PULAU BERHALA

PULAU BERHALA
EPISODE 39: TINGGAL DI RUMAH KAKEK


__ADS_3

    Truk yang ditumpangi oleh Isti bersama tiga orang anaknya itu berhenti di halaman sebuah rumah. Rumah sederhana semi permanen yang bagian bawahnya berupa tembok dan bagian atasnya dari kayu. Ukurannya tidak terlalu besar, tetapi lumayan bagus untuk sebuah tempat tinggal. Meski semi permanen, lantainya sudah plester dengan semen. Sehingga terlihat rapi dan bersih. Halaman rumah itu agak luas, sehingga truk bisa masuk. Ya, rumah dengan ukuran enam kali enam meter tersebut masih ada sisa tanah yang sangat banyak di belakangnya. Juga masih ada rumah kecil yang menempel, yang digunakan untuk dapur dan kamar mandi.


    Sedangkan pada bagian depan, juga menempel dengan teras depan, ada bangunan yang berukuran tiga kali tiga meter yang terbuat dari papan kayu. Bangunan itu pada bagian depannya terdapat pintu yang terbuat dari papan kayu, tetapi bisa dilepas untuk dibuka seluruhnya. Ya, bangunan itu adalah bangunan sebuah warung atau kios untuk berjualan.


    Sopir truk itu pun langsung membelokkan truknya di depan rumah itu, dan berhenti di pelataran. Isti bertanya-tanya, benarkah ini rumah dari kakek itu? Rumah dari orang yang diduganya sebagai seorang pengemis tersebut? Aneh, sopir truk itu tidak diberi aba-aba atau diberitahu oleh si kakek, tetapi kenapa langsung berhenti di rumah itu?


    "Ayo turun ..... Kita sudah sampai di rumah kakek ...." begitu kata sang kakek tua itu, yang turun dari bak truk belakang, dan kemudian membukakan pintu di tempat duduk Isti bersama anak-anaknya.


    Mereka pun turun, karena si kakek itu sudah menyampaikan kalau rumah itu adalah rumahnya. Ya, rumah itulah yang dituju oleh si kakek yang mengajak Isti beserta anak-anaknya untuk menginap di rumahnya.


    Akhirnya Isti bersama anak-anaknya turun dari truk itu. Dan tentu langsung mengamati rumah itu serta pekarangan di sekelilingnya. Rumah yang sangat terawat dan tertata rapi, meski hanya rumah sederhana. Bahkan cat rumah yang berwarna putih tulang itu juga terlihat sangat bagus tanpa ada koyoran yang menempel di dindingnya. Ya, mereka sudah sampai di rumah kakek. Lumayan sudah punya tempat untuk berlindung.


    Namun tentunya, apa yang dipikirkan oleh Isti sebelumnya, apa yang dibayangkan oleh Isti sebelumnya, kalau kakek pengemis itu dianggapnya sebagai orang miskin, yang dianggap sebagai orang yang tidak mampu, yang dianggap sebagai orang yang tidak punya rumah, bahkan dianggap rumahnya pasti seperti gubuk layaknya rumahnya dulu, kenyataannya setelah Isti dan anak-anaknya sampai di rumah itu, ia kaget. Tentunya Isti tidak menyangka, dan Dewi pun tidak menyangka, kalau ternyata si kakek itu mempunyai rumah yang bagus dan nyaman. Ya, rumah yang sangat layak untuk ditempati, rumah yang sangat layak untuk menjadi hunian bagi mereka. Meski rumah itu tidak se mewah seperti miliknya yang dulu ada di perumahan, ketika mereka punya rumah yang mewah di komplek perumahan elit. Tetapi setidaknya, Isti bersama anak-anaknya bisa menempati rumah yang benar-benar layak untuk ditinggali.


