PULAU BERHALA

PULAU BERHALA
EPISODE 47: MENYEMBUNYIKAN HARTA KARUN


__ADS_3

    Setelah mendapatkan harta karun dari Pulau Berhala, yang diperoleh dari persembahan yang mengorbankan anak perempuan kecil yang diambilnya dari perempatan jalanan, anak jalanan yang ia culik, dan ia bohongi untuk diajak berpiknik, namun sebenarnya anak itu dipersembahkan kepada Sang Penguasa Pulau Berhala. Ya, dan akhirnya persembahan Podin diterima oleh penguasa Pulau Berhala. Dari persembahan itu, Podin kembali mendapatkan harta karun dalam peti, yang tentu jumlahnya sangat banyak. Tidak hanya uang logam emas saja, tetapi juga berbagai macam perhiasan dan juga intan permata serta aneka rupa jenis-jenis batu perhiasan serta logam mulia lainnya.


    Tentu dengan bisa membawa pulang harta karun itu, Podin sangat senang. Podin tentu sangat gembira. Dan terlebih lagi, Podin tentu sangat puas dengan peyi harta karun yang bisa ia panggul untuk dibawa pulang. Dan tentunya, Podin juga merasa kembali berjaya, kembali memiliki kekayaan yang tidak terhitung jumlahnya. Maka Ia pun segera pulang menuju Jakrta.


    Namun tentunya, hari sudah sangat larut malam. Dan juga seharian, dari pagi hingga sore, Podin menyetir mobilnya dari Jalarta hingga sampai ke laut Selatan. Belum lagi ditampah menunggu waktu untuk mempersembahkan korbannya kepada sang penguasa Pulau Berhala. Pasti Podin sangat kelelahan, sangat capek, dan sangat ngantuk. Maka Podin memutuskan untuk berusaha istirahat dahulu. Namun tentunya, jika tidur di mobil, di pinggir jalan, itu sangat beresiko. Karena ia membawa harta karun satu peti banyaknya. Ia khawatir kalau ada orang jahat yang mendatanginya. Maka, Podin pun memutuskan untuk menginap barang semalam di tempat penginapan. Setidaknya hotel atau losmen yang bisa digunakan untuk tidur.


    Podin menjalankan mobilnya perlahan. Tentunya sambil melihat kanan kiri, mencari tempat penginapan. Dan setelah sampai di pinggiran kota, Podin melihat lampu yang bertuliskan hotel. Hanya hotel melati. Tidak masalah bagi Podin yang memang uangnya masih terbatas. Justru hotel murah itu yang ia cari, sesuai dengan kondisi dompetnya.


    Podin pun langsung membelokkan mobilnya, masuk ke halaman hotel sederhana tersebut. Lantas Podin turun dan masuk ke ruang resepsionis.


    "Permisi ...! Selamat malam ...!" kata Podin yang tentu mencari petugas hotelnya.


    "Eh, iya ..., Pak .... Maaf .... Ada yang bisa kami bantu ...?" kata seorang laki-laki setengah baya, petugas hotel, yang ternyata sudah tertidur pulas di kursi dekat meja resepsionis.


    "Masih ada kamar, Pak ...? Saya mau menginap." kata Podin pada petugas yang masih mengucek matanya, tentu karena masih mengantuk.


    "Masih, Pak .... Untuk berapa orang?" tanya betugas hotel itu.


    "Saya sendiri ...." jawab Podin.


    "Kamar single habis, Pak .... Ini tinggal kamar double .... Harga per malam seratus lima puluh ribu." kata petugas hotel tersebut yang tentunya menyampaikan kamar yang masih ada.


    "Oke ..., tidak apa-apa .... Saya pesan untuk dua malam." kata Podin yang tentu merasa tidak masalah untuk menginap per malam hanya seratus lima puluh ribu rupiah. Kalau ia menyewa hotel bersama istrinya, setidaknya per malam sampai satu juta lebih. Makanya, begitu mendengar harga kamar hanya seratus lima puluh ribu, ia pun langsung pesan untuk dua malam. Bahkan Podin langsung membayarnya sekaligus. Setidaknya, ia akan istirahat total hingga rasa lelahnya hilang.


    "Ini kunci kamarnya, Pak .... Kamarnya ada di situ. Mari kami antar untuk ke kamar." begitu kata petugas hotel itu, yang langsung mengantarkan tamunya itu ke kamarnya.

__ADS_1


    "Ini kamarnya, Pak .... Mungkin ada barang bawaan yang bisa saya bantu angkatkan?" kata petugas hotel itu, yang juga menawarkan untuk membawakan barang-barangnya.


    "Terima kasih, Pak .... Tidak usah .... Nanti saya ambil sendiri, tidak berat kok." kata Podin yang langsung membuka pintu kamarnya.


    Dan setelah menyalakan lampu kamar, menyalakan AC, serta menyaksikan ruangannya, Podin merasa cocok. Hotel yang sangat murah untuk fasilatas yang lumayan bagus. Memang tidak semewah hotel-hotel yang sering dipakai berlibur bersama Maya, tetapi dengan harga yang murah itu, sudah sangat memadai, sudah lebih dari cukup. Podin merasa nyaman dan tenang.


