
Hilangnya peti milik Podin itu, yang dulu ia simpan di bawah kolong tempat tidur, pasti membuat hatinya hancur, dan tentunya berusaha untuk mencarinya, untuk mengetahui ada di mana peti itu sekarang? Mungkinkah dibawa oleh Rina pulang ke kampungnya? Atau mungkin juga sudah dijual oleh Rina kepada orang yang butuh seperti halnya dulu waktu Lesti menjual peti itu kepada Bang Kohar?
Ya, hanya ada dua kemungkinan, peti itu di bawa oleh Rina, atau dijual kepada orang lain. Pastinya Podin ingin mengetahui hal itu. Maka, Podin pun berusaha untuk menyelidiki, mencari tahu di mana sebenarnya keberadaan peti yang ia cari itu. Tentu bagi Podin, peti itu harganya sangat tidak terukur. Bahkan bila memang peti itu sudah dibeli orang, Podin akan membelinya kembali dengan harga yang lebih tinggi. Podin berani membayar mahal.
Podin mencoba mencari informasi dari Bang Jarwo, laki-laki karyawan pabrik itu, yang dipasrahi rumah oleh Rina untuk dijualkan. Dan sore itu, Podin menemui Jarwo.
"Bang Jarwo, rencana kalau tubuh saya sudah lumayan, besok akan pulang. Ini besok kunci rumah akan saya kembalikan ke Bang Jarwo. Tetapi terus terang saya ingin istirahat dulu di sini, sambil menunggu kondisi kesehatan saya pulih lagi. Terus terang, Bang ..., seluruh badan saya terasa remuk. Semua tulang saya seperti dilolosin semua. Rasanya tidak karu-karuan." begitu kata Podin pada Bang Jarwo yang diserahi kunci oleh istrinya, Rina, yang tentunya juga disuruh menjualkan rumah itu oleh Rina.
"Tenang saja Bang Podin .... Yang penting Bang Podin sehat dulu .... Jangan tergesa pulang. Toh di Jakarta, Bang Podin juga tidak harus masuk tempat kerja, tidak banting tulang seperti saya sebagai kuli di pabrik." kata laki-laki itu yang tentunya juga kasihan melihat Podin yang tubuhnya babak belur semuanya. Apalagi kalau melihat wajahnya Podin, bibirnya monyong pecah atas dan bawah. Pelipisnya menghitam karena memar. Bahkan sudut matanya juga kelihatan merah membiru, karena dipukuli oleh warga.
"Iya, Bang Jarwo .... Terima kasih, Bang. Bagaimana kalau kita ngobrol sambil makan bersama? Kita bisa santai, Bang Jarwo ...." kata Podin yang mengajak makan Bang Jarwo. Pastinya Podin nanti akan meminta informasi dari laki-laki yang dipikirnya dekat dengan istrinya.
"Wah ..., kalau itu, oke banget, Bang Podin ...." sahut Jarwo yang tentunya senang akan diajak makan.
"Biasanya, Bang Jarwo makan di mana? Saya ngikut Bang Jarwo .... Nanti saya yang bayarin, Bang." kata Podin pada laki-laki yang dipanggilnya sebagai Bang Jarwo itu, karyawan pabrik yang kos di dekat rumahnya. Dan pastinya dulu adalah langganan di warung makannya Rina.
"Terima kasih, Bang Podin .... Ini rezeki buat saya .... Kalau begitu, ayo kita makan itu di warung sebelah sana itu. Setidaknya saya dapat makan gratisan, untuk perbaikan gizi saya." begitu kata Bang Jarwo yang tentu senang, sebagai seorang karyawan pabrik yang biasanya harus berhemat, biasanya harus menjaga keuangannya agar tidak terlalu banyak keluar, dan kini ia akan ditraktir oleh Podin, pastinya ia senang, pastinya ia akan mendapatkan tambahan gizi secara gratis.
Mereka berdua pun langsung berjalan bersama, menuju warung makan yang tidak jauh dari tempat rumah Podin. Bahkan dulu pernah menjadi saingan warung makan Rina. Namun orang-orang, para karyawan pabrik waktu itu memang banyak yang makan di warungnya Rina, karena harganya yang murah dan bisa makan sepuasnya, karena nasinya ngambil sendiri-sendiri. Tentu kalau karyawan pabrik yang uangnya pas-pasan, bagi mereka yang penting harganya murah dan bisa kenyang.
