
Podin tidak peduli dengan perbuatannya yang tercela. Podin tidak peduli dengan apa yang dilakukannya. Meski ia sudah banyak mendengar cerita tentang bagaimana ending dari orang yang mencari pesugihan, Podin tidak peduli dengan omongan-omongan orang, yang mengatakan kalau cara-cara mencari harta kekayaan dengan cara yang tidak benar, dengan cara yang melanggar agama, dengan cara yang mempersekutukan setan, kelak nantinya akan mendapatkan malapetaka.
Dalam kenyataannya, Podin yang sudah melakukan cara mencari harta kekayaan dengan pesugihan seperti itu, nyatanya hidupnya enak. Dia bisa apa saja. Tanpa harus bersusah payah, dia bisa mengumpulkan harta kekayaan yang banyak. Bahkan bisa menikah dengan banyak perempuan. Bisa menikah berkali-kali. Yang tentunya, semua itu karena Podin punya uang banyak. Karena Podin punya kekayaan. Karena Podin mempunyai harta yang melimpah. Ya, itulah kenyataan hidup. Itulah fakta di dunia nyata, bahwa semua orang yang kaya, orang yang punya uang banyak, orang yang punya harta benda berlimpah, mereka yang akan mendapatkan kemudahan dalam segalanya. Bahkan perempuan-perempuan akan tertarik kepadanya, hanya karena ia punya harta dan kekayaan, dia punya uang yang bisa digunakan untuk membahagiakan istrinya.
Kenyataannya, saat Podin bertemu Maya, istri sirinya yang di Jakarta, Maya tergila-gila dengan harta kekayaan Podin. Setiap hari meminta uang, meminta ini dan itu, hingga rumah dan mobil mewah. Tentu Podin harus selalu memberikan kebutuhannya, memenuhi semua tuntutan istri mudanya itu. Demikian juga ketika ketemu Rina. Pastinya Rina mau menikah dengan Podin, gegara Rina melihat Podin orangnya sudah mapan. Punya mobil dan beruang banyak. Walau Rina lebih menerima keadaan, bahkan Rina juga mau berusaha, dengan membuka warung makan. Apalagi saat ia punya istri Lesti. Baru ditinggal ke Jakarta sebentar, kenyataannya Lesti sudah selingkuh dengan laki-laki lain, yang katanya mobilnya lebih bagus, lebih kaya dan lebih berduit. Itulah kenyataan, wanita tidak bisa terlepas dari harta benda dan kekayaan.
Itulah fakta di kehidupan yang sesungguhnya, kehidupan yang butuh material, kehidupan yang butuh uang, kehidupan yang butuh kekayaan. Memang tidak bisa dipungkiri, tidak ada orang yang mau hidup miskin. Orang hidup butuh makan, minum, sandang dan papan. Dan apalagi ketika hidup di Jakarta, di sana juga ditemui kehidupan yang butuh gengsi.
Podin tidak peduli dengan apa yang akan dialaminya nanti. Nyatanya, orang hidup butuh harta. Orang hidup butuh kekayaan. Orang hidup butuh uang untuk memenuhi semua kebutuhannya. Bagi Podin, ia akan mencari uang sebanyak-banyaknya. Podin ingin menjadi orang yang kaya raya.
Dengan kenyataan itu, Podin akan mencoba kembali untuk memanggil tuyul dari peti yang baru didapatkannya kembali, dari tukang sampah di pasar dekat rumahnya dulu. Tentunya, Podin masih penasaran dengan apa yang dialaminya semalaman. Ya, kini ia kembali ingin menyaksikan gadis cilik yang datang, yang keluar dari dalam peti itu, dan bisa melepas kepalanya dengan kedua tangannya itu, dan akan menyerahkan kepadanya. Kala itu Podin memang ketakutan. Bahkan hingga pingsan.
Dan rencananya, Podin akan menanyakan kepada gadis kecil itu, apa yang dia mau, apa yang dia inginkan, apa yang dia kehendaki. Tetapi yang jelas gadis cilik itu harus menurut kepada Podin, harus mau menerima perintah Podin, harus mau mencarikan uang sebanyak-banyaknya untuk dimasukkan ke dalam peti. Ya, gadis cilik itu harus mau disuruh oleh Podin untuk menghasilkan uang sebanyak-banyaknya.
Malam itu, Podin kembali konsentrasi untuk melakukan ritual, mengundang tuyul yang ada di petinya. Podin kembali menata dua peti yang berisi bocah perempuan cilik itu, kembali bersila di tengah ruang apartemennya. Podin kembali melakukan ritual untuk memanggil tuyul. Ia mulai bersiap. Podin sudah menata kata-kata yang akan disampaikan kepada bocah perempuan cilik itu, jika saja ia keluar dari peti itu. Maka Podin kembali akan menjadi yang berkuasa atas makhluk yang nanti keluar dari peti yang dipujanya, kembali akan menjadi yang berhak untuk mengatur dan memerintah kembali. Podin akan menjadi orang yang harus ditakuti oleh bocah perempuan cilik itu, arwah yang kemarin sempat menakuti dirinya. Podin kembali akan memaksa anak itu untuk menuruti semua perintahnya, seperti yang pernah dilakukan oleh Bang Kohar, mengatur tuyul bayi kecil.
