PULAU BERHALA

PULAU BERHALA
EPISODE 32: TAK SANGGUP


__ADS_3

    Sementara itu, laki-laki yang bekerja sebagai tukang kapal, yang menyewakan kapalnya untuk berwisata mengelilingi lautun, laki-laki yang oleh orang-orang dipanggil sebagai Mang Ajang, hari itu  kapalnya disewa secara khusus oleh Podin, untuk mengantarkannya di tempat yang tidak pernah dikunjungi oleh orang, yaitu Pulau Berhala. Senja itu, ia mengalami nasib yang sial.


    Memang seperti yang diceritakan oleh warga masyarakat, seperti yang disampaikan oleh para penduduk, seperti yang disampaikan oleh orang-orang di kampungnya, bahkan juga orang-orang yang ada di sekitar Pulau Berhala tersebut, bahwa Pulau Berhala memang bukanlah Pulau sembarangan. Pulau Berhala adalah pulau tempat bersemayamnya iblis gentayangan. Pulau yang di dalamnya terdapat para berhala. Pulau yang dihuni oleh para siluman. Siapapun yang berani mendekat ke pulau tersebut, tentunya akan mengalami nasib sial. Ya,  mereka pasti akan mengalami nasib yang tidak diharapkan. Sudah banyak yang menceritakan tentang Pulau Berhala ini, bahwa setiap malam di pulau itu terdengar suara-suara aneh, mengeluarkan suara-suara yang menyayat hati, suara-suara orang minta tolong, suara-suara orang yang kesakitan.


    Tentunya, masyarakat di sekitar pulau itu takut kalau sampai mendekat, takut kalau terlalu jauh ke tengah laut. Orang-orang takut ke pulau itu, karena akan mengalami nasib yang sama, seperti halnya orang-orang yang menjerit dan kesakitan yang terdengar suaranya dari seberang pulau. Ya, cerita itu memang cerita seram yang tentu ditakuti oleh masyarakat, bahkan para nelayan pun tidak ada yang berani mendekat ke pulau itu, karena khawatir dirinya akan menjadi korban dari para berhala yang menghuni pulau itu.


    Namun, keyika salah seorang dari pemilik kapal yang disewakan untuk para wisatawan itu mencoba berani untuk melakukan perjalanan menuju Pulau Berhala. Walaupun tentunya karena orang ini tergiur oleh upah yang sangat tinggi yang dijanjikan oleh Podin kepadanya. Bahkan ia juga tergiur karena akan diberikan bonus, jika dia nanti bisa mengantarkannya dan kembali lagi ke pelabuhan.


    Tetapi seperti yang dialami oleh tukang kapal itu, saat dia akan sampai di Pulau Berhala, tiba-tiba saja kapalnya berhenti, tiba-tiba saja kapalnya tidak bisa berjalan lagi, dan tiba-tiba saja kapalnya itu mati mesinnya. Namun saat ia menyaksikan betapa di dalam pinggiran kapal itu keluar tangan-tangan yang tidak terlihat tubuhnya, yang menempel di dinding-dinding kapal miliknya, lantas tangan-tangan itu seakan mau menenggelamkan kapalnya. Pasti sang pemilik kapal itu ketakutan.


    Ya, pemilik kapal itu baru percaya kalau tempat itu memang benar-benar ada makhluk-makhluk gaib yang menunggunya. Ia baru percaya kalau Pulau Berhala itu adalah pulau yang memang memiliki sejuta misteri. Ya, tentu pemilik kapal itu sangat ketakutan dengan munculnya tangan-tangan yang memegangi seluruh badan kapal tersebut. Ia gemetar dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Dan selanjutnya, tangan-tangan yang perkasa itu, tangan-tangan yang tidak kelihatan tubuhnya itu, tiba-tiba sudah mengangkat kapalnya dan langsung melemparkan kapal itu ke tengah Pulau Berhala.