Tetapi kini, mereka harus berpindah-pindah mencari tempat makan. Orang-orang harus mencari warung makan yang lain, karena di tempatnya Rina sudah tutup.
"Nah ..., di sini Bang Podin, kita makan di sini saja .... Terima kasih Bang Podin, mau ngajak makan saya." kata laki-laki itu, yang kemudian duduk berhadapan dengan Podin untuk makan.
"Mau minum apa, Pak?" tanya seorang perempuan muda yang langsung menyambut kedatangan Podin bersama dengan Bang Jarwo di warungnya itu.
"Saya minum kopi susu." kata Bang Jarwo yang pesan kepada pelayan itu.
"Saya teh tawar hangat ..., eh, yang panas .... Biar tubuh saya dapat seger kembali." kata Podin pada pelayan itu.
__ADS_1
"Jangan teh, Bang Podin .... Kalau untuk menghilangkan rasa sakit, agar cepat menyembuhkan memar-memar di tulang dan tubuh, minum jamu beras kencur." kata Bang Jarwo yang memberi nasehat kepada Podin.
"Jamu beras kencur? Memang di sini ada?" tanya Podin.
"Ada, Pak .... Bapak mau minum jamu? Kalau Bapak menghendaki minum jamu, saya seduhkan. Ini, di sini tersedia." kata pelayan itu, sambil menunjukkan botol-botol jamu yang ada di dekat rak makan.
"Oh, ya .... Boleh .... Saya mau. Okelah, saya mau minum jamu beras kencur saja. Oke, terima kasih." jawab Podin yang tentu senang dan menuruti kata-kata Bang Jarwo untuk meminum jamu beras kencur, yang katanya bisa membuat memar-memar pada tubuhnya cepat pulih. Lantas mereka juga langsung memesan makanan. Bang Jarwo memesan ayam bakar bumbu pedas. Semenetara Podin memesan ikan bakar.
"Bang Jarwo .... Istri saya sudah lama pulang kampung?" tanya Podin mengawali penyelidikan.
"Lah ...?! Bang Podin itu bagaimana ...?! Masak istri pulang kampung sampai gak tahu ...?!" Tentu Bang Jarwo kaget mendengar kata-kata Podin, yang justru menanyakan istrinya pada orang lain.
"Maklum, Bang Jarwo .... Saya tidak komunikasi dengan istri saya. Sejak saya diusir dari rumah itu." kata Podin yang memelas.
"Memang tidak pernah telepon? Atau WA?" tanya Bang Jarwo pada Podin.
"Saya tidak punya HP, Bang Jarwo ...." sahut Podin sambil menunduk, pastinya malu karena tidak punya HP.
"Saya gak mau ribet, Bang .... Terus, istri saya gimana, Bang ...?" kata Podin, yang berlanjut menanyakan istrinya.
"Kasihan Mpok Rina, Bang .... Dagangannya habis .... Dia bangkrut ...." kata Bang Jarwo.
"Kok bisa?" tanya Podin.
"Bang Podin, sih .... Masak punya istri cantik ditinggal begitu saja .... Masih kurang apa lagi, Mpok Rina itu, Bang?" kata Bang Jarwo yang tentunya juga berpendapat kalau Rina itu perempuan yang cantik. Bahkan diam-diam Bang Jarwo ini juga mengagumi Rina.
"Habisnya, saya diusir, Bang ...." sahut Podin.
"Yah .... Namanya juga usaha, Bang .... Kadang lancar, kadang tersendat. Bahkan kadang juga harus bangkrut. Termasuk warung makan Mpok Rina. Walau dulu sempat ramai dan laris, tetapi karena sesuatu hal, maka bisa jadi sepi dan tidak laku." kata Bang Jarwo.
__ADS_1
Beruntung bagi Podin, yang memesan masakan bakar, pastinya menunggunya agak lama. Dan pastinya, kesempatan menunggu pesanan makanan inilah yang bisa dimanfaatkan oleh Podin untuk mencari informasi dari Bang Jarwo. Yang oleh Podin pasti sudah diduga kalau laki-laki ini dekat dengan istrinya. Buktinya, sampai Rina mau menitipkan kunci pada orang ini, mempercayai laki-laki ini. Bahkan juga meminta kepada Bang Jarwo untuk menjualkan rumahnya. Tentu istrinya sangat percaya dengan laki-laki itu.