    Apalagi saat Isti melihat di rumah itu juga sudah ada bentuk bangunan yang menyerupai toko, dan kelihatannya tempat itu memang bekas toko, ia sangat gembira karena mestinya ia nanti bisa jualan. Ya, Isti tentu gembira, Isti tentu senang saat dia disuruh masuk ke rumah itu oleh yang punya rumah.


    "Ayo, semuanya saja silahkan masuk .... Ini rumah Kakek .... Kalian boleh menempati rumah ini. Rumah ini kosong, tidak ada orang yang menempatinya. Kakek jarang tinggal di tempat ini. Ayo ..., silakan masuk saja, anggap ini sebagai rumah kalian sendiri." berkata demikian, si kakek itu pun membukakan pintu rumah itu, untuk Isti bersama dengan anak-anaknya.


    "Terima kasih, Kek ...." kata Isti yang tentu sangat senang.


    "Terima kasih, Kakek ..... " timpal Dewi.


    "Terima kasih, Kakek ...." sahut Asri dan Antok yang kecil-kecil.


    Di halaman, ternyata sang sopir dan kernet truk yang tadi disewa oleh sang kakek untuk membawa barang-barangnya, truk yang tadi diminta bantuan untuk mengangkut semua barang yang menjadi milik Isti dan anak-anaknya. Sopir dan kenet itu pun sudah menurunkan barang-barang itu dari truk, dan membawanya masuk ke tempat yang sudah disediakan di rumah itu. Bahkan sopir dan kernet truk itu pun sudah menata barang-barangnya sesuai dengan tempatnya. Ada yang dimasukkan ke kamar, ada juga yang ditaruh di dapur. Bahkan, sopir dan kernet itu juga sudah menata barang-barang di dalam toko. Ya, barang dagangan Isti itu sudah ditata di sebuah bangunan yang berbentuk toko yang ada di depan rumah tempat tinggal si Kakek itu.


    "Walah .... Rumah kakek bagus sekali ...." begitu kata Dewi yang tentu sangat senang saat ia disuruh masuk oleh si Kakek ke dalam rumahnya.


    "Ya ..., ini memang rumah kakek .... Tetapi besok ini menjadi rumah kalian .... Tempati saja rumah ini, ya ..... Jadi tidak usah sungkan-sungkan. Tapi dengan syarat, kalian juga harus merawat tempat ini, kalian juga harus menata tempat ini ...." begitu kata si Kakek kepada Dewi dan adik-adiknya.


    Hari itu, mereka memasuki rumah baru lagi. Rumah si kakek yang sudah disuruh menempati untuk mereka. Tentu hal itu menjadi pengalaman yang sangat menyenangkan, tetapi juga terasa aneh. Terutama bagi Isti yang sudah tua. Tentu bertanya-tanya, kenapa si kakek itu, yang pastinya rumah itu sebagai tempat tinggalnya, begitu saja disuruh menempatai ia bersama anak-anaknya. Namun bagi anak-anak, tentu yang penting merasa senang.


    "Asik .... Kita bisa bermain di sini ...." begitu kata anak-anak yang senang, dan tentunya anak-anak pun merasa gembira bisa tinggal di rumah yang memang punya halaman dan pekarangan yang cukup luas itu.


    Isti dan anak-anaknya, tentu sangat senang sudah dibantu oleh sang kakek itu untuk menempati tempat tinggal tersebut.


    "Walah .... Ini barang-barang malah sudah pada dimasukkan ke ruangan ...." begitu kata Isti, ketika melihat barang-barang itu memang sudah dimasukkan ke rumah, sudah ditata di kamar, juga dagangannya yang tertata warung.


    Isti tentu kaget. Sungguh pintar dan sangat cekatan si sopir dan kernet truk itu. Bahkan saat Isti keluar rumah, ingin menemui sopir dan kernet truk itu, ternyata mereka sudah tidak ada. Truk itu pun sudah pergi dari halaman rumah si Kakek itu.


