang-orang itu Jumat berkah. Banyak yang memberikan bungkusan makanan, bahkan juga amplop uang.


    "Tidak apa-apa, Ibu .... Ya, hanya sekedar saja ...." begitu jawab Podin yang tentunya dia merahasiakan apa yang akan disampaikan kepada tukang sampah itu.


    Podin pun langsung berpamitan untuk meninggalkan tempat itu. Dan tentunya, nanti sore ia akan datang kembali mencari tukang pemungut sampah, tukang bersih-bersih yang ada di pasar tersebut, dan setidaknya, mendengar kata-kata dari pedagang itu, pasti Podin akan memberikan sesuatu untuk si tukang kebersihan itu. Podin yang butuh berita, akan memberikan rokok sebungkus dan pasti akan ditambah dengan makanan dan amplop.


    Karena pagi itu belum bisa ketemu dengan orang yang dicarinya, dan masih menunggu waktu yang cukup lama, maka Podin melangkahkan kaki kembali pulang untuk istirahat dulu di rumahnya. Ya, rumah yang dulu pernah ia tempati dengan Rina. Dan kini, rumah itu akan dijual oleh Rina. Bagi Podin, mendengar berita dari Bang Jarwo kalau rumah itu akan dijual, tidak mengapa. Asal peti itu ketemu. Tidak masalah dengan rumah yang akan dijual kepada orang lain oleh istrinya, tidak masalah dengan uang hasil penjualan yang nantinya akan diambil oleh Rina, tidak masalah dengan kerugian yang dialami. Memang, Podin sudah memberikan rumah untuk istrinya. Itulah resiko dari orang yang sudah memberikan rumah kepada istri siri. Dan semuanya memang diatas namakan Rina. Itu keberuntungan bagi Rina. Tapi bagi Podin, soal uang itu kecil, uang itu gampang dicari. Asal dua buah peti itu bisa kembali kepadanya. Dan pastinya, nanti setiap malam, peti-peti itu akan menghasilkan uang yang lebih banyak daripada harga jual rumah tersebut. Sebenarnya, ingin rasanya Podin menyusul Rina ke kampungnya. Tapi apakah Rina masih mau menerimanya? Ah, yang penting bagi Podin, saat ini adalah mencari peti dahulu.


    "Mang ..., maaf, Mang .... Mau tanya .... Apa Amang pernah melihat ada dua buah peti yang dibuang ke tempat sampah sini?" tanya Podin kepada laki-laki yang sedang membersihkan sampah di bak penampungan sampah yang berada di dekat pasar.


    "Peti apa?" kata orang itu, yang balas bertanya kepada Podin.


    "Petinya terlihat antik, agak unik .... Ya, seperti peti tempat menaruh mainan anak-anak itu .... Dibuang ke tempat sampah ini sekitar sebulan yang lalu, Mang ...." kata Podin kepada orang yang sedang membersihkan sampah di tempat pembuangan dekat dengan Pasar tersebut.


    "Peti seperti apa ya, Pak?" tanya tukang sampah itu yang menghentikan pekerjaannya. Lantas memandang Podin sambil menanyakan peti yang dimaksud. Ia mengerutkan dahinya, kelihatan sambil mengingat.


    "Peti seukuran segini ini .... Warnanya merah, terus di bagian pinggir-pinggirnya ada garisnya berwarna kuning keemasan. Seperti peti itu loh, Mang ..., yang kayak di dongeng-dongeng film anak-anak." kata Podin mencoba menjelaskan bagaimana bentuk dan ukuran peti yang ia maksud.


    "Nggak tahu, Pak." kata tukang sampah itu yang kemudian langsung membalikkan badan dan kembali membersihkan sampah yang ada di tempat itu, untuk dimasuk-masukkan ke dalam bak sampah, yang nanti akan diangkut oleh truk.