    Seketika, kapal beserta dengan penumpangnya itu, kapal beserta dengan dua orang yang ada di dalamnya itu sudah terlempar jauh keluar dari lautan, yang akhirnya mereka jatuh bersama kapal yang ditumpanginya di tengah pulau.


    Beruntung mereka masih berada di dalam kapal. Dan saat kapal itu jatuh ke tengah pulau, mereka masih tetap berada di dalamnya. Hanya sedikit mengalami benturan, beruntung mereka tidak mengalami luka-luka. Namun Mang Ajang, laki-laki bertubuh gemuk sang pemilik kapal itu, yang tidak sempat berbegangan, ia terjatuh, terlempar dari kapal saat kapal itu jatuh di tengah pulau. Walau terjengkang, ia masih sanggup berdiri dengan gagahnya.


    Dan setelah Mang Ajang itu menoleh ke sekelilingnya, alangkah kagetnya ia, ternyata kapal yang ia tumpangi tadi mendarat di atas tumpukan tubuh-tubuh manusia yang tanpa kepala. Pasti pemilik kapal itu kaget. Pemilik kapal itu langsung ketakutan. Dan saking takutnya, sebentar kemudian Mang Ajang pun sudah pingsan diantara timbunan mayat-mayat yang hanya berupa tubuh tanpa kepala itu.


    Cukup lama pemilik kapal itu pingsan. Tentunya saking ketakutannya dia tidak berani untuk membuka mata. Makanya sampai dia pingsan dan tidak sanggup apa-apa lagi. Dan setelah sadar, Mang Ajang kembali kaget.  Mang Ajang sangat ketakutan, karena ternyata tubuhnya berada di antara tumpukan tubuh-tubuh yang tidak ada kepalanya itu. Dan tangan-tangan dari tubuh-tubuh itu, seakan menari-nari, tangan-tangan itu seakan mencari orang yang menindih tubuhnya. Ya, tangan-tangan itu sudah mulai memegangi tubuh gemuk si pemilik kapal yang jatuh di atas tumpukan zombi tanpa kepala tersebut.


    "Siapa ini ..., yang berani menindih tubuhku ...??!!" begitu suara yang keluar dari tubuh yang tidak memiliki kepala itu. Tentu tangannya sudah bergerak memukul-pukul ke badan orang yang menjatuhinya.


    "Maafkan saya .... Maafkan saya .... Saya tidak tahu .... Saya tidak sengaja .... Saya tidak bermaksud menjatuhimu .... Saya minta maaf .... Ampun ..., ampuni saya ...." begitu kata Mang Ajang, laki-laki pemilik kapal tersebut, yang tentu sangat ketakutan dengan apa yang terjadi pada dirinya.

__ADS_1


    "Pergi ...!! Pergi dari tubuh saya ...!! Menjauh dari tubuhku ...!! Jangan menindih diriku ...!!" begitu kata si tubuh-tubuh yang tertindas oleh badan besar laki-laki pemilik kapal tersebut.


    "Maafkan saya .... Maafkan saya .... Ampuni saya ..., ampuni saya ...." begitu laki-laki gemuk si pemilik kapal itu meminta ampun, agar tidak diapa-apakan oleh tubuh-tubuh yang bergelimpangan yang tidak ada kepalanya itu.


    Mang Ajang yang bertubuh besar itu pun bergegas berdiri, dan ingin pergi meninggalkan tubuh-tubuh yang bergelimpangan tanpa kepala itu. Maka ia pun berusaha untuk pergi dari tempat itu, dan tentu saat ia akan keluar dari tempat itu, kakinya menginjak-injak tubuh-tubuh bergelimpangan tersebut. Tentu karena ia sangat ketakutan. Dan ia tidak berani memandangi lagi tubuh-tubuh yang bergelimpangan itu.Mang Ajang, yang bertubuh gemuk itu pun yerus berusaha berlari. Namun tentu ia sangat kesulitan untuk lari dari tempat itu, karena tangan-tangan yang berada di situ, tangan-tangan yang masih menempel pada tubuh-tubuh tanpa kepala itu, mereka masih berusaha untuk menangkap laki-laki gemuk itu, mereka masih tetap berusaha untuk memegangi kaki yang menginjak-injak tubuhnya. Berkali-kali, laki-laki bertubuh gemuk itu terjatuh karena kakinya terseret, terjatuh karena kakinya dipegang oleh tangan-tangan yang dia injak-injak. Bahkan ia berkali-kali terjatuh dan kembali berada di atas mayat-mayat yang bergelimpangan tanpa ada kepalanya tersebut.