Malam itu, Podin sudah menyiapkan berbagai perlengkapan ritual. Podin membawa bungkusan daun pisang yang berisi bunga sesaji. Bahkan tidak hanya bunga sesaji saja, tetapi Podin juga membawa kemenyan, dan tentunya Podin nanti akan membakar kemenyan itu. Bahkan Podin juga sudah menyiapkan sebotol minyak wangi si nyong-nyong, yang baunya sangat lekat di hidung. Dan yang tidak ketinggalan, kain kafan putih, yang nantinya akan digunakan untuk mengusapkan minyak wangi ke peti yang dikeramatkan.
Di dalam ruangannya, di dalam kamar apartemennya, Podin yang sedang melakukan ritual, tentunya sebentar lagi Podin akan membuka dan mempersembahkan sesaji itu. Ya, katanya ini adalah sesaji yang paling ampuh untuk bisa menemui makhluk gaib, untuk bisa meminta makhluk gaib menuruti perintahnya. Sesaji yang pantas dipersembahkan untuk penguasa alam kegelapan, yaitu arwah gentayangan yang akan dipanggilnya. Ya, Podin memang harus bersekutu dengan makhluk-makhluk gaib di luar alam manusia. Podin memang harus bisa menyatu bersama dengan makhluk-makhluk jelmaan dari alam lain itu. Tetapi memang niatan Podin sudah bulat, yaitu untuk mendapatkan harta kekayaan, yaitu untuk mendapatkan uang yang berlimpah. Maka sesaji apapun itu, pasti akan dilakukan oleh Podin.
Seperti malam itu, Podin yang sudah duduk bersila di tengah ruang apartemennya, langsung membuka bungkusan bunga sesaji. Tentu mulutnya sambil komat-kamit membaca rapalan mantra. Podin mulai menaruh kemenyan di dekat bunga sesaji yang sudah digelar tersebut, di depan dua peti yang diharapkan nanti akan menjadi peti yang sangat keramat, akan menjadi peti yang sangat mempunyai harga yang tidak terhitung nilainya. Podin mulai menyalakan api dari sebatang korek, lantas api itu didekatkan untuk membakar kemenyan. Ya, kemenyan itu pun langsung terbakar. Kemenyan itu pun mulai mengeluarkan asap. Kemenyan itu pun mulai menyebarkan bau harum yang khas dan sangat menusuk hidung manusia. Ya, bau wangi dari kemenyan yang sangat luar biasa itu memang benar-benar sangat menusuk hidung siapapun yang akan menghirup udara yang sudah terkena dengan asap kemenyan itu.
Rupanya Podin lupa kalau dirinya berada di apartemen. Podin lupa kalau dirinya tidak tinggal sendirian di gedung itu. Podin lupa kalau di tempat tinggalnya itu banyak kamar lainnya, dan banyak penghuni yang tinggal di situ. Dan tentunya bau kemenyan itu pun langsung menyusup keluar ruangan Podin, melalui celah-celah lubang yang bisa dilalui udara. Dan tentunya bau kemenyan itu langsung menyebar ke berbagai tempat di apartemennya.
"Bau apa ini ...?!"
"Kok ruangan kita baunya tidak enak ...?!"
"Iya .... Baunya menyengat."
"Apa ada kebakaran ...?!"
"Awas .... Apartemen kebakaran ...!"
"Bau apa, ya ...?!"
"Wah, kalau ini seperti bau orang membakar kemenyan ...."
__ADS_1
"Keterlaluan ...."
"Wah ..., kurang ajar .... Siapa ini yang berani membakar kemenyan di apartemen ...?!"
"Iya, betul .... Ini bau kemenyan."
"Waduh ..., ini mengganggu orang lain .... Ini mengganggu tetangganya ...."
"Iya .... Masak tengah malam seperti ini malah membakar kemenyan ...."
"Baunya sangat menusuk hidung."
"Ya .... Siapa ini yang membakar kemenyan ...?!"
Orang-orang penghuni apartemen itu pun mulai pada berteriak, mulai pada bertanya-tanya, mulai pada keluar dam mulai pada mencari dari mana asal bau kemenyan itu? Siapa yang membakar kemenyan itu?
Maka, serta merta mereka pada keluar dari kamarnya, mereka ribut di lorong apartemen itu, ingin mencari sumber dari bau kemenyan yang dibakar itu.
