PULAU BERHALA

PULAU BERHALA
EPISODE 170: NASEHAT UNTUK SUAMI


__ADS_3

    Doa-doa Cik Melan telah terkabul. Podin kini sudah kembali sehat, sudah kembali normal. Podin sudah boleh pulang ke rumah, walaupun oleh dokter dikatakan masih tetap harus kontrol, masih tetap harus minum obat. Dan tentu Cik Melan senang. Cik Melan gembira. Cik Melan bahagia.


    Demikian juga Podin, yang tentunya juga senang walaupun kondisi tubuhnya masih belum begitu sempurna. Tetapi setidaknya ia bisa bebas, bisa leluasa tidur dengan nyenyak, makan dengan enak, tinggal di rumahnya sendiri. Yah, ini adalah pengalaman pertama bagi Podin masuk rumah sakit dan harus tidur di tempat tidur pasien, yang segalanya diatur oleh para perawat.


    Memang, selama ini Podin tidak pernah ke rumah sakit, tidak pernah dirawat di rumah sakit, bahkan ke dokter saja tidak pernah. Kalaupun dulu pernah mengalami sakit, Podin tidak bakal dibawa ke rumah sakit ataupun periksa ke dokter, karena waktu itu dia masih miskin dan tidak punya uang untuk biaya pengobatan. Tetapi kini, setelah berumah tangga dengan Cik Melan, semua kehidupannya diawasi oleh istrinya. Setidaknya, Cik Melan selalu mengingatkan suaminya tentang bagaimana menjaga kesehatan. Bahkan makan saja selalu diingatkan dan diatur menunya. Apalagi dalam kondisi sakit seperti itu, yang kondisinya sangat memprihatinkan, hingga tidak sadarkan diri berhari-hari. Tentu Podin haruslah dirawat di rumah sakit. Dan ini adalah pengalaman pertama kali bagi dirinya opnam di rumah sakit, dan pastinya ia berharap ini untuk yang terakhir kali. Pastinya Podin tidak mau lagi tidur menggeletak di dipan rumah sakit.


    "Pah .... Sebenarnya apa sih barang-barang yang ada di dalam kamar yang dirahasiakan Papah itu?" tanya Cik Melan kepada suaminya, yang tentu dia ingin tahu tentang barang-barang yang sempat menjadi tempat menghilangnya suaminya tersebut.


    "Bukan apa-apa, Mah .... Itu hanya barang-barang antik, malah sudah jadi rongsokan yang tidak ada gunanya ...." jawa Podin yang tentu masih merahasiakan barang-barang keramatnya tersebut.


    "Tapi, Pah .... Saya itu heran ..., kenapa waktu terjadi gerhana bulan kemarin, Papah bisa masuk tempat itu, dan hilang begitu saja ..... Saya cari kemana-mana tidak ketemu .... Bahkan sampai saya buka peti-peti itu satu persatu, saya kira Papah disembunyikan dalam peti itu, ternyata juga nggak ada .... Padahal saya melihat persis bahwa Papah seakan-akan seperti diseret dan dimasukkan ke dalam tempat itu .... Tapi kok malah ketemunya di puncak pohon ...?!" kata Cik Melan sambil mengelus dan juga memijit-pijit kaki Podin yang katanya masih dirasakan kebal, masih sering kesemutan. Cik Melan maklum, yang oleh dokter dikatakan mengalami gejala stroke ringan itu. Tentunya kondisi tubuhnya masih belum sempurna pemulihannya.


    "Saya sendiri juga heran .... Kenapa bisa terjadi seperti itu ...?! Padahal saya juga tidak ngapa-ngapain ...." kata Podin berdalih, tentunya agar istrinya tidak mengurusi lagi barang-barang yang ada di dalam kamar yang sempat ia rahasiakan.


    "Memang kemarin itu, Papah tahu kalau tubuhnya diseret ...?!" tanya istrinya lagi.


    "Tidak tahu, Mah .... Saya tidak ingat apa-apa ...." jawab Podin. Ia berusaha berbohong pada istrinya.


    "Iih ..., Papah .... Papah terjatuh dari tempat tidur dan di seret ke kamar rahasia milik Papah itu .... Padahal saya sampai berteriak-teriak itu, Pah .... Saya menjerit ketakutan ...." kata Cik Melan yang mengisahkan.


    "Terus ...?!" tanya Podin ingin tahu.