    Selanjutnya, Podin keluar lagi, menuju ke mobilnya. Tentunya ia akan mengambil peti harta karun untuk dijaganya di dalam kamar hotel. Dan yang pasti, Podin akan memikirkan bagaimana nanti selanjutnya untuk mengamankan peti harta karun itu.


    Podin berjalan perlahan, tentunya agar tidak mengganggu petugas hotel yang masih mengantuk tadi. Ia mengambil peti harta karun dari dalam mobilnya. Lantas oleh Podin, peti itu dibungkus jaketnya. Sehingga tidak terlihat petinya. Lantas dibawanya masuk menuju kamarnya. Beruntung sudah sangat larut malam, bahkan sudah berganti pagi. Tentunya para tamu hotel sudah pada tidur, sehingga tidak tahu kedatangan Podin maupun melihat apa yang dibawanya. Bahkan lampu ruang lobi juga sudah dipadamkan, sehingga sudah gelap. Pastinya petugas hotel yang berjaga itu pun juga tidak memperhatikan tamunya yang baru datang. Sudah biasa, kalau tamu datang pasti akan membawa tas pakaian ataupun barang bawaan lainnya. Maka petugas itu pun tidak urusan dengan apa yang dibawa oleh Podin.


    Akhirnya, lega rasa hati Podin, setelah ia sudah mengunci pintu kamarnya, lantas menaruh peti harta karun itu di atas meja kamar hotelnya. Tentu Podin tidak sabar ingin mengetahui isi yang ada di dalam peti tersebut, walau ia sudah tahu jenis-jenis isinya. Tetapi tentunya Podin ingin tahu seberapa banyak jumlah harta karun yang ada di dalam peti itu.


    Dengan bibir yang tersenyum gembira, Podin mulai membuka tutup peti itu. Begitu tutup peti terbuka, mata Podin langsung terbelalak. Senyumnya pun semakin melebar. Bahkan kepalanya juga menggeleng-geleng. Podin sangat gembira, sangat senang menyaksikan isi peti yang dibukanya tersebut. Sungguh harta karun yang luar biasa banyaknya. Peti itu ternyata isinya sangat penuh. Tidak hanya sekedar melihat saja, tetapi tangan Podin juga sudah mengambil seuntai kalung. Lantas didekatkan ke matanya. Ia amati kalung itu secara seksama.


    "Hmmm .... Benar-benar perhiasan yang sangat indah ...." gumam Podin yang tentu sangat kagum melihat barang yang ditenteng di depan matanya itu. Seketika itu rasa kantuknya menjadi hilang, karena saking gembiranya.


    Maka Podin pun mulai memikirkan, bagaimana caranya untuk mengamankan seluruh harta kekayaan itu. Setidaknya kalau istrinya minta uang, ia akan memberikan sedikit-sedikit. Dan yang jelas, Podin tidak setuju kalau harta karun itu dikuasai istrinya. Bisa berabe, Podin kembali miskin lagi.


    Di kamar hotel inilah, Podin mulai menyusun strategi. Podin mulai menyusun rencana. Podin mulai memikirkan bagaimana caranya agar harta karun itu tidak dikuasai oleh Maya.


    Setelah kembali ke Jakrta, Podin ke tempat yang tadinya disewa untuk kos dalam sementara waktu, yang kala itu ia harus menyembunyikan anak perempuan dari jalanan yang diculik. Walau sementara waktu, tetapi yang namanya bisnis kost-kostan  di Jakarta, tetap meminta kepada orang yang kost, biaya kost minimal satu bulan. Oleh sebab itulah, walau waktu itu hanya butuh waktu sebentar, tetap ia membayar kost satu bulan. Dan dalam satu bulan itu kamar kostnya menjadi hak dan tanggung jawab Podin.


    Akhirnya, untuk sementara waktu Podin kembali ke kamar yang disewanya itu. Tinggal bersama dengan karyawan-karyawan pabrik yang memang tidur dan menginap di tempat kost untuk mendekatkan diri dengan tempat kerjanya. Tetapi bagi Podin yang dia sebenarnya tidak bekerja, atau hanya mengurusi perusahaan, tetapi perusahaan itu toh sudah dikelola oleh istrinya, maka bagi Podin tentu tidak harus untuk selalu menengok atau mengawasi tempat usahanya di gedung hiburan karaoke itu. Apalagi tempat usaha itu sudah dipasrahkan kepada Maya selaku istri mudanya, yang dipercaya bisa mengelola tempat hiburan karaoke tersebut. Tentu Maya pun senang, karena sudah bisa mengatur dan mengelola tempat hiburan yang dimiliki oleh suaminya itu, yang sudah diserahkan kepada dirinya. Dan tentunya Maya pun senang karena ia seakan adalah orang kaya, orang yang punya usaha, orang yang punya tempat hiburan di gedung karaoke.


