PULAU BERHALA

PULAU BERHALA
EPISODE 128: MENGELUARKAN ARWAH


__ADS_3

    Kegembiraan Podin tentu tidak terkira, setelah ia mendapatkan dua buah peti miliknya, yang sempat dibuang oleh Rina di tempat sampah. Dan ia pun berhasil menemukan kembali peti itu, meski harus bersitegang dan juga harus membayar dengan harga dua juta rupiah kepada tukang pembersih sampah di pasar. Podin yang tentunya sudah ditipu oleh si tukang sampah tersebut, yang mengatakan kalau peti itu sudah diambil orang dan harus dibeli kembali dengan harga yang limayan besar, untuk mendapatkan peti itu lagi, sebagai ganti sudah menemukan. Padahal sebenarnya, dua peti itu diambil sendiri oleh si tukang pembersih sampah itu, yang digunakan untuk wadah atau tempat menyimpan mainan anaknya. Ya, peti yang bagus dan cocok untuk tempat mainan.


    Podin yang pasrah, tentu mau membayarnya. Tidak masalah harus mengganti uang dua juta untuk membeli kembali peti itu. Yang penting baginya, dua buah peti itu kembali ke pangkuannya. Maka setelah mendapatkan peti itu, Podin langsung membawanya, kembali ke Jakarta. Dan tentunya langsung membawa masuk ke dalam kamar apartemennya. Pastinya ia tidak ingin seorangpun tahu tentang peti yang di bawahnya itu. Ini adalah rahasia, dan pastinya tidak boleh ada orang yang mengetahuinya.


    Setelah membawanya masuk ke kamar apartemen, Podin pun langsung menyimpan baik-baik peti itu di dalam kamar apartemennya. Ya, kini di ruang apartemennya ada empat buah peti harta karun. Pasti Podin bangga memiliki peti ajaib itu, peti yang bisa menghasilkan uang. Podin menjadi senang, riang dan gembira. Tentu peti-peti itu nantinya diharapkan akan menghasilkan uang yang sangat banyak. Tidak perlu bersusah payah untuk mencari korban dan membawanya ke Pulau Berhala sebagai persembahan, yang tentunya penuh resiko dan bahaya. Tetapi kini, Podin tinggal duduk bersila di kamar apartemennya, uang akan datang sendiri dalam jumlah yang sangat banyak.


    Podin tersenyum memandangi dua peti baru yang ia bawa dari Karawang. Tentu dengan usaha yang tidak gampang. Podin harus babak belur dihajar masa, karena sudah dituduh mencuri saat mau masuk ke rumahnya sendiri. Dan pastinya itu masih menyisakan rasa sakit yang tidak karu-karuan. Bahkan lebam dan memar, serta bilur-biur masih, masih terlihat pada sekujur tubuhnya. Tapi itulah yang namanya usaha. Pasti ada hambatan, tantangan dan rintangan. Hanya orang yang tidak pernah patah semangat, yang akan mencapai hasil yang diharapkan. Seperti halnya Podin, yang akhirnya menemukan kembali peti yang dicarinya.


    Dalam kondisi tubuh yang masih terlihat memalukan itu, tentunya Podin tidak akan menemui para karyawannya untuk sementara waktu. Pasti para karyawannya kalau melihat wajah Podin yang penuh luka, akan menanyakan dan ingin tahu apa yang terjadi. Daripada susah-susah mencari alasan, maka lebih baik Podin menghindari bertemu dengan orang lain. Bila perlu, Podin akan mendekam beberapa hari di kamar apartemen, hingga luka pada tubuhnya pulih dahulu. Maka bagi Podin, lebih baik mengurusi peti-petinya, daripada ribet dengan menjawab pertanyaan orang-orang yang kalau bertemu pasti ingin tahu kondisinya.


    Podin pun mulai merawat dua buah peti yang baru saja ia bawa dari Karawang itu. Tentunya, peti-peti itu harus dibersihkan. Karena memang, selama ia tinggal bersama Rina, semenjak pindah rumah baru ke Karawang, Podin tidak pernah menyentuh peti-peti itu. Tentu karena peti itu dirahasiakan agar tidak diketahui oleh istrinya. Ya, Podin tidak ingin istrinya tahu kalau dirinya mencari pesugihan. Makanya, begitu sampai di rumah barunya, Podin langsung menyembunyikan peti itu di pojok bawah kolong tempat tidurnya.