"Tapi kenapa bisa secepat itu, Bang Jarwo?" tanya Podin, yang pastinya akan memancing cerita Bang Jarwo.
"Betul, Bang Podin .... Ceritanya tragis. Mpok Rina didatangi oleh bocah kecil perempuan yang sering dia beri nasi makan .... Tapi kali itu, Mpok Rina dibikin kaget, karena bocah itu langsung menghilang. Mpok Rina pingsan. Orang-orang pada berdatangan, menolong Mpok Rina. Lantas banyak yang menanyai, ada apa. Tentu Mpok Rina menceritakan apa yang dialaminya. Lantas beberapa orang bilang, untuk mengejar bocah itu. Pagi harinya, Mpok Rina melakukan kata orang-orang, ia mengikuti anak perempuan aneh itu. Dan ternyata, anak itu hilang di kamar. Dan waktu itu yang ditemukan oleh Mpok Rina hanya dua buah peti antik. Bocah perempuan aneh itu tidak ketemu. Dimungkinkan hilang dalam peti itu." kata Bang Jarwo yang menceritakan istri Podin, Rina.
Mendengar cerita itu, pastinya Podin sudah mulai tahu arah peti yang dibicarakan oleh Bang Jarwo. Dan tentunya, Podin melai menemukan titik alur, kemana peti itu sekarang.
"Terus, bagaimana kisahnya, Bang Jarwo?" tanya Podin ingin tahu kelanjutannya.
"Yah .... Orang-orang percaya, kalau anak perempuan yang menghilang itu, pasti arwah gentayangan. Arwah bocah itu, rumahnya pasti di dalam peti itu. Makanya, orang-orang langsung bilang sama Mpok Rina, agar peti itu dibuang saja. Orang-orang menganggap, peti itu berhantu. Sebaiknya disingkirkan, agar tidak menakut-nakuti orang." kata Bang Jarwo.
"Masak sih, Bang Jarwo? Apa benar ada peti jadi tempat tinggal hantu? Terus, dibuang ke mana peti itu?" tanya Podin, yang tentunya ingin tahu, dan memastikan keberadaan peti itu.
"Benar, Bang Podin .... Yang jelas peti itu sumber bencana yang menyebabkan Mpok Rina selalu ditakut-takuti oleh arwah bocah perempuan yang gentayangan itu. Makanya, peti itu langsung dibuang oleh Mpok Rina." kata Bang Jarwo.
"Lah, dibuang ke mana? Apa kalau sudah dibuang terus aman?" tanya Podin.
"Katanya ke tempat sampah dekat pasar .... Itulah, Bang Podin. Kenyataannya, setelah peti itu dibuang, Mpok Rina malah seperti diteror. Setiap malam didatangi oleh bocah gentayangan itu. Makanya, Mpok Rina malah jadi sakit-sakitan. Dan tentu tidak sanggup jualan lagi. Maka Mpok Rina memilih pulang kampung, daripada di sini semakin ketakutan." jawab Bang Jarwo.
"Yah ..., nasibnya Rina ...." kata Podin yang tentunya sudah tahu, kalau peti itu dibuang di tempat sampah yang ada di dekat pasar. Besok ia berencana akan menemui tukang sampah yang membersihkan pasar.
"Itu, Bang Podin juga yang salah .... Kenapa tega meninggalkan Mpok Rina .... Punya istri yang cantik kok tidak bersyukur." sahut Bang Jarwo.
"Iya, Bang Jarwo .... Saya juga menyesal. Besok saya akan menyusul Rina ke kampung." sahut Podin.
"Betul, Bang Podin .... Kasihan Mpok Rina ...." kata Bang Jarwo yang tentu mendukung rencana Podin.
Mereka berdua pun langsung menikmati hidangan yang sudah tersaji. Dan pastinya mereka lahap menyantapnya. Maklum, Podin juga lapar. Demikian juga Bang Jarwo yang senang dapat traktiran makan enak malam itu.
__ADS_1
Namun satu hal yang sudah terekam dalam benak Podin, ia besok harus menemui tukang sampah, untuk menanyakan tentang peti yang pernah dibuang oleh istrinya di tempat itu. Bila perlu, Podin akan beli sebungkus rokok untuk diberikan kepada tukang sampah itu, agar bisa menunjukkan keberadaan peti yang dicarinya.
Yah, Podin menjadi detektif, untuk menemukan peti dambaannya, yang diharapkan bisa ditemukan kembali.