PULAU BERHALA

PULAU BERHALA
EPISODE 121: KETAGIHAN


__ADS_3

    Tentunya Podin merasa senang, karena bisa mencari uang dengan cara yang gampang, sangat mudah, dan sangat cepat. Podin tidak perlu lagi bersusah-susah untuk pergi ke Pulau Berhala. Podin tidak perlu lagi repot-repot mencari korban untuk dipersembahkan kepada penguasa istana Pulau Berhala. Dan Podin tentu juga tidak harus menunggu setiap malam bulan purnama kalau mau meminta harta karun kepada penguasa Pulau Berhala, yang saat melakukan persembahan di sana, belum tentu dirinya bisa menyiapkan korban persembahan. Pastinya hal itu dirasa sangat sulit bagi Podin. Dan pastinya Podin juga belum tentu berhasil, yang dibuktikan dengan gagalnya saat ia akan mempersembahkan bocah pengemis jalanan yang ternyata bocah itu sudah rusak, sudah tercemar dengan obat-obatan terlarang, sudah tercemar dengan minuman keras, sudah hancur dalam pergaulannya, dan bocah itu sudah tidak perjaka lagi. Pastinya Podin mengalami kekecewaan yang sangat berat. Pastinya Podin putih mengalami malu yang luar biasa, sudah diejek dan dimarahi oleh penguasa istana di hadapan orang-orang lain yang pada berdatangan ke istana Pulau Berhala tersebut. Dan tentunya, Podin juga jengkel dengan bocah kecil yang sudah mengecewakannya itu.


    Kini, setelah Podin mendapatkan peti keramat itu, peti yang bisa mengeluarkan tuyul, dan tuyul itu mampu mencarikan uang untuk memenuhi peti itu, pasti Podin lebih senang dan lebih gembira. Dan tentunya, Podin merasa sangat beruntung. Kini Podin tidak perlu repot-repot lagi datang ke Pulau Berhala. Podin tidak perlu repot-repot lagi mencari korban persembahan. Dan Podin hanya cukup duduk bersila di depan peti itu, maka hanya dalam waktu sekejap saja, uang dua peti langsung menumpuk di depan matanya. Tentu bagi Podin, ini adalah hal yang sangat mudah, hal yang sangat gampang untuk dilakukan supaya dirinya bisa mendapatkan harta kekayaan, mendapatkan uang yang berlimpah setiap malam.


    Maka, malam itu Podin kembali ingin mendapatkan uang dari hasil yang dia peroleh melalui makhluk gaib, bocah kecil gundul yang bernama tuyul itu, yang ada di dalam petinya itu. Ya, di tengah malam yang ia tunggu-tunggu, Podin kembali bermeditasi. Podin kembali berkonsentrasi, duduk bersila di tengah lantai apartemen tempat tinggalnya itu. Tentunya sambil memandangi dua buah peti yang ada di hadapannya, peti yang kini ia keramatkan.


    Tangan Podin meraih botol kecil. Ia kembali mengambil minyak wangi, untuk diusapkan pada peti-pedi itu. Ya, tentunya seperti yang dikatakan oleh Bang Kohar, kalau merawat peti keramat, merawat benda-benda pusaka, merawat jimat-jimat, agar makhluk penunggunya tetap setia, maka harus diusap menggunakan minyak wangi. Dan bila perlu, juga dengan menggunakan bunga sesaji, agar makhluk yang menunggu pada benda keramat itu akan senang, menjadi tenang, menjadi nyaman untuk menghuni benda keramat itu selamanya.


    Malam itu, Podin yang sudah meneteskan minyak wangi pada kain putih, kain mori yang biasa digunakan menjadi kain kafan untuk membungkus jasad orang mati, kemudian langsung ia usap-usapkan pada peti yang kini ia keramatkan, peti yang ia puja-puja, peti yang menjadi ajian untuk mengumpulkan harta benda, peti yang ia gunakan untuk mendapatkan uang dan kekayaannya. Ya, terus saja Podin mengusapi peti-peti itu, ke seluruh permukaan peti, hingga sampai ke bagian dalamnya. Tentunya Podin melakukannya itu agar makhluk yang ada di dalam peti itu senang karena mencium bau wangi-wangian yang sangat menyengat hidung. Tidak hanya bagian dalam petinya saja, tetapi juga bagian luar dan bawahnya. Semuanya diusap dengan minyak wangi hingga rata, seperti halnya kalau dia merawat barang keramat.

__ADS_1


    Tidak hanya sekedar mengusap peti itu saja, tetapi Podin juga mengelus-elus dengan penuh kasih sayang, seperti halnya dia sedang mengusap dan mengelus kulit bayinya yang halus dan mulus. Ya, Podin memang merasakan, bahwa makhluk kecil yang disebut dengan tuyul itu adalah bayinya sendiri, anaknya yang sudah ia korbankan. Maka untuk imbal jasanya, Podin pun mengelus dengan penuh kasih sayang, seperti halnya dia sedang menyayangi anaknya sendiri. Tentunya Podin juga teringat dengan bayinya yang kala itu harus ia korbankan untuk persembahkan kepada penguasa istana Pulau Berhala. Itu semua lantaran Podin memang membutuhkan uang. Podin memang membutuhkan harta kekayaan. Wajar kalau saat itu ia harus mengorbankan itu semua.