    "Lho ..., truknya kok sudah pergi ...?!" Isti terlihat bingung, karena belum dibayar ongkosnya. Dan yang aneh, Isti maupun anak-anaknya tidak ada yang tahu kapan dan ke mana truk itu tadi pergi.


    "Sudah ..., gak apa-apa .... Toh barangnya sudah diturunkan semua." kata si kakek itu yang tetap santai.


    Ya, itulah keanehan dari si kakek. Terkadang datang dan pergi begitu saja, tanpa diketahui orang. Tetapi bagi Isti dan anak-anaknya, yang penting sudah dibantu untuk bisa tinggal di rumahnya. Kenyataan bahwa kakek itu memang punya tempat hunian, bukan orang miskin lagi, tetapi kakek itu hanya berpura-pura menjadi orang miskin.


    Tentu Isti teringat waktu pertama kali pengemis itu datang ke depan tokonya. Anaknya disuruh memberi uang. Dia menolak. Dan saat ia diberi makan baru menerima. Dan setelah itu, anak-anaknya justru diberi koin-koin emas. Ya, Isti ingat betul kala itu anak-anaknya mendapatkan koin emas dari si Kakek tersebut. Sungguh kakek yang baik hati, kaya tetapi tidak pamer kekayaan.


    "Nah ..., kalian tinggal di sini saja, sampai nanti kalian bisa mendapatkan rumah yang lebih layak. Maklum rumah kakek Hanya seperti ini, hanya rumah sederhana yang kemungkinan kamu kurang berkenan. Tetapi untuk sementara kamu bisa menempatinya. Dan itu, di depan ada bangunan untuk toko. Kamu juga bisa berjualan di situ. Kamu bisa memasarkan daganganmu di situ. Dan tentu saya doakan semoga daganganmu laris, banyak pembeli yang datang kemari, biar nanti rezekimu terus mengalir untuk menghidupi kamu, keluargamu dan anak-anakmu. Dan juga untuk menyekolahkan anak-anakmu." begitu kata si kakek yang tentunya sudah menyerahkan rumah itu untuk ditempati Isti beserta anak-anaknya.


    "Terima kasih, Kek .... Kami juga mendoakan agar Kakek tetap sehat dan selamat ...." jawab Isti yang tentu sangat senang.


    "Ya .... Sama-sama .... Tempati saja rumah itu, tidak usah pernah menunggu saya pulang kemari. Bahkan mungkin saya akan jarang datang kemari. Tetapi saya berpesan agar kamu tidak pernah lagi untuk menanyakan suamimu. Yang penting kamu harus menjaga anak-anakmu, agar jangan sampai anak-anakmu itu didatangi lagi oleh suamimu. Terus terang saya sampaikan kepadamu, bahwa suami kamu itu adalah orang serakah, orang jahat, orang yang tega dengan istri dan anak-anaknya sendiri. Maka berhati-hatilah kamu dengan dia. Bila perlu kamu tidak usah lagi berurusan dengannya." begitu kata si Kakek itu pada Isti, yang tentu memesan agar dirinya untuk tidak lagi menerima kedatangan suaminya.

__ADS_1


    "Terima kasih, Kek .... Tentu kami akan mengindahkan nasehat Kakek, dan saya yakin, suami saya pasti tidak akan tahu kalau kami ini berada di rumah Kakek. Saya yakin juga, ia tidak tahu kalau anak-anak berada di sini. Dan semoga saja Akang Podin juga tidak akan mencari kami lagi." begitu kata Isti, yang tentu sangat berterima kasih atas pertolongan yang diberikan oleh si Kakek itu.


    "Ya .... Seandainya saya tidak pulang ke rumah ini, kamu jangan pernah mencari saya. Dan saya akan mendoakanmu, semoga usahamu dalam membimbing anak-anakmu, dalam mengurusi anak-anakmu itu bisa berhasil dan tidak ada yang mengganggu lagi. Saya mohon pamit. Kakek akan pergi untuk melanjutkan perjalanan saya. Kakek akan meninggalkan kalian, jangan lupa pesan Kakek, jadilah orang baik jangan jadi orang serakah ...." begitu kata si kakek yang kemudian sudah melangkahkan kaki keluar dari rumah itu, pergi meninggalkan Isti bersama anak-anaknya.