    "Mang, ini saya ada rokok untuk Amang." kata Podin yang tentu bersuara agak keras kepada si tukang sampah itu, mengatakan kalau dia akan memberikan rokok kepada dia.


    Tentu saja, tukang sampah itu kembali menghentikan pekerjaannya, kembali membalikkan badan dan mendekat ke Podin. Dia langsung menyadongkan tangan untuk menerima rokok yang akan diberikan oleh Podin. Dan tentunya, Podin pun memberikan sebungkus rokok itu, ditambah dengan amplop yang berisi uang. Podin tahu persis bagaimana orang-orang metropolitan. Di kota yang keras itu, tidak ada informasi yang gratis sama sekali. Bahkan tidak ada jawaban-jawaban yang benar kalau tidak ada imbal jasanya. Meskipun ini masih di daerah Karawang, tetapi Karawang pinggiran Jakarta, yang tentunya masyarakatnya sudah terkontaminasi oleh gaya hidup dan kepribadian seperti masyarakat metropolitan, yang serba menghitung sesuatu dengan uang. Yang serba menghitung segala sesuatu itu dengan imbal jasa.


    Podin tidak kaget dengan cara seperti itu. Pastinya Podin pun sudah tepat jika memberikan rokok bersama dengan amplop yang berisi uang kepada tukang bersih-bersih sampah, yang sedang membersihkan tumpukan sampah pasar itu.

__ADS_1


    "Oh ..., petinya itu warna merah ya ...? Yang bentuk tutupnya itu agak melengkung, ya?" tanya si tukang sampah itu, yang tentunya begitu mendapatkan rokok dan uang, ia langsung berkomunikasi lagi dengan Podin. Ya, itulah yang namanya harga informasi. Setiap informasi pasti ada harganya. Dan setiap harga akan mendapatkan informasi.


    "Betul, Mang .... Ya, memang peti itu warnanya merah, terus di sudut-sudutnya, dan pinggirnya itu ada garis-garis hiasan warna kuning keemasan. Semacam lapisan logam yang berwarna kuning keemasan." kata Podin kepada si tukang sampah itu.


    Dan Podin tentu sudah tahu maksud dari tukang sampah, ketika dia sudah memberikan rokok dan amplop. Ya, pasti orang itu tahu persis dengan peti yang dimaksud olehnya.


    "Memang ada apa mencari peti itu, Pak?" tanya laki-laki itu menyelidik Podin. Pastinya ingin tahu tentang peti itu.


    "Yah .... Dulu, saya mau membeli peti itu dari yang punya. Tetapi karena saya terlalu lama tidak dapat datang dan memastikan untuk beli, ternyata malah di buang sama yang punya. Yah, peti seperti itu mana ada orang yang mau .... Untuk maunan anak saja, sebentar pasti membosankan. Pantas kalau dibuang." kata Podin pura-pura menjelaskan.


    "Oh, ya .... Ya, Pak .... Saya pernah lihat .... Tapi sekarang di mana, ya ...? Saya tidak tahu, Pak .... Memangnya apa peti semacam itu laku dijual, Pak?" tanya si tukang sampah itu yang tentu penasaran dengan apa yang dikatakan oleh Podin, yang bilang kalau peti itu sempat akan dibeli.


    "Ya ..., bagi orang biasa peti itu tidak ada harganya. Tapi, bagi orang yang senang dengan barang-barang antik, barang-barang unik, barang-barang yang punya nilai seni seperti itu, ya pasti akan dibeli .... Setidaknya untuk hiasan rumah." kata Podin yang tentu mulai khawatir kalau sampai tukang sampah itu mengkomersilkan informasinya lagi. Makanya Podin hanya mengatakan, sekedar nilai seni untuk dipajang di rumahnya.


    "Oo .... Lah memang dulu peti itu mau dibeli berapa, Pak?" tanya si tukang sampah itu.