    Tentu Podin tidak sempat mengelap peti yang disembunyikan itu. Bahkan saat peti itu dibuang oleh istrinya ke tempat sampah, pastinya bercampur dengan barang-barang yang kotor. Beruntung ada yang mengambil, dan ada yang menggunakan peti itu. Sehingga setidaknya peti-peti itu tidak begitu kelihatan kotornya. Namun Podin tetap ingin membersihkan peti itu. Setidaknya, Podin ingin meraba, menyentuh, dan mengusap peti itu. Dan yang jelas, Podin akan mengoleskan minyak wangi pada peti itu. Ya, seperti yang sudah pernah diajarkan oleh Bang Kohar, untuk merawat peti, untuk mengurus barang-barang keramat, agar peti itu menjadi baik, agar peti itu mau dipelihara oleh pemiliknya, dan menurut perintah yang punya, maka sang pemilik harus rajin untuk merawatnya. Podin harus sering membersihkan benda yang dikeramatkan tersebut. Terutama dengan mengusapkan minyak wangi pada peti itu.


    Dan pastinya, seperti yang pernah dikatakan oleh Bang Kohar, bahwa benda itu, semua benda, setiap benda. mestinya ada makhluk yang menunggunya. Termasuk peti antik yang dimiliki Podin itu. Apalagi melihat sejarahnya, kalau peti itu berasal dari Pulau Berhala, pasti juga ada makhluk yang menghuninya. Entah seperti apapun wujudnya, entah besar, entah kecil, pasti setiap benda memiliki kekuatan, ada amkhluk gaib yang tinggal di dalamnya.

__ADS_1


    Memang, jika orang-orang masih percaya dengan kekuatan animisme dan dinamisme, yang percaya dengan roh-roh di luar kehidupan manusia, makhluk-makhluk gaib yang berada di luar alam manusia, kekuatan-kekuatan supranatural yang terdapat dalam sebuah benda, maka orang-orang akan mengatakan, memang sebenarnya kekuatan gaib itu ada. Seperti halnya peti yang sudah dimiliki oleh Podin, yang dulunya adalah tempat untuk menaruh harta kekayaan, yang asalnya dari tetesan darah bayinya sendiri, maka yang datang, yang menghuni peti itu adalah makhluk kecil yang masih bayi, telanjang tanpa pakaian, dengan kepala yang gundul tanpa rambut. Lantas Bang Kohar, maupun Podin, menyebut makhluk itu dengan nama tuyul.


    Tetapi kali ini, yang dibawa oleh Podin adalah peti yang dulu ia dapatkan dari istana Pulau Berhala, sebagai tempat perhiasan, tempat harta karun yang asalnya dari tetesan darah seorang bocah perempuan kecil, yang ia culik dari perempatan jalan di Jakarta. Podin tentu ingin mengetahui, bagaimana sebenarnya kondisi dari anak yang menghuni di dalam hati itu. Paling tidak, Podin sudah memperkirakan makhluk yang akan keluar dari peti tersebut.


    Ya, setidaknya Podin sudah punya gambaran, bocah perempuan kecil dengan pakaian lusuh, wajah pucat yang seakan tidak pernah makan. Seperti itulah bocah perempuan kecil yang pernah dia bawa, yang pernah ia persembahkan jadi korban di atas batu kisaran, yang dipersembahkan kepada penguasa istana Pulau Berhala.


    Podin tentu tersenyum senang, menyaksikan dua peti yang baru saja ia bawa. Peti yang sudah ia bersihkan, peti yang sudah ia elus-elus, peti yang sudah ia usapi dengan minyak wangi. Lantas dua peti yang baru ia bawa itu, dipadankan dengan dua peti yang sudah dia miliki. Dan kini, ada empat peti yang berjejeran di simpan di dalam kamar apartemennya.


    Dan kini Podin memiliki empat buah peti, yang nanti diharapkan peti-peyi itu akan menghasilkan uang semuanya, di setiap malam. Maka, Podin akan menjadi orang yang kaya raya. Podin akan menjadi orang yang banyak uang. Podin akan menjadi orang yang berlimpah dengan harta benda, tanpa harus susah payah bekerja.


    Itulah sebabnya, Podin pun memesan kepada istrinya, untuk selalu memberi makanan yang bergizi kepada bocah perempuan kecil itu. Dan Rina, istrinya Podin, menurut dengan kata-kata suaminya. Walau sebenarnya, kala itu Podin sudah tahu dan mengenal arwah bocah perempuan kecil yang selalu datang ke warungnya itu adalah bocah yang ia korbankan di Pulau Berhala. Podin tentu akan menutupi semuanya.