    "Iya, Kek ...."


    "Oke .... Terima kasih, Kek ...."


    Isti menyalami laki-laki tua itu, demikian juga Dewi, Asri dan Antok yang juga ikut menyalami. Dan tentunya sambil mencium tangan si Kakek itu.


    "Hati-hati, Kek .... Jaga kesehatan ...." begitu kata anak-anak itu, yang juga meminta agar si Kakek itu senantiasa berhati-hati.


    Melepas kepergian si kakek itu, Isti ikut keluar rumah hingga sampai di jalan.


    "Eee ..., ada tetangga baru ...." tiba-tiba terdengar suara perempuan di dekatnya yang menyapa Isti .


    Isti melepas pandangannya saat mengamati jalannya si kakek, dan menoleh ke arah suara yang didengarnya.


    "Iya .... Kenalkan nama saya Isti ...." begitu kata Isti yang langsung menyalami tetangganya itu, saat ia menyaksikan tetangga yang ada di depannya.


    "Menempati rumah itu, ya ...?" tanya tetangganya itu.


    "Iya, tadi dipinjami Kakek ...."  jawab Isti, yang tentunya sambil melihat ke arah si kakek yang baru saja meninggalkan rumahnya. Namun, Isti sudah tidak melihat lagi si kakek tadi. Orangnya sudah menghilang.


    Lantas, beberapa tetangga pun pada keluar dari rumahnya, tentu setelah mendengar ada suara ramai-ramai. Ya, tetangga di kanan kiri pada menemui Isti. Terutama ibu-ibu dari kanan kiri rumahnya, yang ada di depan, serta sebelah-sebelahnya. Tentunya Isti juga ingin tahu para tetangganya. Ingin kenal dengan para tetangganya, yang ada di beberapa rumah di sebelah kanan kirimya, yang pada langsung menemui Isti. Isti pun baru sadar kalau ternyata di sini banyak para tetangganya yang baik-baik.


    "Kenalkan ..., nama saya Isti .... Saya bersama anak-anak saya, masih kecil-kecil. Itu mereka ada di dalam rumah ...." kata Isti yang langsung mengenalkan dirinya dan anak-anaknya kepada para tetangganya yang baru itu.


    "Baru pindahan, ya ...?"


    Banyak tetangga yang lain, yang tentu juga ingin tahu asal-usulnya Isti.


    "Saya, dari Perumahan Permata .... Rumah saya yang ada di sana sudah dijual oleh suami saya. Makanya kami pindah kemari, dibantu oleh Kakek ...." jawab Isti yang tentu jujur dengan tetangga-tetangga barunya itu.


    "Semoga betah tinggal di sini ...."


    "Kalau di sini mah, cuman tinggal di desa, yang tentu sepi tidak seperti di perumahan ...." kata tetangganya yang lain.


    "Bisa tinggal di sini, hidup di kampung bersama kita-kita ...." sahut yanglain.


    "Kamu bisa membeli rumah ini ...? Berapa kamu beli rumah ini ...?" tanya yang lain.


    "Rumah ini sudah lama jarang ditempati ...." sahut tetangga satunya lagi.


    "Katanya mau dijual ...." kata tetangga yang lain.


    "Saya tidak beli .... Saya hanya disuruh nempati sama yang punya rumah itu .... Katanya nanti kalau saya sudah punya rezeki saya boleh beli mencari tempat yang baru .... Tapi selama saya belum punya uang, saya disuruh menempati rumah itu." jawab Isti. Tentunya Isti juga menceritakan apa yang dialami.