    Meski begitu, Mang Ajang terus berusaha berlari. Terus berusaha ingin melepaskan diri dari tumpukan mayat yang tidak memiliki kepala itu. Dia ingin melepaskan diri dari kejaran tangan yang selalu merintanginya itu, tangan-tangan yang selalu mencoba untuk memegang dirinya, tangan-tangan yang selalu berusaha menangkap kakinya yang akan berlari.


    Dan setelah beberapa saat, akhirnya Mang Ajang, laki-laki gemuk pemilik kapal itu, akhirnya sanggup meninggalkan mayat-mayat yang hanya berupa tubuh tanpa kepala yang bergelimpangan di pelataran yang sangat luas tersebut. Akhirnya laki-laki bertubuh gemuk itu, sang pemilik kapal itu berhasil keluar. Lantas berlari kencang meninggalkan tempat itu. Tentunya ia ingin menyelamatkan diri, ia ingin pergi meninggalkan tempat itu secepatnya.


    Namun, apa yang terjadi pada Mang Ajang, setelah laki-laki pemilik kapal itu bisa meninggalkan pelataran luas yang dipenuhi oleh mayat-mayat yang hanya berupa tubuh tanpa kepala itu, tiba-tiba saja, saat ia mencoba melangkahkan kaki ke jalan yang menurut perkiraannya, jalan itu menuju pantai, ternyata dia di kaget dan tentu lebih ketakutan. Di jalanan itu, kembali kakinya menginjak barang aneh. Ya, kali ini Mang Ajang menginjak kepala-kepala tanpa tubuh. Dan kepala-kepala yang menakutkan itu ditata seolah-olah dijadikan landasan jalan, dan kepala-kepala itu bagai batu yang tertata rapi di jalanan.


    Tentu, Mang Ajang, pemilik kapal itu lebih takut daripada saat menginjak-injak tubuh tanpa kepala tadi. Tentu saja karena kepala-kepala yang ditata dijadikan jalan untuk dilewati orang itu, kepala-kepala yang diinjak-injak oleh laki-laki gemuk itu, ia terlihat menakutkan. Kepala-kepala itu kelihatan sangat menakutkan. Ya, kepala-kepala itu matanya membelalak, matanya melotot, matanya yang memandangi dirinya seakan-akan mengancam orang yang menginjaknya. Tatapannya sangat menakutkan. Dan bahkan ketika ia melihat mulut-mulut ya bulat bulat itu menyeringai menampakan gigi-giginya, bahkan kelihatan taringnya. Seakan mulut itu ada yang menganga dan seakan gigi-gigi itu akan menggigit kaki yang menginjaknya. Mulut-mulut itu seakan mau memakan orang yang menyakitinya, memangsa orang yang sudah menginjak-injaknya.


    Karena saking ketakutannya, Mang Ajang terus berusaha berlari. Dan lama-kelamaan, Mang Ajang, laki-laki gemuk pemilik kapal itu pun akhirnya bisa melepaskan diri dari kepala-kepala yang mengelilingi dirinya. Ia bisa meninggalkan dari kepungan kepala-kepala yang ia injak-injak. Dan ia pun akhirnya sampai di daratan, di tepi pantai yang sudah terbebas dari kepala-kepala yang dipasang di jalanan tersebut. Pemilik kapal itu pun langsung tengak-tengok, melihat ke kanan dan ke kiri. Tentunya dia ingin melarikan diri dari Pulau Berhala tersebut. Mang Ajang ingin melepaskan diri dari kejaran tubuh-tubuh tanpa kepala, dan kepala-kepala yang menggelinding tanpa tubuh itu.


