PULAU BERHALA

PULAU BERHALA
EPISODE 61: ADA YANG BINGUNG


__ADS_3

    "Mas Podin .... Ini lho .... Lihat itu ..., itu lho, anak perempuan kecil yang selalu datang kemari, dan yang selalu saya beri nasi bungkus itu .... Lihat itu ..., keadaannya seperti itu. Kasihan kan ...." begitu kata Rina kepada suaminya, sambil menunjukkan anak perempuan kecil yang pagi itu sudah berada di depan warung Rina.


    Begitu diberitahu oleh istrinya, Podin langsung menoleh, bahkan melangkah dari dapur, untuk mengamati anak yang ditunjukkan oleh istrinya itu. Tentu Podin langsung kaget. Jantung Podin langsung berdebar kencang. Seakan mau copot. Tentu perasaan hati Podin menjadi tidak karuan saat menyaksikan anak perempuan kecil yang ada di depan rumahnya itu. Ya, anak perempuan itu memang benar-benar anak yang ia ambil dari perempatan jalan dan ia bawa ke Pulau Berhala. Tidak salah. Anak itu adalah korban persembahan Podin di atas batu persembahan di altar istana Pulau Berhala.


    Podin baru menyadari bahwa anak yang selalu diberi makan oleh Rina itu adalah bocah perempuan cilik yang pernah ia culik dari perempatan jalan, kemudian ia bawa bersembunyi di tempat kost beberapa hari, kemudian diajak ke Pulau Berhala dengan alasan diajak piknik. Lantas Podin yang mengorbankan anak itu sebagai persembahan untuk penguasa Pulau Berhala dengan cara menikam lehernya menggunakan pisau belati yang tersedia di meja batu kisaran. Belati Mata Berhala. Ya, hanya sekali tikam, leher anak yang dipersembahkan itu langsung terputus.


    Namun, setelah Podin menyaksikan sendiri anak yang berdiri di depan rumahnya itu, saat ia ditunjukkan oleh Rina, istrinya, kalau anak itu adalah pengemis cilik yang selalu diberi nasi bungkus oleh istrinya, setiap hari saat anak itu berada di depan rumahnya.


    "Kenapa, Mas ...?" tanya Rina yang tentu heran saat melihat suaminya seakan ketakutan menyaksikan anak perempuan kecil yang ada di depan rumahnya itu.


    Walaupun anak itu sudah mengenakan pakaian yang dibelikan oleh Rina saat di pasar, pakaian yang bagus meski hanya kualitas pasar, pakaian yang pantas dikenakan seorang anak perempuan yang kecil. Dan Podin menyaksikan anak itu, mengenakan pakaian yang hampir sama, mirip dengan pakaian yang pernah dibelikan oleh Podin. Pakaian yang dikenakan saat anak itu dibawanya ke Pulau Berhala. Pakaian yang sama saat anak itu digeletakkan oleh Podin di atas batu kisaran. Podin benar-benar heran. Kenapa anak itu muncul, persis sama seperti anak yang sidah ia persembahkan kepada penguasa Pulau Berhala?


    Dan yang lebih aneh lagi, wajah pucat anak itu tidak bisa disembunyikan dari raut muka yang tampak pada anak itu. Ya, seakan memang anak itu tidak punya darah. Pucat pasi. Kalau Rina mengatakan, anak itu kurang gizi. Tetapi bagi Podin, anak itu memang sebenarnya tidak punya darah, karena darahnya sudah dipersembahkan oleh dirinya untuk diganti menjadi harta karun-harta karun yang diambil oleh Podin. Darah anak itu sudah berubah menjadi harta kekayaannya. Seperti itulah kenyataan yang dialami oleh Podin saat menyaksikan anak itu, yang seakan menyaksikan hantu dari bocah yang dikorbankan di Pulau Berhala.


    "Kasihan anak itu, Rina .... Saya tidak tega." kata Podin yang berpura-pura kasihan melihat anak yang pucat pasti tersebut.


    "Iya, Mas Podin .... Makanya, saya sering memberi makan kepada dia, agar dia itu punya gizi, agar dia itu sehat, agar dia itu kuat. Tidak seperti orang yang kesakitan seperti itu, Mas." kata Rina kepada suaminya.


    "Ya ..., kamu tolonglah untuk diberi makan yang banyak, agar anak itu bisa bergizi dan sehat." kata Podin kepada Rina, yang tentunya dia ingin anak itu tidak pucat. Padahal dalam batin Podin yang sebenarnya, bagaimana mungkin anak itu tidak pucat karena darahnya sudah dikuras oleh Podin di atas batu persembahan di istana Pulau Berhala.


    "Pasti, Mas Podin .... Jangan khawatir." sahut Rina yang sudah menyiapkan nasi beserta sayur dan lauk pauknya, untuk diberikan kepada anak itu.