    "Waaa ...??! Enak sekali ...." kata para tetangganya.


     Tentu para tetangganya juga heran dengan Isti yang hanya menempati rumah itu saja. Seakan mendapat rezeki nomplok.


    "Waduh ..., maaf ya, saya tidak tahu .... Tetapi kalau disuruh beli, saya memang tidak punya uang, saya kurang beruntung .... Rumah saya saja dijual oleh suami saya. Saya harus pergi dari rumah itu ...." jawa Isti.

__ADS_1


    "Lhoh ..., gimana sih, suami kamu itu ...?! Emang dijual untuk apa ...? Dibelikan rumah yang lebih bagus ya?" tanya para tetangganya.


    "Sebenarnya ..., suami saya sudah menikah lagi, dan saya harus mengurusi anak-anak sendirinya ...." jawab Isti yang langsung tertunduk malu serta sedih.


    "Ya, dasar yang namanya laki-laki .... Selalu saja mencari menangnya sendiri ..... Tidak mau ngurusin beban wanita, bahkan tidak mau juga ngurusin anak-anak .... Maunya enak dan menang sendiri ...." kata-kata para tetangganya yang kebetulan semuanya perempuan itu, dan pasti juga akan selalu menyalahkan suami yang tidak bertanggung jawab.


    "Tidak semuanya .... Ada kok, suami yang baik .... Contohnya saja suami saya, dia tidak seperti itu kok. Dengan istri perhatian, dengan anak juga perhatian." kata salah seorang tetangganya.


    "Ee .... Hati-hati kamu .... Yang kelihatan seperti itu malah bahaya .... Hati-hati dengan yang pura-pura baik seperti itu .... Pasti ada yang disembunyikan ...." sahut yang lain.


    "Jangan begitulah .... Kita harus berprasangka baik terhadap suami." kata wanita yang membela suaminya.


    "Lha terus, usahamu apa ...?" tanya tetangganya lagi. Tentu mereka ingin tahu yang dilakukan oleh Isti.


    "Iya .... Saya berjualan .... Saya dagang, jualan apa saja, barang-barang keperluan rumah tangga dan kebutuhan-kebutuhan keluarga lainnya." jawab Isti.


    "Berarti nanti buka warung, ya, di sini ya ...?" tanya para tetangganya.


    "Ya, rencananya begitu, karena saya membawa barang-barang dagangan dari toko saya yang dulu. Barang-barang jualan saya dari rumah, ini mau saya lanjutkan berjualan di sini." jawab Isti.


    "Waah .... Malah kebeneran, jadi bisa dekat kalau kami berbelanja." begitu sahur para tetangganya yang tentu senang kalau tetangga barunya itu akan membuka warung di rumahnya. Dan pasti mereka pada beli di tempat warungnya Isti.


    "Ya .... Terima kasih .... Semoga nanti kamu berbahagia di tempat yang baru ....." kata para tetangganya.


    "Nanti malam ada selamatan ...? Syukuran ini, untuk menempati rumahnya." tanya salah seorang ibu tetangganya itu


    "Oh, iya .... Jangan lupa acara syukurannya ...." sahut tetangganya yang lain.


    "Iya, Bu .... Saya belum tahu caranya, saya mesti bagaimana ya ...? Apakah saya harus sampaikan sesuatu untuk pindah di sini? Kepada siapa untuk mohon bantuan ya, ibu-ibu ...? Saya mohon diarahkan bisa tinggal di sini bersama dengan warga-warga yang lain ...." begitu kata Isti yang tentu ingin tahu bagaimana syaratnya untuk menjadi warga di kampung itu.


    "Iya, Bu .... Ibu ke Pak RT saja, nanti tanya Pak RT, bagaimana prosedurnya biar nanti dijelaskan oleh Pak RT. Itu rumahnya yang ada di sebelah sana, di ujung jalan.... Silakan nanti Ibu Isti pergi ke sana, konsultasi dengan Pak RT." kata para tetangganya.


