PULAU BERHALA

PULAU BERHALA
EPISODE 145: TAMU-TAMU PEREMPUAN


__ADS_3

    Podin sudah beberapa hari tinggal di rumahnya yang baru, di sebuah perladangan pinggir kampung yang jauh dari pemukiman penduduk. Dan tentunya para warga kampung itu langsung mengenal sosok Podin. Ya, karena pada saat berpindah rumah, Podin sudah mentraktir seluruh warga dengan aneka jajanan dan minuman yang dijual oleh warga kampung itu sendiri. Tentu para penduduk sangat senang dengan kehadiran Podin yang sudah memberikan kebaikan itu, mau mentraktir, mau membelikan hidangan, mau memborong jajanan yang ada di kampungnya, baik itu dari pedagang es maupun pedagang jajanan yang lain. Pastinya setelah ditraktir oleh Podin para warga pun sangat senang dan pastinya mengapresiasi apa yang sudah diberikan oleh Podin, yaitu menganggap Podin sebagai orang yang baik, orang yang murah hatinya, orang yang suka berbagi, orang yang dermawan.


    Pastinya, para warga menganggap bahwa Podin adalah orang kaya yang baik hati, orang kaya yang mau berbagi, orang kaya yang mau memberi orang kaya yang mau bersedekah, orang kaya yang tidak kikir. Dan tentunya, hal itu membuat warga masyarakat di sekitarnya menjadi senang dengan Podin. Namun satu hal yang terkadang menjadi tanda tanya bagi warga masyarakat di kampungnya adalah Podin yang tinggal di rumah sepi itu sendirian, tidak punya istri, tidak punya anak, tidak ada sanak saudara yang ikut bersamanya. Dan tentunya orang-orang menganggap Podin ini agak aneh. Laki-laki yang kurang normal.


    "Pak Podin ..., maaf ya, Pak Podin, saya mau tanya .... Ini Pak Podin tinggal di rumah yang sangat besar ini kok sendirian saja, tidak ada istri, tidak ada anak, tidak ada keluarga, Pak?" tanya salah seorang warga yang ada di kampung itu. Kebetulan dia sedang melintas di jalan menuju ke ladangnya, dan bertemu dengan Podin yang kebetulan sedang berada di luar, di pinggir pagar rumahnya.


    "Bagaimana lagi, Pak .... Saya itu terkadang juga benci kepada wanita. Karena saya pernah tersakiti oleh istri saya. Ternyata istri saya bilang cinta kalau di depan saya. Tetapi di belakang, ternyata dia lebih memilih laki-laki yang kaya daripada memilih suaminya sendiri. Ia tega meninggalkan saya yang hanya orang miskin, tidak punya uang, dan merebahkan tubuhnya kepada laki-laki yang kaya raya." kata Podin kepada laki-laki yang masih menyangking cangkul.


    "Walah .... Pak Podin yang kaya raya seperti ini masih dikatakan miskin ...?! Masih dikatakan tidak kaya ...?! Lah, terus mau cari laki-laki yang seperti apa lagi, Pak ...?! Itu istri Pak Podin tidak bisa melihat kali, Pak ...." kata orang itu, yang tentu agak kaget mendengar jawaban Podin yang menyampaikan kalau istrinya lebih memilih orang lain, yang katanya lebih kaya.


    Tentu dalam hal ini, Podin menceritakanlah Lesti, istrinya yang sudah mengkhianati dirinya dan pergi bersama laki-laki lain.

__ADS_1


    "Yah ..., seperti itulah, Pak .... Kenyataan hidup memang seperti itu. Waktu itu saya memang kerja di Jakarta. Saya bersama istri waktu itu tinggal di daerah Padalarang. Memang agak jauh, tetapi itu demi istri. Namun suatu ketika saya pergi ke Jakarta, beberapa hari tidak pulang, dan saat saya pulang, saat itulah saya menemui istri saya di dalam kamar bersama laki-laki lain, yang katanya laki-laki itu lebih kaya, lebih banyak uang, dan dia juga lebih tampan daripada saya. Yah ..., saya mengalah. Tetapi rumah yang di Padalarang itu milik saya, makanya saya jual dan terus saya pindah ke sini. Setidaknya saya ingin hidup tenang, Pak. Daripada saya memikirkan istri saya yang ikut dengan laki-laki lain itu." begitu Podin menjawab pertanyaan dari tetangganya yang akan ke ladang dan melintas di depan rumahnya.


    "Halah, Pak .... Perempuan tidak cuman satu .... Perempuan banyak .... Pak Podin tinggal pilih .... Masa Pak Podin ini masih dibilang miskin, masih dibilang tidak punya apa-apa. Ini rumahnya saja gedung bagus, mewah, kok masih dibilang miskin .... Itu perempuan mana yang tidak mau sama Bapak. Kalau bapak mau, saya carikan perempuan di sini untuk jadi istri Bapak." kata orang itu yang tentunya ingin mencarikan istri untuk Podin.


