
Pagi itu, Podin setelah sarapan, setelah makan pagi dan tantunya setelah Maya selesai menyalin bayinya, dan juga selesai memberikan ASI untuk bayinya, agar tidak menangis terus.Podin bersiap untuk berangkat menuju ke tempat sang raja, yang pernah dijanjikan oleh Podin kepada Maya.
Memang, Maya sudah tidak sanggup untuk merawat bahkan memomong bayinya sendiri.Maka dengan serta merta ia minta agar Podin segera membawa bayinya untuk diberikan kepada sang raja. Maya meminta kepada Podin agar nayinya segera diantarkan ke istana kerajaan itu, agar dirawat oleh dayang-dayang, agar dirawat oleh para pembantu-pembantu kerajaan yang ada di istana. Dan tentunya, bagi Maya, nanti akan pulang membawa harta kekayaan yang berlimpah.
"Bagimana ini, bayinya sudah siap? Nanti bayi itu akan saya taruh di atas box keranjang bayi ini, agar dia tidak terjatuh, agar dia aman, dan agar dia selamat sampai di tujuan." kata Podin yang sudah meminta bayinya untuk ditaruh di atas keranjang bayi yang sebentar lagi akan dibawa naik ke dalam mobilnya.
"Bang ..., aku ikut ...." kata Maya yang ingin ikut bersama dengan Podin untuk membawa bayinya itu ke tempat istana kerajaan.
"Ikut ke mana?" tanya Podin pada Maya.
"Ya, ikut ke istana kerajaan .... Ke tempat Abang mau memberikan bayi kita ini." jawab Maya yang tentu dia ingin tahu tempatnya.
"Aduh, Maya .... Nggak usah lah. Repot nanti .... Saya sendiri saja yang berangkat bawa bayi ini. Saya kasihan melihat kamu, Maya. Saya khawatir dengan kamu. Kan Maya masih sakit .... Kondisimu belum pulih .... Kamu masih nifas, dan tentu kamu ini masih kecapean. Maya nanti bisa tambah sakit. Saya kasihan sama kamu, Maya ..., kalau kamu ikut ke sana. Karena tempatnya sangat jauh, bahkan harus naik perahu dan menyeberang laut." begitu kata Podin pada istrinya, yang tentu ia tidak ingin istrinya tahu apa yang nanti akan dilakukan oleh dirinya saat mempersembahkan bayinya kepada sang raja.
"Tapi ..., Bang ..., aku pengen ngerti .... Aku pengen ikut, Bang." begitu rengek Maya yang seakan memang dia benar-benar ingin tahu di mana letak kerajaan tempat sang raja itu akan menerima bayinya.
"Ya ampun ..., Maya .... Sudahlah kamu di rumah saja .... Tunggu Abang di rumah saja ..., besok pasti Abang udah pulang ke sini lagi, dan tentu besok Abang akan bawakan kamu uang yang banyak, perhiasan harta kekayaan yang diberikan oleh raja itu, sebagai ganti dari anak kita yang kita serahkan pada sang raja." begitu kata Podin yang tentunya ia tidak ingin istrinya itu ikut bersamanya ke tempat yang selama ini dirahasiakan.
"Abang pelit .... Maya itu juga pengen piknik sama Abang .... Pengen ngerti tempat kerjaan, pengen ngerti istana di mana raja yang baik itu berada, Bang ...." begitu kata si Maya yang tentunya dia ingin kalau dirinya diajak ke tempat istana kerajaan itu. Pasti ia ingin tahu tempat yang megah, istana yang indah, kerajaan yang pasti sangat menakjubkan.
"Apa kamu nanti tidak kecapean? Kamu kan habis melahirkan .... Kesehatanmu belum pulih, Maya ...." kata Podin yang tentunya juga khawatir kalau istrinya ikut dirinya.
"Tidak, Bang .... Tidak apa-apa. Maya kuat, kok. Maya bisa, kok .... Setidaknya Maya nanti bisa membantu Abang, kalau si bayi menangis, Maya bisa pegangi, Maya bisa ngasih ASI, Bang. Jadi, Maya nanti bisa ikut bersama Abang sambil menjaga bayi ini, Bang, supaya bayi ini tidak jatuh, supaya bayi ini juga tidak menangis terus kalau kelaparan." begitu kata Maya yang tentu sangat ingin ikut bersama dengan suaminya untuk menyerahkan bayinya, yang akan dibawa menuju ke istana kerajaan yang katanya akan mendapatkan ganti uang serta harta kekayaan dari sang raja yang akan menerima anaknya.