    Dan kini, setelah ia tahu bahwa bayinya yang sudah ia korbankan itu muncul dalam peti itu sebagai makhluk gaib yang disebut tuyul, maka ia mencurahkan kasih sayangnya kepada tuyul itu, yang tentunya agar tuyul itu mau menuruti kemauan Podin, yaitu mencari uang untuk dipersembahkan kepada dirinya.


    Podin sudah selesai mengusap seluruh permukaan peti itu dengan minyak wangi. Dan tentu juga bagian dalamnya, yang tentunya baunya sangat menyengat hidung, karena saking wanginya. Minyak yang diberikan oleh Bang Kohar untuk mengusap peti tersebut, yang memang terkenal dengan sebutan minyak kiburan.


    Selanjutnya, tepat pada jam dua belas tengah malam, Podin yang sudah duduk bersila menghadapi dua buah peti yang dikeramatkan itu, yang dipuja-puja itu, dan yang tentu sangat ia jaga. Podin mulai komat-kamit membaca mantra. Ya, mantra untuk memanggil tuyul itu, dan tentunya mantra untuk menyuruh tuyul itu mengambil uang, mencari uang, mencuri uang, dan memasukkannya uang-uang hasil curiannya itu ke dalam peti yang sudah dihadapi oleh Podin.


    Namun kali ini, Podin sudah menjadi biasa dengan tatapan bocah gundul itu. Podin sudah tidak takut lagi dengan tuyul yang muncul sambil membelalakkan matanya. Podin sudah tidak bingung lagi dengan kehadiran makhluk itu. Bahkan ia sudah lancar untuk mengucapkan mantra-mantranya dan menyuruh si tuyul itu untuk pergi mencari uang. Ya, selanjutnya tuyul itu pun sudah menghilang dari hadapan Podin, yang tentunya di malam sunyi itu, tuyul tersebut akan mencarikan uang untuk Podin. Tuyul itu akan berkeliling untuk mengambili uang para tetangganya.

__ADS_1


    Tentu Podin merasa senang, merasa gembira menyaksikan tuyul yang sudah meninggalkan peti itu. Karena sebentar lagi, dua buah peti yang kosong itu, yang ada di hadapannya itu, yang ia puja-puja itu, yang dia keramatkan itu, sebentar lagi peti-peti itu akan berisi penuh dengan uang. Dan tentu, Podin akan segera kaya.


    Untuk sementara waktu, Podin harus sabar menunggu. Pasti beberapa saat lagi, peti yang terbuka itu, peti yang masih kosong itu akan terisi uang. Dan memang benar. Selembar uang pertama datang, masuk ke dalam peti tersebut. Tentu Podin langsung tersenyum menyaksikan lembaran uang merah yang jatuh dari udara, tepat masuk ke dalam lubang peti. Ya, itu artinya tuyul tadi sudah bekerja. Tuyul tadi sudah mencarikan uang untuk Podin.


    Selanjutnya, kembali lembaran-lembaran uang berdatangan dan masuk ke dalam peti tersebut. Ya, tidak sedikit jumlahnya. Tetapi lembaran yang berdatangan itu sangat banyak, dan hampir memenuhi kedua buah peti yang dihadapi oleh Podin yang duduk bersila itu. Tentu Podin berharap, lembaran-lebaran uang itu akan datang terus.


    Namun ternyata, uang-uang yang seakan terbang dan masuk ke dalam petu itu sudah berhenti. Tidak datang lagi. Lantas tutup peti itu kembali tertutup. Ya, makhluk gaib kecil itu sudah kembali ke dalam peti, dan sudah kembali menutup peti itu. Memang tidak penuh, agak kurang sedikit. Mungkin para tetangga V sedang tidak banyak punya uang. Bisa juga mungkin karena efek dari tanggal tua, para karyawan belum bayaran. Sehingga tuyul itu tadi tidak maksimal dalam mencari uang.


    Tetapi Podin sudah merasa senang. Podin sudah tersenyum girang. Tentunya dua peti itu sudah menghasilkan uang yang sangat banyak. Dan fakta itu, uang sebanyak itu akan segera membuat Podin menjadi orang yang kaya raya, orang yang banyak uangnya.

__ADS_1


    Podin pastinya akan terus menjalankan bisnisnya memelihara tuyul tersebut. Ia sudah ketagihan untuk hidup enak, tanpa bekerja, tanpa bersusah payah, tetapi uangnya datang terus menerus. Pastinya, Podin akan melakukan cara seperti itu setiap malam dan terus menerus.


__ADS_2