    "Aala .... Peti kayak gitu mana ada harganya? Ya, waktu itu saya hanya menawar seratus ribu. Tapi dia bilang,  peti dua buah kalau seratus ribu terlalu murah. Mending dibuang katanya. Maka saya terus pergi. Dan malah saya sempat kecelakaan. Ini badan saya masih memar dan gosong-gosong .... Nah, kemarin ..., pas saya lewat rumahnya, saya datangi lagi .... Saya mau ambil peti itu .... Ternyata dia bilang malah sudah dibuang. Kan sayang, uang seratus ribu akan saya bayarkan, malah barangnya dibuang begitu saja .... Makanya, ini iseng-iseng saya cari di sini. Dan ternyata saya ketemu Amang yang bekerja di sini. Makanya, saya tanya ke Amang, kalau misalnya Amang tahu tentang peti itu. Yah, siapa tahu ..., nanti saya akan beli, Mang .... Kalau Amang tahu, saya kasih upah. Kalau Amang bisa menemukan peti itu, pasti saya kasih persen." kata Podin yang tentu menjelaskan bagaimana sebenarnya ia akan membeli peti itu.


    "Kalau peti itu dibeli hanya dengan harga yang murah, ya bener kalau orang yang punya dulu bilang, mending dibuang. Masa peti kayak gitu kok dibayar cuman seratus ribu. Itu namanya tidak mengahargai karya seni, Pak .... Apa artinya nilai seni kalau hanya di hargai seratus ribu. Peti itu sama dengan lukisan, Pak .... Lah, itu yang jual lukisan di depan pasar saja, satunya bisa laku satu juta .... Setidaknya peti itu punya nilai seni yang lebih besar, Pak .... Harusnya harganya lebih besar juga." kata si tukang sampah itu kepada Podin, yang tentunya dia akan mencoba menaikkan harga peti itu.


    "Begini saja, Mang .... Kalau memang Amang tahu peti itu ada di mana, tolong kasih tahu saya .... Nanti Amang akan saya kasih upah. Kalau saya bisa membeli peti itu, ya ..., paling tidak untuk hiasan di rumah saya, Amang dapet persen." kata Podin kepada si tukang sampah itu.


    "Pak .... Ini misalnya .... Kalau peti itu, saya bisa menemukan, saya bisa mencarikan, dan saya bisa membawakan kemari untuk bapak, kira-kira bapak mau membayar berapa?" tanya si tukang sampah itu, yang sudah mulai berbisnis dengan upaya mencarikan peti bagi Podin.


    "Terus ..., uangnya bagaimana?" tanya laki-laki itu kepada Podin yang tentunya ingin memastikan uang yang akan dibayarkan untuk mendapatkan peti itu kembali.


    "Betul, Mang .... Saya akan bayar sebesar itu, tentu kalau peti itu ada." kata Putin kepada laki-laki pembersih sampah itu, yang mulai tertarik untuk mencarikan peti yang dikehendaki Podin.


    "Pak ..., begini saja .... Saya akan carikan peti itu untuk bapak. Tapi saya minta dibayar 1 juta. Bagaimana?" kata si tukang bersih-bersih itu.


    "Maksud Amang, saya keluarkan uang satu juta, dan Amang akan mencarikan peti itu? Itu sudah termasuk harganya? Mahal sekali?" tanya Podin.


    "Itu kalau Bapak mau ...." sahut laki-laki itu, yang mulai membalikkan badan lagi, seakan jual mahal.


    "Saya harus membayar satu juta?" tanya Podin kepada laki-laki itu.


    "Betul, Pak .... Kalau memang Bapak mau bayar peti itu satu juta, sudah plus dengan ongkos saya untuk mencarikan. Saya akan bawakan peti itu untuk Bapak. Besok pagi-pagi, Bapak datang ke tempat ini. Saya bawakan peti itu." kata si tukang sampah itu kepada Podin, meyakinkan kalau ia akan membawakan peti itu jika dibayar satu juta.