"Tapi tempatnya jauh .... Perjalanannya sangat lama, bisa sampai sore di sana. Bahkan nanti bisa sampai malam. Dan untuk menyerahkan kepada sang raja pun, menunggu hingga tengah malam ...." begitu kata Podin kepada istrinya.
"Katanya kalau malam hari tempatnya tutup .... Kok ini malah Bang Podin bilang justru kita menunggu sampai malam?" tanya Maya pada suaminya.
"Iya ..., memang begitu, Maya .... Nanti sang raja itu keluarnya di malam hari, karena kita kalau mau ke istana itu, dari sore itu kita harus sudah sampai di sana. Kita disuruh kumpul, dan di halaman istana sudah disajikan berbagai macam hiburan. Tapi para ponggawa kerajaan itu hanya akan membuka tempat istananya, akan membuka pintu istananya itu di tengah malam. Karena sang raja akan keluar pada tengah malam. Dan sementara orang-orang yang berdatangan di istana itu, untuk menunggu waktu tengah malam, mereka bisa berkeliling menyaksikan hiburan, menyaksikan indahnya taman di sana. Bahkan juga banyak yang joget-joget. Tapi cuman kalau kita mau datang ke sana, tidak bisa malam hari dari sini, karena kita juga harus menunggu perahu yang akan menyeberangkan kita untuk menuju ke istana itu." seperti itu kata Podin kepada istrinya yang tentu dia memberi gambaran kepada Maya, bahwa untuk menemui sang raja itu tidak mudah dan tidak gampang.
"Memang tempatnya jauh sekali, Bang?" tanya Maya pada suaminya.
"Iya .... Jadi nanti kita dari sini akan menuju ke tepian laut dahulu .... Dari pantai itu, kita nanti akan dijemput oleh tukang perahu yang akan mengantarkan kita ke sebuah pulau, di mana di tengah pulau itulah terdapat istana kerajaan yang sangat megah dan mewah, dan benar-benar sangat indah. Dan di sana, kita baru bisa masuk ke dalam istana, di tengah malam saat pintu istana itu dibuka oleh para ponggawa kerajaan." kata Podin kepada istrinya.
"Lah ..., terus kita kalau masuk ke istana itu diperiksa apa tidak, Bang?" tanya Maya yang tentu dia juga penasaran.
"Ya .... Tempatnya dijaga. Nanti kita diawasi oleh para punggawa kerajaan itu." jawab Podin.
"Pokoknya saya mau ikut, Bang ...." rengek Maya.
"Kalau memang berani, jika Maya kuat dan sehat, ayo ..., sekalian kamu membawa bayi ini, dipangku, jika perlu sambil diberi ASI. Terus nanti menemani saya menyetir, biar tidak ngantuk untuk datang ke tempat itu." kata Podin yang mengajak istrinya.
"Iya, bang .... Terima kasih, Bang kalau saya dibolehkan ikut." kata Maya pada Podin.
"Ya, cepat sana ganti pakaian .... Kita bersiap, kita akan berangkat segera. Karena tempatnya jauh .... Kalau kita tidak segera berangkat, nanti kita akan kemalaman, dan tentu tukang perahu yang akan mengantarkan kita ke pulau itu sudah tidak ada lagi. Kalau di sana nanti sudah tidak ada tukang perahu, berarti tidak ada yang mau mengantarkan kita. Itu berarti kita tidak bisa masuk ke istana kerajaan, dan kita tidak bisa menyerahkan bayi kita untuk ditukarkan dengan uang dan harta kekayaan." kata Podin pada istrinya.
Maya yang ingin tahu istana kerajaan itu, yang tergiur dengan cerita dari suaminya yang menjelaskan kalau istana itu sangat megah, istana itu sangat mewah, bahkan katanya di dalam istana itu dinding-dindingnya terbuat dari emas, yang dihiasi dengan batu-batu permata yang indah dan menawan, ingin rasanya Maya datang ke sana untuk mengambil beberapa batu permata yang ada di dalam istana itu.