    Podin tersenyum. Podin yang tentunya kalaupun perempuan mana saja di kampung itu ditawari untuk menikah dengan dirinya, pasti mau. Tentu karenaPodin di kampung itu tampak sebagai orang yang paling kaya, dengan rumah yang bagus, rumah yang mewah, dan pastinya juga punya mobil. Uangnya banyak, dan menurut orang-orang kampung di sini, Podin adalah laki-laki yang dermawan.


    "Betul, Pak .... Tapi yang namanya jodoh itu tidak seperti yang kita bicarakan ini. Tidak gampang, tidak semudah itu. Kadang ada yang minta ini minta itu. Tapi kenyataannya dia tidak cinta, kenyataannya dia masih suka melirik orang lain. Itu akan menyakiti pasangannya, akan menyakiti suaminya. Dan saya memang tidak ingin punya istri seperti itu. Saya sudah kapok punya istri yang matre. Ya, emang rata-rata perempuan itu matre. Penginnya punya suami yang kaya, maunya selalu dapat harta benda, minta perhiasan, pengen kekayaan, pengen tinggal di gedung yang mewah, pengen naik mobil yang bagus. Tetapi itu semua hanya sekedar ingin mencari harta bendanya saja, bukan karena cintanya." kata Podin kepada laki-laki itu, yang tentunya juga memberi gambaran. Setidaknya Podin teringat dengan Maya dan juga teringat dengan Lesti. Tetapi itu semuanya sudah berlalu.


    "Ya, tidak semua, Pak Podin .... Kalau orang-orang di sini, penduduk kampung sini, itu tidak ada yang begitu. Apalagi kami ini hidup di desa, tinggal di daerah yang terpencil. Jangankan untuk tertarik dengan harta benda,  kekayaan ..., kami semua di sini hidupnya pas-pasan, hanya seperti ini, Pak .... Tidak ada yang lebih, tidak ada yang mewah, tidak ada yang kaya. Makanya, ketika Pak Podin datang ke sini, langsung terdengar desas-desus kalau Pak Podin itu katanya sudah duda, belum punya anak. Maka banyak warga yang ingin mencarikan jodoh Pak Podin. Dan tentunya banyak wanita yang tertarik dengan Pak Podin." kata orang itu yang tentunya juga memberikan gambaran keadaan di desanya.


    Ya, Rina sebenarnya adalah istri Podin yang paling baik. Istri Podin yang mau berusaha, mau diajak bersusah payah. Bahkan ia membuka warung makan, itu semuanya untuk keluarga. Dan pastinya juga untuk bakti, lambang kasih sayangnya kepada Podin. Namun sayang, kala itu tingkah laku Podin yang kurang ajar terhadap pembantunya terbongkar. Makanya Rina langsung mengusir Podin. Dan tidak hanya Rina saja, tetapi juga banyak warga, para tetangga, terutama Pak Mitro, pamannya Puput, yang pasti akan mengusir Podin agar pergi dari rumahnya.

__ADS_1


    Namun sekarang, apa boleh dikata. Podin yang kecewa sudah tidak bisa apa-apa lagi. Rina sudah pulang kampung, dan Podin tidak bisa mencarinya. Dan pastinya, Rina sudah kembali menjadi orang kampung. Podin tidak bisa menemuinya kembali, karena Podin tidak tahu alamat rumahnya.


    Tetapi bagi Podin itu adalah masa lalu yang tidak boleh berlarut-larut untuk dikenang. Dan sekarang, niatan Podin adalah harus berusaha bagaimana cara menunjukkan kebaikan kepada orang kampung. Ia harus berbuat baik, untuk mendapatkan seorang istri yang baik. Tentunya semuanya itu demi kelangsungan hidup Podin dan ketentraman di dalam keluarganya.


    Podin pastinya tidak mau mengulangi lagi peristiwa-peristiwa seperti dulu. Seperti waktu bersama dengan Maya yang selalu meminta harta kekayaan, ataupun bersama dengan Lesti yang sudah diberikan kekayaan, sudah diberikan ruko, tetapi kenyataannya Lesti masih mau menerima pelampiasan nafsu laki-laki lain, yang katanya lebih kaya dan lebih berada.


    Yah, betul seperti yang dikatakan oleh Podin. Betul seperti yang dikatakan oleh laki-laki yang melintas di depan rumahnya itu. Perempuan mana yang saat melihat Podin dengan rumah yang besar dan bagus, punya mobil, dan tentu juga dermawan, yang tidak akan mau kalau diperistri oleh Podin. Bahkan tanpa ditawarkan saja, gadis-gadis kampungnya, bahkan juga janda-janda muda, sudah berniat untuk dipinang menjadi istrinya Podin.


    Dan suang itu, kenyataannya, ada perempuan yang datang ke rumah Podin, dengan alasan mengirimi makanan. Itu adalah tanda-tanda, bahwa Podin nanti akan kebanjiran tamu perempuan, yang semuanya punya niatan yang sama, ingin menjadi istri orang kaya.


    Apakah Podin mau?

__ADS_1


    Apakah Podin tertarik?


    Apakah Podin akan memilih?


__ADS_2