    Podin diam saja. Tentu ia berpura-pura merasa berat untuk membayar satu juta. Padahal sebenarnya, dalam hatinya ia merasa senang, karena akan mendapatkan petinya kembali.

__ADS_1


    "Baik, Mang .... Saya kasih satu juta, besok pagi-pagi saya akan datang ke sini. Kalau Amang sanggup membawakan peti itu kepada saya, akan saya bayar satu juta." kata Podin kepada laki-laki yang bersedia mencarikan peti itu.


    "Oke, Pak .... Tunggu besok pagi, kita ketemu di sini." jawab si tukang bersih-bersih sampah itu kepada Podin. Dan tentunya si tukang sampah itu girang, karena peti yang sebenarnya ia bawa pulangm lantas ia pakai untuk tempat mainan anaknya, kini akan dibayar satu juta. Ia sangat pintar berpura-pura tidak tahu tentang peti itu. Bahkan ia juga seakan mau mencarikan dulu. Padahal dirinya sendiri yang membawanya pulang, saat menemukan peti yang kelihatan bagus itu dibuang di tempat sampah. Tentu ini politik dagang tingkat tinggi.


    Dan benar, pagi itu, sekitar jam tujuh, saat pasar mulai ramai, Podin sudah berada di pinggir tempat pembuangan sampah. Dan tentunya, banyak orang berlalu lalang sambil melemparkan bungkusan sampah dalam kantong plastik, yang dibuang begitu saja ke arah tempat bak sampah tersebut. Pastinya sampah-sampah itu banyak yang kececeran. Itulah yang menambah susahnya petugas kebersihan untuk memunguti sampah-sampah yang berkececeran tersebut.


    Dan benar. Tidak lama kemudian, Podin melihat sosok laki-laki yang kemarin ditemuinya, naik sepeda motor butut. Tetapi kelihatannya santai dan enak untuk dinaiki. Ya, itu adalah si tukang pembersih sampah yang ada di dekat pasar tersebut.


    "Sudah lama menunggu, Pak?" tanya laki-laki itu yang menghentikan motornya, tepat di depan Podin berdiri.


    "Ya, lumayan .... Bagaimana? Mana petinya?" tanya Podin kepada laki-laki itu.


    "Ini, Pak .... Uangnya mana, Pak?" laki-laki itu menunjukkan peti yang ada di boncengan motornya, dan langsung menanyakan uang kepada Podin.


    "Kok cuman satu? Kan petinya ada dua?" Podin agak kecewa, karena laki-laki itu ternyata hanya membawa satu buah peti saja. Padahal mestinya jumlah petinya ada dua.


    "Maaf, Pak .... Ini yang sanggup saya bayar. Yang satunya itu minta harga yang mahalnya selangut .... Saya tidak punya uang, Pak. Dan untuk yang satu ini pun, saya juga sudah keluar uang banyak untuk membayarnya, Pak." kata laki-laki itu kepada Podin, yang pastinya sekarang ia berpura-pura harus membayar mahal untuk membawa peti itu.


    "Amang ini bagaimana, sih? Kan janjinya kemarin membawakan dua peti untuk uang satu juta." kata Podin uang tentu merasa kesal.


     "Yang ini dibayar dulu, Pak .... Peti ini saya berikan ke Bapak, saya ganti minta uang seperti janji Bapak. Katanya akan memberi uang satu juta kepada saya kalau bisa membawakan peti ini." kata laki-laki itu yang sudah berdiri di dekat motornya sambil memegang peti yang akan diserahkan kepada Podin.


    "Waduh ..., bagaimana ini orang .... Peti dua, kok malah tinggal satu. Dan saya harus membayar satu juta. Ini nggak sesuai dengan perjanjian, Mang ...." kata Podin yang tentu kecewa dengan apa yang dibawakan oleh laki-laki itu.