Setelah semuanya siap, Podin pun langsung menjalankan mobilnya menuju ke tempat yang sudah dijanjikan, yaitu ke istana kerajaan, di mana Podin akan menukarkan bayinya dengan uang dan harta kekayaan. Tentu Maya senang mendengar kata-kata yang disampaikan oleh Podin, kalau nanti bayinya itu akan diganti dengan uang yang sangat banyak serta perhiasan-perhiasan yang berlimpah. Sepertinya Maya sudah tergiur dengan omongan Podin tersebut. Maya pun senang dan selalu tersenyum di dalam mobil yang dijalankan oleh suaminya itu. Di angan-angannya sudah terbayang, Maya akan menjadi orang yang kaya raya.
Maya duduk di depan sambil memangku bayinya. Ia di samping Podin yang menyetir mobilnya. Dan tentu Maya sambil menggoyang-goyang bayi yang ada di dalam keranjang bayi itu, tempat bayi yang sangat unik yang dibeli oleh Podin secara khusus untuk membawa bayinya tersebut. Ya, Maya selalu menggoda bayi itu, karena menurut Maya, ini adalah hari terakhir bersama bayinya yang nanti sebentar lagi akan diserahkan kepada sang raja.
__ADS_1
"Anak ganteng .... Anak cakep .... Kamu nanti akan jadi anak raja .... Jangan nakal, jangan rewel ...." begitu Maya berkali-kali mencumbu anaknya. Ya, ini adalah cumbuan terakhir dari Maya kepada anaknya yang sebentar lagi pastinya Maya tidak akan bisa melihat anak itu lagi.
"Kalau bayi itu nangis, kamu kasih Asih loh, Maya .... Supaya anak itu tenang, tidak menangis melulu. Dan tentu biar sehat." kata Podin sambil menyetir mobilnya menuju ke arah selatan menaiki jalan yang mendaki dan berkelok-kelok.
Ya, tentunya Podin akan kembali menyaksikan tempat yang sudah berbulan-bulan tidak pernah ia mengunjungi, setelah ia mengorbankan anak jalanan yang ia culik dari perempatan jalan. Dan kini, setelah sekitar lima bulan purnama, Podin akan kembali mempersembahkan korbannya di istana Pulau Berhala. Tentunya Podin juga berharap agar Maya tidak tahu dengan semua rencananya itu, agar Maya tidak paham dengan rahasianya. Maya tidak tahu dengan semua yang akan dilakukannya di tengah-tengah istana Pulau Berhala tersebut.
"Masih jauh tempatnya, Bang?" tanya Maya pada suaminya. Tentu karena sudah sangat lama mobil berjalan, tetapi belum ada tanda-tanda berhenti.
"Masih .... Dan ini hitung-hitung dengan perjalanan yang tidak begitu tergesa, tidak ngebut .... Nanti sekitar matahari akan tenggelam di langit barat, kita akan sampai di tempat itu." kata Podin pada Maya yang memperkirakan waktu perjalanannya.
"Tetapi saya lapar, Bang .... Saya mau makan. Ini kan ASI-nya di sedot si bayi terus ..., makanya saya jadi lapar, Bang ...." begitu kata Maya yang tentu dalam perjalanan yang sangat jauh itu, ia pun merasa lapar dan ingin makan.
"Ya .... Sebentar, kita cari rumah makan ...." kata Podin mendengar apa yang dikehendaki oleh Maya.
Akhirnya, Podin pembelokan mobilnya ke sebuah rumah makan yang cukup bagus, dan tempat parkirnya sangat luas. Podin berhenti di sana, kemudian mengajak Maya yang menggendong bayinya itu, dengan membawa keranjang bayi itu, langsung menuju ke tempat rumah makan. Mereka pun menikmati makan siang dengan lahapnya.
Tentu Maya sangat kelaparan, begitu lahap untuk makan, walaupun hanya makan sayur sop dengan lauk peyek udang goreng, minumnya es jeruk lemon kesenangannya. Tetapi terlihat sekali bahwa Maya sangat menikmati makanan itu. Rasanya enak, rasanya nikmat. Ya, itu karena memang Maya dalam keadaan lapar, sehingga makanan apapun menjadi berasa enak dan nikmat.