    Namun, Mang Ajang kembali bingung, karena ternyata di pantai itu tidak ada kapal satu pun, tidak ada perahu,  tidak ada siapa-siapa, bahkan tidak ada orang satu pun yang berada di sekitarnya. Mang Ajang menjadi bingung. Dan kembali ia teringat dengan kapalnya yang tadi terjatuh di tengah pulau itu. Mang Ajang ingin kembali ke tengah pulau itu, untuk mengambil kapalnya dan mendorongnya keluar dari tengah pulau. Namun setelah ia menoleh ke belakang, kembali ia melihat kepala-kepala yang bergelindingan yang terlihat sangat menyeramkan dan menakutkan.


    Mang Ajang, laki-laki bertubuh gemuk itu ketakutan lagi, dan ia pun tidak ingin kembali ke tengah pulau itu. Akhirnya laki-laki itu berjalan menyusuri pantai, melangkah melintasi tepian pulau untuk mencari pertolongan. Siapa tahu dia akan menemukan perahu atau menemukan orang yang dapat ia jumpai.


    "Tolong ...!! Tolong ...!!" begitu teriak Mang Ajang, laki-laki yang gemuk pemilik kapal tersebut, tentu dengan suara yang keras, dengan harapan agar ada orang yang mendengarnya. Berkali-kali Mang Ajang berteriak minta tolong, berkali-kali ia mencoba mencari orang yang bisa mendengar suaranya. Namun, tak ada satupun orang yang datang menghampirinya, tak satupun orang yang mendengar teriakannya.


    Tentunya Mang Ajang menjadi kesal, ia menjadi kecewa. Karena tidak bisa menemukan orang yang akan menolongnya, Mang Ajang tidak bisa mencari orang yang akan menolongnya. Lantas ia pun kembali melangkahkan kakinya, untuk mencari pertolongan dari sisi yang lain. Dan tentunya, ia ingin menghindari kejaran dari tubuh-tubuh tanpa kepala dan kepala-kepala yang bergelindingan tanpa tubuh. Mang Ajang berjalan terus menyusuri pantai Pulau Berhala tersebut.

__ADS_1


    "Tolong ...!! Tolong ...!!" Mang Ajang kembali lagi berteriak sekencang-kencangnya. Tentunya ia ingin meneriakkan suaranya sekeras mungkin, berteriak sekencang mungkin, agar bisa didengar oleh siapapun yang ada di dekat Pulau Berhala itu.


    Namun, usahanya kembali gagal. Apa yang diharapkannya hanyalah hampa belaka. Karena tidak satupun orang sanggup mendengarkan teriakan laki-laki gemuk pemilik kapal itu. Tidak seorangpun yang bisa mendengar permintaan tolong darinya. Bahkan mungkin, kalaupun ada yang mendengar, mereka pasti menganggap teriakan-teriakan itu adalah suara dari arwah-arwah orang-orang yang disiksa oleh berhala-berhala di tengah pulau itu. Dan pastinya, orang yang mendengar pun tidak akan berani untuk mendekat ke pulau tersebut. Tidak ada otang yang berani untuk menolong orang itu. Ya, masyarakat sudah ketakutan lebih dulu. Masyarakat sudah miris ketika mendengar suara-suara teriakan orang minta tolong. Masyarakat sudah sangat pilu mendengar suara-suara teriakan orang kesakitan. Itulah yang terjadi di masyarakat sekitar Pulau Berhala.


    Akhirnya, laki-laki bertubuh gemuk itu, Mang Ujang kembali melangkahkan kakinya untuk menyusuri pantai. Siapa tahu di pantai itu nanti, dia akan menemukan tukang perahu atau tukang kapal yang kebetulan melintas di dekatnya. Pasti kalau ada tukang perahu atau tukang kapal yang melintas di dekatnya, mereka akan melihat dan mendengar teriakanya, untuk meminta tolong. Dan pasti kapal itu akan mau datang menjemputnya. Itulah niatan laki-laki itu yang tentunya tetap berusaha untuk mencari pertolongan dari siapapun yang melintas di dekatnya.


