PULAU BERHALA

PULAU BERHALA
EPISODE 75: HUJAN DI TENGAH KEMARAU


__ADS_3

    Saat mobilnya masuk bengkel, untuk memperbaiki radiatornya, Podin sebenarnya masih kepikiran dengan hilangnya tas yang berisi uang di dalam mobilnya. Uang delapan ratus juta itu bukan sedikit jumlahnya. Namun apa mau dikata, dikejar ke mana pun tidak bakalan ketemu. Mau lapor polisi, malah menambahi pekerjaan. Malah nambahi ribet. Paling-paling juga tidak ketemu. Podin pasrah. Meskipun dalam hatinya ia jengkel, memaki-maki dua orang yang mendatanginya saat mobilnya mogok, bahkan juga ingin mengumpat sebisa-bisanya.


    "Ada apa. Pak?" tanya tukang radiator itu, yang melihat Podin gelisah.


    "Tidak apa-apa ...." jawab Podin.


    "Kok kelihatannya, bingung?" tanya tukang radiator itu lagi, yang tentunya menyaksikan Podin yang mondar-mandir itu pasti sedang ada masalah.


    "Ini ongkosnya nanti mahal apa nggak?" tanya Podin.


    "Ndak .... Paling sekitar dua ratus ribu saja." jawab tukang radiator itu, yang tentunya masih sambil mengorok radiatornya Podin.


    "O, ya sudah ...." jawab Podin mulai tenang. Tentu Podin khawatir kalau bayarnya sampai mahal. Masalahnya, di dompet Podin, uangnya tinggal sedikit. Kalau bayarnya mahal, ia tidak punya uang banyak.


    "Tenang, Pak .... Kami profesional. Nggak bakalan ngepruk pelanggan. Jangan samakan kami dengan bengkel yang tidak bertanggung jawab. Tahu-tahu bayar mahal. Itu yang bikin nama kami jadi tercemar. Gara-gara ulah satu orang, semua kena imbasnya." kata tukang bengkel radiator itu yang tentunya tidak mau dituduh mempermainkan harga ongkos perbaikan.


    "Masalahnya uang yang ada di dompet saya tinggal sedikit. Terus terang ini tadi saya barusan dirampok orang. Tas saya yang berisi uang, yang saya taruh dalam mobil, diambil oleh orang ...." kata Podin yang tentu mulai bisa cerita.


    "Loh, kok bisa, Pak ...?!" tanya tukang radiator itu yang tentu terkaget dengan cerita Podin.


    "Iya ..., tadi waktu mobil ini mogok, radiatornya mendidih ..., saya buka kabin dan mengamatinya. Tiba-tiba ada dua orang berboncengan motor yang datang, saya kira mau membantu. Yang satu itu mendekati saya dan menjelaskan mobil saya yang radiatornya rusak ini .... Eeh, tidak tahunya, yang satu orang lagi ternyata mengambil tas saya yang ada di dalam mobil .... Bablas, dia ...." kata Podin yang menceritakan masalahnya.


    "Walah .... Berapa duwit, Pak?" tanya orang itu ingin tahu.


    "Sekitar delapan ratus juta .... Itu hasil penjualan mobil dan rumah saya di Jakarta ...." jawab Podin yang terlihat sangat kecewa.


    "Ya ampun, Pak .... Itu uang banyak, Pak .... Bapak tidak lapor polisi?" tanya tukang radiator itu.


    "Halah ..., paling-paling juga nggak ketemu .... Anggap saja itu belum rezeki saya." sahut Podin yang pasrah.


    "Betul juga, Pak .... Itu jambretnya masih muda, ya?" tanya tukang radiator itu lagi.


    "Iya, betul .... Ya, paling usia dua lima tahunan .... Malah ganteng-ganteng juga." jawab Podin yang masih ingat wajahnya.


    "Berarti Bapak tahu presis orang itu?" tanya tukang bengkel itu lagi.


    "Ya tahu, lah .... Orang yang satunya malah memberi tahu tentang kerusakan radiator saya ini .... Dia paham presis tentang mesin mobil ...." jawab Podin.


    "Ya, remaja-remaja sekarang menang gaul, Pak .... Mereka suka utak-atik mesin motor." jawab tukang radiator itu.


    "Makanya, terus terang saya ini agak bingung .... Pikiran saya kacau .... Uang hasil penjualan rumah malah hilang. Mau balik ke kampung jadi bingung ...." kata Podin yang kembali terlihat bingung.


    "Memang kampung Bapak ada di mana?" tanya tukang radiator itu.

__ADS_1


    "Tasik ...." jawab Podin.


    "Masih jauh, Pak .... Rumah Bapak ada di Tasik?" tanya tukang radiator itu lagi.