    "Rina ..., saya tidak tega menyaksikan anak itu. Kepala saya jadi muter-muter .... Kamu urusi saja anak itu. Saya tidak kuat untuk melihatnya. Saya masuk saja ya, Rin .... Kamu yang sudah biasa, sana dibantu." begitu kata Podin, yang akhirnya masuk ke kamar. Dan seperti orang ketakutan, Podin pun langsung menyembunyikan mukanya dengan cara ditutupi bantal.


    "Iya, Mas .... Tidak apa-apa kalau memang tidak sanggup menyaksikan anak itu. Mas Podin masuk saja ke kamar, biar saya yang selalu memberi makan untuk anak itu." begitu kata Rina yang tentu dia rela ditinggal suaminya.


    Namun tentunya, Rina tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada suaminya terkait dengan anak yang sering datang ke rumahnya itu. Rina pun bergegas menyerahkan bungkusan nasi beserta dengan lauk-pauknya kepada gadis kecil yang ada di depan rumahnya itu. Harapannya anak itu akan segera makan, dan tubuhnya kembali sehat, kembali bergizi, kembali kuat, seperti yang diharapkan oleh Podin yang tidak menghendaki anak itu terlihat pucat karena kekurangan darah. Ya, Podin tidak ingin melihat anak yang pucat itu, karena kasihan yang seakan tidak ada darah dalam tubuhnya. Begitu yang disampaikan oleh Podin kepada istrinya.


    "Ini, Neng ..., nasi buat kamu .... Dimakan biar kenyang, biar sehat, biar kamu tidak pucat lagi." kata Rina sambil menyerahkan bungkusan plastik kresek kepada gadis kecil yang ada di ada halaman rumahnya itu.

__ADS_1


    Seperti biasa, Gadis itu pun menerima bungkusan yang diberikan oleh Rina, hanya dengan mengulurkan tangannya yang meminta bungkusan itu. Dia pun tidak berkata apa-apa. Dia hanya diam. Seperti yang dikatakan oleh Rina, kalau anak itu bisu dan tuli. Hanya bisa menerima saja, tanpa bisa bicara apa-apa.


    Tetapi kali ini, setelah anak itu menerima bungkusan nasi yang diberikan oleh Rina, tangan kanannya menunjuk ke arah rumah Rina, tepat ke pintu rumah Rina. Ya, gadis cilik yang tangan kirinya sudah memegang kantong plastik kresek itu, tangan kanannya beberapa kali menunjuk ke arah pintu rumah Rina. Dan mata anak itu pun memandangi lekat ke pintu tersebut.


    "Ada apa, Neng?" tanya Rina kepada anak itu, yang tentunya Rina bingung, karena anak itu menunjuk ke pintu rumahnya.


    Tetapi, lagi-lagi anak itu mengangkat tangannya, mengacungkan telunjuk tangannya, dan menunjuk ke arah pintu rumah Rina. Anak itu diam tidak bicara. Hanya tangannya yang seakan memberi isyarat kalau ada sesuatu di dalam rumah Rina, yaitu dengan cara menunjukkan tangannya ke pintu rumah.


    "Ada apa ...? Kamu pengen masuk ke rumah saya?" Rina menanyai anak itu, dan ia sudah jongkok di depan anak itu. Tentu Rina juga ingin tahu, ada apa sebenarnya yang dimaksud oleh anak itu. Sayang, anak itu tidak bisa bicara sama sekali, sehingga sangat sulit untuk diajak komunikasi.


    Tetapi, lagi-lagi anak itu tidak menjawab. Bahkan juga tidak menggelengkan atau menganggukkan kepalanya. Nampak kalau anak itu memang bisu dan tuli. Sehingga tidak mendengar kata-kata yang diucapkan oleh Rina. Dan kini, ia Kembali mengangkat tangannya, mengacungkan jari telunjuk dan menunjuk ke pintu rumah Rina.


    "Aah .... Saya kok jadi bingung .... Sebenarnya kamu itu mau apa? Yang kamu maksud itu apa? Saya tidak tahu maksud kamu ...." kata Rina kepada anak itu, yang tentu Rina memang tidak tahu maksud apa yang ingin disampaikan oleh anak itu.


    Anak itu diam, dan tangannya sudah kembali berada di samping pinggangnya. Lantas anak itu membalikkan badan, dan pergi dari hadapan Rina.


    Rina memandangi anak itu yang berjalan meninggalkan dirinya, meninggalkan depan rumahnya, sampai anak itu tidak kelihatan. Sebenarnya Rina ingin tahu, di mana rumah anak itu? Siapa sebenarnya orang tuanya? Tinggal di mana mereka? Setidaknya, kalau Rina ingin memberi sedekah secara berlebih, ingin rasanya ia datang ke rumahnya.