    "Yah ..., saya mendobrak pintu itu .... Sya cari Papah ke seluruh peti-peti yang ada di kamar itu .... Tapi .... Papah tetap tidak ketemu .... Makanya, saya terus menjerit lagi, dan minta tolong kepada warga ...." kata Cik Melan yang menceritakan kisahnya saat kejadian.

__ADS_1


    "Terus ...?!" tanya Podin lagi.


    "Alhirnya warga beramai-ramai mencari Papah .... Waah ..., suasananya serem, Pah ...." kata Cik Melan.


    "Serem bagimana ...??" tanya Podin yang juga penasaran.


    "Semua orang mencari Papah, sambil memukuli kentongan, ada yang memukul kaleng-kaleng bekas, ada juga yang membawa panci tempat masak, juga mereka pukuli. Lampu senter menyorot ke berbagai arah. Bahkan juga pada membawa obor dari bambu .... Tua muda, besar kecil, laki perempuan ..., semua ikut mencari .... Mereka pada meneriaki gerhana bulan agar mengembalikan Papah .... Bahkan ada juga yang mengguyangkan air satu ember ke arah gerhana bulan itu .... Mereka bilang, Papah itu digondol gerhana .... Katanya wujudnya makhluk menyeramkan, hitam besar menakutkan." cerita Cik Melan.


    Podin diam termangu. Ia teringat saat dirinya tergeletak di altar istana, di atas batu kisaran. Kala itu, makhluk raksasa jelmaan iblis yang sangat menyeramkan, penguasa Pulau Berhala, mengancam akan memangsa dirinya. Benarkah cerita istrinya itu? Benarkah orang-orang kampung melihat makhluk itu? Tentu Podin mulai khawatir, jangan-jangan iblis penguasa Pulau Berhala itu sudah ada di kampungnya.


    "Tapi, Pah .... Kemarin waktu Pak Pendeta datang kemari, beliau sempat melihat benda-benda yang ada di dalam kamar itu. Katanya itu jimat-jimat, Pah ...." kata Cik Melan kepada suaminya, yang tentu mulai mengungkit masalah benda yang dianggap sebagai jimat tersebut.


    "Saya juga tidak menyangka, Mah .... Barang-barang itu saya bawa begitu saja, saya anggap sebagai barang antik .... Itu barang pemberian Bang Kohar .... Kata Bang Kohar, yang tinggal di daerah Padalarang sana, benda-benda itu barang antik ..., ya semacam peti-peti harta karun .... Dulu saya mengambil dari tempatnya Bang Kohar. Bang Kohar itu kolektor benda-benda antik,  ya ..., suka ngumpulin benda-benda yang aneh-aneh, yang antik-antik, dan biasanya langka. Saya dikasih benda yang semacam peti harta karun itu. Memang Bang Kohar bilang, kalau peti-peti harta karun itu katanya bisa mendatangkan rezeki, bisa melancarkan pekerjaan, bisa memudahkan orang berusaha ...." begitu jawab Podin pada istrinya.


    "Saya tidak tahu, Mah .... Kan waktu itu saya hanya mengikuti nasehat Bang Kohar .... Saya belum kenal sama Tuhan .... Yang ngajak saya ke gereja kan, Mamah ...." jawab Podin yang seolah-olah menjadi orang yang polos, dan seolah-olah tidak tahu apa-apa tentang benda-benda itu. Pastinya Podin akan mengelak dari kesalahan.


    "Kata Pak Pendeta, barang-barang itu ada berhalanya, Pah .... Barang-barang itu harus dibuang, harus disingkirkan dari rumah kita. Karena kata Pak Pendeta pula, barang-barang itu adalah rumah berhala. Kalau sampai barang itu ada di dalam rumah kita, itu artinya kita sudah bersekutu dengan setan. Itu tidak baik, Pah .... Nanti kita tidak akan diselamatkan oleh Tuhan. Dan kalau barang-barang seperti itu masih ada di sini, bisa mencelakai kita." kata Cik Melan yang tentu secara perlahan-lahan meminta agar suaminya mau membuang barang-barang yang dianggap sebagai tempat berhala tersebut.


    "Tapi ..., Mah ...." tentu Podin masih bingung, karena barang-barang itu adalah barang-barang keramat yang bisa mendatangkan harta kekayaan baginya.