    "Sebenarnya saya sudah tidak punya rumah di kampung .... Dulu saya jual, terus buat beli di Jakarta. Sekarang yang Jakarta saya jual, rencana mau beli lagi di kampung .... Eeh ..., malah uangnya dicuri orang .... Apes ..., apes ...." kata Podin.


    "Lah, keluarga Bapak dimana? Di kampung apa di Jakarta?" tanya tukang bengkel yang memperbaiki radiator tersebut, yang tentu ingin tahu keberadaan keluarganya. Dari gestur Podin, mestinya harus sudah berkeluarga.


    "Saya sudah tidak punya siapa-siapa. Istri sudah nggak ada ..., anak juga sudah meninggal." jawab Podin meyakinkan. Memang, Maya dan anaknya baru saja menjadi korban di Pulau Berhala.


    "Maaf .... Berarti Bapak ini duda tanpa tanggungan?" tanya laki-laki itu.


    "Iya .... Hidup saya ini serasa hampa .... Seakan sudah tidak ada artinya lagi. Buat apa hidup ini. Makanya, rencananya saya akan mau balik ke kampung, sekedar ingin hidup tenang .... Di Jakarta dunianya sudah tidak bersahabat lagi." kata Podin yang sok baik.


    "Kok tidak menikah lagi, Pak?" tanya tukang radiator itu.


    "Saya sudah tua .... Apa ada yang mau ...." kata Podin yang sok menggaya. Seakan-akan ia orang baik.


    "Ya ..., ada lah, Pak .... Banyak perempuan yang mau .... Apalagi Bapak punya mobil." kata tukang radiator tersebut.


    "Iya, punya mobil .... Tapi tidak punya rumah ...." sahut Podin.


    "Bapak tidak percaya ...?! Kalau saya yang nanyain ke perempuan, Bapak mau?" tanya orang itu mulai menantang Podin.


    "Bapak tunggu sebentar di sini .... Tunggu ya, Pak ...." kata laki-laki setengah baya itu, yang langsung berjalan cepat meninggalkan bengkelnya.


    Dan sebentar kemudian, tukang radiator itu sudah balik lagi ke bengkelnya. Tentu dengan senyum meyakinkan.


    "Kalau Bapak mau menikah ..., tuh ..., Bapak masuk saja ke warung itu .... Penjualnya itu janda tanpa anak .... Mungkin pas buat Bapak ...." kata tukang bengkel itu.


    "Apa ...?!" Podin tengak-tengok kebingungan.


    "Sudah .... Samperin saja, Pak .... Masuk saja ke warung itu, pura-pura beli minum atau makan, lah .... Itu perempuan yang jualan di warung itu, tadi mengatakan mau jika akan dinikah oleh Bapak." kata orang itu.


    Tentu Podin jadi bingung. Antara mau ke warung atau tidak. Antara mau menikah lagi atau tidak. Yang pasti Podin belum tahu seperti apa wanita yang dikatakan oleh tukang radiator itu. Apalagi soal yang menyangkut bodi atau kecantikan wajah. Pasti Podin masih ragu-ragu. Dua istri sirinya, semuanya cantik. Walaupun Maya terlalu menor dan banyak make up-nya. Sedangkan Rina, ia memang cantik natural. Bahkan bisa dikatakan sangat cantik. Tetapi ketika sudah membuka warung makan, suaminya kurang mendapatkan jatah. Ia terlalu mengurusi para pelanggannya. Dan kini, kalau ia harus mendapat perempuan yang jualan masakan lagi. jangan-jangan sama seperti Rina.


    "Sudah, Pak .... Cepetan sana .... Nanti keburu dipatuk ayam, loh ...." kata tukang radiator itu.


    Akhirnya, Podin melangkahkan kakinya, berjalan ragu-ragu menuju ke warung makan kecil itu. Ya, setidaknya beli minum untuk melegakan tenggorokannya. Podin pun masuk ke warung kecil itu.


    "Mangga .... Mau minum apa, Mang ...?" tiba-tiba seorang wanita bertanya. Tentu dia ini adalah pemilik warung itu.


    Podin kaget. Ia langsung terkesima, begitu melihat orang yang menyapanya dengan menawari minum. Perempuan itu benar-benar cantik. Masih muda, belum terlalu tua. Tidak gemuk, tetapi juga tidak terlalu kurus. Dan kulitnya putih bersih. Ya, perempuan yang sempurna. Lebih cantik dari artis-artis yang pernah datang ke tempat karaokenya, maupun yang sering pergi-pergi bersama Maya. Sebut saja kelompok selebritis teman-teman Maya itu kalah jauh. Tentunya perempuan itu tidak pantas kalau jualan di warung emplek seperti itu. Podin pasti terkesima menyaksikan kecantikan wanita yang baru saja menawarkan minum.