    "Makan, Pok ...." suara seorang laki-laki di telinga Rina.


    "Astafirloh ....." Rina terjingkat kaget.


    "Dari tadi dipanggil-panggil, diam saja .... Malah termangu di pinggir jalan .... Saya itu lapar, Pok .... Mau makan .... Kok malah Mpok Rina ini memandangi ujung jalan saja. Sebenarnya ada apa, Pok?" kata laki-laki yang sudah duduk di tempat makan itu, bahkan sudah kerupuk.


    Rina tentu kaget, karena tidak sadar kalau ternyata di warungnya sudah ada seorang pembeli yang akan makan di sana.


    "Eh ..., maaf, Mang .... Maaf ..., saya tidak melihat Mang masuk .... Saya tadi menyaksikan anak kecil yang tadi saya beri makanan, pengemis cilik yang sering datang kemari .... Saya memang sengaja ingin lihat terus, ingin tahu rumahnya .... Eh, sampai dia itu menghilang di perempatan jalan." begitu jawab Rina kepada laki-laki yang sudah duduk di warung makannya dan akan memesan makanan untuk makan siang itu.


    "Walah .... Kok kayak nonton sinetron ....Memang siapa anak itu? Di mana rumahnya?" tanya laki-laki itu pada Rina.

__ADS_1


    "Belum tahu .... Orang anaknya tidak bisa bicara .... Hanya diam saja ...." sahut Rina.


    "Oo .... Bisu?" tanya laki-laki itu.


    "Mau makan apa, Mang?" tanya Rina pada pembelinya.


    "Nasi rames .... Biasa, dikasih telur dadar ...." jawab sang pembeli.


    "Minumnya apa?" tanya Rina lagi.


    "Es teh .... Jangan terlalu manis .... Sudah tua, nggak baik terlalu banyak gula. Nanti kena diabet." kata laki-laki itu lagi.


    "Alah ..., siapa yang bilang .... Itu tuh, orang yang kena diabet itu orang yang malas bergerak, malas berolahraga, tidak mau mengeluarkan keringat .... Sehingga dia kena diabet .... Kalau kita minum manis, minum pakai gula, tapi kalau kita banyak bergerak dan mengeluarkan keringat, gulanya itu akan terbakar .... Itu justru menjadi energi buat kita, Mang ...." begitu sergah Rina kepada pembelinya yang takut kena diabet tersebut.


    "Iya, Pok .... Tapi kalau usia kita sudah tua, setidaknya memang sudah harus mengurangi gula .... Eh, Pok ..., tadi itu Mpok lihat anak pengemis cilik siapa? Kok sampai terbengong tidak menoleh sama sekali .... Sampai saya melintas masuk saja tidak dihiraukan .... Saya panggil-panggil juga tidak dijawab." kata pembeli yang sudah menerima pesanan dari penjualnya itu.


    "Tadi .... Anak kecil itu loh, yang biasa saya beri makanan .... Itu kan jalan sana ..., ke arah perempatan .... Saya itu pengen ngerti rumahnya di mana." sahut Rina sambil menaruh gelas isi es teh, dan akhirnya Rina juga duduk di sebrang pembeli itu.


    "Yang bener, Pok ...?!" tanya pembeli itu curiga.


    "Iya .... Tadi kan anaknya jalan, dari depan situ hingga menghilang di perempatan, karena berbelok." jawab Rina.


    "Kok saya tidak lihat anaknya ...?!" kata pembeli itu sambil makan santapannya.


    "Yah, kan sudah berbelok .... Ya tidak kelihatan, lah ...." bantah Rina.


    "Pok Rina ini aneh .... Jongkok di pinggir jalan, katanya memandangi anak, katanya ada pengemis cilik .... Sudah begitu, dipanggil-panggil diem aje .... Ada pembeli juga didiemin .... Aneh .... Saya kok malah bingung dengan Pok Rina ...." kata pelanggannya itu yang tentu merasa bingung dengan sikap Rina yang barusan dilihatnya tersebut.


    "Ah, Mang .... Orang dibilangin nglihatin anak pengemis kok malah bingung .... Kalau gak percaya, ya sudah .... Tanya sama suamiku, yang tadi juga menemuinya." kata Rina yang tidak mau kalah.

__ADS_1


    "Iya .... Saya percaya .... Tapi kok sampai sebegitunya itu, lho ...." kata pembeli itu.


    "Ya, namanya saja juga ingin tahu, Mang ...." sahut Rina yang kembali ke dapurnya, dan meninggalkan laki-laki yang sedang makan itu. Dan pastinya, ia akan menyiapkan peralatan makan, karena sebentar lagi adalah jam istirahat pabrik. Pasti warungnya akan diserbu oleh para karyawan yang akan makan siang.


__ADS_2