    "Oh, iya ..., Ibu .... Terima kasih. Saya mau langsung ke rumah Pak RT saja, biar nanti bisa lebih cepat untuk tahu bagaimana caranya hidup bertetangga di kampung ini." kata Isti yang langsung menuju ke rumah Pak RT.


    Dan sesampai di rumah Pak RT, Isti langsung memperkenalkan diri dan menanyakan syarat-syarat untuk tinggal di kampung itu.


    "Maaf, Pak RT .... Saya Isti, warga baru yang pindah di rumah sana itu. Saya membawa tiga orang anak yang masih kecil-kecil. Kebetulan saya diminta oleh yang punya rumah itu untuk menempatinya. Terus saya ingin tanya bagaimana prosedurnya ya, Pak ...?" tanya Isti pada Pak RT.


    "Wah, ya .... Selamat datang di kampung kami. Yah, Ibu ..., terima kasih Bu Isti, ya .... Yang penting Ibu nanti bisa berteman baik, hidup rukun dengan para tetangga yang ada di kampung ini. Terus, kami minta kartu keluarga untuk menjadi syarat administrasi kami, supaya kami tahu persis, siapa anggota keluarga Ibu." jawab Pak RT.


    "Pasti, iya Pak, nanti saya akan serahkan kartu keluarga. Terima kasih ..., nanti akan saya sampaikan kemari. Tetapi terus terang buktinya di kartu keluarga kami bapaknya tidak ikut kemari. Mohon maaf, kami tidak bersama dengan bapaknya anak-anak. Hanya saya dan tiga anak yang masih kecil-kecil ...." jawab istri kepada Pak RT.


    "Lho, kenapa ...?" tanya Pak RT.


    "Suami saya kawin lagi, Pak RT .... Dan kami diusir dari rumah kami." begitu jawab Isti yang tentu sambil meneteskan air mata.


    "Saya turut prihatin, Bu .... Tidak apa-apa .... Biasa kalau laki-laki kena goda. Biasanya karena uang dan wanita. Tapi tidak mengapa, kumpulkan saja kartu keluarganya, untuk syarat administrasi." jawab Pak RT.


    "Iya, Pak .... Sebenarnya suami saya itu menikah lagi di jakarta tanpa sepengetahuan saya, dan saya itu diusir dari rumah, karena rumahnya dijual. Dan tentunya untuk membiayai hidup dengan istrinya yang baru. Oleh sebab itulah kami datang kemari, dipinjami rumah sama si pemilik rumah itu. Terus terang kami mohon maaf sekiranya nanti ada kegiatan-kegiatan yang harus memakai biaya, kemungkinan besar saya ini tidak sanggup harus membiayai rumah tangga dan anak-anak saya .... Doakan saja saya dapat rezeki, Pak ...." begitu kata Isti yang semakin terlihat isak tangisnya.


    "Oh, ya .... Tidak apa-apa, Ibu .... Saya tahu .... Yang penting nanti Ibu menyesuaikan diri saja dengan kegiatan para tetangga, supaya kita di sini semuanya hidup rukun tentram." kata Pak RT memberi nasihat kepada Isti.


    "Terima kasih, Pak RT .... Jika sudah, kami mohon pamit untuk pulang. Mau menata barang kami.

__ADS_1


    "Ya, Ibu .... Hati-hati ...." jawab Pak RT.


    Isti kembali ke rumah barunya. Pastinya akan menata barang-barang dan juga memasak untuk anaknya. Namun yang pasti, tentunya dia sudah senang duluan karena sudah bisa diterima oleh para tetangganya. Bahkan tetangganya sudah bersiap akan berbelanja ke tempatnya. Perkenalan dengan para tetangga dan Pak RT yang tiba-tiba saja itu, sudah mengobati hatinya saat ditolak oleh tetangganya yang dulu.


__ADS_2