    Sudah terlalu lama Mang Ajang berjalan menyusuri pantai itu. Ia terus melangkah menyusuri pantai. Dan apa yang terjadi? Ternyata kakinya sudah kembali menapak di tempat semula ia melakukan perjalanannya. Laki-laki bertubuh gemuk pemilik kapal itu pun sudah sampai di tempat semula, di mana ia tadi melarikan diri dari kejaran kepala-kepala yang menggelinding yang akan memangsa dirinya. Mang Ajang kembali lagi menghadapi jalan yang dipenuhi kepala manusia tersebut.


    Berdiri bulu kuduk Mang Ajang. Merinding seluruh tubuhnya. Bahkan kini ia sudah gemetar karena ketakutan. Mang Ajang kembali merasa seram menyaksikan benda-benda aneh yang menakutkan itu. Tentunya ia kembali ingin berlari meninggalkan tempat itu. Namun ia tidak sanggup berbuat apa-apa. Mang Ajang hanya bisa pasrah kepada takdir. Mang Ajang hanya bisa pasrah kepada nasib yang sudah menimpa dirinya. Ya, nasib dari orang penyewaan kapal yang berani melanggar tatanan adat dan aturan masyarakat di sekitar Pulau Berhala tersebut. Mang Ajang sudah berani menjalankan kapalnya menuju ke Pulau Berhala.


    Akhirnya Mang Ajang pasrah dengan apa yang akan terjadi. Namun ia tidak mau mati konyol. Ia akan tetap berusaha menyelematkan diri. Mang Ajang akan menghadapi kenyataan. Kalaupun dia harus dikeroyok oleh kepalap-kepala mengerikan itu, yang meringis menakutkan dan menggelinding mengejar dirinya, ia akan berusaha untuk melawannya. Itu yang kembali tersirat dalam pikirannya. Ya, laki-laki gemuk pemilik kapal itu akhirnya kembali berniat untuk mengambil kapalnya yang tergeletak di tengah pulau. Ia ingin kembali ke tengah pulau itu, untuk membawa kapalnya itu, dan akan mendorongnya ke pantai, di bawanya kembali masuk ke dalam lautan. Mang Ajang akan nekat, ia ingin berjuang, ia ingin melakukan apa yang bisa dia lakukan. Terutama ia ingin menyelamatkan dirinya untuk keluar dari Pulau Berhala.


    Akhirnya Mang Ajang yang bertubuh gemuk itu mencoba kembali masuk ke tengah pulau. Dia pun kembali melangkahkan kaki, berlari melintasi jalan yang dipenuhi oleh kepala-kepala menjijikkan itu. Dan tentunya ia harus memberanikan diri untuk menginjak kepala-kepala yang bergelimpangan di jalanan itu.


    "Mohon maaf ..., saya akan menginjakmu ..., saya akan menginjak-injak kepala kalian .... Saya akan masuk ke tengah untuk mengambil kapal saya, dan mohon maaf kalau saya salah. Maka jangan dikira saya ini keliru .... Tapi ini semua karena terpaksa, saya harus melakukan ini, saya harus menginjak-injak kepala kalian ...." berkata demikian, lantas laki-laki gemuk itu pun langsung berlari menapakkan kakinya menginjak-injak kepala-kepala yang bergelindingan di jalanan itu. Mang Ajang berlari cepat dan terus berlari sambil jejingkatan di atas kepala-kepala itu, menuju ke tengah pulau, menuju ke tempat kandasnya kapal miliknya, ingin kembali mengambil kapalnya yang tergeletak di tengah pulau tersebut.