Begitu juga dengan Podin, yang hanya menikmati makanan dengan orek tempe kesukaannya, ditambah dengan lauk rendang jengkol dan semur daging sapi, nasi sepiring penuh dihabiskan dalam waktu sekejap. Minumnya kopi panas. Tentu karena Podin juga kelaparan setelah menyetir setengah hari perjalanan. Mereka menikmati makan siang itu sekenyang-kenyangnya.
Setelah mereka selesai makan, akhirnya mereka masuk ke mobil lagi. Maya kembali memangku bayinya di kursi depan, sambil tangan kanannya membawa sebungkus plastik es jeruk. Ya, itu sangat nikmat tentunya, sambil menyedot minuman dalam perjalanan. Karena Maya memang kehausan. Ya, udara panas di sepanjang perjalanannya itu membuat mereka merasa kehausan. Demikian juga Podin yang membawa dua botol minuman ringan yang ditaruh di sisi tangannya menyetir, dengan harapan mudah untuk mengambilnya.
Mereka pun melanjutkan perjalanan. Podin kembali konsentrasi menyetir di jalanan yang masih jauh. Sedangkan Maya, setelah kenyang, penyakit kantuknya kumat. Ia pun tertidur di dalam mobil.
Dan kini, setelah matahari sudah condong ke arah barat, mobil Podin melintas di jalan yang tidak begitu luas, sehingga harus hati-hati kalau bersimpangan dengan mobil yang lain yang berpapasan dari depan. Podin sudah hafal jalan itu. Ia sudah berkali-kali datang ke tempat itu. Dan tentunya Podin sudah hafal dengan suasana di daerah yang akan ditujunya tersebut.
Sebentar kemudian, Podin membelokkan mobilnya, melintas jalan tanpa aspal, tanpa batu makadam, tanpa pengeras jalan. Podin hanya melintas di jalanan berpasir yang ditumbuhi dengan rumput-rumput. Ya, semak belukar yang cukup banyak. Dan di tempat seperti itulah Podin menghentikan mobilnya.
"iya ..., Maya .... Ini tempatnya. Di depan sana itu .... Kamu lihat, ada sebuah pulau yang rimbun dengan tanaman bakau .... Di tengah pulau itulah nanti kita akan kunjungi. Di tengah pulau itu ada sebuah istana yang sangat megah, istana yang benar-benar mewah. Dan kamu nanti bisa menyaksikan istana itu, sebuah istana yang tentunya belum pernah kamu lihat." kata Podin kepada Maya.
"Iya, Bang .... Terus kita lewat mana yang nyaman, Abang ...?" tanya maya yang tentu bingung untuk melangkahkan kakinya. Maklum kaki Maya adalah hasil perawatan salon, ya tentu dia akan khawatir kalau sampai kakinya terluka atau lecet, terkena semak belukar ataupun kerikil yang ada di tempat itu.
"Tidak usah khawatir .... Pelan-pelan .... Ayo abang bantu ...." kata Podin yang langsung memegangi tangan Maya untuk membantu melangkah.
"Gak ada jalan lain, Bang?" tanya Maya.
"Gak ada .... Ini kan kita harus melintas di sini, karena kita akan menuju tempat pulau yang di sana itu, kita harus menunggu tukang perahu di bawah situ. Ayo, melintas saja yang tidak ada rumputnya." begitu kata Podin menjelaskan pada Maya.
"Ya ampun, Bang .... Susah amat mau menuju ke sebuah kerajaan." gerutu Maya.
"Ya, memang jalannya harus lewat sini .... Mana bayinya ...? Biar Abang yang membawanya." kata Podin yang kemudian ganti membawa keranjang bayi yang tadi seharian di pangku oleh istrinya.
"Iya, Bang .... Ini, Bang ...." kata Maya yang langsung menyerahkan bayinya kepada Podin.
Podin menerima keranjang bayi itu, lantas membopongnya. Sedang tangan satunya, masih menuntun Maya yang terlihat repot untuk berjalan melintasi semak.