    "Lah, Bapak bagaimana ...?! Ini saya sudah susah-susah mencari, Pak .... Dan yang punya memang minta harga tinggi .... Masak saya sudah keluar uang, Bapak tidak mau mengganti. Bagaimana Bapak ini?" kata laki-laki itu yang cara bertransaksinya melebihi maklar dan calo.


    "Begini, Mang .... Mestinya, petinya ada dua. Kalau cuman satu, ya saya bayarnya separuh harga. Bagaimana?" kata Podin yang membantah dengan apa yang diminta oleh laki-laki itu.


    "Waduh ...?! Bapak ini bagaimana ...?! Ini namanya nggak konsisten dong, Pak .... Sudah, begini saja. Saya akan carikan yang satu lagi, tetapi Bapak mau membayar sesuai harga yang diminta yang punya, dan saya mendapat upah satu juta. Bagaimana? Dan saya butuh peti ini dibayar satu juta dahulu, nanti saya akan carikan lagi yang satunya, dan juga dibayar satu juta lagi. Bagaimana? Bapak mau apa tidak? Kalau Bapak tidak mau, peti ini akan saya kembalikan kepada yang punya." kata laki-laki tukang pembersih sampah itu kepada Podin, tentu dia sangat keras dalam menyampaikan itu, dengan harapan Podin akan mau membayarnya.


    "Lah ..., Mang .... Bagaimana sih, Amang ini? Kemarin janjian mendapatkan dua peti itu. Kalau sekarang saya harus membayar setiap peti satu juta, berarti saya harus mengeluarkan dua juta. Itu uang tidak sedikit untuk membeli peti semacam ini, Mang." kata Podin yang tentu juga bersikeras, karena merasa dikerjain oleh si tukang sampah tersebut.


    "Ya sudah, Pak .... Kalau memang Bapak tidak mau, kalau memang Bapak tetap tidak mau membayar dua juta, dan tidak mau membayar peti ini dengan uang satu juta. Terima kasih, Pak .... Saya akan pulang. Saya akan kembalikan peti ini kepada yang punya." kata laki-laki itu, yang kemudian kembali menyetarter termotornya, pura-pura akan pulang mengembalikan peti kepada yang punya.


    "Ee ..., Mang .... Jangan pergi dulu, lah .... Kita bicara baik-baik ...." kata Podin kepada laki-laki itu. Tentu khawatir kalau tidak jadi mendapatkan peti itu.


    "Bicara bagaimana lagi, Pak ...? Kalau memang Bapak tidak mau, ya sudah, saya mau pulang mengembalikan peti ini .... Kalau memang Bapak mau, ya ..., dibayar saja dia juta. Sudah jelas, kan Pak?" kata laki-laki itu yang tentunya dia memang ahli berbisnis, ahli menjadi penjual yang sulit untuk ditawar.


    "Ya, sudahlah ..., Mang .... Sini, bawa sini peti itu. Sekarang peti yang satunya tolong diambilkan, saya tunggu sekarang juga. Amang ambil peti itu, dan saya akan bayar satu juta lagi, jika peti itu sudah sampai di sini." kata Podin kepada laki-laki itu.

__ADS_1


    "Nah, gitu ..., Pak .... Ini baru namanya bisnis." kata laki-laki tukang pembersih sampah tersebut. Dan tentunya, laki-laki itu langsung kembali ke rumahnya, mengabil peti yang masih dipakai mainan anaknya. Tetapi karena si anak sudah dibelikan jajanan, maka dengan gampang laki-laki itu mengambil peti dan membawanya untuk diserahkan kepada Podin. Lumayan, dari peti yang ia kais dari tempat sampah, laku terjual dua juta.


    Akhirnya, Podin mendapatkan peti itu. Walau disuruh membayar dua juta, ia tetap tersenyum girang. Karena peti itu, nanti pasti akan menghasilkan uang milyaran.


__ADS_2