Podin kaget mendengar keributan di luar ruang apartemennya. Konsentrasinya buyar. Ritualnya juga bubar. Ya, suara ribut-ribut di luar ruangnya itu terdengar jelas. Orang-orang mencari asal bau tidak sedap, asal bau kemenyan yang sangat menusuk hidung. Ya, orang-orang ribut karena terganggu mencium bau kemenyan tersebut. Maka Podin pun langsung menggagalkan ritualnya. Podin yang tahu kalau para tetangganya itu ramai-ramai mencari sumber bau kemenyan. Dan pasti, sebentar lagi orang-orang itu akan mendatangi Podin.
"Tok ..., tok ..., tok ...!"
"Tolong keluar ...!"
"Ayo, cepat buka pintunya ...!"
Dan benar, pintu ruang apartemen Podin sudah digedor oleh orang-orang yang tinggal di apartemen itu. Mereka menyuruh Podin untuk membuka pintunya. Orang-orang menyuruh Podin keluar. Tentunya, orang-orang yang ribut di lorong apartemen itu sudah menemukan asal bau kemenyan itu dari kamar Podin. Makanya mereka menyuruh Podin membuka pintu, menyuruh Podin keluar. Pasti Podin akan dimarahi.
Beruntung, Podin sudah mendengar suara ribut sejak awal. Sehingga ia masih sempat untuk menyembunyikan peti-peti harta karunnya. Tentu saat orang-orang itu datang, dan masuk ke ruang apartemennya, tidak ada yang melihat, tidak ada yang tahu dengan rahasianya.
"Ada apa, ya ...?" tanya Podin saat membuka pintu kamarnya, menemui orang-orang yang sudah mengepung pintu kamar Podin.
"Bapak membakar kemenyan di ruang apartemen, ya ...?!" tanya salah seorang yang sudah berhadapan tepat di pintu ruangan Podin.
"Tidak .... Tidak ada kemenyan di sini .... Maaf, saya hanya merokok ...." jawab Podin, yang tentunya ia berpura-pura sambil menghisap rokok. Dan Podin memang cerdas. Tidak hanya licik saja. Rokok yang ia sulut itu, lintingannya sendiri, yang di dalam tembakaunya ia kasih butiran kemenyan.
"Kurang ajar .... Masak di ruangan apartemen merokok pakai kemenyan ...?!" kata orang yang sudah berhadapan dengan Podin tersebut. Dan tentu orang itu juga tahu rokok yang dihisap oleh Podin.
__ADS_1
"Iya .... Keterlaluan itu ...!!" sahut yang lain.
"Uhuk .... Uhught ...!" seseorang terbatuk, karena mencium bau asap rokok Podin yang mengandung kemenyan.
"Diusir saja ...!!" teriak yang lainnya.
"Ya ..., betul ...."
"Kita usir ...!!"
"Kita suruh pergi ...!!"
"Bapak ini sudah meracuni kita ...! Mau membunuh kita ...!"
"Kalau Bapak ingin merokok kayak begitu, silakan pergi dari apartemen ini ...!!"
"Kita laporkan ke bagian keamanan .... Biar orang ini diusir ...!!"
Tentu, orang-orang yang sudah mengerubungi Podin berniat akan mengusir Podin. Tentu mereka merasa terganggu dengan ulah Podin yang memang keterlaluan itu. Dan pastinya mereka tidak bisa menerima tingkah laku Podin yang semaunya sendiri tersebut, yang mengganggu ketenteraman dan kenyamanan apartemen, serta merugikan orang lain.
"Ya ..., ya .... Maaf .... Saya tidak tahu. Saya lupa. Saya akan matikan rokok saya. Saya tidak akan merokok seperti ini lagi." kata Podin yang meminta maaf, dan tentunya berpura-pura menyesal sudah merokok dengan bau yang tidak bisa diterima oleh para penghuni apartemen.
"Tidak bisa .... Ini tidak bisa ditolerir .... Bapak harus pergi dari apartemen ini ...!"
"Ya .... Kalau mau merokok seperti itu, silakan tinggal di hutan saja ...!"
"Kita usir saja ...!!"
"Ya ...!"
"Betul ...!!"
"Pergi dari tempat ini ...!"
Orang-orang tetap bersikeras mengusir Podin. Ya, itu memang salah Podin. Ia dianggap keterlaluan. Ya, membakar kemenyan di ruang apartemen, pasti baunya akan menyebar ke seluruh apartemen. Dan wajar kalau para penghuni apartemen meminta Podin agar diusir, menyuruh Podin agar pergi dari apartemen itu.
"Ya ..., saya paham .... Saya mengerti .... Tapi tolong beri saya waktu sampai hari terang." kata Podin yang tidak bisa menahan amarah para tetangganya.
__ADS_1
Podin kembali diusir oleh orang-orang. Podin disuruh pergi dari apartemen.