    Tentunya, itu semua adalah perjuangan yang harus dia lakukan dengan keberanian dan nekat. Karena meskipun kepala-kepala itu hanya benda-benda bulat yang tertata di jalanan yang tidak mempunyai tangan, bahkan tidak bisa berlari untuk mengejar, kepala itu hanya sanggup menggelinding saja, tetapi ternyata, kepala-kepala itu pun sudah membuka mulutnya lebar-lebar, dan ia akan memangsa kaki dari laki-laki gemuk yang berani menginjak-injak dirinya itu. Gigi-gigi dan taringnya sudah menganga, siap untuk menggigit maupun memakan kaki yang menginjak tepat mengenai mulutnya.


    "Waduh ,,,!! Waduh ...!! Waduh ..., sakitnya .... Waduh ..., waduh sakit ...!! Aduh ..., sakit ...!!" begitu teriak Mang Ajang yang ketika dia menginjak-injakkan kakinya di atas kepala-kepala itu, yang mulutnya semua menganga, dan mulutnya menggigit kaki yang menginjaknya itu. Bahkan tidak hanya sekali dua kali mulut-mulut dengan gigi menyeringai yang tajam itu menggigit. Tetapi gigitan itu sudah berkali-kali. Gigipgigi ganas itu menggigit tumit, menggigit jari, menggigit mata kaki, bahkan ada juga yang mencolot dan menggigit betis serta bagian kaki dari laki-laki gemuk pemilik kapal yang sudah berani melawan kepala tanpa tubuhm yang tentunya sudah dikuasai oleh berhala-berhala di pulau itu. Ya, ini adalah zombi kepala.


    Akhirnya, Mang Ajang. laki-laki pemilik kapal itu tidak kuat karena saking banyaknya gigitan pada kakinya, saking banyaknya luka, dan saking banyaknya darah yang mengucur dari kaki yang terluka karena gigitan-gigitan itu. Dan selanjutnya, Mang Ajang begitu melihat kepala-kepala yang terus mengejarnya sudah akan habis, ia pun melompat semaksimal mungkin. Ya, Mang Ajang ingin menghindari gigitan dari kepala-kepala itu lagi. Makanya, Mang Ajang melompat setinggi-tingginya untuk menghindari kepala yang berusaha menggelinding, kepala yang berusaha mengejarnya. Dan akhirnya, Mang Ajang koprol jungkir balik dan terjatuh di tanah kosong yang sudah tidak ada kepala-kepala itu lagi. Lega rasanya, Mang Ajang bisa terlepas dari kejaran gelindingan kepala-kepala yang akan menggigit dirinya. Tentu harapannya, ia akan membawa kapalnya kepambali ke lautan.


    Namun baru saja dia merasa lega, baru saja dia terhindar dari kejaran gelindingan kepala-kepala yang akan menggigitnya itu, mulut-mulut menganga yang akan menelannya itu, tiba-tiba saja, ada sebuah tangan yang sudah menggerayangi tubuhnya. Ya, tangan-tangan dari tubuh-tubuh tanpa kepala yang juga bergelimpangan di tengah pulau itu. Bahkan tubuh-tubuh tanpa kepala itu berjalan mendekati Mang Ajang yang baru saja jungkir balik di tanah agak lapang itu. Tubuh-tubuh tanpa kepala pada berjalan mendekatinya, ibarat seperti zombie, seperti mayat hidup, seperti hantu-hantu tanpa kepala. Ya, zombi-zombi itu mengerubungi tubuh laki-laki gemuk  sang pemilik kapal itu, yang terjatuh ke tengah pulau.

__ADS_1


    Hanya dalam waktu sebentar saja, tubuh Mang Ajang, badan laki-laki yang gemuk itu, sudah diam tak berdaya. Mang Ajang sudah jatuh terkapar dikerubung oleh tubuh-tubuh tanpa kepala yang datang mengeroyoknya. Mang Ajang tidak sanggup untuk menyelematkan diri. Ia tidak bisa keluar dari Pulau Berhala tersebut.


__ADS_2