"Saya takut kalau lewat di tempat ini kakiku bisa lecet, Bang ...." begitu kata Maya yang selalu memanja.
"Pelan-pelan aja .... Sudah dekat tempatnya .... Sebentar lagi kita akan sampai." jawab Podin.
"Sampai dimana, Bang?" tanya Maya sambil melongok ke lautan.
__ADS_1
"Itu ..., di situ .... Sebentar lagi .... Kita hanya tinggal melintas di sini sedikit." kata Podin sambil menunjukkan tempat yang akan mereka tuju.
Lantas Maya mengikuti langkah kaki Podin. Dan tentunya, Podin dengan sabar menuntun istrinya, dan juga hati-hati membopong bayinya yang ada dalam keranjang bayi.
"Nah .... Kiya berhenti di sini. Kita akan menunggu perahu yang menjemput kita." kata Podin yang mengajak istrinya berhenti di tempat yang biasanya digunakan untuk menunggu perahu yang akan menjemputnya, perahu yang akan mengantarkannya datang ke Pulau Berhala.
"Mana perahunya, Bang?" tanya Maya yang tidak sabar. Dia selalu ingin cepat sampai, ingin segera menyaksikan istana yang megah, ingin langsung ke istana itu.
"Sabar .... Sebentar lagi juga akan datang. Lihat itu ..., matahari sebentar akan tenggelam, terlihat jingga merona dan indah. Kamu lihat ke arah sana .... Dari arah matahari itu, nanti dari sana akan muncul tukang perahu yang akan menjemput kita." begitu kata Podin sambil menunjuk ke arah matahari yang sebentar lagi akan tenggelam.
Dan memang benar, seperti yang dikatakan oleh Podin kepada Maya, dari balik matahari yang akan tenggelam itu tiba-tiba datang sebuah perahu kecil yang dijalankan oleh seorang tukang perahu yang mengenakan pakaian semacam jubah dari atas sampai bawah, serta mengenakan caping keropak yang menutup sampai bawah leher, sehingga wajahnya tidak kelihatan sama sekali.
"Nah ..., itu dia .... Maya, kamu lihatkan? Itu perahu yang menjemput kita. Perahu yang akan mengantarkan kita ke pulau itu. Ayo kita bersiap ke sini .... Hati-hati jangan sampai terpeleset. Nanti kamu jatuh dan tercebur ke dalam laut." begitu kata Podin pada istrinya, yang tentu mengajak bersiap karena sebentar lagi perahu itu akan datang menghampirinya.
Dan benar, tukang perahu itu pun sudah sampai di hadapan Podin dan Maya, yang sudah menunggu beberapa waktu.
"Ayo berangkat ...!" begitu teriak si tukang perahu yang sudah merapatkan perahunya di dekat batu tempat Podin berdiri.
"Ayo, Maya .... Kita naik perahu ini .... Kita akan menuju ke pulau itu, yang ada di seberang sana itu. Dan kita akan menyaksikan keindahan istana yang ada di tengah pulau itu." begitu kata Podin kepada istrinya.
"Loh, Bang ..., kok perahunya kecil sekali? Apa muat untuk kita berdua?" tanya Maya kepada suaminya, yang tentu meragukan perahu yang menjemputnya itu.
"Muat ..... Ayo coba .... Pokoknya kamu naik. Maua naik duluan. Habis itu saya yang belakangan." kata Podin yang kemudian sambil memegangi tangan istrinya yang naik ke atas perahu itu.
Lantas Podin pun ikut naik ke perahu itu, sambil membawa keranjang yang berisi bayinya yang dia pegang terus. Sebentar kemudian, akhirnya perahu itu pun bergerak menengah, dan si tukang perahu sudah mendorong galah yang akan digunakan untuk menjalankan perahunya itu. Sekali dorong, dua kali, tiga kali, dan hanya sekejap saja perahu itu sudah sampai di tepian pulau yang dituju oleh Podin bersama Maya yang membawa anak bayi yang baru saja dilahirkan.
"Nah, kan ..., sudah sampai .... Ayo turun. Kita turun di sini, kita akan menyaksikan keindahan pulau ini. Begitu kata Podin yang juga memegangi tangan Maya yang turun dari perahu yang membawanya.