    Namun tentunya, Podin kini justru bingung manakala dia membawa pulang peti yang berisi harta karun itu ke rumahnya. Podin justru bingung, manakala ia nanti pulang ke rumahnya, tentu peti harta karun itu sepenuhnya akan dikuasai oleh Maya. Kalau ia pulang ke rumah Maya, pasti akan ketahuan. Dan kalau ketahuan, pasti akan direbut semuanya, seperti yang dulu pernah terjadi.

__ADS_1


    Akal licik dari Podin, tentu tidak ingin semua harta karun yang ada di dalam peti itu diserahkan kepada Maya. Tetapi setidaknya, karena Podin yang sudah merasa selalu kalah oleh istrinya, Podin yang merasa selalu mendapatkan bagian kecil dari hasil usahanya, bahkan Podin yang selama ini selalu kekurangan uang, tidak memegang uang, bahkan uang perusahaan pun yang memegang dan mengatur seluruhnya adalah istrinya, bahkan kalau butuh apa-apa Podin justru merengek-rengek seperti pengemis kepada istrinya, maka Podin berniat untuk menyimpan sebagian harta karun yang baru saja diperolehnya itu, agar tidak diketahui oleh Maya. Sebab Podin khawatir kalau diketahui oleh Maya, lagi-lagi, tentu Podin tidak akan mendapatkan bagian lagi. Dan tentunya, Podin cima bisa menggigit jarinya karena tidak mempunyai uang sama sekali. Dan semua hartanya pasti akan dikuasai oleh Maya.


    Itulah sebabnya, kenapa Podin mulai berpikir licik kembali. Podin ingin menyembunyikan sebagian harta kekayaan itu. Podin ingin menyimpan harta yang dia peroleh dari Pulau Berhala itu. Dan Podin ingin menyembunyikan sebagian hartanya itu untuk dirinya sendiri. Tidak akan memberikan seluruhnya kepada Maya. Tidak akan memberikan banyak-banyak kepada Maya. Bahkan Podin pun sudah berniat untuk memberikan sedikit saja.


    Setelah beberapa hari tinggal di tempat kost itu, Podin tentunya sudah berkomunikasi dengan para penghuni kost yang lain. Dari komunikasi itulah, dari cerita-cerita para karyawan yang kost bersamanya itulah, Podin mendapatkan pengalaman, pengetahuan, dan pastinya juga saran-saran.


    Akhirnya Podin mulai membagi hartanya. Ada yang dimasukkan dalam tas, ada yang dibungkus kertas sampul dan amplop. Dan tentunya juga ada yang dijual untuk dijadikan uang. Bahkan Podin yang diberi saran untuk membuka tabungan, akhirnya ia pun pergi ke bank. Ya, Podin memasukkan sebagian besar uang hasil penjualan perhiasan-perhiasan itu ke dalam tabungan di bank. Tentu rekening Podin jumlahnya sangat fantastis.


    Bahkan Podin sudah tidak membutuhkan peti harta karun itu lagi. Semua hartanya sudah dipindahkan, dan sebagian sudah terjual. Peti harta karun itu justri dijadikan sebagai tempat menyimpan pakaiannya. Ya, meski di dalamnya masih ada beberapa perhiasan. Bahkan rencananya, peyi itu akan dibuang oleh Podin, biar tidak ketahuan istrinya. Yah, besok kalau kostnya sudah habis, peti itu akan dibuang ke sungai.


    Podin sebenarnya sudah merasa kalau dirinya menjadi perahan Maya, si istri muda itu. Namun karena sudah terikat oleh pernikahan, walau hanya menikah siri, maka Podin tetap harus menjaga hubungan suami istri itu. Apalagi bagi Podin, kebutuhan biologisnya harus tersalurkan.


    Oleh sebab itulah, kini Podin sudah mulai berfikir, untuk berlaku licik kepada Maya. Ya, tentunya nanti kalau Maya kembali meminta uang, maka Podin akan memberikannya sedikit-sedikit saja. Dan tengtunya Podin sudah tidak bingung lagi, karena ia punya simpanan, punya tabungan, punya harta kekayaan yang disembunyikan. Podin tidak akan bingung lagi untuk memikirkan uang, uang, uang yang selalu diminta oleh istrinya.


    "Bang .... Abang ada di mana ...?" telepon Maya pada Podin.


    "Cari uang, Sayang ...." jawab Podin.


    "Sudah dapat uangnya ...?" balas suara Maya.


    "Yah, cuman sedikit ...." jawab Podin yang tentu akan menutupi realita.


    "Pulang lah, Bang .... Ini si orok kangen bapaknya." kata Maya yang meminta suaminya pulang. Alasannya bayi dalam kandungannya yang kangen, Padahal, pastinya ibunya yang akan meminta uang.


    "Iya .... Sebentar lagi ...." jawab Podin yang kembali seperti terbius oleh rayuan istri muda.

__ADS_1


Namun mestinya Podin sudah beruntung, karena sebagian dari harta kekayaan yang ia dapatkan dari Pulau Berhala itu, sudah dipisah-pisah. Ada yang disimpan, disembunyikan, bahkan juga ada yang sudah dia jual dan uangnya dimasukkan ke dalam rekening bank. Tentunya itu tidak akan diketahui oleh Maya.


__ADS_2