    Bahkan menurut cerita Bang Jarwo, yang mengatakan kalau Rina diganggu oleh arwah gentayangan, bocah perempuan kecil yang selalu datang ke rumahnya, dan selalu menghilang saat sudah ditemui Rina. Dan juga sempat membuat Rina pingsan karena saking takutnya. Bahkan juga, katanya bocah itu menghilang pada peti yang ditemukan oleh Rina di kolong tempat tidur. Podin yakin, dan itu tandanya bahwa nanti arwah yang keluar dari dua peti yang baru saja ia bawa, adalah bocah perempuan kecil itu. Tapi bagaimana kalau bocah perempuan kecil itu menjadi tuyul? Padahal menurut cerita orang, tuyul itu gundul. Apakah dia juga akan menghasilkan uang yang banyak seperti yang dihasilkan oleh tuyul dari bayinya sendiri yang baru saja lahir dan ia persembahkan kepada penguasa Pulau Berhala itu? Tentu, Podin tidak sabar untuk mengetahui apa yang akan terjadi nanti.


    Malam kembali datang. Podin yang sudah tidak sabar ingin menyaksikan tuyul yang ada di dalam peti barunya itu, ia pun mulai menata dua buah peti itu. Podin membawa peti-peti itu, ditata di tengah ruang apartemenmua. Lantas Podin duduk bersila, menghadapi dua peti yang baru saja ia bawa dari Karawang tersebut. Ya, Podin mulai melakukan pemujaan. Podin mulai melakukan meditasi. Podin mulai melakukan kegiatan ritual. Podin mulai melakukan penyembahan terhadap dua buah peti itu. Lantas tentunya, ia mulai merapal, membaca mantra-mantra. Podin melakukan ritual memanggil tuyul.

__ADS_1


    Dalam keadaan malam yang sepi dan sunyi, malam yang hening tanpa ada suara. Seperti yang memang diharapkan oleh Podin, agar dalam meditasinya itu ia tidak terdengar suara apapun. Agar dalam ritualnya itu tidak ada yang mengganggu sama sekali. Podin yang sudah komat-kamit membaca mantra, duduk bersila menghadapi dua peti itu. Tentu ia sangat ingin sekali menyaksikan penunggu dari peti yang dibawanya. Ia ingin sekali melihat tuyul yang keluar dari peti itu. Walau Podin sudah menduga arwah yang akan keluar, tetapi rasa penasaran itu tidak bisa dilepas dari angannya.


    Dan setelah cukup lama memerapal mantra-mantra untuk memanggil tuyul, tiba-tiba, dua buah peti itu pun tutupnya mulai terangkat. Tutup peti itu perlahan mulai membuka. Tentu Podin mulai deg-degan. Podin memandangi peti itu tanpa berkedip. Podin was-was. Podin memperhatikan betul-betul pada peti itu. Karena sebentar lagi, penghuni dari peti itu akan keluar. Dan Podin tentunya sudah bersiap untuk menyambut keluarnya makhluk yang ditunggu-tunggu. Podin tidak ingin kaget. Ia sudah siap untuk tidak takut. Tentu karena ini adalah pertama kali yang dilakukan oleh Podin untuk menyaksikan wujud yang keluar dari peti itu.


    Kini, tutup petui itu sudah terbuka semuanya. Betul, makhluk yang ditunggunya mulai keluar. Podin mulai menyaksikan wujud dari bocah perempuan kecil yang pernah dia culik dari perempatan jalan di tempat lampu lalu lintas, yang kemudian dia bawa ke Pulau Berhala. Gadis cilik yang pernah ia tipu, pernah ia bohongi, diajak berpiknik ke sebuah pulau. Dan ternyata, gadis itu justru dia sembelih dengan pisau belati mata berhala.


    Yah, betul. Makhluk yang keluar dari peti itu adalah gadis perempuan kecil itu. Bocah yang setiap hari menampakkan diri kepada istrinya. Dan kini ia benar-benar keluar dari dalam peti itu.


    Namun ternyata, bocah yang keluar dari peti itu tidak diam seperti halnya bayinya yang sudah menjadi tuyul. Tetapi bocah perempuan itu begitu keluar dari peti, matanya membelalak menatap Podin. Rupanya gadis itu tidak senang dengan Podin. Bahkan kedua tangan gadis itu, sudah mengangkat kepalanya, melepas kepalanya, dan menyerahkan kepala yang sudah terlepas dari lehernya itu kepada Podin.


    Podin kaget. Podin terkejut. Podin takut. Tentu Podin langsung melompat menjauh dari bocah yang sudah memberikan kelapanya itu.


    Gemetar seluruh tubuh Podinm karena saking takutnya.


    Gagal sudah ritual Podin. Dan bocah perempuan itu sudah menghilang. Peti kembali tertutup rapat.

__ADS_1


__ADS_2