Setelah turun dari perahu, mereka kemudian melangkah menuju ke jalan yang sudah tersedia di depannya itu, untuk menuju ke tengah pulau.
"Maya ..., lihatlah rembulan yang sedang muncul dari balik langit timur itu. Indah mempesona seperti lampu ajaib yang keluar dari dalam bumi. Lihatlah Maya .... Indah bukan?" kata Podin sambil menunjukkan bulan purnama yang sedang menyembul di langit timur. Ya, bulan yang benar-benar sempurna. Bundar besar dan mempesona. Sangat terang cahayanya.
"Iya, Bang Podin .... Indah sekali .... Waow .... Ini benar-benar keajaiban, Bang Podin .... Ternyata di sini kita bisa menyaksikan bulan purnama yang sangat indah." begitu sahut Maya yang juga terpesona menyaksikan keindahan bulan purnama tersebut.
"Maya .... Lihatlah .... Coba tatap kanan kiri jalan ini." kata Podin yang menyuruh istrinya untuk menyaksikan jalanan yang ia lintasi.
"Waah ..., indah sekali, Bang .... Lampu-lampinya gemerlap, penuh warna-warni, kelap-kerlip .... Waduh, ini benar-benar jalan yang sangat indah dengan lampu-lampu yang mempesona, Bang. Ini taman ya, Bang?" kata Maya yang tentu terkesima saat pertama kali masuk ke dalam jalanan yang dihias dengan lampu warna-warni tersebut.
"Iya, Maya .... Lihatlah ke arah tengah sana." kata Podin sambil menunjuk ke arah tengah, dari ujung jalan yang ia lalui.
"Ada apa, Bang? Kok terang sekali cahayanya di sana, Bang?" tentu Maya terheran karena apa yang ditunjukkan oleh Podin itu mengarah kepada tempat yang cahayanya gemerlap dan sangat terang benderang.
"Ya ..., lihat itu Maya. Di situlah letak istana sang raja. Istana yang sangat kamu inginkan. Ya, kini kamu akan melihatnya sendiri." begitu kata Podin kepada istrinya yang tentu Maya benar-benar terpesona dengan keindahan cahaya yang dia lihat dari kejauhan itu.
Maya pun tergesa untuk segera ingin tahu. Ia bergegas melangkah, agar segera sampai ke tempat yang bersinar terang tersebut. Maya tidak sabar.
Dan akhirnya dalam waktu sekejap, mereka pun sampai di tengah halaman istana. Halaman yang sangat luas dan megah, dengan lantai marmer dan lampu warna-warni yang ada di sana-sini, yang terpancar dari setiap sudut. Dan tentunya, Maya tergoda oleh suara alunan musik yang ada di halaman istana itu. Suara riuh sekali dari sound system yang pastinya bagus. Apalagi telinga Maya yang sudah terbiasa di ruang karaoke. Tahu presis keadaan suara musik itu.
"Wah .... Di sini banyak orang yang berwisata ya, Bang ...? Kenapa Bang Podin tidak pernah mengajak saya kemari? Kenapa baru sekarang Bang Podin mengajak saya? Dulu kok tidak pernah mengajak saya kemari, Bang?" tentu Maya memprotes suaminya, karena tidak pernah diberitahu kalau ada tempat wisata yang sangat indah, sangat megah dan sangat menawan.
"Ya, Maya .... Abang tidak ingin kamu kecewa, karena kalau kita datang ke sini memang harus membawa bayi, membawa anak yang diberikan kepada sang raja. Karena di sini sang raja penguasa di istana ini, di pulau ini butuh anak-anak yang akan dipelihara di kerajaannya, akan dirawat di sini." begitu kata Podin yang beralasan.
__ADS_1
Akhirnya, Maya pun hanyut dalam keindahan dan keramaian di halaman istana itu. Maya hanyut dengan alunan musik jingkrak-jingkrak yang terdengar di halaman istana itu. Dan tentunya, Maya yang selalu berada di dunia hiburan, yang selalu berada di tempat karaoke, kembali senang, kembali gembira, karena dunianya sama dengan yang ada di halaman istana yang ditunjukkan oleh suaminya itu. Maya hingar bingar menikmati suasana menyenangkan di halaman istana yang megah tersebut.