__ADS_1


    "Eh ..., iya .... Minum es jeruk saja, biar segar ...." jawab Podin yang masih terus memandangi wanita itu.


    Perempuan itu pun segera membuatkan minum es jeruk kepada pembelinya. Dan setelah selesai, langsung diberikan kepada Podin.


    "Mangga ...." kata perempuan itu sambil menyerahkan segelas es jeruk.


    "Terima kasih ...." kata Podin yang menerima gelasnya, dan tentu sambil memandangi wanita itu.


    "Mau makan apa, Mang?" tanya perempuan itu pada Podin.


    "Nasi soto ..., biar seger ...." jawab Podin yang masih saja memandangi wanita cantik itu.


    "Mang ini yang katanya mau melamar saya ...?" tanya perempuan itu sambil menyiapkan soto.


    Podin kelabakan. Ia bingung untuk menjawab. Sungguh hal di luar dugaan. Ternyata wanita itu langsung mengatakan tanpa malu-malu kepada Podin, tentang apa tadi yang disampaikan oleh tukang bengkel radiator yang menawarinya.


    "Saya bingung .... Apa saya masih pantas?" kata Podin yang malu sendiri setelah ditanyai oleh perempuan yang menurut Podin sangat super cantik itu.


    "Kok bingung sih, Mang ...? Kalau kawin itu, siapa saja pantas, Mang .... Gak usah khawatir ...." kata perempuan itu pada Podin, tentu sambil menebar senyum yang sangat mempesona.


    Pasti Podin langsung klepek-klepek, tidak bisa berkata apa-apa lagi, selain malu tapi mau. Yah, seperti itulah kalau orang ditawari  kawin. Apalagi yang ngajak kawin ini bukan perempuan jelek, tetapi cantiknya luar biasa.


    "Tapi .... Kalau misalnya ..., saya mau melamar Teteh, kira-kira ada syaratnya gak ya, Teh ...?" tanya Podin yang tentu masih ragu-ragu.


    "Ya pasti ada, lah .... Masak orang nikahan kok tidak ada syaratnya, itu model mana ...?" kata perempuan itu yang seakan sudah paham dengan pernikahan. Tentunya ia tidak canggung untuk mengutarakan semuanya kepada laki-laki yang barus saja ketemu.


    "Staraynya apaan, Teh ...?" tanya Podin mulai memasang telinga untuk mendengar syarat yang akan diminta oleh perempuan itu.


    "Mau tahu syaratnya, Mang ...?! Mau tahu sedikit apa mau tahu banyak ...?! Hehe ...." perempuan itu sudah mulai menggoda laki-laki yang ada di depannya.


    "Ya, mau tahu banyak, lah ...." sahut Podin yang tentu penasaran.


    "Kalau mau jadi suami saya ..., syaratnya harus tidur dengan saya terus ...." kata perempuan itu sambil tersenyum.


    "Lhah ..., kalau syaratnya cuman begitu ..., ya mau, lah .... Saya setuju dan senang itu ...." jawab Podin yang tentunya senang kalau hanya dimintai syarat tidur bersama perempuan itu terus.


    "Yakin, mau ...?!" tanya perempuan cantik itu lagi, ingin meyakinkan Podin.


    "Ya, bener ..., lah .... Kan memang tujuan kawin itu ya begitu .... Masak cuman disuruh tidur bareng istrinya saja kok tidak mau .... Ya, mau ..., lah ...." kata Podin lantang dan bersemangat. Tentu senang dengan syarat seperti itu.


    Akhirnya, perempuan penjual warung makan yang sangat cantik itu pun langsung mendekati duduknya Podin. Tangannya pun sudah mulai meraba paha Podin. Tentu Podin langsung bereaksi. Dan tidak lama kemudian, tangan wanita cantik itu sudah menyeret tangan Podin. Podin diajak masuk ke dalam kamarnya.


    Bagai mendapatkan hujan di tengah kemarau yang panjang, Podin yang selama ini kekeringan dengan masalah asmaranya, saat diusir oleh Rina gara-gara akan memperkosa pembantunya. dan juga tidak terlayani oleh Maya yang sedang melahirkan. Dan kini, ia mendapatkan belaian kasih sayang dari wanita yang sangat cantik, tentu Podin merasakan basah semua sekujur tubuhnya. Hujan di musim kemarau itu terlalu deras mengucur, menyiram sekujur tubuh Podin yang kekeringan. Podin pun tergila-gila basah-basahan main hujan-hujanan.

__ADS_1


__ADS_2