    "Tapi, apa ..., Pah ...? Ini bahaya, Pah .... Kata Pak Pendeta, kalau kita bersekutu dengan setan, kalau kita memelihara berhala-berhala semacam itu, nanti kita akan menderita, kita akan celaka, karena berhala itu pasti meminta tumbal .... Buktinya ..., Papah sudah di seret oleh berhala itu, dan Papah akan dimakan oleh berhala itu .... Bahkan juga, Pak Pendeta mengira kalau yang menyeret Papah, yang membawa Papah hingga sampai ke atas pohon yang tinggi itu, pasti berhala-berhala yang selama ini bersemayam di dalam kamar yang Papah kunci terus itu ...." begitu kata Cik Melan yang mulai membuka mata batin suaminya, agar suaminya sadar dengan perbuatannya selama ini.


    Ya, Podin memang ingat betul, kalau saat terjadi gerhana bulan itu memang dirinya sudah diseret oleh para algojo dari Pulau Berhala. Dirinya diletakkan di atas batu kisaran, tempat penyerahan korban, tempat persembahan bagi para pemuja penguasa Pulau Berhala. Dan pastinya Podin juga masih terngiang dengan kemunculan makhluk aneh, makhluk raksasa, makhluk jelmaan iblis yang sudah menghempaskan dirinya, melempar dirinya hingga melayang jauh. Sehingga Podin pun kala itu tidak sadarkan diri. Dan kenyataannya, Podin ditemukan oleh para warga, ditemukan sudah tersangkut di atas pohon yang besar, di atas pohon yang tinggi.

__ADS_1


    Pasti, itu semua terjadi gara-gara Podin sudah tidak mempersembahkan korban-korbannya ke Pulau Berhala. Dan tentunya Podin sudah mendapatkan ancaman dari penguasa Pulau Berhala. Pasti Podin ketakutan dengan ancaman itu. Namun tentunya kini, ia juga takut dengan istrinya, yang sudah mengajak dirinya ikut kebaktian, ikut ke gereja. Dan tentunya Podin juga khawatir kalau dirinya nanti pasti akan didatangi lagi oleh para algojo dari istana Pulau Berhala, Podin dituntut untuk menepati janji untuk mempersembahkan korban-korbannya setiap malam bulan purnama.


    "Tapi, Mah .... Saya takut ...." begitu kata Podin pada istrinya, yang mulai kelihatan khawatir, takut jika terjadi apa-apa.


    "Takut apa, Pah ...?" tanya Cik Melan pada suaminya.


    "Saya takut dengan makhluk yang menghuni di dalam peti itu ...." sahut Podin yang bimbang.


    "Memangnya ada apa di dalam peti itu ...?" tanya Cik Melan pada suaminya yang mulai ketakutan lagi.


    "Ada hantunya ..., Mah .... Ada makhluknya yang menakutkan ...." kata Podin yang tampak semakin ketakutan.


    "Makhluk menakutkan seperti apa, Pah ...?" tanya Cik Melan yang kini semakin menjadi penasaran mendengar kata-kata suaminya.


    Bodin tidak menjawab. Tetapi wajahnya semakin terlihat ketakutan. Ia tahu presis, kalau di dalam peti-peti itu ada makhluk-makhluk yang aneh, semacam arwah yang gentayangan. Mkhluk jelmaan dari anak-anak yang pernah ia korbankan di atas batu kisaran, sebagai persembahan kepada penguasa Pulau Berhala. Dan yang paling menakutkan adalah, kalau sampai para algojo itu datang lagi, dan menyeret kembali tubuhnya, dan dibawa ke istana Pulau Berhala.


    "Pah .... mungkin benar kata Pak Pendeta .... Makhluk yang ada di dalam peti itu adalah berhala-berhala. Sebaiknya harus segera dibuang, Pah .... Percalah kepada Tuhan .... Pastu Tuhan akan menolong kita ...." kata Cik Melan yang tentu ingin menguatkan iman suaminya.


    "Iya, Mah .... Tapi saya takut ...." kata Podin yang bahkan kini seakan mau menangis karena ketakutan.


    "Jangan takut .... Serahkan semua beban hidup kita pada Tuhan, pasti kita akan mendapatkan pertolongan. Kalau Papah setuju, besok saya akan undang Pak Pendeta bersama para jemaat, untuk berdoa di rumah kita. Menoakan kita, agar selamat dari ancaman para berhala." kata Cik Melan menguatkan keyakinan suaminya.


    Dan pasti, Podin pun mengangguk setuju. Baru kali ini ia mendapatkan istri yang baik, yang bisa menyadarkan jalan sesat suaminya.

__ADS_1


__ADS_2